The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 35: Siapa Kau?



Ehm misi numpang lewat hehe ...


Pengen buat beberapa video spoiler next chapter, tapi bingung. Buat apa nggak ya? Kasih pendapat dong!


...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Hari ini Sirena sibuk berkutat di dapur istana bersama para ketiga koki dan kedua sahabatnya. Mereka tengah membuat hidangan makanan yang akan disajikan untuk pesta pernikahan Nervilia.


"Kalian ingat resep masakan kita hari ini baik-baik! Suatu hari kalau aku ingin makan masakan ini, kalian tidak perlu bertanya lagi tentang resepnya, mengerti?"


"MENGERTI!" balas ketiga koki itu serempak.


"Sajikan masakan kita hari ini untuk makan malam nanti, semuanya! Jangan sampai ada yang terlewat." Sirena terus mengkoordinir para koki yang berkerja dibawah naungannya saat ini.


Hari ini Sirena benar-benar sibuk sampai lupa beristirahat. Setelah memastikan bahwa para koki sudah paham akan semua sajian menu makanan, Sirena harus mengurusi suvenir yang sudah datang ke Manornya dari para pengrajin.


Beruntung sekali Sirena memiliki kedua luster sekaligus sahabat yang bisa diandalkan, terutama Adelphie. Dia pandai sekali mengatur keuangan untuk pesta pernikahan Nervilia ini.


"Sirena, ini adalah kertas berisi rincian biaya pengeluaran untuk pesta pernikahan Nervilia. Kau bisa serahkan ini kepada Yang Mulia Raja sebagai bukti bahwa kau memanfaatkan dana dengan baik." Adelphie menyerahkan gulungan kertas kepada Sirena yang baru saja mengarahkan para pengrajin mengatur suvenir.


Sirena menerimanya dengan senyuman merekah, "Aku bahkan tak sempat membuat rincian biaya, Adelphie ... Thank you so much!!" Sirena memeluk Adelphie erat.


"You're welcome, Sirena ..." Adelphie memeluk tak kalah erat.


Sirena seketika mematung, 'Adelphie bisa bahasa Inggris juga? Bukannya cuma orang bangsawan terpelajar yang bisa bahasa Inggris di dunia Vulcan ini?'


"Kau bisa berbahasa orang Alphard juga, Adelphie? Sejak kapan?" Sirena mengurai pelukannya lantas menatap Adelphie penuh selidik.


Raut wajah Adelphie nampak gugup, "I-itu ... A-aku mem-"


"Sirena! Adelphie!" Seruan dari Agda membuat ucapan Adelphie terhenti.


Agda datang dengan raut wajah panik, Sirena yang melihat itu bertanya-tanya dalam hati, apakah ada sesuatu hal yang buruk?


Nafas Agda nampak tak teratur setelah berlarian menuju ke arahnya, "hosh ... hosh ... A-ada berita pen- hosh ... hosh ..."


"Atur nafas dulu, Agda ..." Agda pun mengikuti instruksi dari Sirena. Setelah nafasnya sudah teratur, Agda menatap Adelphie dan Sirena dengan serius, "Semalam, rombongan dari kerajaan lain yang tengah menuju datang kemari diserang oleh monster bahkan ada juga yang dirasuki oleh roh iblis!"


"Terus-terus?"


"Yang Mulia Raja mengutus Efarish Sirakusa serta Pangeran Falco dan Pangeran Elanus untuk membantu serta mengawal mereka hingga sampai kemari."


"Darimana kau mengetahui berita ini, Agda?" Adelphie bertanya.


"Dari Pangeran Athanaxius."


"Hah?" Beo Sirena dan Adelphie bersamaan.


Sirena pikir Athanaxius tak segabut itu untuk memberitahu Agda perihal masalah ini, bukan?


"Pangeran Athanaxius memberitahumu secara langsung?" Adelphie mewakilkan pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Sirena.


Agda mengangguk cepat, tak lama dia menepuk jidatnya, "Ya ampun, aku lupa!" Agda menggenggam tangan Sirena, "Harusnya aku memberitahumu Sirena, maaf aku lupa." Agda pun menceritakan bagaimana Athanaxius memberitahunya.


Setelah memastikan bahwa Ambrogio benar-benar pergi, Athanaxius pun keluar dari Manor dengan langkah tenang. Athanaxius berpapasan dengan Agda yang baru saja kembali dari luar Manor sembari membawa setumpuk kain.


