
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Yang Mulia, apa Anda sudah mendengar kabar mengenai Kaisar Helarctor yang tengah sakit keras?"
Raja Monachus menghentikan aktivitasnya yang tengah membaca buku, "Sudah." Raja Monachus kemudian berdiri dari duduknya, memandang sosok Lasel yang setia menjadi tangan kanannya.
"Apakah ini ada kaitannya dengan Ratu?"
"Menurutmu?" Raja bertanya balik.
"YANG MULIA RATU AMANITA BERKUNJUNG ..."
Interupsi dari Suzdal membuat pembicaraan mereka terpaksa berhenti.
Tak lama pintu ruang kerja Raja Monachus terbuka, sosok Ratu Amanita yang masih terlihat cantik dan anggun berjalan masuk.
"Maaf sudah mengganggumu, Adiose ..." Ratu menundukkan kepalanya.
"Aku selalu memiliki waktu untukmu, Amore." Sahut Raja Monachus menghampiri Ratu Amanita. Mata Raja Monachus melirik Lasel untuk keluar dari ruang kerjanya.
"Saya izin undur diri, Yang Mulia Raja ... Yang Mulia Ratu ..."
Ratu Amanita menatap kepergian Lasel dengan seringai tipis menghias wajahnya. Kemudian dia terfokus pada suaminya. Tangannya terulur mengusap dada Raja Monachus lalu merapatkan diri ke dalam pelukan Raja Monachus.
"Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku lagi, Adiose?"
Raja Monachus membelai rambut halus Ratu, "Tidak ada. Memangnya apa yang aku sembunyikan?"
"Adiose, jangan berbohong ... "
Wajah Raja Monachus berubah pias karena menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Dimana kau menyembunyikan buku ramalan?" Ratu tak melepas pelukannya, dia mendongak untuk melihat wajah suaminya yang nampak menahan sakit.
"B-buku r-ramalan apa m-maksudmu?" Suara Raja Monachus tertahan karena rasa sakit yang tengah dia derita.
Ratu melepas pelukannya dan membuat Raja seketika merasa lega hingga membuatnya terjatuh di bawah kaki Ratu Amanita.
"Kau sudah mengetahuinya bukan?"
Raja Monachus mendongak, melihat wajah istrinya yang terlihat menyeramkan, "Berhentilah, Amanita ... Impianmu tidak akan terwujud."
PLAK
BRUGH
Raja Monachus terpental hingga menabrak dinding akibat pukulan Ratu Amanita.
"Tutup mulutmu itu, Monachus! Impianku harus terwujud!" Ratu berujar dingin sembari menghampiri Raja Monachus yang menahan rasa sakit di punggungnya.
"Lihatlah betapa rendahnya dirimu sekarang," Ratu Amanita mencengkram pipi Raja Monachus, "bila kau masih ingin hidup, katakan saja dimana buku ramalan itu. Aku ingin tahu, siapa yang akan menjadi lawan terbesarku nantinya." Setelah mengatakan itu, Ratu melepas cengkraman tangannya dari pipi Raja Monachus.
"Kau t-tak akan menang, Amanita!"
"Hahaha ... Ekspresimu menjelaskan sesuatu, Monachus! Apa kau tak sadar?"
Raja Monachus benar-benar menyesal akan masa lalunya. Mengapa dia mau menerima perjodohan dengan Amanita? Penyesalan memang selalu datang di akhir.
"Apa kau sengaja mengirim Putri bodoh itu ke Osaka?" Bisikan disertai cengkraman kuat dilehernya membuat Raja Monachus tak bisa berkutik, kekuatan miliknya benar-benar tak setara dengan Ratu Amanita. Hingga akhirnya kegelapan yang berhasil menguasainya.
"LASEL!! LEGION!! RAJA PINGSAN!!"
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Kabar mengenai Raja Monachus yang jatuh pingsan di ruang kerjanya sampai di telinga Galcinia yang sibuk mengurus Manor Chysanthemum membantu Aindrea.
Sejujurnya, selama menjadi menantu di Kerajaan ini, Raja dan Ratu memperlakukannya dengan baik selayaknya menantu kesayangan. Maka sebagai menantu yang baik, Galcinia memutuskan untuk menjenguk mertuanya itu.
"Kau ingin mengunjungi ayahanda?"
Galcinia menoleh, mendapati sosok lelaki yang menjadi suami pemilik tubuh asli Galcinia, Falco.
