
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Kedatangan sosok perempuan yang belum diketahui identitasnya dan hendak membantu Sirena, Irena, serta Devita yang tengah pingsan membuat Raja Monachus curiga. Pasalnya, perempuan bertudung kepala dan tak terlihat wajahnya itu tiba-tiba saja hadir tanpa mereka semua sadari.
Irena, Sirena, dan Devita ditidurkan di satu ranjang yang sama. Tapi tak lama, wujud nyata Sirena perlahan hilang sebagai tanda bahwa waktunya dalam wujud nyata sudah habis. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat sosok Sirena.
"Mereka harus segera kembali ke tubuh-tubuh masing-masing. Kalau terlambat, semua akan kacau."
"Sebelum itu, siapa kau ini? Kenapa bisa tiba-tiba ada di rumah kesehatan?" Raja Monachus bertanya.
Perempuan itu tersenyum dibalik tudungnya, lantas kemudian membuka tudungnya hingga rambut putih miliknya yang terurai terlihat terutama wajah cantiknya yang memukau siapa saja yang melihatnya.
"Aku Diantha Efigenia, orang yang dicari Sirena selama ini dan melindungi Irena tanpa sepengetahuanmu."
Ditempatnya, France membulatkan matanya mendengar nama itu, nama yang akhirnya dia ingat, Zifgrid Sang Pengendali. Perempuan yang selama ini dicari olehnya kini muncul dihadapannya.
Diantha memperlihatkan sayap putih miliknya yang membuat semua orang tahu siapa dia sebenarnya. Sayap putih hanya dimiliki oleh Zifgrid Sang Pengendali.
Semua orang yang ada disitu lantas menundukkan kepalanya, kecuali Athanaxius. Athanaxius hanya memandang tanpa ekspresi ke arah Diantha.
"Tidak perlu seserius itu, kita adalah keluarga sekarang." Diantha memberikan senyuman hangat agar mereka tidak bersikap kaku padanya.
"Lantas bagaimana dengan mereka?" Athanaxius mendekat dimana dua kembar itu berbaring berdampingan, "Apa harus melakukan ritual pertukaran jiwa kembali?"
Diantha memandang sosok Pangeran yang mempunyai kutukan di tubuhnya itu, "Ya, tapi itu tak mudah. Ritual pertukaran jiwa memerlukan cermin kuno pengantar jiwa."
"Dimana cermin kuno pengantar jiwa itu berada?" Raja Monachus tidak tahu bahwa untuk mengembalikan jiwa Irena harus memerlukan cermin kuno pengantar jiwa, dia mengira hanya mengandalkan bulan merah saja.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa bulan merah sebenarnya adalah pertanda bahwa pintu dimensi terbuka. Orang Vulcan beranggapan, bulan merah hanyalah bulan biasa dan tidak ada yang istimewa.
"Cermin kuno pengantar jiwa ada di Kekaisaran Alphard. Cermin kuno itu dahulunya milik mendiang Permaisuri Daisy Daffodil." Ucap Diantha sembari memperlihatkan ilusi dari cermin kuno itu, "Setelah mendapatkan cermin itu, kita melakukan ritualnya disini, di desa Osaka." Lanjutnya.
Tak lama berselang, Devita mulai sadar dari pingsannya. Devita mengambil posisi duduk sembari menahan rasa sakit yang masih terasa di jantungnya.
"Devita!" Galcinia segera memeluk Devita, "Lo buat gue khawatir banget tadi," Galcinia kemudian mengurai pelukannya untuk melihat wajah pucat Devita.
"Kenapa disini rasanya sakit sekali?" Devita menunjuk dimana letak jantungnya. Setiap kali dia menarik nafas maka seperti ada sebuah jarum yang menusuk jantungnya.
"Itu adalah efek karena jiwa kalian yang terpecah terlalu lama berada di tempat yang salah."
"Jadi begitu," Irena juga sudah sadar rupanya. Dia lantas menatap Devita yang ada di sampingnya, "Hei! Kembalikan aku ke bumi!"
"Dih?" Devita mengernyitkan keningnya, "Kenapa kau meminta padaku?"
Irena mendengus, dia pun berdiri dan memilih untuk pergi dari rumah kesehatan menuju rumahnya. Dia ingin istirahat di rumahnya saja, jauh lebih sepi dan terasa nyaman untuknya.
"Mau kemana kau?" Elephas bertanya pada sosok Irena.
"Bukan urusan lo!" Balas Irena tanpa memandang Elephas.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Irena yang baru saja keluar dari rumah kesehatan terkejut dengan banyaknya para warga yang berkumpul dan memandang ke arah langit. Irena segera memakai cadarnya kembali untuk keamanannya, kemudian menghampiri salah satu pemuda.
"Ada apa? Mengapa kalian berkumpul disini padahal masih malam?"
Pemuda itu menoleh cepat ke arah Irena, "Nona! Ini sudah pagi! Tapi langit justru gelap layaknya malam. Aku tidak percaya dengan ini semua, astaga!" Pemuda itu langsung melenggang pergi setelah mengatakan itu.
"Ha?" Irena lantas mendongak untuk melihat langit yang memang gelap layaknya malam, "Masa iya ini udah pagi? Tapi bodoamat deh!" Irena memutuskan untuk meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.
Namun teriakan salah satu warga membuat langkah Irena terhenti, "Ada apalagi sih? Kapan dunia ini damai?" Saat Irena menoleh, matanya membola seketika, "ARGHH KUYANG!!!"
