
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Hari-hari berlanjut begitu cepat, tak terasa Devita sudah menjadi sosok Sirena satu bulan penuh di dunia Vulcan ini. Dia tak mengira ternyata dia mampu melewati masa-masa yang membuatnya hampir kehilangan nyawa setiap hari.
Setelah pernikahan Nervilia tiga minggu yang lalu, bisnis tempe dan lilin aromaterapi mulai berkembang pesat. Baik dari kalangan rakyat biasa maupun bangsawan menyukai tempe dan lilin aromaterapi. Para anak-anak rakyat jelata juga menyukai boneka BT21 yang dibuat oleh pengrajin atas izin darinya.
Hari ini, Sirena sedang berkemas karena besok dia akan pergi ke desa Osaka. Akan tetapi, kabarnya rakyat desa Osaka menolak keras kedatangan Sirena.
"Apa kau yakin akan tetap kesana?" Adelphie menatap Sirena yang sedang melipat baju-bajunya.
"Tentu."
Desa Osaka terletak di lereng pegunungan Yahrimun, masih berada di wilayah kekuasaan kerajaan Willamette. Kabar yang beredar, desa Osaka dijangkit penyakit aneh setelah diserang oleh monster. Penyakit itu berupa muncul bintik-bintik merah di kulit serta penderitanya yang mengalami demam tinggi.
"Kenapa kau bersikukuh untuk tetap ke desa Osaka, Sirena? Bagaimana kalau kau diperlakukan buruk oleh rakyat disana?"
Sirena berhenti melipat baju, dia memandang Adelphie yang masih mencoba membujuknya agar tidak jadi pergi, "Adelphie, apa aku harus menutup mata melihat kondisi rakyat disana? Sedangkan Raja sendiri sudah menyerahkan desa Osaka untukku. Bila diibaratkan, maju kena mundur pun kena, maka aku akan memilih maju. Kau mengerti maksudku?"
"Aku mengerti. Hanya sa-"
"Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Sudah saatnya aku menunjukkan kemampuan yang aku miliki agar tidak dipandang remeh terus."
Adelphie diam, kalau tekad Sirena sudah bulat maka dia tak bisa berbuat apapun. Adelphie bergerak maju untuk memeluk Sirena, "Kau ini sering terluka, bagaimana aku tidak khawatir denganmu? Daripada seorang sahabat, aku lebih menganggapmu sebagai adikku."
Sirena membalas pelukan hangat Adelphie, "Kau tenang saja. Aku memiliki nyawa berlapis, hahaha ... Kau juga harus menjaga diri selama aku pergi." Kepergiannya ke desa Osaka, Sirena hanya akan ditemani Agda dan Aindrea bersama lima orang bawahan Aindrea. Adelphie tidak ikut karena dia bertugas mengontrol bisnis Manor agar terus berjalan, terlebih pesanan lilin aromaterapi meningkat.
"Menurutmu, mengapa aku mempercayakan bisnis ini padamu, Adelphie? Apa kau masih ingin menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya dariku?"
Pertanyaan dari Sirena membuat Adelphie melepas pelukannya, "A-apa yang k-kau tanyakan, Sirena? Hahaha, tentu saja a-aku adalah Adelphie!" Adelphie tertawa gugup.
"Kau pikir aku mudah dibohongi?" Sirena bersidekap dada, "Saat aku pergi untuk menemui pengrajin, aku melihat lukisan seorang Putri yang wajahnya mirip sekali denganmu. Saat itu juga, kau tak bisa ikut denganku. Aku juga merasa, akhir-akhir ini setelah pesta pernikahan Nervilia berakhir, kau lebih sering berdiam di Manor."
Tawa Adelphie lenyap, hingga Adelphie menghela nafas kemudian duduk di sebelah Sirena, "Sepertinya kau memang harus tahu,"
Sirena menatap Adelphie dengan raut wajah penasaran, "Cepat katakan! Aku sudah tidak sabar mendengarnya!"
"Aku adalah Putri bungsu dari Kerajaan Uranus. Nama asliku adalah Diantha Effie Lyr Uranus."
"APA?!"
Itu bukan suara Sirena, melainkan Agda dan Galcinia yang berdiri di ambang pintu kamar Sirena.
Agda bergegas mendekati Adelphie, lalu memegang kedua pipi wanita itu, "Kau seorang Putri? Astaga! Bagaimana bisa kau membohongiku selama ini? Kau anggap aku apa, hah?"
Adelphie menepis tangan Agda, "Apa sih? Reaksimu mengerikan!" Adelphie bergidik ngeri.
"Jadi, mengapa kau menyamar sebagai luster disini?" Galcinia juga ikut penasaran.
"Aku kabur dari istana karena hendak dijodohkan dengan Pangeran Hydrasa." Wajah Adelphie berubah sendu, "Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai? Aku hanya ingin menikah dengan orang yang kucintai dan yang mencintaiku."
"Seperti Aindrea, maksudmu?" Sinis Agda.
Sirena dan Galcinia saling pandang, keduanya kemudian saling menahan tawa. Mereka lupa bahwa disini, lelaki masihlah dominan, perjodohan untuk politik antar kerajaan bahkan kekaisaran sering terjadi.
"Kalau iya, apa masalahmu?" Adelphie masihlah Adelphie.
Agda tak lagi menyahuti Adelphie, tentu saja dia akan kalah. Adelphie bukan lawan yang mudah dalam berdebat.
Sirena terkikik, tetapi tatapannya tak sengaja bertemu dengan kalung yang dikenakan Galcinia. Liontin kalung Galcinia nampak berpendar dua kali. Sirena mencoba abai, tetapi saat ingin dia abaikan, liontin itu kembali berpendar.