"Sudah tahu pakai nanya segala." Sahut Galcinia ketus. Alasan dia menyahut dengan ketus karena Falco pagi tadi membuat keributan di Manor hanya karena dia yang berbaur dengan pekerja pembuat tempe dan tahu. Iya, selain membantu mengurus Manor juga bisnis Devita, Galcinia juga mengajarkan mereka membuat tahu.
Karena malas bertemu pandang dengan Falco, Galcinia melanjutkan langkahnya.
"Kau masih marah?" Falco menyejajarkan langkahnya hingga berjalan bersisihan di sepanjang lorong istana menuju kamar utama Raja.
"Apa pedulimu?" Galcinia berhenti, dia lantas memusatkan tatapannya pada Falco, "Sejak kapan kau peduli aku marah atau tidak? Lebih baik kau belajar lagi dengan rajin agar kelak menjadi Raja yang membawa kejayaan bagi Kerajaan ini."
Saat hendak pergi tangan Galcinia ditahan oleh Falco. Falco melirik sekitarnya yang sepi dari para luster. Lelaki itu menghembuskan nafasnya lelah, "Tidak bisakah kita menjadi pasangan suami-istri yang saling mencintai?"
"HAH?" Galcinia refleks mengatupkan bibirnya, dia lantas memperbaiki raut wajahnya menjadi datar, "Apa maksudmu, Falco?"
Tanpa disadari oleh Falco, Galcinia melihat wajah serta telinga Falco yang memerah. Galcinia menduga lelaki itu tengah malu sekarang. Sebagai perempuan dari masa modern yang mengetahui tentang urusan perasaan, Galcinia paham maksud Falco. Dia memang sengaja ingin mempermainkan Falco sebagai pembalasan atas kelakuannya selama ini terhadap Sirena asli.
"A-aku mencintaimu ..." cicit Falco.
Galcinia tersenyum sangat tipis mendengarnya, "Kau mencintaiku?"
Falco mengangguk selayaknya anak kecil.
"Bagaimana kalau aku tidak mencintaimu?"
Falco lantas memandang Galcinia dengan raut wajah bingung, "Me-mengapa? A-apa aku kurang tampan di matamu?"
Galcinia menggeleng, tangannya terulur membelai pipi Falco, "Dari segi tampan, kau masuk ke dalam kriteria lelaki tampan yang kusukai. Tapi ada satu yang tidak aku sukai darimu," Galcinia berhenti membelai pipi Falco, "your attitude."
Falco terdiam, ada apa dengan sikapnya? Selama ini dia sudah belajar dengan keras untuk bersikap baik pada siapapun.
"Perbaiki hubunganmu dengan adikmu, untuk segala sikap burukmu selama ini."
Kecuali yang satu itu, Falco menyadarinya. Sikapnya terhadap Sirena memang buruk selama ini.
Bohong kalau Galcinia bilang dia tak mencintai Falco. Hidup di dalam tubuh Galcinia asli, membuat Ayana jatuh cinta dengan sosok Falco. Hanya saja dia ingin memberi pelajaran terhadap lelaki itu.
"Kakak ipar!"
Tepat setelah sampai di depan pintu kamar Raja, Galcinia dipanggil oleh Elanus yang juga baru datang.
"Kau datang sendiri kemari? Dimana Kak Falco?"
"Aku disini."
Falco datang kemudian berdiri di sebelah Galcinia. Lelaki itu menatap wajah istrinya sekilas, lantas menatap Elanus, "Bukankah kau seharusnya berada di perbatasan untuk mengurus kekeringan disana?"
"Aku ingin menjenguk ayahanda. Aku khawatir dengan kondisinya."
Cklek
Pembicaraan mereka terhenti saat pintu terbuka, lalu sosok Ratu Amanita keluar dengan wajah terkejut melihat kedua anak juga menantunya ada di depan kamar Raja. Ketiga orang itu lantas memberi hormat pada Ratu Amanita.
"Raja sudah lebih baik sekarang. Kalian bisa menjenguknya." Ketiganya masuk ke dalam kamar tanpa Ratu Amanita.
Raja Monachus menatap kedatangan mereka dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
"Ayahanda, apa kau baik-baik saja?" Elanus yang pertama kali bertanya.
Galcinia sendiri terfokus pada bekas jari yang ada di leher Raja, seperti bekas cengkraman yang sangat kuat.
"Ayahanda mertua ... Kenapa dengan leher Anda?"
Pertanyaan dari Galcinia membuat fokus Elanus dan Falco tertuju pada leher Raja Monachus. Mereka baru menyadari bekas merah itu.
Raja Monachus memandang Galcinia, menantu yang setelah bangun dari koma sikapnya mirip dengan Sirena, "Menantu," panggil Raja dengan suara serak.
