
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"TUAN PUTRI DIANTHA EFFIE KEMBALI!"
Seruan dari legion yang berjaga di depan gerbang menggegerkan Keluarga Kerajaan Uranus, Kerajaan yang tunduk dibawah kekuasaan Kekaisaran Alioth.
Adelphie yang sedari tadi duduk di atas kuda segera turun. Kedatangannya disambut oleh kedua orang tuanya dan ketiga kakaknya.
"Ibunda ..." Adelphie berlari menuju Ratu Merlyndi yang merentangkan tangannya bersiap menerima Adelphie.
"Anak nakal!!!" Ratu Merlyndi justru menarik telinga kanan Adelphie, "Apa harus menunggu Kerajaan kita diserang baru kau mau pulang, huh?"
"Awh! Ibunda, tolong lepaskan tanganmu ... Ini sakit ..." Rengek Adelphie.
"Jangan lepaskan, ibu! Biar Diantha tahu rasa!"
Adelphie menatap tajam Kakak pertamanya, calon Ratu masa depan Kerajaan Uranus. Akan tetapi saat melihat ke arah ayahnya, Adelphie mengubah raut wajahnya menjadi memelas, "Ayahanda .... Tolong suruh ibunda melepas tangannya ... Telingaku bisa putus kalau ditarik seperti ini,"
"Sudahlah, Merlyn, biarkan aku memeluk Putri nakalku ini." Raja Fartinghale melepas tangan istrinya dari telinga Adelphie. Setelah itu Raja Fartinghale memeluk Adelphie erat.
"Seharusnya kau bilang saja kalau kau keberatan, tidak harus kabur hingga hilang kabar hampir dua bulan. Kau membuat ayah cemas, Diantha," Raja Fartinghale mengecup puncak kepala Adelphie dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku, ayahanda ..." Adelphie kemudian mengurai pelukannya. Dia lantas menatap ayahandanya yang wajahnya terdapat bekas luka, "Ayahanda, kenapa Kerajaan kita diserang oleh Kerajaan Aquarids? Apa Kaisar Hylobates mengetahui hal ini?"
Raja Fartinghale menggeleng, "Kaisar Hylobates tidak tahu, ayah belum memberitahunya. Ayah hanya takut justru pihak kita yang dituduh ingin menghancurkan kedamaian antara Kekaisaran Alhena dan Alioth."
Adelphie tentu saja penasaran akan hal ini. Setahunya, ayahnya tidak pernah macam-macam dengan Kerajaan manapun, terlebih lagi Kerajaan Aquarids ada dibawah kekuasaan Kekaisaran Alhena bukan Kekaisaran Alioth. Hal ini tentu saja bisa menimbulkan peperangan besar antar Kekaisaran bila ayahnya memberitahu Kaisar Hylobates tentang penyerangan ini.
"Sebaiknya kita bicarakan hal ini didalam. Kita tidak tahu, siapa yang bisa menjadi mata-mata disini." Ratu Merlyndi mengajak Adelphie dan yang lain masuk ke dalam istana.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Adelphie memandang wajah satu persatu keluarganya, "Jadi alasan itu yang membuat mereka menyerang Kerajaan kita."
"Ayah hanya bisa berbuat sampai disini, Diantha. Keselamatan rakyat Uranus yang utama, ayah tidak bisa mengabaikan hal itu." Raja Fartinghale menatap anaknya dengan tatapan hangat.
Adelphie tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, ayah ... Terima kasih sudah melindungi orang yang aku jaga selama ini." Adelphie berdiri dari duduknya, "Aku akan pergi ke kamarnya sebentar,"
Keluarganya hanya memandang kepergian Adelphie. Diantha Effie Lyr Uranus, Putri bungsu yang paling disayang Keluarga Kerajaan Uranus.
Sesampainya di kamar seseorang yang selama ini Adelphie jaga, matanya melihat sekeliling kamar ini yang begitu dingin.
Adelphie duduk di ranjang yang terasa dingin saat dia duduki, pertanda bahwa ranjang ini sudah lama tidak ditempati.
"Amanita ... Kau pasti sedang bingung sekarang," Senyum tipis muncul di bibir Adelphie.
Adelphie kembali berdiri, berjalan menuju cermin berada. Dia memandang pantulan dirinya yang seketika berubah menjadi sosok yang sangat cantik. Berbeda dengan sosok Adelphie maupun Putri bungsu Kerajaan Uranus yang mereka kenal.
Dia adalah Diantha Efigenia, Zifgrid yang selama ini dicari oleh Sirena tetapi bukan Sirena. Sosok Zifgrid yang menemui Sirena dan Devita dalam mimpi.
Wajah Diantha berubah sendu, "Di masa lalu aku gagal melindungimu, Legumiro. Sekarang aku akan melindungi keturunan terakhirmu semampuku ..." Diantha mengepalkan tangannya penuh semangat.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Kau gagal mendapatkan anak itu?"