Athanaxius hanya melihat Agda saja, tak ada niatan untuk menyapa. Tepat saat Athanaxius sampai di depan gerbang Manor Chysanthemum, langkahnya dihadang oleh Sirakusa yang datang tiba-tiba.


"Sudah selesai dengan urusan Anda, Pangeran?" Sirakusa bertanya dengan nada datar.


Agda yang tengah menjemur kain-kain itu sedikit mendengar suara keduanya meskipun tak terlalu jelas.


"Hm. Ada apa?"


"Rombongan Kerajaan Apollo dan Kerajaan Aelious diserang oleh roh iblis dan monster. Ikutlah dengan kami untuk menjemput mereka dan memastikan mereka aman sampai di sini."


Athanaxius mengernyitkan dahinya, "Mengapa aku harus ikut?" Athanaxius melipat tangannya ke belakang.


"Kalau tidak mau, yasudah. Saya permisi, Pangeran." Sirakusa hendak berbalik.


"Tunggu!" Sirakusa kembali menatap Athanaxius namun bukan pada matanya secara langsung.


Athanaxius berbalik masuk ke dalam Manor, kemudian menghampiri Agda yang hendak masuk ke dalam Minor.


"Hei, kau!"


"ASTAGA!" Agda terkejut dengan sosok Athanaxius.


"Aku menyimpan hadiah untuk Sirena di dalam laci meja. Tolong sampaikan padanya karena aku akan pergi membantu Sirakusa serta dua saudaranya menjemput rombongan kerajaan  yang datang kemari dari serangan roh iblis dan monster." Tanpa menunggu jawaban dari Agda, Athanaxius pergi menghampiri Sirakusa yang masih menunggunya.


"Maafkan aku, Sirena, aku benar-benar lupa memberitahumu," ucap Agda dengan penuh sesal.


Sirena mengangguk memahami, "Tak apa-apa, tak perlu meminta maaf. Oh iya, Agda, tolong kau lihat kembali kondisi dapur istana saat ini. Hari sudah menjelang malam, pastikan makanan yang sudah kita masak hari ini sudah siap."


"Baik, Sirena! Aku pergi dulu," Agda pun pergi setelah mendapat respon dari Sirena.


"Dan kau, Adelphie, tolong beritahu Nervilia bahwa makanan untuk pesta pernikahannya akan disajikan di makan malam hingga bisa dinilai langsung olehnya juga oleh yang lain."


Adelphie mengangguk, "Soal istana Azalea, semua persiapan sudah hampir selesai. Kita tinggal mendekorasi tempat untuk dansa." Istana Azalea merupakan bangunan untuk keperluan acara kerajaan.


Berbicara tentang sahabatnya yang satu itu, Sirena benar-benar merindukannya. Dia merindukan segala tingkah Ayana.


"Ayana, gue kangen sama lo ..." gumam Sirena dengan nada sendu. Setelahnya dia pun memutuskan untuk segera menemui Raja Monachus di ruang kerjanya untuk menyerahkan rincian biaya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Di taman istana, Galcinia, wanita itu sedari tadi terus keheranan dengan apa yang terjadi padanya. Terlebih dia harus menghadapi segala keanehan di dunia antah berantah ini.


"Kakak ipar, apa kau benar-benar tak ingat kejadian yang membuatmu koma hampir dua bulan?"


Galcinia mencoba menahan kekesalannya karena pertanyaan yang dilayangkan Nervilia padanya untuk ketiga kalinya.


"Aku benar-benar tak ingat, Nervilia. Memangnya ada apa?"


Nervilia memasang wajah tak enak, "A-ah itu ... Aku ingin memberitahumu siapa yang melukaimu, t-tapi tolong jangan membencinya."


'Apa bener dia Nervilia, Putri yang dianggap baik hati dan bijaksana? Kok gue nggak yakin setelah ketemu langsung?' Galcinia merasa ada yang aneh dengan tingkah Nervilia.


"Siapa memangnya?" Galcinia pun memutuskan bertanya dan berharap obrolannya akan segera berakhir.


"Sirena, adikku. Dia yang membuatmu terluka parah. Tapi saat itu dia tak sengaja menusukmu, awalnya dia ingin menusukku namun kau justru melindungiku, kakak ipar." Nervilia menggenggam tangan Galcinia dengan tatapan tulus.


