
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"LEPASKAN AKU! KALIAN MAU MEMBAWAKU KEMANA?" France terus memberontak agar bisa terlepas dari bawahan Sirakusa yang membawanya entah kemana.
"Hei diamlah! Anak kecil sepertimu lebih baik diam dan jadilah anak penurut!" Orang yang memegang tangan kirinya membentak France.
"Betul! Jadilah anak penurut! Kami akan membawamu ke tempat aman."
"Anak kecil? Penurut? Hahaha ..." Suara France yang tiba-tiba berubah membuat kedua orang itu berhenti dan menatap France.
"ASTAGA!!! B-ba-bagaimana bisa dia b-berubah j-jadi orang dewasa?" Saking terkejutnya, kedua orang itu sampai terjatuh di tanah.
"Kalian, apa tidak tahu siapa aku?"
Kedua orang itu merasakan aura yang tidak enak mengitari mereka. Aura hitam dari anak kecil yang berubah menjadi dewasa di depannya benar-benar kuat hingga membuat mereka mulai kesulitan bernapas.
"S-si-siapa kau s-sebenarnya?" Dengan kesusahan, orang itu bertanya.
"Ambrogio Agafya dari Canopus." Ya, dia adalah Ambrogio Agafya, Raja iblis yang menyamar sebagai France, anak kecil yang bisa membuatnya dekat dengan Sirena.
"A-APA!!"
"Hahaha, dasar manusia tidak berguna! Sebaiknya kalian mati saja! Dunia ini semakin dipenuhi orang-orang tidak berguna semacam kalian!" Setelah mengatakan itu, Ambrogio mengeluarkan sihir hitam miliknya dan langsung menyerang dua orang itu hingga terbakar menjadi abu.
Setelah membereskan dua orang itu, senyuman mengerikan yang semula mengembang lebar di bibirnya kini menghilang. Sejatinya, Ambrogio sudah berhasil menjadi manusia, hanya saja dia masih menyimpan kekuatan sihir hitam miliknya untuk berjaga-jaga.
Seperti yang sudah Ambrogio duga, sekelompok orang-orang itu mulai berbuat ulah atas namanya dan juga mengkambinghitamkan Sirena. Meskipun begitu, Ambrogio tidak peduli. Yang terpenting dia sudah menjadi manusia dan sekarang dia bisa berdekatan terus dengan Sirena.
"Aku masih menebak, kira-kira betulkah ucapanmu saat itu?" gumam Ambrogio kembali mengenang masa lalu.
Seratus tahun yang lalu, saat kegelapan berhasil menguasai Vulcan, Ambrogio bertemu dengan sosok perempuan yang mengaku sebagai pengendalinya.
Perempuan yang membuatnya tertidur tenang dalam waktu lama di lembah gunung Macrophylla dengan nyanyian merdu miliknya.
"Tidurlah dengan nyaman, Ambrogio ... Sampai tiba waktunya takdir merajut hatimu yang suram, merubah mendung menjadi cerah. Takdirmu yang akan membuatmu terbangun hanya dengan mendengar dia menyebut namamu ..."
Ambrogio sampai sekarang masih mencari tahu, dimana keberadaan perempuan Zifgrid itu. Manusia hanya tahu, saat dia, Raja iblis, bangkit akan membuat kekacauan kembali, padahal bukan itu inti masalahnya. Ada hal yang jauh lebih berbahaya dan Ambrogio juga salah satu penyebabnya.
"Bila kau sudah terbangun dari tidurmu, lepaskanlah gelar kebesaranmu. Biarkan alam melukis takdir untuk segalanya. Yang perlu kau ingat, akan ada hari cerah setelah badai."
Gelarnya sebagai Raja iblis, sudah dia lepas agar bisa bersama dengan orang yang membangkitkannya. Dia adalah Sirena, Putri Kerajaan Willamette yang terasing. Tentu ada akibat dari apa yang Ambrogio lakukan. Bangkitnya Ambrogio, tentu memunculkan sang Pewaris Kegelapan. Manusia yang mewarisi gelar milik Ambrogio, adalah ancaman yang sebenarnya.
Senyum tipis muncul di bibirnya, "Sebesar apa kekuatan yang kau miliki hingga membuat perang melawan kegelapan kembali terjadi? Aku akan menunggu hari itu."
Ambrogio kembali ke wujud anak kecilnya, France. Setelah berhasil, France berlari menuju istana Azalea. Dia menduga Sirena berada disana.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Pesta pernikahan Nervilia berjalan dengan lancar. Para tamu bangsawan begitu puas dengan pesta yang diadakan oleh Kerajaan Willamette. Hingga berita tentang Sirena yang mengurus acara ini membuat para bangsawan mulai membicarakan Sirena. Ada yang memuji juga ada yang menghina.
Lain hal dengan Sirena yang harus duduk di meja makan bersama dua orang yang dipenuhi aura permusuhan. Sirena duduk diantara Athanaxius dan Sirakusa. Entahlah, diantara banyaknya tempat yang disediakan, kenapa dua orang ini memilih duduk bersamanya yang jelas-jelas Sirena kurang nyaman.
Setelah Athanaxius mengumumkan bahwa dirinya yang akan menjadi istri Athanaxius kepada Kaisar Hylobates dan mendapat restu, Sirena lebih memilih menyendiri di meja paling sudut ruangan. Namun tak disangka Athanaxius dan Sirakusa menyusul. Dua orang tampan dengan pesona yang sulit ditolak akan tetapi berbahaya bila didekati.
"Kenapa diam? Biasanya kau banyak bicara,"
Sirena hanya melirik malas Athanaxius, dia hanya ingin makan dengan tenang tanpa gangguan siapapun, terutama Athanaxius sendiri.