"Saya disini, Ayahanda mertua ..." Galcinia lantas mengambil duduk di tepi ranjang.
"Bolehkah mertuamu ini meminta tolong?"
Galcinia mengangguk, "Saya akan membantu semampu saya, ayah ..."
"Bawalah suamimu, dan adik-adik iparmu menyusul Sirena. Kalian akan aman bersama Sirena." Setelah mengatakan itu, Raja Monachus terbatuk-batuk.
Falco sebagai anak yang berbakti mengambilkan minum kemudian membantu Raja minum agar batuknya sedikit reda.
"Ayah, mengapa kau meminta kami menyusul Sirena?" Elanus bertanya dengan kening mengerut.
Setelah dirasa batuknya cukup reda, Raja mengulas senyum tipis, "Sebentar lagi kekacauan akan tiba. Ayahanda tidak mampu melindungi kalian semua ... Uhuk-uhuk ... Kalian akan terkejut bila tahu fakta aslinya."
"Tentang Ratu?"
Ucapan Galcinia berhasil membuat Falco, Elanus dan Raja kembali menatapnya.
"Menantu ..." Raja Monachus kaget, "Bagaimana kau bisa tahu?"
Galcinia menghela nafas, "Ratu adalah penyembah iblis bukan? Dialah yang selama ini berusaha membangkitkan Raja iblis lewat Sirena."
"Apa maksud perkataanmu, Galcinia?" Falco memegang pundak Galcinia dengan erat.
Galcinia menyingkirkan tangan Falco dari bahunya dengan kasar, dia memilih tak menjawab Falco. Dia kembali memandang Raja, "Ayahanda mertua ... Mengapa Anda selama ini diam saja setelah tahu siapa Ratu yang sebenarnya?"
Raja mengalihkan pandangannya ke segala arah, "Itu adalah jalan terbaik untuk semuanya. Lebih baik pura-pura tidak tahu apa-apa untuk kebaikan di waktu yang lama."
"Ayah, aku masih tidak mengerti!" Elanus mengusap rambutnya kasar, "Ibunda penyembah iblis?"
Raja mengangguk, "Maka dari itu, kalian harus meninggalkan istana ini. Pergilah menyusul Sirena ... Ibunda kalian sekarang bukanlah sosok ibunda yang menyayangi kalian semasa kecil."
Falco hanya bisa diam mencoba menerima fakta itu. Dia tahu ayahandanya bukanlah orang yang suka berbohong. Maka dari itu dia percaya dengan ucapan Raja Monachus.
"Kalian keluar istana jangan di waktu bersamaan. Hal itu akan menimbulkan kecurigaan pada ibunda kalian, mengerti?"
"Mengerti." Sahut Galcinia saja karena Elanus dan Falco hanya diam.
'Gue harus bawa aset-aset kekayaan Devita juga! Kudu cepet ini mah!'
"Kalau begitu saya izin undur diri, Ayahanda mertua ..." Setelah mendapat anggukan dari Raja, Galcinia langsung pergi secepatnya menuju Manor.
Berbeda dengan Falco dan Elanus yang masih tinggal di kamar Raja.
"Dengan sisa sihir Agalia, setidaknya Ibunda kalian tidak akan tahu pembicaraan kita hari ini." Raja Monachus memejamkan matanya sejenak lalu kembali membuka matanya, "Apa yang kalian tunggu?"
"Mengapa kita harus menyusul Sirena?" Elanus yang bertanya.
"Karena adikmu itu yang bisa membantu menghentikan ibundamu. Kalian akan tahu sendiri nantinya, sekarang cepatlah pergi!" Raja Monachus kembali terbatuk-batuk.
Elanus dan Falco saling pandang, ada satu pertanyaan yang sama di pikiran mereka.
"Bagaimana dengan ayahanda?"
"Uhuk-uhuk ... A-aku baik-baik saj- uhuk-uhuk ... Cepatlah! Apa yang kalian tunggu? Ini perintah Raja!" Bentak Raja Monachus pada kedua anaknya itu.
Elanus meneteskan air matanya melihat kondisi sang ayah. Dia tak tega harus meninggalkan ayahandanya dalam kondisi tengah sakit.
Sebelum mereka benar-benar pergi, Raja memberi pesan pada mereka, "Sampaikan pada Sirena, bahwa selama ini ayahanda menyayanginya ..."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Aku udah seneng lagi gengs ;*
Kemarin udah healing wkwkw ke pantai ... Buat kalian yang lagi bersedih, tetap semangat ya!!!
aku ada gambaran wajah Ratu Amanita gengs