The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 88: Keinginan yang Terkabul



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


... Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Langit cerah yang selama ini ditunggu dan dirindukan oleh semua orang akhirnya terlihat kembali. Tidak ada lagi kegelapan yang membuat dunia mereka begitu suram dan menakutkan.


Beberapa orang yang berada dibawah pengaruh sihir Ratu Amanita kini sudah sadar kembali. Monster yang begitu banyak dan dibawah pengaruh sihir Ratu Amanita turut hangus namun ada pula yang masih mampu bertahan hidup dan memilih bersembunyi kembali di kegelapan hutan.


Di Osaka sendiri, semuanya perlahan mulai membaik berkat kerja keras Sirakusa dan Falco yang memimpin rakyat Osaka untuk kembali bangkit.


Sirakusa, lelaki itu kembali sehat setelah menelan batu permata milik Diantha dengan bantuan Irena saat pertarungan Athanaxius dan Ratu Amanita kala itu.


Sedangkan Athanaxius, dia belum mati. Jiwanya berhasil kembali ke dalam tubuhnya berkat bantuan dari jiwa Dewa Eunoia. Dewa Eunoia menuntun jiwa Athanaxius kembali ke tubuhnya dengan mantra yang membuat jiwa Dewa Eunoia menghilang menjadi debu.


Lalu ada Ambrogio yang terus mencoba merangkai cermin kuno kembali yang sudah pecah bersama Irena dan Sirena. Sirena, wanita itu kembali ke dalam tubuhnya setelah kehancuran Ratu Amanita.


"Semua karena ulah si keparat Athanaxius! Andai dia tak menghancurkan cermin kuno ini, semuanya akan menjadi lebih mudah!"


Irena mencoba menulikan telinganya mendengar gerutuan Ambrogio untuk kesekian kalinya.


"Sst!" Tegur Sirena kepada Ambrogio.


Sementara yang dibicarakan oleh Ambrogio masih terus setia duduk melamun disamping Ambrogio.


Sudah satu minggu berlalu, dan dia masih belum mendapatkan titik terang dimana Devita saat ini. Apakah Devita masih hidup atau sudah mati?


Menurut Sirakusa yang mendapat penglihatan di mimpinya. Ada satu cara untuk mengetahui apakah Devita masih hidup atau sudah mati, yaitu dengan melakukan ritual pertukaran jiwa karena bulan merah malam nanti akan muncul.


"Hftt ... Akhirnya!" Irena menitikkan air matanya saat melihat cermin kuno itu sudah terangkai kembali meskipun tidak utuh. Sudah saatnya Irena harus kembali ke tubuh aslinya yang berada di bumi.


"Aku akan memberitahu Sirakusa bahwa cermin kuno sudah selesai dirangkai." Irena berdiri dari duduknya lalu berlari untuk menemui Sirakusa yang berada di balai desa Osaka.


Di sepanjang perjalanan, Irena terus berpikir keras. Jiwa Sirena berhasil kembali ke tubuh aslinya saat tubuhnya terluka parah kala itu. Apakah dengan cara itu jiwanya dan jiwa Devita kembali ke tubuh aslinya?


Karena tidak fokus, Irena hampir saja terjatuh akibat tersandung batu kalau saja Sirakusa tidak menangkapnya.


"Ceroboh!"


Irena sontak menjauhkan tubuhnya dari Sirakusa. Tanpa mengatakan apapun, Irena menarik tangan Sirakusa menuju ke tempat yang sedikit jauh dari keramaian.


Setelah dirasa hanya benar-benar ada mereka berdua, Irena menatap Sirakusa, "Apa kau sudah tahu caranya? Selain dengan ritual pertukaran jiwa di bulan merah, pasti masih ada lagi kan?"


Sirakusa sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan, "Darimana kau tahu?"


"Aku berpikir keras dengan kemampuan otakku." Balas Irena, "Apakah aku harus mati dulu agar bisa kembali ke tubuh asliku dan begitupula Devita?"


"Aku sedang memikirkan cara lain tanpa harus menyakitimu." Ucap Sirakusa setelah menghela nafas lelah.


Irena mengerutkan keningnya, "Ada apa dengan dirimu? Jangan bersikap baik padaku! Kalau memang aku harus mati lebih dulu agar bisa kembali, sekarang bunuh aku!"


"Aku benar-benar serius dengan ucapanku, Irena!" Sirakusa memegang kedua bahu Irena, "Aku tak ingin menyakitimu."


Irena menyingkirkan kedua tangan Sirakusa, "Malam ini bulan merah muncul. Jangan membuang-buang waktu, sialan!"


