
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
...Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Kekaisaran Alhena sepenuhnya jatuh di bawah kuasa Ratu Amanita. Keluarga Kekaisaran yang tersisa sudah tidak ada, mereka semua tewas di tangan Ratu Amanita, kecuali Elephas yang berhasil melarikan diri bersama Nervilia.
Tidak hanya Kekaisaran Alhena yang berhasil ditaklukkan, Kerajaan-kerajaan dibawah naungan mendiang Kaisar Helarctor juga sudah ditakhlukkan oleh Ratu Amanita. Dan Ratu Amanita juga sudah mulai melakukan penyerangan ke Kekaisaran Alioth dan Kerajaan di bawahnya.
Langit yang semula cerah kini berganti gelap. Pagi tanpa matahari dan malam tanpa bulan. Rakyat-rakyat yang dahulunya beraktivitas dengan mudah dan tenang kini dipenuhi dengan rasa ketakutan. Ratu Amanita mengerahkan legion-legion yang sudah dia cuci otak untuk memperketat penjagaan dan membunuh siapapun bagi yang membicarakannya maupun menentang perintahnya.
Tidak ada lagi kedamaian di langit Alhena maupun Willamette dan tidak ada yang bisa keluar dari wilayah kekuasaan Ratu Amanita. Para roh iblis serta monster yang dikendalikan Ratu Amanita berkeliaran dimana-mana yang membuat siapapun semakin takut hanya untuk menghirup udara segar.
"Menurutmu, kenapa kita tak bisa menyerang Osaka, Jaguisa?" Ratu Amanita memandang Peta yang menunjukkan sebuah wilayah kecil, yaitu desa Osaka.
"Tentu saja karena adanya Efarish sialan itu. Kalau tidak ada dia yang melindungi Osaka dengan kekuatannya, kita tentu mudah memporak-porandakan Osaka dalam sekejap mata." Balas Jaguisa yang berdiri di sebelah Ratu Amanita.
"Roh-roh dan monsterku sama sekali tak berhasil menembus benteng perlindungan yang dibuat Sirakusa," Ratu memandang Jaguisa, "itu berarti sama dengan kekuatan sihir pelindung yang dilakukan Efarish Legumiro Alzher untuk Kekaisaran Alphard, bukan?"
Jaguisa mengangguk, "Ratuku ternyata mengingat hal itu."
"Hahaha, tentu saja aku ingat." Ratu Amanita lantas menjatuhkan dirinya dalam pelukan Jaguisa, "Bukankah kau mengincar tahta Kekaisaran Alphard? Aku akan membantumu setelah aku berhasil mengetahui siapa yang akan menjadi lawanku nanti."
Jaguisa, pria itu merupakan adik dari Kaisar Yerikho yang selama ini mengincar tahta Kekaisaran Alphard. Bertahun-tahun mengabdi pada roh iblis dan setia menemani Ratu Amanita untuk ambisinya yang ingin mendapatkan tahta Kekaisaran Alphard.
"Aku akan menantikan hari itu." Jaguisa tersenyum penuh kemenangan. Dengan adanya Ratu Amanita, ambisinya pasti akan berjalan dengan sempurna.
"Bagaimana cara membunuh Efarish sialan itu? Selagi dia masih hidup, akan sulit bagi kita." Sirakusa dengan anugerah dari Dewa juga bagian dari ancaman, terlebih lawannya yang sebenarnya belum dia ketahui.
"Selain Efarish sialan itu, kau melupakan Nervilia. Anakmu masih hidup dan bisa menjadi ancaman bagimu kapan saja." Jaguisa mengingatkan.
Ratu Amanita hanya menanggapi ucapan Jaguisa dengan senyuman ringan, "Meskipun dia anakku, aku tak akan segan dengannya. Apapun yang menghalangiku, akan kusingkirkan."
"Kau sungguh kejam, tetapi aku suk-"
Tok tok tok
Legion yang berjaga di depan ruang kerja Ratu masuk setelah mengetuk pintu. Legion itu duduk hormat pada Ratu.