"Agda, Adelphie ... Em ... Bisa tinggalkan aku dengan Kakak ipar? Ada hal penting yang harus aku bicarakan."
"Sejak kapan kalian begitu akrab?" Adelphie memandang menyelidik ke arah keduanya. Yang Adelphie tahu, keduanya memang tidaklah akrab, terlebih dengan ulah Sirena yang mencelakai Galcinia waktu lalu.
"Ingin tahu sekali kau! Ayo kita pergi! Biarkan mereka berbicara!" Agda langsung menyeret paksa Adelphie keluar kamar Sirena, kemudian menutup pintu kamar Sirena.
Sepeninggal kedua orang itu, Sirena langsung meraih liontin kalung Galcinia, "Ay, kalung ini milik Galcinia?"
Galcinia yang sekarang Ayana mengangguk, "Iya, gue dapet ini kalung di laci almari yang ada di dalam kamar Galcinia sama Falco. Kata Falco, kalung ini dikasih sama ibu-ibu asal desa Osaka."
Sirena mengamati lamat-lamat kalung itu, hingga sinar biru itu kembali berpendar yang membuat Sirena seolah-olah ditarik ke dimensi lain.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Saat Sirena membuka mata, dia mendapati sosok Sirena asli yang tengah duduk termenung di depan cermin kuno, cermin yang membuat dia datang ke dunia ini dan masuk ke dalam tubuh Sirena.
Sirena asli menoleh saat merasakan kehadiran seseorang. Saat melihat sosok dirinya sendiri tengah berdiri memandangnya dia tahu kalau Devita akhirnya berhasil menemukan kalung steorra yang lain.
"Devita ..." Sirena berlari kemudian berhambur memeluk Devita yang masih memakai raga Sirena. Keduanya benar-benar terlihat seperti orang kembar.
Devita memeluk Sirena sama eratnya, "Udah lama banget ya kita nggak ketemu." Devita mengurai pelukannya, kemudian memperhatikan Sirena yang nampak pucat dan ... "Loh!? Rambut lo kok bisa berubah warna jadi item sih?"
Sirena menggeleng tidak tahu, "Entahlah, semakin lama aku disini rambutku berubah hitam begitu saja. Oh iya, dimana kau menemukan kalung steorra ini?"
"Kalung ini milik Galcinia, kakak iparmu. Tapi, sayangnya Galcinia yang sekarang, jiwanya adalah temen gue, namanya Ayana." Penjelasan dari Devita membuat Sirena terkejut.
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Gue juga nggak tahu. Bangun dari koma, eh jiwanya adalah jiwa Ayana, temen gue." Mata Devita melirik ke arah cermin dimana tadinya Sirena duduk, "Sirena, itu cermin kuno yang ngebuat gue ada di dalam tubuh lo."
Mata Sirena ikut tertuju pada cermin itu, "Cermin kuno itu baru saja muncul sebelum kau datang menemukanku." Sirena menarik pergelangan tangan Devita hingga keduanya berdiri di depan cermin kuno.
Saat itu juga, cermin kuno memancarkan cahaya biru yang sangat terang. Tak lama setelah cahaya itu hilang, cermin kuno itu menampilkan sosok Galcinia.
"Galcinia?" Devita dan Sirena saling pandang dengan kerutan di dahi.
Di dalam cermin, diperlihatkan sosok Galcinia yang tengah berjalan mengendap-endap menuju sebuah kuil yang nampak kotor dan sudah tidak layak untuk dihuni. Kuil itu adalah kuil terlarang.
Galcinia berdiri di sebelah pintu masuk kuil, "Apa yang dilakukan ibunda Ratu dan Nervilia di kuil terlarang?"
Ucapan dari Galcinia membuat Sirena dan Devita kaget bukan main. Kuil terlarang adalah kuil yang digunakan untuk menyembah iblis.
Galcinia pun mencuri-curi dengar pembicaraan beberapa orang di dalam kuil, karena bukan hanya ada Ratu Amanita dan Nervilia, "Ibunda Selir Agung juga disini?"
"Jadi mereka bertiga adalah penyembah iblis?" Devita bergumam, namun gumaman itu masih bisa didengar oleh Sirena.
"Mengapa memilih hari ulang tahun Sirena, ibunda?" Disana hanya Nervilia yang tak memakai jubah hitam seperti yang lain.
"Tentu saja untuk memancing amarahnya! Anak bodoh itu mudah sekali tersulut emosi bila berkaitan dengan Elephas. Dengan seperti itu dia dapat membangunkan Raja iblis yang sudah lama tertidur." Selir Agung Cordyline yang menjawab.
"Bila Raja iblis sudah bangkit, maka aku akan meminta kekuatannya. Dan saat hari itu tiba, kita akan bisa menguasai dunia, hahaha ..."
Galcinia yang mendengar itu terkejut, karena takut ketahuan, Galcinia pun bergegas pergi.
Cermin itu seketika hitam.
"Mereka memperalatku untuk mendapatkan tujuan mereka." Sirena bergumam.
Devita terdiam dengan pikirannya yang melintas kemana-mana. Tentang serangan monster selama ini, apakah ini ulah mereka atau Raja iblis? Bila mereka berhasil mendapatkan kekuatan Raja iblis, bagaimana dengan nasib Raja iblis yang hidup tanpa kekuatannya.
Cermin itu kembali bersinar biru. Sirena dan Devita bersiap-siap untuk melihat sebagian memori Galcinia yang diperlihatkan cermin kuno.
Di taman belakang istana, Galcinia melihat sosok Sirena yang tengah duduk sendirian. Dia pun bergegas menghampiri Sirena.
"Sirena ..."
Sirena yang tadinya melamun kini terfokus pada Galcinia yang baru saja datang di depannya.
"Ada apa?" