
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Kepingan memori milik Galcinia yang tersimpan di dalam kalung steorra setidaknya membantu Devita untuk mengetahui beberapa hal yang ingatan Sirena tidak dimilikinya.
Nervilia, bagaimana bisa sosok lemah lembut yang digambarkan di dalam novel Hiraeth sangat berbeda dengan aslinya? Dengan sifatnya yang manipulatif, dia berhasil membuat Sirena yang semula sudah terasing semakin tak terlihat.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya adalah peribahasa yang cocok untuk Nervilia dan Ratu Amanita. Keduanya sama-sama licik. Devita mengira musuh terbesarnya di dunia ini adalah Raja iblis, Ambrogio Agafya, tapi ternyata bukan.
"Di dunia gue, ada seorang penulis namanya Aysa Listeria. Dia penulis novel berjudul 'Hiraeth'. Di dalam cerita itu, Nervilia digambarkan sebagai sosok yang baik hati juga sering mendapat perlakuan buruk dari lo, Sirena."
Sirena menyimak penjelasan dari Devita dengan seksama, "Lalu?"
"Novel itu bercerita hampir sama dengan apa yang lo alamin. Mulai dari pertunangan Nervilia sama Putra Mahkota di hari ulang tahun lo, terus lo ngamuk dan ngebawa Nervilia ke Benua Canopus buat numbalin Nervilia, semuanya hampir sama! Karena itu, gue sempat berasumsi kalau gue masuk ke dalam dunia novel." Devita ingat, Ayana pernah bercerita bahwa Aysa bukanlah dari Bumi.
Aysun Maia. Haruskah Devita menceritakan tentang lusternya itu pada Sirena?
"Dari yang kau ceritakan, aku seketika ingat ucapan Aysun Maia, luster pribadiku sekaligus kakak untukku. Sebelum meninggal karena terkena anak panah, dia pernah berkata agar aku menjauh dari Nervilia. Dia memperingatiku agar aku berhati-hati saat hari ulang tahunku, hari yang membawa malapetaka untukku." Sirena berbicara dengan tatapan menerawang.
Kalau rumah sendiri tidak bisa menjadi tempat pulang, maka akan ada rumah yang bersedia menjadi tempat pulang. Bagi Sirena, Aysun Maia adalah rumahnya. Hanya Aysun yang paling mengerti dirinya. Aysun Maia, Sirena benar-benar merindukannya.
Melihat tatapan mata Sirena yang terlihat menyedihkan, Devita memutuskan untuk memberitahu, "Aysa adalah Aysun Maia."
Mata Sirena membelalak, "Apa kau bercanda?"
Devita mendengus, "Lo liat wajah gue ada tampang bercandanya?"
Sirena menggeleng, Devita tidak terlihat berbohong, "Bagaimana dengan Norma?"
"Dia sudah meninggal."
Sirena benar-benar merasakan pukulan keras di dadanya. Semua orang terdekatnya sudah tiada. Meskipun demikian, dia tetap bersyukur, setidaknya Aysun Maia masih hidup di dalam raga orang lain.
"Ada yang mau gue tanyain sama lo. Apa sebelumnya lo pernah dekat sama Sirakusa?"
Sirena tak langsung menjawab karena ingatannya kembali terputar ke masa lalu. Dia mengira ingatan masa kecil miliknya bersama Sirakusa akan tersalurkan pada Devita, tapi nyatanya tidak.
"Sirakusa dan aku berteman, sewaktu kecil. Namun itu tak lama, aku dituduh olehnya membunuh ibunya."
"SIRENA! APA YANG KAU LAKUKAN PADA IBUKU?"
Sirena kecil yang masih berumur tujuh tahun itu menggeleng ketakutan melihat temannya menatapnya dengan penuh amarah.
Sirakusa menghampiri ibunya yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan busa yang keluar dari mulutnya. Tak jauh dari tangan ibunya, Sirakusa melihat sepotong kue. Ibunya keracunan akibat kue itu, kue yang tadinya dibawakan oleh Sirena.
"Ibu ... Tolong sadarlah ..." Sirakusa menangis sembari menggoyang-goyangkan tubuh ibunya.
"A-asa ... A-aku tidak tahu k-kalau kuenya beracun hiks ..." Sirena berniat menyentuh pundak Sirakusa, tetapi langsung ditepis oleh anak berumur sepuluh tahun itu.
"KAU PEMBUNUH!" Sirakusa berteriak sembari menangis.
