The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 54: Keyakinan Athanaxius



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Sudah seminggu Sirena terbaring tak sadarkan diri. Kepergiannya ke desa Osaka pun tertunda. Dan selama seminggu pula, diberbagai wilayah dikabarkan tidak ada lagi penyerangan monster.


Karena keadaan Sirena yang belum ada tanda-tanda untuk bangun, beberapa orang bergantian menjaganya, yaitu Agda, Adelphie, Aindrea, Galcinia bahkan Falco pun turut menjaganya.


Saat ini giliran Galcinia yang berjaga bersama Falco. Kedua orang itu duduk di sisi ranjang bersebelahan, memandang wajah damai Sirena. Sirena hampir seperti orang tidur, terbukti dari wajahnya yang tidak terlihat pucat sama sekali.


"Apa yang membuatmu ikut menjaga Sirena? Tumben sekali." Galcinia melirik Falco yang hanya diam di kursinya sembari bersidekap dada.


Falco masih menatap wajah damai Sirena, "Dia selalu seperti ini, lemah sekali."


"Sudah tahu dia lemah, kenapa justru kau mengabaikannya? Cih!" Galcinia berdecih.


Falco menghela nafas kemudian menoleh ke samping, memandang istrinya yang berbeda semenjak bangun dari koma, "Aku berada disini bukan untuk berdebat denganmu."


Galcinia menatap tak terima ke arah Falco, "Siapa yang mengajakmu berdebat? Idihh!!" Namun tak lama, raut wajah Galcinia berubah, dia mendekat ke arah Falco, "Hei, apa kau tahu hubungan antara Elanus dan Agda? Aku pernah melihat mereka berciuman di Manor ini." Ucap Galcinia dengan bisik-bisik.


'Elanus dengan luster pribadi Sirena?' Falco bertanya-tanya dalam hati.


"Tahu tidak?" Galcinia menaik-turunkan kedua alisnya.


Melihat raut wajah yang lebih ekspresif dari Galcinia tiba-tiba membuat Falco gemas dan ingin menggodanya, terlebih saat jarak diantara keduanya sangatlah dekat. Falco pun berbisik tepat di telinga Galcinia, "Aku ... Tidak tahu."


"Anjir! Geli tahu!" Galcinia mengusap telinganya beberapa kali. Melihat itu membuat Falco terkekeh.


"Ehm ..."


Kekehan Falco terhenti saat mendengar suara orang berdehem. Pasutri itu pun menoleh bersamaan ke arah pintu kamar Sirena. Di sana di depan pintu, terdapat tiga orang yang menatapnya datar.


Galcinia mengernyitkan keningnya melihat ketiga orang ini yang tiba secara bersamaan, "Kalian mau apa?"


"Menjaga Sirena."


"Menjaga Kak Nana."


Ketiga orang itu adalah Athanaxius, Sirakusa, dan France.


"Tidak perlu, kalian bisa kembali beraktivitas masing-masing. Aku dan istriku yang akan menjaga Sirena hari ini." Ucapan Falco membuat Athanaxius mengepalkan tangannya.


"Sejak kapan Anda begitu peduli dengan adik yang Anda abaikan selama ini?" Sindir Athanaxius. Lelaki itu berjalan mendekati ranjang Sirena.


Athanaxius dapat melihat wajah Sirena yang masih cantik, tidak seperti biasanya orang sakit yang terlihat pucat.


'Apa kau benar-benar mengkhawatirkan wanita itu?'


'Apa urusannya denganmu? Sebaiknya kau diam dan jangan buat kekacauan hari ini.'  Athanaxius tengah berbicara dengan si Mata merah.


Tangan Athanaxius terulur mengusap pipi Sirena yang ternyata begitu dingin hingga lelaki itu terkejut.


France yang melihat keterkejutan Athanaxius turut mendekat begitupula Sirakusa hingga membuat Galcinia dan Falco tersingkir secara paksa.


"****** bener tiga orang ini! Udah tau ada orang disini, main senggol-senggol aja!" Galcinia menggerutu.


Usapan lembut dibahunya membuat Galcinia menoleh, mendapati tatapan lembut dari Falco, "Ngapain lo?" Galcinia menyingkirkan tangan Falco.


"Kau bicara apa?" Falco mengernyitkan keningnya.


"Lupakan."


Galcinia pun memilih pergi, membiarkan ketiga orang ini yang berjaga. Lagipula sekarang cacing di perutnya mulai berdemo minta diisi makanan. Falco pun turut mengikuti Galcinia dari belakang.


Sepeninggal Falco dan Galcinia, ketiga orang itu termenung dengan pikiran masing-masing setelah mengetahui suhu tubuh Sirena yang sangat dingin seperti es.


"Dia seperti orang meninggal meskipun tetap bernafas." ucap Athanaxius.