Ratu Amanita menatap legion yang berani menganggu waktunya dengan Jaguisa, "Katakan, ada apa?"
"Putri Kayanaka, ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu."
"Kayanaka?" Gumam Ratu Amanita, "Suruh dia masuk kemari." Titah Ratu Amanita yang langsung dijalankan oleh legion itu.
Tak menunggu lama, Kayanaka masuk ke ruang kerja Ratu Amanita yang langsung disambut oleh wanita itu. Kedatangan Kayanaka tentu membuat Ratu Amanita menyeringai licik.
"Selamat datang, Putri Kayanaka ..." Ratu Amanita berjalan menghampiri Kayanaka yang berdiri dengan tubuh tegang saat melihat Ratu Amanita.
"Ada apa gerangan hingga membuatmu datang ke sarang surga ini, Putri?" Tanya Ratu Amanita setelah berdiri di depan Putri Kayanaka.
Berhadapan langsung dengan sosok Ratu Amanita yang berbeda dari sebelumnya membuat Kayanaka berkeringat dingin. Namun, demi tujuannya dia memberanikan diri bertemu langsung dengan Ratu Amanita.
"Apakah kau datang sebagai perwakilan dari Kerajaanmu bahwa kalian akan tunduk setia padaku?" Ratu Amanita menyentuh pipi Kayanaka yang lembut.
"Ya, saya datang kemari sebagai perwakilan Kerajaan untuk setia pada Yang Mulia Ratu Amanita."
Ratu Amanita terkejut sembari menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya, "Astaga! Aku terkejut sekali, hahaha ..." Beberapa detik setelahnya tangan Ratu Amanita bertengger manis di leher Kayanaka, "Aku tahu bukan itu tujuanmu. Katakan yang sebenarnya!"
"B-bisakah ki-ta b-bic- argh! " Kayanaka meringis kesakitan karena cengkraman di lehernya benar-benar sangat menyakitkan.
"Ratuku, kau bisa membunuhnya!" Jaguisa menghampiri Ratu Amanita, kemudian melepas tangan Ratu Amanita dari leher Kayanaka, "Biarkan dia menjelaskan tujuannya, mungkin dia bisa kita peralat."
Mendengar ucapan Jaguisa, Ratu Amanita mengangguk sekali, "Benar juga. Maafkan sikapku ini, Putri Kayanaka ... Tanganku benar-benar gatal sekarang dan ingin mencari korban."
Kayanaka bernapas lega setelah berhasil terlepas dari siksaan Ratu Amanita. Sudah kepalang tanggung, dia pun menguatkan tekadnya. Bagaimanapun dia tahu konsekuensi masuk ke wilayah kekuasaan Ratu Amanita, maka dia tak akan bisa keluar dengan mudah.
Kayanaka kemudian digiring Ratu Amanita untuk duduk di kursi yang tersedia.
"Katakan, apa tujuanmu menemuiku." Ratu Amanita menatap tajam Kayanaka.
"Saya menyerahkan Kerajaan Epsilon pada Yang Mulia Ratu. Selanjutnya bantu saya mendapatkan Pangeran Athanaxius." Dengan mantap Kayanaka berujar.
"Pangeran terkutuk itu," Ratu Amanita kembali mengingat wajah Athanaxius yang pernah dia lihat, "aku mengira dia tak akan hidup lama dengan kutukannya, tak kusangka dia mampu bertahan."
Kayanaka mengernyitkan keningnya, 'Apa maksud Ratu Amanita? Apa jangan-jangan dia ...' Kalau memang benar, tujuannya datang kemari sudah benar. Senyum tipis muncul dari bibir merah mudanya.
"Athanaxius sekarang berada di Osaka dan aku ingin tahu apa yang dilakukan Monachus serta anak-anak sialan itu. Kau! Pergilah kesana, beritahu informasi apapun yang kau dapat disana sekecil apapun." Ratu memandang Kayanaka dengan sorot tegas, "Rencana selanjutnya akan kuberitahu bila kau berhasil masuk ke desa Osaka."
