The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 85: Keajaiban Dua Jiwa



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


... Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Kegelapan hadir kemudian sirna


Di waktu yang terhenti


Mereka akan menghilang tanpa jejak


Hancur ...


Sinarilah kegelapan ...


Rasakan kehangatan yang memancar


Senyum yang hancur, mata yang lelah ...


Lebih dari sejuta alasan untuk bertahan


Biarkan takdir merajut hati yang pudar


Sinarilah kegelapan ...


"Kau terlihat kelelahan sekali ..."


Elusan yang mengantarkan rasa nyaman perlahan membuat Devita membuka matanya.


"Siapa kau?" Devita memandang sosok perempuan berambut coklat yang senada dengan warna matanya. Perempuan itu begitu cantik dan mempesona saat dipandang mata.


"Aku? Aku adalah sebagian dari dirimu, Elegi."


"Elegi?"


Devita lantas bangun dari pangkuan perempuan itu. Ingatannya mencoba mengingat siapa itu Elegi karena dia seperti tak asing dengan nama itu.


Perempuan itu mengangguk sembari tersenyum manis. Tangannya terulur mengusap kepala Devita lagi hingga membuat Devita memejamkan matanya.


"Elegi, apa kau sungguh-sungguh memilih menjadi manusia hanya untuk bersama dengan Eunoia?"


Devita melihat bayangan dua orang perempuan cantik bergaun putih dan kuning emas gemerlapan sedang berbincang di sebuah taman yang dipenuhi oleh bunga dandelion.


"Aku sudah memikirkannya matang-matang, Andromeda. Kau bisa melakukan tugasmu sekarang."


Devita masih mencerna tentang apa yang dia lihat sekarang. Dia mulai paham kalau sekarang sedang terjebak di sebuah ilusi yang diciptakan oleh Dewi Elegi.


"Tapi kau akan mati, Elegi!" Andromeda memandang Elegi tak percaya.


"Yang hidup pasti akan mati, bukankah seperti itu, Andromeda?" Elegi menunjukkan senyum penuh keanggunan setelah mengatakan itu, "Simpanlah kekuatanku di dalam kalung dengan berlian suci milikmu. Kelak, berikan kalung ini pada orang yang ditakdirkan menjadi sebagian dari diriku." Sambungnya.


Devita membuka matanya kembali setelah ilusi itu hilang karena Elegi berhenti mengusap kepalanya. Devita menggenggam kalung steorra miliknya, "Jadi, kalung ini bukanlah murni pemberian Dewi Andromeda?"


"Ya. Apa kau menyukai bentuknya?"


Devita menggeleng, "Daripada menyukai bentuknya, akan lebih suka lagi kalau aku tahu fungsi kalung ini."


Elegi menampilkan wajah terkejut, "Kau belum tahu fungsi kalung ini?"


Devita menggeleng, "Aku belum tahu."


"Kalung ini akan membantu menuntunmu kepada jati dirimu yang sebenarnya. Kalau bukan karena kalung ini, kau tak akan pernah tahu bahwa sebenarnya kau adalah Irena, bukan Devita di dunia Bumi."


"Tapi kenapa Galcinia juga memiliki kalung steorra?" Inilah yang membuat Devita berpikir, "Apakah Galcinia juga orang sebagian dari dirimu?"


Dewi Elegi menggelengkan kepalanya, "Galcinia maupun Sirena sebenarnya bukanlah sebagian dari diriku. Hanya kau, Devita, keturunan terakhir Asthropel."


Devita memandang Dewi Elegi dengan ragu. Apakah yang dikatakan oleh Dewi Elegi adalah sebuah kebenaran dan mengapa harus dia?"


"Kalung steorra yang dimiliki Galcinia maupun Sirena hanyalah kalung biasa dan mengandung kekuatanku sedikit untuk mengundang kalung steorra asli yang sedang kau pakai."


"Kenapa harus aku?" Pertanyaan Devita membuat Dewi Elegi tertawa pelan.


"Takdir. Takdir yang membuatmu ada untuk terikat dengan apa yang sedang kau alami."


"Tapi aku tak sekuat itu untuk menjalankan takdir yang sudah ditentukan untukku." Devita mengalihkan pandangannya ke arah hamparan padang rumput yang begitu luas dimana dia berada sekarang. Devita tahu sekarang dia berada di Eleftheria, tempat yang pernah dia kunjungi bersama Sirena dan bertemu dengan Diantha.