France menggenggam tangan Sirena, berharap bisa menghantarkan kehangatan untuk Sirena.


"Hei! Singkirkan tanganmu, bocah!" Athanaxius menepis tangan France kasar. Dia hanya tak suka saat miliknya disentuh orang lain selain dirinya.


"Memangnya kenapa?" France kembali menggenggam tangan Sirena.


"Tidak boleh!!"


Kali ini tangan France ditepis oleh Athanaxius dan Sirakusa. Keduanya kompak menatapnya penuh permusuhan.


France mencoba bersabar dengan menghela nafas. Dia tak boleh kelepasan dan membuat penyamarannya terbongkar. Mungkin malam nanti dia bisa mengunjungi Sirena, akhirnya France memutuskan untuk pergi.


Kini hanya tinggal Athanaxius dan Sirakusa yang mencoba menyalurkan kekuatan penyembuh untuk membuat tubuh Sirena menghangat.


"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kudengar kau menjadi pendamping Pangeran Phyron melawan pemberontak di wilayah timur Kekaisaran Alhena?"


Sirakusa mengangguk, "Itu benar. Tapi setelah mendapati kabar Sirena yang tak sadarkan diri tanpa sebab apapun membuatku datang kemari." Sirakusa mencoba tidak peka akan maksud Athanaxius yang mengusirnya secara halus. Melihat Sirena yang terbaring seperti ini membuatnya khawatir.


"Pergilah! Aku yang akan menjaga calon.istriku." Athanaxius menekan ucapannya dibagian 'calon istri' untuk mempertegas posisinya disisi Sirena, "Apa kau tak tahu malu mendekati calon istri orang?" Dia menyeringai saat ucapannya berhasil membuat Sirakusa mengepalkan tangannya.


Tanpa sepatah katapun Sirakusa melenggang pergi.


Athanaxius menggeret salah satu kursi untuk dia duduki di dekat ranjang Sirena. Lagi-lagi matanya tertuju pada Sirena. Lalu tangannya terulur untuk menggenggam tangan dingin Sirena.


"Kau tak ingin menyambut kedatangan calon suamimu ini, hm? Kau tidur nyenyak sekali, dasar Putri Tidur!" Athanaxius tersenyum tipis sembari tangannya mengusap pelan tangan Sirena yang dia genggam.


Athanaxius menajamkan matanya ke arah liontin kalung Sirena yang tiba-tiba berpendar. Saat itu pula dia merasakan suhu tubuh Sirena mulai menghangat. Athanaxius dapat melihat kelopak mata Sirena yang ingin terbuka.


"Eungh ..." Lenguhan dari Sirena membuat Athanaxius berdiri dari duduknya, kemudian menepuk-nepuk pelan pipi Sirena.


"Apa kau mendengarku, Sirena?"


Perlahan kelopak mata Sirena terbuka. Mata itu nampak sayu saat bertemu tatap dengan Athanaxius.


"Kau butuh sesuatu, hm?"


Sirena mengangguk lemah, "H-haus ..."


Athanaxius segera menuangkan air untuk Sirena lalu membantunya minum. Setelah melihat Sirena yang sudah merasa cukup, Athanaxius meletakkan gelas di atas nakas samping ranjang.


"Kau baik-baik saja?"


Sirena menggeleng, "Entahlah ... Disini begitu sakit sekarang." Sirena menyentuh dadanya yang terasa sesak.


"Kau bermimpi buruk selama tertidur?"


Lagi-lagi Sirena menggeleng, "Ingatanku tentang masa lalu jauh lebih buruk dari sekedar mimpi, Athan. Itu membuatku ... Sakit." Sirena kembali menyentuh dadanya yang kian sesak.


'Luka yang menyakitkan adalah luka hati. Sirena begitu pandai menyimpan luka hatinya dengan baik dibalik wajah dinginnya.'


Athanaxius memandang wajah Sirena yang menyendu, "Kalau kau mau, kau bisa bercerita kepadaku."


"Aku hanya ingin sembuh." Balas Sirena yang membuat Athanaxius bungkam, "Bercerita kepadamu sama saja aku menaruh harapan yang akan membuatku kembali kecewa." Mata Sirena nampak kosong.


"Maaf untuk malam itu, Sirena." Mendengar permintaan maaf dari Athanaxius membuat Sirena memandang wajah lelaki itu yang berjarak begitu dekat dengan wajahnya, "Maaf karena aku hampir melupakan dirimu, malam itu."


"Aku memaafkan setiap kesalahan orang, tapi apa pernah mereka bertanya bagaimana cara menyembuhkan kekecewaan yang mereka perbuat?" Sirena tersenyum sangat tipis melihat Athanaxius yang kembali terdiam.


"Aku ingin beristirahat, Athan ..."