Kayanaka menyeringai, "Tentu saja aku akan berhasil."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Dari pantauan Sirakusa dan Athanaxius, diluar benteng desa, terdapat banyak monster yang bersembunyi dan bersiap menyerang bila rakyat berani keluar dari desa. Demi memenuhi kebutuhan rakyat Osaka, Sirakusa dan Athanaxius bergantian masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar dan berburu binatang.
Hari ini adalah giliran Athanaxius yang keluar desa untuk ke hutan. Lelaki itu ditemani Falco agar lebih mudah membawa hasil hutan dan kembali dengan cepat ke desa.
Maka dari itu, Devita sedikit khawatir dengan Athanaxius. Meskipun Athanaxius mampu melawan monster, tetap saja rasa khawatir itu datang menyelimutinya.
"Apa kau memikirkan Athanaxius?"
"Astaga!" Devita terperanjat kaget dengan kehadiran Sirena yang tiba-tiba, "Bikin kaget aja lo!" Devita mendengus.
"Maaf-maaf, hehehe ..." Sembari tertawa kecil, Sirena duduk di samping Devita. Matanya kemudian menyoroti kamar yang ditempati Devita. Saat ini mereka tak lagi tinggal di tenda, kini mereka tinggal di rumah Irena yang bisa dikatakan besar dan cukup menampung beberapa orang.
"Tentang buku diary ibunda, aku berencana tanya pada ayahanda tentang cara membaca buku itu." Sirena kini berganti memandang ke wajah Devita.
Devita balas memandang Sirena, "Kalau begitu sekarang saja."
Devita dan Sirena pun memutuskan untuk menemui Raja Monachus yang sedang bercengkrama dengan Galcinia serta France minus Irena karena perempuan itu sedari tadi hanya diam dengan tatapan malas.
"KAK NANA!!" France berteriak penuh antusias saat melihat sosok Sirena. Anak kecil itu langsung berlari memeluk Sirena dengan erat.
"Setelah melihat Kak Nana-mu yang asli, kau mulai melupakanku ..." Devita menyindir France dengan nada yang sengaja dibuat melas.
Mendengar sindiran Devita, France berganti memeluk Devita, "Tolong jangan marah Kak Tata, hehehe ... Aku sangat menyayangimu." Kepala France mendongak untuk melihat wajah Devita.
Sedangkan Raja Monachus, dia senang karena melihat Sirena kembali. Raja Monachus lantas menyuruh Sirena dan Devita duduk di sebelah kanan dan kirinya.
"Pak Raja, kami ingin bertanya hal penting padamu." Devita memberi isyarat pada Sirena agar mengeluarkan buku diary milik ibunda mereka yang disimpan oleh Sirena.
"Aku menemukan buku ini di kamar ibunda, tetapi buku ini tidak ada tulisannya sama sekali. Apa ayahanda tahu cara membacanya?" Sirena bertanya sembari mengeluarkan buku diary milik ibundanya.
Melihat buku itu, Raja Monachus teringat dengan kenangan sosok orang yang dia cintai, Agalia. Dulu Agalia pernah bercerita padanya tentang buku itu.
"Adiose, aku mendapat buku dari sahabatku, Daisy. Buku ini hanya bisa dibaca bila kertasnya ditiup tiga kali."
"Coba kau tiup kertasnya tiga kali." Raja Monachus memberitahu.
Buku itu pun diletakkan di atas meja. Irena yang sedari tadi diam kini mulai tertarik dan lantas mendekat untuk melihat apa yang terjadi bila kertas buku itu benar-benar ditiup tiga kali.
Devita pun membuka buku itu pada halaman pertama. Devita lantas meniup kertas itu tiga kali.
Setelah selesai meniup, beberapa detik kemudian sinar berwarna keemasan muncul dan membentuk sederet tulisan.
Tak kusangka, setelah memberiku sebuah buku harian ajaib, Daisy meninggal setelah melahirkan anak bungsunya. Terima kasih sudah memberiku hadiah buku ini, Daisy ...