"Dari yang aku lihat, kalian sepertinya tidak cocok menjadi pasangan." Sirakusa berucap santai sambil menopang dagu. Tatapannya tertuju pada Sirena yang hanya menatapnya datar sambil mengunyah makanan.
"Dari yang aku lihat, kau sangat cocok menjadi pengganggu. Aku tidak heran, tenang saja." Athanaxius tak ingin kalah. Mata merahnya mengkilat membara membawa aura yang tidak nyaman untuk dipandang. Sirena yang disebelahnya saja merinding.
Sekuat tenaga Athanaxius menahan si mata merah yang ingin mengambil alih kendalinya sejak tadi. Dia tak ingin membuat kekacauan untuk saat ini, dimana Sirena berhasil membuat dirinya bercahaya malam ini.
Sirakusa menggeram tertahan, namun hanya senyum tipis yang terlihat, "Hm ... Menarik sekali. Apa yang bisa dibanggakan oleh Pangeran Athanaxius yang terhormat ini?"
"Tidak ada yang bisa dibanggakan. Aku hanya ingin menjadi manusia tanpa kesombongan. Bukankah Efarish yang terpandang ini seharusnya berhati bijaksana?"
Rasa makanan yang sedang dimakan oleh Sirena perlahan menjadi hambar. Telinganya berdengung mendengar dua orang yang adu argumen dengan kata-kata estetik. Saat pandangan Sirena tak sengaja bertemu dengan Galcinia, temannya itu justru menahan tawa karena penderitaan yang dirasakan Sirena saat ini.
'Ayana kampret! Bukannya bantuin malah ngetawain!' Sirena mendengus menatap Galcinia kesal. Namun tak lama Sirena yang bergantian menahan tawanya saat melihat Falco ingin membawa Galcinia keluar aula penjamuan.
"Aku ingin melihat bagaimana kau memperlakukan seorang wanita. Kudengar semasa di akademi, kau membunuh banyak wanita yang mendekatimu." Sirakusa ingin melihat reaksi Sirena saat mendengar fakta buruk Athanaxius.
Tetapi Sirena merasa ada yang aneh, dia tak melihat kedua lusternya. Kira-kira dimana dua orang itu? Mengapa mereka tak ikut serta dalam pesta pernikahan ini? Padahal yang Sirena tahu, luster pribadi para bangsawan diperbolehkan ikut menikmati pesta.
'Mereka berdua ngilang kok nggak ngajak-ngajak gue sih! Awas aja ya kalo gue ketemu sama mereka!' Sirena padahal sudah bersusah payah membuatkan mereka gaun agar terlihat cantik dan berbeda dari luster-luster yang lain.
"Apa kau ingin menjadi salah satu orang yang kubunuh, Efarish Sirakusa?" Athanaxius mengangkat tangannya untuk memperlihatkan kukunya yang mulai panjang, "Tanganku begitu gatal ingin menggaruk jantungmu."
'ASTAGADRAGON!!! MASIH BELUM SELESAI JUGA??'
"Kak Nana!"
Seketika sinar cerah menyinari suasana hati Sirena. France datang diwaktu yang tepat. Senyum lebar Sirena berikan untuk France yang membuat Sirakusa dan Athanaxius menahan kesal.
"Astaga, France! Kenapa bajumu bisa kotor seperti ini? Dan dagumu kenapa bisa terluka?" Sirena berdiri dari kursinya, menghampiri France yang berdiri tak jauh dari mejanya.
Mata France berkaca-kaca, "A-aku t-tadi terjatuh saat berlari kemari ..." France tidak berbohong, dia benar-benar terjatuh tadi karena terkejut memergoki Falco dan Galcinia yang sedang berciuman. Tetapi kejadian ini setidaknya membuat France beruntung. Dengan begini dia bisa mengambil perhatian Sirena hanya untuknya.
"S-sakit ..." France mulai menangis.
"Cih, lemah!"
"Pengganggu!"
Sirakusa dan Athanaxius berucap bersamaan. Hal itu membuat Sirena menatap mereka dengan tajam, "Tutup mulut kalian! France masihlah anak kecil, wajar kalau dia kesakitan!"
'Dasar sampah!' France memberikan tatapan mengejek untuk Athanaxius dan Sirakusa tanpa sepengetahuan Sirena.
Sirena beralih menatap France kembali, "Sudah jangan menangis, nanti ketampanan milikmu luntur karena air mata. Aku akan mengobati lukamu." Sirena mengusap air mata France, kemudian beralih menggandeng tangan France keluar.
Setelah kepergian Sirena dan France. Athanaxius dan Sirakusa saling duduk termenung dengan pikiran masing-masing.
'Sepertinya ada yang ganjal dengan anak itu.' Sirakusa kembali mengingat ekspresi France tadi, 'Aku harus waspada. Sepertinya dia juga mengincar Sirena.'
Athanaxius memainkan kuku-kuku hitam panjangnya dengan pikiran yang mengingat tatapan mengejek dari France dibalik air matanya, 'Dengan mudahnya anak itu merebut perhatian Sirena. Hm ... Aku harus waspada. Dia bisa menjadi penghalang untukku mendapatkan Sirena meskipun Sirena sudah menjadi calon istriku.'
•───────•°•❀•°•───────•
"Hei kalian! Tolong hargai karya ibuku! Cukup tekan like dan berikan banyak komentar positif akan membuat ibuku senang, apa kalian mengerti?"
"Bedebah kau, Athan! Kalimat itu adalah bagianku! Mengapa kau mengambilnya?!" Sirakusa mengepalkan tangannya kuat-kuat seraya menatap tajam Athanaxius.
"Itu deritamu, aku tidak peduli. Permisi ... Orang tampan di hati Sirena ingin lewat ..."
Hahahaha ....