"Irena!"


"Apa? Apa alasanmu tidak ingin menyakitiku, hah?"


Sirakusa tak bisa membalas pertanyaan Irena. Entahlah,lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan itu.


"Jangan memberikan harapan sedikitpun pada seorang wanita, Sirakusa! Wanita itu perasa dan mudah terpesona, tapi aku tidak ingin menjadi wanita yang seperti itu!" Setelah mengatakan itu, Irena melenggang pergi.


"Kau yang memberiku harapan terlebih dahulu!"


Langkah kaki Irena terhenti.


"Kau yang menolongku di detik-detik kematianku. Kau lah yang memberiku harapan terlebih dahulu!"


Plak


"Sudah aku duga ada yang tidak beres denganmu, Sirakusa. Kau egois! Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya Sirena dan Athanaxius dengan Devita?"


"Kau sendiri? Apa kau juga khawatir dengan Devita?"


"TENTU SAJA, BODOH!" Emosi Irena semakin tersulut. Tangan Irena terulur mencengkram kerah baju Sirakusa hingga membuat lelaki itu berjarak dekat dengan wajah Irena.


"Devita sudah menderita sejak lama. Tidak di dunia ini ataupun di dunia asalku. Dan sekarang? Aku ingin memberikan haknya, Sirakusa! Tubuh ini adalah haknya!" Setelah mengatakan itu, Irena menghempaskan Sirakusa dengan kasar.


Sirakusa hanya bisa memandang wajah marah Irena tanpa nengatakan apapun. Hanya helaan napas panjanglah yang keluar karena merasa tidak mengerti dengan situasinya saat ini.


"Kalau kau tak ingin membunuhku, aku akan mencari orang lain untuk membunuhku." Irena berbalik untuk pergi meninggalkan Sirakusa.


Kali ini Sirakusa tak menahan, dia hanya bisa memandang punggung kecil Irena yang perlahan menghilang dari matanya.


"Aku akan menemuimu nanti, Irena." Ujar Sirakusa penuh makna.


... -ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Irena berjalan lunglai dengan perkataan Sirakusa yang terus terngiang-ngiang di otaknya. Apakah Sirakusa menyukainya? Mengapa sikap lelaki itu seolah-olah tidak ingin orang yang disukainya menderita? Bukankah yang disukai Sirakusa adalah Sirena?


"ARGHHH! SIALAN!" Irena menghentakkan kakinya ke tanah dengan penuh amarah dan tak lupa tangannya yang mengacak-acak rambutnya.


Irena menghembuskan nafasnya berulangkali untuk mengontrol emosinya yang meledak-ledak. Matanya memindai sekeliling dimana dia berada sekarang. Ternyata dia berada di luar desa Osaka yang tampak sepi.


"Sialan! Karena cowok sialan itu gue nggak sadar keluar dari zona aman." Irena sedikit merinding saat merasakan ada sepasang mata yang tengah menatapnya.


Irena perlahan mundur untuk segera kembali ke desa Osaka saat benar-benar merasakan sinyal bahaya mulai muncul.


BOOM


Wush


Serangan tiba-tiba datang tanpa bisa dihindari oleh Irena. Irena yang tidak siap dengan serangan itu terhempas ke belakang.


"Awh!" Irena mengeluh sakit karena pantatnya yang begitu keras mencium tanah.


"Putri Irena ..."


Irena sontak mendongak, betapa terkejutnya saat melihat sosok berjubah hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya namun wajahnya tidak ada. Hanya ada kegelapan yang membuat Irena membeku di tempat.


Sosok itu membungkuk menyejajarkan wajahnya tepat di depan wajah Irena, "Ku dengar kau ingin sekali dibunuh, benar?"


Irena mengangguk tanpa sadar. Irena yakin suara yang dia dengar adalah milik sosok di depannya.


Sring


Sosok itu mengeluarkan pedang ajaibnya yang secara mendadak muncul di tangannya.


"Maka aku akan mengabulkannya."


Jleb


"Ugh ..." Irena membulatkan matanya saat pedang yang begitu tajam menghujam tepat di jantungnya.


Sosok itu dengan kejam menarik kembali pedangnya dari tubuh Irena lalu melenyapkannya.


"Ini bukan sepenuhnya salahku karena kau yang menginginkan untuk dibunuh. Sampaikan salamku pada Tuanku saat kau bertemu dengannya di Niskala. Aku, Jaguisa, merindukan Ratuku."


Sosok itu hanya memandang Irena yang kini sudah limbung tak sadarkan diri ke tanah.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.