Galcinia tersenyum canggung dengan pikiran yang melanglang buana. Dia masih ingat jelas tentang penjelasan seseorang sebelum akhirnya terbangun di dunia antah berantah ini.


"Hamba memberi salam untuk kedua Putri kebanggaan Kerajaan Willamette, semoga berkah dewa selalu menyertai Putri-putri sekalian ..."


Galcinia dan Nervilia menoleh menatap Adelphie yang baru saja datang. Galcinia berdehem, "Ada apa, luster?"


"Hamba ingin menyampaikan kepada Putri Nervilia bahwa menu makanan untuk pesta pernikahan akan disajikan di makan malam nanti. Amanat ini langsung hamba sampaikan dari Putri Sirena." Adelphie berbicara dengan kepala menunduk, sebagaimana layaknya seorang luster berbicara pada majikan.


"Baiklah, kau bisa kembali." Sahut Nervilia dengan penuh keanggunan. Wanita itu menyeruput teh yang ada di atas meja.


Adelphie pun menundukkan setengah badannya untuk berpamitan.


Setelah kepergian Adelphie, Nervilia berdehem, kembali menatap Galcinia yang nampak melamun, "Apa kau mengkhawatirkan Kak Falco, kakak ipar?"


Galcinia langsung tersadar, "E-eh, i-iya, aku tengah mengkhawatirkan kakakmu itu. Kalau dia terluka melawan monster bagaimana?"


'CUIH! KAGAK SUDI GUE KHAWATIRIN GARANGAN SEMACAM FALCO! NAJIS!'


"Kak Falco adalah orang yang kuat, jangan terlalu khawatir. Kau harus memperhatikan kondisimu yang belum terlalu membaik, kakak ipar."


"Baiklah-baiklah, kau terlalu peduli padaku, Nervilia. Em, sebaiknya kita bersiap untuk makan malam nanti." Galcinia memberikan kode keras, semoga saja Nervilia paham.


Nervilia meringis, "Ah aku hampir lupa! Aku harus mempersiapkan diri untuk menyambut rombongan Kerajaan Apollo dan Kerajaan Aelious malam nanti,"


"Persiapkan dirimu baik-baik, Nervilia," Galcinia mengusap punggung tangan Nervilia sembari menyunggingkan senyum manisnya.


"Terimakasih, kakak ipar Galcinia,"


Mereka berdua kemudian meninggalkan taman istana menuju kamar masing-masing. Mereka berpisah di koridor istana utama menuju ruang tamu.


Galcinia yang masih memikirkan banyak hal berjalan sembari melamun tanpa sadar di belokan ada Sirena yang berjalan tergesa-gesa menuju ruang kerja Raja Monachus.


Brugh


"ANJIR! MATA LO DIMANA SIH?"


Galcinia tercengang dengan seseorang yang baru saja menabraknya. Ada apa sebenarnya? Galcinia masih setia menatap Sirena yang bangun sembari menepuk gaun sederhana miliknya yang terkena debu lantai.


Sirena yang selesai membersihkan gaunnya pun mengangkat kepalanya, dia mematung melihat sosok Galcinia dihadapannya, Putri yang katanya dilukai oleh Sirena asli.


"Kau, Sirena?" tanya Galcinia setelah mendapat ingatan tentang Sirena, meskipun agak buram. Galcinia menatap wajah cantik Sirena yang mirip dengan seseorang.


"Ya, aku Sirena. Ada apa kakak ipar?"


Galcinia menggelengkan kepalanya, 'Dia bukan Sirena! Kalau dia Sirena, bagaimana bisa dia bicara bahasa gaul ples namdua yang sama kayak gue?'


"Kau bukan Sirena. Katakan, siapa kau?"


Deg.


Sirena tak tahu harus menjawab apa. Apakah spekulasinya tentang Galcinia beberapa hari lalu itu benar?


Sirena menyunggingkan senyum tipis, "Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau? Kau bukan Putri Galcinia."


Keduanya sama-sama memandang dengan tatapan ingin tahu tentang diri masing-masing.


"Setelah makan malam, datanglah ke Manorku kalau kau ingin tahu siapa aku. Lalu kau pun harus melakukan yang sama, beritahu siapa kau." Ujar Sirena yang diangguki oleh Galcinia.


'Mungkin emang nggak semua orang yang sadar kalau gue bukan Sirena.'


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?