Lagi? Haruskah Sirena selalu menerima ketidakadilan? Mengapa selalu dia yang disalahkan untuk hal yang serius?
"Sejak kejadian itu, aku sama sekali tak berniat mendekati Sirakusa yang memang sudah membenciku. Bagiku, semuanya percuma menjelaskan pada orang yang hanya terpaku pada kesalahan kita." Sirena tersenyum tipis.
"Dan apa yang buat lo bisa cinta sama Elephas?" Ini yang membuat Devita penasaran.
Sirena menatap Devita kesal, "Kenapa kau banyak bertanya, sih? Kau tahu? Sebelumnya aku adalah orang pendiam! Bertemu denganmu membuatku memiliki mulut seribu, huh!"
"Yaelah! Gue kan kepo cuy! Hidup lo kan rumit banget, lumayan hidup gue daripada lo, hehe ..." Devita merangkul Sirena, "Jadi, kenapa lo bisa suka sama Elephas?"
"Karena dia kaya dan tampan." Jawab Sirena datar.
Rahang Devita seketika jatuh. Apa-apaan!!! Jawaban Sirena sangat jauh dari ekspektasinya. Dia mengira akan ada kisah melankolis dibaliknya. Ternyata hanya itu.
Melihat raut wajah Devita, Sirena mengerutkan keningnya, "Apa ada yang salah?"
Devita mengangguk, "Iya ada, otak lo yang salah." Karena tidak tahan, Devita pun menggeplak kepala Sirena.
"Awh!!" Sirena memegang kepalanya yang digeplak oleh Devita.
"Dimana mata lo, Sirena? DIMANA?" Devita tak bisa untuk tak emosi, "HEH! DARI YANG GUE LIAT DI DUNIA LO, SEMUA COWOKNYA TAMPAN BUKAN MAIN! BAHKAN ADA YANG LEBIH TAMPAN DARI ELEPHAS SI GAJAH RAGUNAN ITU!" Dada Devita naik turun.
Sirena mengerjapkan matanya, "Benarkah ada yang lebih tampan dari Elephas?" Selama dia hidup, ruang lingkupnya hanyalah lelaki dalam istana saja. Jadi, dia jarang bertemu dengan lelaki lain diluar istana. Tahu sendiri, dia memiliki tubuh yang lemah, capek sedikit saja dia akan sakit.
"Em, sebaiknya kita keluar dari sini." Lebih baik Sirena mengalihkan pembicaraan. Melihat Devita yang emosi sangatlah menyeramkan, terutama dengan wajah yang digunakan Devita adalah miliknya. Dia memang terlihat menyeramkan saat marah.
Devita hampir melupakan hal itu, "Bagaimana kita keluar?" Devita memperhatikan sekelilingnya. Disini semuanya berlatarkan warna putih. Yang membuatnya lebih hidup adalah adanya beberapa alat musik dan cermin kuno.
Tunggu, cermin kuno?
Devita langsung saja melihat cermin kuno itu. Cermin aneh yang memiliki kaca hitam, tidak bisa digunakan untuk bercermin. Mungkin saja cermin kuno itu adalah jalannya.
Devita menggenggam erat tangan Sirena, "Sirena, kita harus buat cermin kuno ini pecah."
"Kalau begitu, ayo kita pecahkan!" Sirena hendak pergi mengambil gitar, namun langsung ditahan oleh Devita, "Kenapa?"
"Cermin kuno itu harus pecah dengan sendirinya."
Tiba-tiba kalung miliknya dan Sirena bercahaya, menyatu lalu tertuju lurus pada cermin kuno itu.
Kretak
Suara retakan dari cermin kuno membuat Sirena memandang Devita. Ternyata benar, cermin kuno bisa pecah dengan sendirinya. Sebelumnya dia menganggap ucapan Devita adalah lelucon. Bagaimana bisa cermin bisa pecah sendiri tanpa dipecahkan?
Kretak
PYARRR
"ARGHHHH!!"
Sirena dan Devita berteriak sekencang-kencangnya saat tubuh keduanya tertarik ke dalam cermin kuno.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Dalam kehidupan, akan ada hal yang datang dengan sendirinya. Namun akan ada hal juga yang perlu perjuangan untuk mendapatkannya
Perjuangan yang dilakukan hari ini merupakan cara untuk membangun kualitas yang lebih baik di hari esok. Banyak orang memang sudah berjuang keras untuk hidup yang lebih baik, akan tetapi ada yang berjuang untuk ketamakan ada pula untuk kesederhanaan.
Tidak seorangpun punya kemampuan untuk melakukan sesuatu yang sempurna. Tapi setiap orang diberi banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang benar.
Itulah pemikiran yang selama ini diterapkan Devita dalam menjalani hidup. Selagi dia berusaha, maka dia akan mendapatkan hasil yang sebanding dengan perjuangannya. Hal itu jugalah yang dia terapkan untuk tetap bertahan di dunia Sirena. Memulai hal kecil untuk memperbaiki citra Sirena. Karena kebahagiaan yang diinginkan Sirena tak bisa datang sendiri, melainkan harus dijemput.
Saat ini, Devita dan Sirena berada di padang rumput yang luas dengan pemandangan langit yang cerah. Kali ini keduanya tidak tahu sedang berada dimana.
Devita setuju, angin yang berhembus seolah-olah mengantarkan pada kenyamanan yang tak ingin hilang. Melihat Sirena tersenyum, Devita juga ikut tersenyum.
"Sirena ... Gue udah dapet kebahagiaan yang selama ini gue inginkan."
Mendengar itu Sirena menoleh, "Oh iya? Apa menurutmu aku juga bisa mendapat kebahagiaan yang sama denganmu?"
"Tentu." Devita tersenyum.
Sirena semakin tersenyum lebar, "Andai saja kita adalah saudara, aku pasti senang memiliki saudara sepertimu."
"Ada seseorang yang memberitahu gue apa arti kebahagiaan. Kebahagiaan itu saat kita bisa tersenyum atau tertawa dengan bebas tanpa memikirkan beban kehidupan untuk sesaat. Seperti yang lo rasain saat ini, lo bisa tersenyum dan melupakan sejenak masalah yang menimpa kita."
Sirena termenung, ucapan Devita ada benarnya. Ternyata benar, Sirena pernah merasakan kebahagiaan, hanya saja dia tak tahu arti bahagia yang sebenarnya.
"Kau benar, kalau kita merasa cukup maka kita akan bahagia. Selama ini aku terus berusaha terlihat tanpa memikirkan bahwa sebenarnya aku cukup dengan kehadiran Aysun dan Norma. Mungkin hal itu yang membuatku merasa kebahagiaan tidaklah pantas untukku." Ucap Sirena. Sirena menghela nafas lega. Akhirnya, dia menemukan makna kebahagiaan.
"Ada orang yang ngelamar lo, Sirena. Namanya Athanaxius, Pangeran dari Kekaisaran Alioth. Gue harap lo bakal bahagia sama dia nantinya ..."
Sirena menggeleng, "Dia bukan melamarku, tapi melamarmu. Kau yang selama ini menempati tubuhku. Seharusnya saat jiwa kita bertemu seperti ini, aku pasti bisa kembali ke dalam tubuhku dan kau juga kembali ke tubuhmu. Aku rasa tubuhku adalah milikmu, Devita."
"Kenapa lo mikir gitu? Jelas-jelas ini tubuh lo!"
"Ini rumit, aku merasa ada yang janggal diantara kita." Sirena menatap Devita serius, "Kita harus mencari kejanggalan itu."
"Dengan apa?"
"Kalung steorra."
Devita langsung melihat kalungnya. Kalau dipikir-pikir, sebelumnya Devita tak pernah memakai kalung, bagaimana bisa dia memakai kalung setelah berada di dunia ini?
"Dev, siapa itu?" Devita melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sirena. Dari kejauhan ada sosok perempuan berambut putih panjang, mengenakan gaun putih yang menyentuh tanah. Perempuan itu berjalan mendekat ke arah Sirena dan Devita.
"Anjir kuntilanak!! Sirena, kita harus kabur sekarang! Itu hantu!!" Devita menarik tangan Sirena, namun Sirena menolaknya.
"Itu bukan hantu, bodoh! Kau lihat kakinya! Kakinya menapak tanah!" Sirena justru terdiam menunggu sosok perempuan itu menghampirinya.
Perempuan itu kian dekat. Devita tak bisa berlari untuk menghindar karena tertahan tangan Sirena. Rasa takut yang semula menguasainya kini tergantikan dengan keterpukauan karena wajah perempuan itu.
Perempuan itu kini berhenti di depan Sirena dan Devita. Senyuman yang diperlihatkan perempuan itu membuat Sirena dan Devita terlena.