"Kekuatan terbesar manusia adalah kesabaran dan kelemahan terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Maka untuk menjadi manusia itu sendiri perlu bekal, bekal hati dan bekal pikiran. Hati untuk menuntunmu menjadi manusia yang berempati dan pikiran untuk menuntunmu menjadi manusia yang berhati-hati."


Usapan lembut di lengan atasnya membuat Devita kembali memusatkan netranya ke arah Dewi Elegi.


"Itulah alasan kenapa kau yang terpilih dan bukan Sirena." Sambung Dewi Elegi.


Devita mengacak rambutnya karena merasa frustasi, "Ini rumit!"


"Tentu kau sudah berpikir mengapa kau bisa berada di tempat ini kembali dan tidak dengan Sirena, bukan?"


Devita mengangguk cepat, "Ya, itu! Kenapa Sirena tak berada disini?"


"Karena kaulah pemilik kalung steorra yang asli dan bukan Sirena. Kau orang yang menjadi sebagian dari diriku; yang bisa memusnahkan kekuatan anakku yang diwariskan kepada Amanita." Senyuman manis tak lagi muncul di wajah Dewi Elegi.


"Apa maksudmu dengan anakku?" Sepertinya ada banyak rahasia yang perlahan akan Devita ketahui. Ratu Amanita mewarisi kekuatan Raja iblis yaitu Ambrogio.


'Apa jangan-jangan ...'


"Apa?" Terkejut? Jelas, Devita sangat terkejut. Ternyata Ambrogio adalah anak dari Dewa dan Dewi.


Setelah keterkejutan itu hilang, Devita ingin tahu akibat apa yang diterima oleh Dewa Eunoia dan mengapa Dewi Elegi harus mati seperti yang dikatakan Dewi Andromeda.


"Lantas apa akibat yang diterima Dewa Eunoia?"


"Eunoia mendapat berkah keburukan sayap hitam yang membuatnya tak bisa mengontrol emosinya sendiri." Senyuman tipis terbit di bibir Dewi Elegi, "Karena itulah aku mati sebelum bisa mencari tahu untuk membantu mengontrol emosi Eunoia."


Keduanya terdiam untuk menikmati suasana hening yang tercipta.


"Apa aku sekarang sudah mati juga sepertimu?" Devita bertanya-tanya tentang kondisinya sekarang.


Bukannya menjawab, Dewi Elegi justru mengambil tangan kiri Devita lalu melihat telapak tangannya yang terdapat simbol mawar putih.


"Mawar putih; simbol ketulusan, kesucian dan keromantisan." Dewi Elegi menyunggingkan senyum manisnya, "Cinta tidak akan mati meskipun yang dicinta sudah mati."


Devita lantas menarik tangannya karena tak mendapat jawaban pasti dari Dewi Elegi, "Kau membuatku terus berpikir keras, Elegi."


"Kau belum mati, tetapi kau akan mati bila terus berada disini."


Devita membulatkan matanya, "Kalau begitu, bagaimana caraku pergi dari Eleftheria?"


Dewi Elegi berdiri kemudian mengulurkan tangannya kepada Devita yang memandang dengan kerutan penuh di dahinya. Tapi tak urung Devita menerima uluran tangan Dewi Elegi dan membuatnya berdiri berhadapan dengan Dewi Elegi.


"Sebelum kau datang kemari, apa yang kau alami dan apa yang kau rasakan dalam hatimu?"


Pertanyaan Dewi Elegi membuat Devita harus mengingat kembali kejadian dimana Athanaxius dengan bengisnya menusuknya.


"Orang yang kucintai membunuhku ..." Devita meremat dadanya yang terasa begitu sesak tiba-tiba, "dan itu ... menyakitkan."


"Panggil orang yang membuatmu merasa sakit dengan caramu."


Devita memandang Dewi Elegi dengan tatapan nanar, 'Apa harus?'


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


"Karena aku mencintamu juga, kau tak akan bisa membenciku."


Rasa sesak yang sempat singgah di dadanya seketika hilang saat melihat senyuman tulus dari sosok orang yang sudah membunuhnya. Dia Athanaxius. Athanaxiusnya benar-benar datang kemari.


