The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 41: Dia Milikku



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Bagaimana rasanya bergabung dengan keluarga sendiri tetapi terasa begitu asing seperti orang lain? Pernahkah ada yang bertanya bagaimana perasaan seorang Athanaxius saat berada di lingkungan keluarganya sendiri? 


Seperti saat ini, suasana di meja makan begitu terasa hangat kalau dilihat oleh siapapun. Kaisar dengan dua istri yang hidup rukun, sesama saudara yang saling bertukar makanan dan saling mendukung satu sama lain. Tetapi berbeda untuk Athanaxius, lelaki itu tahu dia berbeda.


Sepertinya keputusannya untuk menghadiri undangan ibu Permaisuri adalah keputusan yang salah. Seharusnya dia tak perlu datang kalau hanya dianggap butiran debu.


Trang


Athanaxius meletakkan sendok makan miliknya dengan makanan yang belum dia sentuh sama kali. Nafsu makannya entah hilang kemana.


"Aku selesai, permisi," Athanaxius berdiri dari kursinya yang berada di paling ujung.


Semua orang yang tadinya fokus dengan kegiatan masing-masing kini menyadari kalau ada Athanaxius yang hampir mereka lupakan.


"Athanaxius,"


Athanaxius berhenti tanpa berbalik untuk memandang Kaisar Hylobates yang memanggilnya.


"Aku sudah mengirim beberapa lamaran ke kerajaan lain dan beberapa anak bangsawan di kota. Jadi, bila salah sat-"


"Batalkan!" Athanaxius memotong ucapan ayahnya, "Sudah aku bilang, aku akan mencari istri sendiri."


"ATHANAXIUS!" Airith sangatlah marah melihat anak sulungnya yang semakin kurangajar itu.


"Dengan mengirim lamaran seperti itu, ayahanda sama saja menghina harga diriku." Athanaxius mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kutukan yang ada di dalam dirinya mulai bereaksi untuk mengambil alih kesadarannya.


BRAK


Kaisar Hylobates menggebrak meja makan karena tersinggung dengan ucapan Athanaxius, "AKU HANYA INGIN KAU MEMILIKI PASANGAN, ATHANAXIUS!"


Athanaxius meneteskan satu air mata dari sudut mata kirinya, bibirnya tersenyum miring, "Pernahkah ayahanda bertanya tentang pendapatku? Apakah aku mau? Apakah aku boleh menolak?"


Senyum miring itu berganti dengan raut wajah datar. Ingatannya kembali teringat dimana dia yang begitu kalut setelah membunuh banyak orang yang menatap matanya. Saat itu dia berumur lima belas tahun, dimana kutukan itu mulai muncul dalam dirinya. 


Sudah banyak korban yang mati di tangannya hanya karena korbannya berani menatap matanya.


"Jangan melebihi batasanmu, Athanaxius! Kau hanyalah AIB UNTUK KEKAISARAN! APA KAU PERNAH BERPIKIR BAHWA TINDAKANMU ITU MEMBUAT MALU ANGGOTA KELUARGAMU, HAH?"


"Adiose, mohon tenangkan dirimu ..." Permaisuri Spizalica mengusap bahu suaminya agar emosinya mereda. Tatapannya terpaku pada sosok Athanaxius yang masih berdiri membelakangi semua orang yang hanya menjadi penonton. Dia mengundang Athanaxius makan bersama bukan untuk ini. Spizalica merasa bersalah.


"Yang perlu Ayahanda tahu, aku tidak pernah ingin menjadi aib keluarga Kekaisaran." Setetes air mata jatuh lagi dari sudut mata kirinya lalu disusul dari sudut mata kanannya, "Bahkan sekalipun aku mati dengan tubuh serta darahku berceceran di medan perang, itu tak akan ada artinya untuk Ayahanda."


'Sekali saja, ayah ... Sekali saja, puji aku sebagai anak yang pemberani dan berguna.' Sambung Athanaxius dalam hati.


Athanaxius tahu, ayahnya hanya memanfaatkannya saat dibutuhkan. Dia diasingkan di dalam Manor selama lima tahun dengan sihir penghalang milik Bardas. Athanaxius hanya keluar saat ayahnya membutuhkan bantuannya untuk melawan musuh, setelah itu dia kembali ditendang ke dalam rumah kegelapan, Manor Asphodel ...


Kaisar Hylobates diam terpaku ditempatnya. Ucapan Athanaxius menyentil egonya sebagai seorang ayah.


"Athan, bila kau tak sanggup menghentikan semua orang yang menghinamu, cukup tulikan telingamu. Hidupmu tak bergantung pada penilaian seseorang, termasuk orang terdekatmu sekalipun."


Ucapan Sirena seketika terlintas di dalam pikirannya. Mengingat Sirena, entah mengapa dia merasa perasaannya kurang bagus.


'Apa terjadi sesuatu dengan Sirena?'


Tanpa pamit, Athanaxius segera menuju Manor Chysanthemum dimana Sirena berada menggunakan teleportasi miliknya. Meninggalkan keluarganya yang tercengang dengan kemampuan Athanaxius yang bisa berteleportasi.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Sesampainya di Manor Chysanthemum, Athanaxius merasakan aura sihir hitam yang begitu pekat dari arah kamar Sirena. Berkat kehadiran Athanaxius, Aindrea yang semula khawatir kini sedikit lega.


"Pangeran Athanaxius," Aindrea memberikan hormat untuk Athanaxius.


Athanaxius menatap Aindrea, "Apa terjadi sesuatu?"


Aindrea tak menatap Athanaxius tetapi tetap menjawab, "Ya, Sirena tak sadarkan diri. Di dalam kamarnya, ada Efarish Sirakusa yang membuat saya cemas. Saya tahu sendiri bahwa Efarish Sirakusa sangatlah membenci Sirena."