Halaman pertama dan berikutnya hanya berisi tulisan yang menggambarkan suasana hati ibunda Agalia. Sirena kemudian membalik hingga halaman tengah kemudian meniupnya tiga kali. Hal yang sama pun terjadi, dimana sinar-sinar keemasan muncul dan membentuk sebuah deret tulisan.
Aku sangat bersyukur dan berterima kasih pada Dewa yang memberiku anugerah memiliki anak kembar yang cantik jelita. Aku memberi nama memberi nama mereka Irena dan Sirena. Sayang sekali, Irena tidak sesehat Sirena, aku benar-benar bersedih untuk hal itu.
Dan yang jauh lebih mengejutkanku, kenapa harus mereka yang ditakdirkan untuk melawan Sang Dryas? Aku tak sanggup melihat mereka terluka, aku tak sanggup seberapa berusahanya mereka nanti saat melawan Sang Dryas.
Akan tetapi, semua sudah digariskan. Hanya lantunan doa keselamatan yang bisa aku berikan untuk anak-anakku, Sirena dan Irena.
Anak-anakku adalah permata berharga bagiku. Aku sangat mencintai mereka berdua.
Air mata Devita turun begitu saja setelah membaca sederet kalimat yang ditulis dengan tulus oleh bunda Agalia. Tak menyangka selama ini harapannya adalah kenyataan, dia memiliki seorang ibu yang begitu mencintainya. Di sampingnya Sirena turut meneteskan air matanya, mengingat sosok ibundanya yang sangat penyayang.
Halaman selanjutnya dibalik oleh Irena yang penasaran dengan cerita menarik apalagi yang akan dia dapat. Dua kembar itu tak keberatan saat Irena mulai meniup kertas itu tiga kali.
Hari-hariku berjalan begitu singkat rupanya. Aku tak bisa menyaksikan Sirena dan Irena tumbuh besar dan melihat mereka menikah dengan orang yang mereka cintai.
Besok adalah hari eksekusi untukku. Aku mendapat tuduhan hendak membunuh Ratu yang dicintai rakyatnya, rakyat Willamette. Aku berharap dengan pengorbananku ini, semua yang kulakukan dan suamiku tidak akan berakhir sia-sia.
Mungkin nanti suamiku akan kesulitan dalam menjelaskan pada Sirena bila dia memiliki kembaran. Aku akan menulis nama Irena untuk memberi petunjuk di masa depan.
IRENA HARMONY ASTHROPEL.
Halaman selanjutnya dibalik dan ditiup oleh Devita.
Bila hari kegelapan tiba, dimana Sang Dryas muncul, aku berharap anak-anakku akan baik-baik saja. Aku sangat yakin mereka mampu karena mereka adalah keturunan terakhir Asthropel. Marga istimewa yang dianugerahkan langsung oleh Dewa Vulcan untuk keluarga Asthropel.
Maaf untuk kalian karena ibunda tak bisa menemani kalian di masa depan. Ibunda berharap kalian tumbuh menjadi perempuan hebat dan kuat! Ibunda sangat mencintai kalian, Sirena ... Irena ...
Halaman buku itu sudah habis seperti usia sang pemilik buku. Yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan yang membuat hati begitu rindu.
Satu hal yang disadari oleh Devita setelah membaca buku ini. Semua impian dan harapan memiliki sosok Mama yang mencintainya ternyata menjadi nyata. Mama yang sebenarnya ada disini, di dunia yang berbeda dan jauh dari bumi. Tetapi Devita hanya mendapat kenangannya saja, tidak untuk usapan dan perhatian langsung dari sang Mama, Agalia.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Kemarin aku udah mau update. Tapi partnya malah ilang karena aku ngetiknya di draft *******. Udah nyoba berbagai cara biar kembali, tetep aja ga kembali😭😭. Akhirnya aku buat ulang dan memakan waktu lima jam tanpa keluar kamar untuk part ini. Terima kasih yang sudah meninggalkan jejak❤