Athanaxius mengerti, Sirena mengusirnya secara halus. Lelaki itu menghela nafas pasrah, "Aku ada di depan kamarmu, kalau kau butuh sesuatu panggil aku saja."


Sirena tak membalas Athanaxius, dia memilih memejamkan mata dan mengabaikan Athanaxius.


Sebelum benar-benar pergi, Athanaxius menyempatkan untuk mengecup kening Sirena, "Maaf untuk kekecewaan yang kuperbuat ..."


"Simpan maafmu untuk lain hari bila kau kembali melupakanku." Sirena berbicara dengan mata yang terpejam. Memandang wajah Athanaxius hanya akan mengingatkannya pada malam pesta pernikahan itu.


Cklek


Setelah mendengar pintu tertutup, Sirena membuka matanya. Dia melihat pintu kamarnya dengan pandangan sedih sebelum akhirnya menghela nafas lelah. Meskipun dia memang lumayan takut dengan Athanaxius, tapi bukan berarti dia membiarkan hatinya dikecewakan oleh lelaki itu.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Didepan pintu kamar Sirena, Athanaxius mendapati sosok France yang menatapnya dengan tatapan datar.


"Malam itu Kak Nana sangat cantik, bahkan membuat saya yang anak kecil saja ingin menikahinya. Tapi sayang sekali, Kak Nana malah menjadi perbincangan orang-orang karena perbuatan Anda. Bagaimana bisa Anda berdansa dengan wanita lain yang mana ada calon istri Anda disana?"


Athanaxius tak menyangka, anak ini berani mengomelinya dan menatapnya. Tetapi, kenapa kutukan itu tidak bereaksi? Padahal sebelumnya dia hampir menyerang anak ini.


'Mungkin dia manusia aneh.' ucapan si mata merah yang ada dipikirannya membuat Athanaxius mengernyitkan keningnya.


"Seharusnya bukan Anda yang menjadi calon suami Kak Nana."


"Lantas siapa yang pantas menjadi calon suami Kak Nana-mu?" Athanaxius membungkuk untuk menatap mata France.


'Tentu saja aku.' batin France menyeringai.


"Saya pernah mendengar mengenai simbol mawar hitam yang ada dikening Kak Nana. Simbol itu adalah simbol pembangkit Raja ibl-"


"Terus?"


"Orang yang membangkitkan Raja iblis adalah permaisurinya. Mungkin saja Kak Nana cocok dengan Raja iblis, Ambrogio Agafya." France berucap tenang.


Athanaxius mencoba tenang, dia lantas menegakkan tubuhnya kembali kemudian bersidekap dada, "Perlu kuingatkan, Raja iblis bukan manusia. Iblis tetaplah iblis, tak bisa bersanding dengan manusia."


"Bagaimana bila Raja iblis berhasil menjadi manusia? Apa Anda siap bila suatu hari Raja iblis lah yang berhasil merebut hati Kak Nana?"


Athanaxius terdiam.


'Hahaha ... Aku suka anak ini!' Si mata merah tertawa di dalam pikiran Athanaxius, 'Menurutmu bagaimana, Athanaxius?'


'Itu tidak akan terjadi! Sirena hanya akan jatuh cinta padaku.' Tentu saja Athanaxius ragu dengan ucapannya. Memangnya ada yang benar-benar jatuh cinta pada lelaki dengan kutukan yang membahayakan dan membuatnya mirip seperti monster?


"Kau ingin tahu jawabanku, anak kecil?"


"Apa itu, Pangeran Athanaxius?" Balas France.


"Meskipun Ambrogio Agafya berhasil menjadi manusia dan merebut hati Sirena, tetapi bila takdir menyatukannya denganku, dia akan menjadi milikku." Athanaxius menyeringai melihat wajah suram France.


"Sebaiknya pergilah bermain masak-masak agar kelak saat kau dewasa, kau menjadi lelaki idaman para wanita malas karena pandai memasak." Athanaxius menepuk kepala France tiga kali sambil tersenyum puas.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Maaf ya, aku g bisa kyk author lain di NT yg bisa up sehari dua sampe tiga part:( karena aku di real life krja sistem shift. Aku tiap mau nulis bru dpt dua ratus kata kdng udh ktdrn krna kecapekan. Aku cuma curhat aja sbnrnya, gpp kan? Aplgi aku nulis jg ga dpt dukungan dri org trdkt. diremehin jg, krna hal itu jg aku kehilangan minat buat nulis༎ຶ‿༎ຶ. Aku bner" butuh dukungan dri kalian ... Aduh jdi curhat, but yg baca curhatanku, makasih bnyk ya ... Kalian ttp baca crita ini kan? aku bakal buat sampai end kok, tenang aja.


tolong kasih komentar kalian ya ... dan klik suka juga hehe ... makasih buat kalian warga NT╰(⸝⸝⸝´꒳`⸝⸝⸝)╯