Irena benar-benar terkejut melihat banyak sekali monster-monster mengerikan berbentuk kepala dengan rambut panjang dan hanya ada kepala tanpa tubuh.
Monster-monster itu beterbangan di atas desa Osaka. Namun sihir pelindung milik Sirakusa membuat monster itu tak bisa masuk ke desa Osaka.
Rakyat desa Osaka begitu ketakutan sekarang. Bayangan dimana mereka pernah diserang oleh monster seketika datang dan membuat mereka semakin histeris.
Melihat kondisi yang kacau ini, Irena lantas berlari kembali ke rumah kesehatan.
Melihat kekesalan Irena, Diantha yang paham pun segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dibelakangnya, Devita dan yang lain turut keluar untuk melihat kekacauan yang terjadi.
Diantha tidak terkejut melihat monster-monster yang mencoba masuk ke desa Osaka. Tetapi, melihat para rakyat Osaka yang ketakutan membuat Diantha harus turun tangan untuk mengusir monster-monster itu.
Diantha lantas berlari hingga berada di tengah desa. Dia memusatkan perhatiannya pada monster-monster yang beterbangan di langit sembari mengeluarkan sihir miliknya.
Sihir itu segera dia arahkan ke beberapa monster yang berhasil membuat monster-monster itu terbakar lalu hilang menjadi abu.
Tidak hanya Diantha yang menyerang para monster itu, namun Elephas, Falco, Athanaxius, Elanus dan Sirakusa juga turut membantu. Mereka bersatu untuk melenyapkan para monster itu.
Sementara itu, Devita yang kondisinya belum pulih juga membantu menenangkan rakyat.
"SEMUANYA!"
prok prok prok
Devita bertepuk tangan agar para rakyat memandang ke arahnya. Karena sangat sulit membuat para rakyat memandang ke arahnya, Sirena kembali bertepuk tangan dua kali, dan berhasil.
Para rakyat lantas berbondong-bondong menuju arah Devita dengan isak tangis mereka.
"Putri Sirena, hiks ... Apakah kita semua akan mati?"
"Apa kita benar-benar akan berakhir hari ini?"
"Monstel-monstel itu mengelikan!!!"
Anak-anak pun turut serta ketakutan melihat sosok monster-monster yang beterbangan di langit.
"Aku mengerti ketakutan kalian, tapi jangan khawatir, ya? Sekarang kalian ikuti aku!" Devita mengajak para rakyat Osaka menuju rumah pertunjukan. Rumah pertunjukan berada di samping rumah kesehatan.
Devita pun menyuruh mereka untuk duduk di lantai dan membentuk sebuah lingkaran besar.
"Mari bergenggaman tangan seperti ini," Devita ikut duduk diantara para rakyat lantas menggenggam tangan anak kecil di sebelah kanannya dan menggenggam tangan pemuda yang ada di sebelah kirinya.
Para rakyat pun mengikuti apa yang dilakukan Devita. Berbeda dengan sosok Irena yang mengernyitkan keningnya di depan pintu.
"Aneh banget."
"Hei kau! Kemarilah!"
Rencananya Irena ingin pergi, namun harus terhenti saat bapak-bapak menyuruhnya untuk bergabung dengan mereka.
Ditempatnya Devita terkikik pelan melihat wajah malas Irena. Devita segera menormalkan kembali wajahnya setelah melihat Irena sudhs duduk diantara anak kecil.
"Pejamkan mata kalian, lalu tarik nafas panjang-panjang dan ... Keluarkan ..."
"Tarik nafas panjang-panjang lagi dan keluarkan hingga kalian merasa tenang." Devita membuka matanya untuk melihat para rakyat yang melakukan instruksinya.
"Kalau sudah merasa tenang, kalian boleh membuka mata. Aku ingin bicara penting kepada kalian."
Beberapa rakyat Osaka yang sudah tenang pun mulai membuka matanya. Mereka lantas menatap ke arah Devita yang memberikan senyum hangat.
"Ada hal penting yang kalian harus tahu mengenai kondisi sekarang yang kita hadapi." Kini semuanya terpusat pada sosok Devita yang berbicara, "Sebenarnya monster-monster itu bukan dikendalikan oleh Raja iblis. Monster-monster itu dikendalikan oleh sosok pemuja Raja iblis yang mendapatkan kekuatan Raja iblis."
"Lantas bagaimana nasib kita ke depannya? Apakah ini akhir dunia?"
Devita menggeleng, "Justru itu, ketakutan hanya akan membuat akhir dunia itu terjadi. Maka aku meminta kepada kalian untuk berani. Berani melawan para monster-monster itu ke depannya. Kita harus memukul mundur para monster itu dan pengendalinya."
"Kak Nana! Bagaimana kalau kita mati?" Seorang remaja berambut hijau mengacungkan tangannya.
"Lebih baik mati karena melawan daripada mati karena dilawan." Ucapan Irena mendapat perhatian dari rakyat Osaka.
Devita tersenyum tipis, "Itu benar. Kalaupun aku harus mati karena melawan, setidaknya aku sudah berhasil menjadi manusia yang berguna. Tapi untuk sekarang, aku hanya meminta kalian untuk berani. Lawan rasa trauma yang kalian miliki meskipun itu sulit. Di masa sulit seperti sekarang, kita harus mendukung satu sama lain dan saling melindungi. "
Berkat perkataan Devita, para rakyat Osaka memutuskan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa mereka mampu melawan rasa takut mereka.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Malem Minggu enaknya ngapain? Halu sama tokoh fiksi dong enaknya! Wkwkwkwk