Semua orang tertunduk takut mendengar suara rendah dari wanita yang mengenakan gaun hitam dengan topeng yang menutupi wajahnya.
"Maafkan saya, Yang Mulia Dryas ... Kerajaan Uranus tidak menyembunyikan anak itu. Beberapa bawahan saya sudah saya selundupkan ke dalam istana. Akan tetapi tidak ada informasi mengenai anak itu." Pria paruh baya bermahkota raja itu menunduk takut dibawah kaki wanita bergaun hitam.
BRAK
Pintu kuil terlarang dimana tempat mereka berkumpul hancur akibat pelampiasan amarah wanita itu.
"Sialan! Dimana Monachus menyembunyikan anak itu?"
"Mengapa Ratuku sangat menginginkan anak itu? Apa sosok Sirena sudah tidak cukup menjadi batu loncatan untukmu?" Lelaki bertubuh gagah berusia sekitar lima puluh tahunan mengecup punggung tangan wanita bergaun hitam itu.
Jaguisa begitu mengagumi sosok wanita yang dikenal sebagai Ratu Amanita itu. Dia bahkan rela tidak menikah demi wanita yang dia kagumi itu.
"Rencana kita berubah total. Aku mengetahui fakta besar yang disembunyikan Monachus setelah Sirena gagal dieksekusi mati." Ratu Amanita, dia adalah orang yang sangat menginginkan kematian Sirena agar tidak berhasil menemukan sosok Zifgrid.
"Sirena yang sekarang bukanlah Sirena yang sebenarnya."
Bawahan Ratu Amanita begitu terkejut mendengar ucapannya, "Setelah aku mengamati selama ini, ternyata jiwa Sirena digantikan oleh jiwa yang lain." Ratu Amanita memainkan sihir hitam berbentuk bola di tangannya, tak lupa senyum miring tercetak jelas di wajahnya, "Anak yang kucari selama ini adalah kembaran Sirena, anak Monachus dan Agalia yang disembunyikan."
"Darimana Ratuku mengetahui hal besar ini?" Jaguisa sangat terkejut mendengar itu, "Pantas saja kalau Sirena yang sekarang bukan terikat dengan Raja iblis yang tidak tahu keberadaannya sekarang dan justru terikat dengan Pangeran terkutuk itu."
Ratu Amanita menyunggingkan senyuman manis namun berbisa, "Aku selalu tahu apapun, Jaguisa. Maka dari itu aku mengerahkan monster untuk menyerang desa Osaka. Disanalah aku mendengar keberadaan anak itu, tapi ternyata tidak ada." Kali ini wajahnya kembali mendingin, "Dan sekarang kabar terakhir keberadaannya pun tidak sesuai."
'Sialan! Dimana anak itu sekarang?'
"Mohon ampun Yang Mulia Dryas ... Lantas bagaimana dengan Sirena yang sekarang? Apa Yang Mulia akan membiarkannya begitu saja?"
"Tentu saja tidak!" Ratu Amanita berujar cepat, "Mungkin Sirena yang jiwanya entah siapa itu akan berguna nantinya. Kita awasi saja, perkembangan selanjutnya anak itu."
Suasana seketika hening, hingga Jaguisa lah yang memulai pembicaraan, "Kapan kau akan memulai rencana selanjutnya. Sepertinya menemukan sosok Zifgrid belum mampu dilakukan oleh Sirena ataupun anak yang tidak tahu sekarang ada dimana itu. Bisa saja sosok Zifgrid itu sudah tidak ada lagi."
Ratu Amanita mengangguk, "Kau benar. Hm ... Kaisar Helarctor sudah lama duduk di kursi singgasana. Lengserkan dia secepatnya agar Elephas segera naik tahta. Dengan begitu, Nervilia akan melakukan tugas yang sudah aku berikan untuknya."
Ratu Amanita tersenyum puas, sebentar lagi perpecahan akan segera tiba. Ada ataupun tanpa Zifgrid, dia akan tetap pada rencananya, membuat semua manusia di dunia ini tunduk padanya. Terlebih dengan kekuatan Raja iblis yang dia miliki sekarang, dia tak khawatir akan itu.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Nama Legumiro bisa kalian temukan di Bab Mencari Petunjuk, ya? Hahaha ... Kalau sudah tidak berminat dengan cerita ini bisa tinggalkan ya ... Cerita ini bukanlah genre komedi yang membuat kalian tertawa terbahak-bahak. Mohon maaf bila ceritaku banyak kekurangannya. Ini kali pertama aku menulis cerita Fantasi kerajaan yang menurut aku masalahnya emang berat. Aku akan sangat senang bila kalian mau menemaniku berproses :(
Terima kasih ....