Mendengar itu, Athanaxius kembali menghilang lalu muncul kembali di dalam kamar Sirena. Athanaxius diam ditempatnya kala mendengar ucapan Sirakusa yang dia tujukan untuk Sirena.


Athanaxius mengeluarkan sihir bayangan miliknya yang membentuk kepalan tangan, kemudian dia arahkan ke Sirakusa.


Sring


Brugh


Berkat ulahnya, Sirakusa terpental membentur tembok. Tatapan Athanaxius beralih pada Sirena yang terbaring lemah dengan mata sayu. Ada apa dengan Sirena? Samar-samar Athanaxius masih merasakan sihir hitam di sekitar kamar Sirena.


"Aku baru saja melihat lelaki semurahan dirimu, Sirakusa." sarkas Athanaxius.


Athanaxius kembali memandang Sirakusa yang bangkit sembari menyeringai, "Haruskah saya berbangga diri dengan pujian Anda, Pangeran Athanaxius?"


Mata Athanaxius berubah menjadi semerah darah akibat amarah yang sedari tadi terus membara, terlebih saat Sirakusa memandang tepat di matanya.


Bunuh, bunuh, dan bunuh. Hanya itu yang Athanaxius rasakan sekarang.


Berbeda dengan Sirakusa, lelaki itu sudah bersiap menerima serangan dari Athanaxius.


'Ya Tuhan! Gue harus apa? Gue nggak mau ada yang terluka disini, terutama Athan.' Sirena panik bukan main tetapi dia tak bisa apa-apa karena tubuhnya masih sulit digerakkan.


Tiba-tiba kalung steorra miliknya bersinar sangat terang hingga menyelimuti seisi kamar. Bahkan Sirena sendiri memejamkan matanya karena tak kuat dengan sinar itu.


Saat itu juga dia juga merasakan rasa nyeri di telapak tangan kirinya dimana simbol mawar putih itu berada.


Athanaxius, lelaki itu sudah kembali normal saat sinar itu muncul dan membuatnya menutup mata saking terangnya. Kutukannya hilang begitu saja. Yang dia rasakan saat ini adalah aura kekuatan murni yang sangat kuat dan nyaman secara bersamaan.


'Darimana datangnya sinar terang ini?' Sirakusa hanya bisa membatin. Tetapi dia juga bisa merasakan kekuatan yang sangat kuat juga nyaman.


Saat Sirakusa mencoba membuka mata, dia dikejutkan dengan bayangan dua perempuan bergaun putih panjang dengan warna rambut yang berbeda, yang satu hitam dan yang satunya pirang keemasan. Sirakusa tak bisa melihat wajah keduanya, tetapi Sirakusa dapat melihat kedua perempuan itu saling bergandeng tangan dengan sebelah tangan memegang tombak dan pedang.


"Perasaan yang sama akan mengantarkan pada dua takdir yang menjadi satu."


Sirakusa mendengar suara halus yang berbisik di telinganya. Lelaki itu masih terus memandang ke arah dua perempuan itu yang seketika berlumuran darah, terutama perempuan berambut hitam yang nampak terluka parah. Perempuan yang satunya nampak menangisi si rambut hitam.


Perlahan-lahan bayangan yang dia lihat mulai memudar seiring dengan hilangnya sinar terang itu.


Saat sinar terang itu benar-benar hilang. Athanaxius dan Sirakusa langsung memandang Sirena yang kini tengah memegang kalung miliknya dengan mata yang terpejam. Keduanya saling berpikir, apakah sinar terang itu disebabkan oleh Sirena?


Tanpa sadar keduanya berjalan menuju Sirena. Melihat Sirena yang masih memejamkan mata sedikit membuat khawatir dua lelaki itu.


Sirena membuka matanya, kemudian memandang Sirakusa dan Athanaxius bergantian. Sirena menghela nafas lega karena pertengkaran keduanya tidak jadi.


Karena merasa sudah lebih baik dari sebelumnya, Sirena pun mencoba menggerakkan tangannya. Ternyata dia sudah bisa bergerak kembali. Sirena pun langsung duduk, kemudian melayangkan pukulan ke arah perut Sirakusa.


Bugh


"Dasar mesum!"


Sirakusa meringis, pukulan Sirena membuat perutnya nyeri. Wanita itu tak main-main dalam menghajarnya.


Athanaxius yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum tipis. Dia pun duduk di sebelah Sirena kemudian mengalihkan wajah Sirena untuk menatapnya.


"Apa kau menyukai ciumannya?"


Sirena menatap horor Athanaxius, "Apa kau gila? Mengapa kau bertanya hal itu?"


"Aku hanya bertanya, jawablah!"


Sirena tak habis pikir dengan pertanyaan Athanaxius, "Tidak. Aku tidak menyukainya."


Athanaxius menyeringai menatap Sirakusa yang tengah mengepalkan tangannya, "Lalu bagaimana dengan ini?" Athanaxius mengecup bibir Sirena, "Apa kau menyukainya?"


Otak Sirena seketika lemot, namun tak ayal kepalanya mengangguk. Hal itu membuat Sirakusa menatap Athanaxius sarat akan kebencian.


Athanaxius hanya membalas tatapan Sirakusa dengan wajah tenang, tak lupa seringai yang ada di bibirnya. Di wajah Athanaxius seolah-olah dia mengatakan kepada Sirakusa, 'Dia milikku.'


Bagi Athanaxius, apa yang sudah menjadi miliknya, akan dia pertahankan, termasuk Sirena.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?


Maaf ya guys, Pipit cuma bisa up tiga hari sekali, kapan-kapan aku bakal triple up.