Devita tidak bisa menahan diri untuk memeluk erat Athanaxius. Athanaxiusnya nyata di dalam pelukannya dan menyadari bahwa dirinya adalah Devita.


"Jangan pernah berhenti mencintaiku, Devita ..."


"Kau jahat! Hiks ... Kau jahat!" Devita memukul dada Athanaxius berkali-kali untuk melampiaskan rasa kesalnya, "Kenapa kau membunuhku? Sialan! Kejam! Psikopat! Iblis kau, Athan! Hiks ..."


Athanaxius tersenyum geli mendengar hujatan Devita. Dia lantai mengurai pelukannya dan memandang wajah sembab Devita, "Aku suka sebutan sayang yang kau berikan padaku."


"Memang psikopat ya Anda!" Maki Devita sekali lagi.


Athanaxius kembali memeluk Devita sembari memejamkan matanya. Nyaman, seperti inikah bertemu rumah yang tepat untuk pulang? Athanaxius benar-benar menyesal karena pernah melupakan Devita.


"Aku adalah psikopat yang beruntung karena dicintai oleh perempuan jelek sepertimu."


"Ehm! Kalian melupakanku."


Athanaxius lantas melepas pelukannya. Matanya melirik ke arah perempuan yang terlihat bersinar dan begitu cantik.


"Dia adalah Dewi Elegi, ibu dari Ambrogio Agafya." Devita memperkenalkan Dewi Elegi pada Athanaxius.


"Oh." Balas Athanaxius singkat namun ingatannya mencoba mengingat nama Elegi, "Tunggu, ibu dari Ambrogio?" Athanaxius mengernyitkan keningnya.


"Simbol sayap milikmu adalah perpaduan milik Dewa Eunoia dan Dewi Elegi. Dewa Eunoia dan Dewi Elegi keluar dari niskala dengan membawa berkah keburukan dari para Dewa dan Dewi yang tak merestui hubungan mereka. Dewa Eunoia dianugerahkan sayap hitam yang mampu membuatnya menjadi sosok monster mengerikan! Karena berkah itu, Dewi Elegi mati di tangan Dewa Eunoia, mengerikan bukan?"


Athanaxius mengangkat sudut bibirnya saat sudah mendapat ingatan tentang nama Elegi. Ternyata Raja iblis itu menyinggung nama orangtuanya sendiri.


"Jadi yang berbicara padaku adalah suamimu, Eunoia?"


Dewi Elegi mengangguk, "Bisakah kau perlihatkan sayapmu?"


Athanaxius mengangguk, dia lantas menunjukkan sayap hitam miliknya yang seketika muncul dari punggungnya.


Decakan kagum lolos dari mulut Devita setiap kali melihat sayap Athanaxius. Benar-benar mirip seorang malaikat di film-film.


Dewi Elegi lantas menyentuh sayap hitam itu dengan tatapan sendu, "Yang gelap akan terang, yang layu akan tumbuh, dan yang luka akan sembuh." Dewi Elegi berhenti menyentuh sayap Athanaxius.


Athanaxius merasakan ada yang aneh dengan sayapnya saat Dewi Elegi selesai mengucapkan kalimatnya. Sayapnya seperti terasa lebih ringan namun kuat dalam waktu bersamaan.


"Sudah waktunya kalian berdua kembali. Kalian harus segera menghentikan Amanita." Dewi Elegi memandang Athanaxius dan Devita bergantian.


"Aku juga?" Athanaxius sedikit heran karena yang dia tahu hanya keturunan terakhir Asthropel yang bisa mengalahkan Ratu Amanita.


"Keajaiban dua jiwa yang ditakdirkan. Kalung steorra asli tidak pernah salah memilih jiwa murni." Dewi Elegi menarik kalung steorra dari leher Devita lalu merematnya hingga hancur.


Kalung yang hancur itu berubah menjadi kupu-kupu warna-warni dan beterbangan mengelilingi Athanaxius dan Devita.


"Kekuatan spiritual manusia selalu terpusat pada hatinya. Semoga kalian berhasil!"


Athanaxius dan Devita sepenuhnya dikelilingi oleh cahaya pelangi dan membuat keduanya tak terlihat.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.