"Sudah lama aku menunggu, akhirnya hari ini tiba juga ... Selamat datang untuk kalian, dua takdir yang menjadi satu ..." Perempuan itu mengeluarkan kupu-kupu beragam warna dari telapak tangannya kemudian mengarahkan ke Sirena dan Devita.
Kupu-kupu itu mengitari Sirena dan Devita kemudian perlahan menghilang menjadi serbuk warna-warni.
Setelah serbuk warna-warni itu hilang, Devita penasaran tentang sosok perempuan bergaun putih di depannya. Perempuan di depannya bagaikan seorang Dewi dari kayangan.
"Siapa Anda?" Tanya Devita.
Perempuan itu menyatukan tangannya di depan perutnya, "Aku adalah Zifgrid terdahulu, Diantha Efigenia."
"Zifgrid?" Beo Sirena dan Devita bersamaan.
Sirena dan Devita saling pandang, kemudian kembali menatap Diantha Efigenia yang masih memancarkan senyum cantiknya.
"Kalian pasti bertanya-tanya tentang tempat ini." Sirena dan Devita mengangguk, "Tempat ini bernama 'Eleftheria'. Eleftheria hanya bisa dikunjungi oleh orang yang ditakdirkan." Tangan Diantha mengusap kepala Sirena dan Devita bersamaan.
"Raja iblis sudah bangkit dan Dryas sang pewaris kegelapan sudah mendapatkan kekuatan milik Raja iblis. Perang melawan kegelapan tak bisa dihindarkan."
"Lantas bagaimana cara melawan kegelapan itu, Diantha? Bukankah musuh utama kita bukan lagi Raja iblis?" Sirena bertanya.
"Dan apakah kita masih perlu mencari Zifgrid?"
Pletak
"Orang di depanmu adalah Zifgrid, bodoh!" Sirena menggeplak kepala Devita dengan wajah kesal.
"Kau benar, Sirena. Musuh terbesar saat perang nanti adalah Dryas, bukan Raja iblis. Sebaliknya, Raja iblis kini sudah menjadi manusia." Diantha kini tak lagi menampakkan senyum cantiknya, "Sosok Zifgrid tidak lagi dibutuhkan karena Zifgrid hanya bertugas untuk mengendalikan Raja iblis, bukan Dryas. Inilah tujuanku mendatangi kalian."
Diantha berbalik membelakangi Sirena dan Devita, kemudian berjalan dengan anggun dan diikuti oleh kedua wanita itu.
"Kalian tidak perlu mencari sosok Zifgrid sepertiku lagi."
"Lantas bagaimana dengan nasib kami?"
Diantha berhenti melangkah, kembali berbalik menatap Devita dan Sirena, "jiwa kalian terpecah dan membuat kalian tidak berada di raga yang tepat. Segeralah temukan raga asli diantara kalian berdua. Dengan begitu, semua akan lebih mudah."
Jawaban dari Diantha membuat Sirena dan Devita dilanda kebingungan. Jiwa terpecah? Raga asli?
"Perasaan yang sama akan mengantar pada dua takdir yang menjadi satu. Kalung steorra akan membantu kalian menemukan raga yang asli."
Teka-teki tak kunjung usai, sedangkan rasa penat mulai menggelayuti Sirena dan Devita yang sudah lama hidup kesusahan. Mengapa saat dunia sedang tidak baik-baik saja, mereka yang dituntut untuk mengobati dunia, sedangkan bila mereka tidak baik-baik saja, semua orang menantikan kematiannya? Bukankah itu tidak adil?
"Mata boleh buta, tapi hati jangan. Tetaplah berbudi meskipun ternista. Jangan menyerah!" Ucapan Diantha sukses membuat keduanya sadar, "Sudah waktunya kalian kembali. Pejamkan mata kalian!"
Sirena dan Devita tak ingin membantah, mereka berdua menurut, memejamkan mata. Tak lama suara nyanyian yang terdengar merdu masuk ke indra pendengaran Sirena dan Devita.
Kegelapan hadir kemudian sirna
Di waktu yang terhenti
Mereka akan menghilang tanpa jejak
Hancur ...
Sinarilah kegelapan ...
Rasakan kehangatan yang memancar
Senyum yang hancur, mata yang lelah ...
Lebih dari sejuta alasan untuk bertahan
Biarkan takdir merajut hati yang pudar
Sinarilah kegelapan ...
Sayup-sayup, nyanyian itu mulai menghilang seiring hilangnya kesadaran Sirena dan Devita.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?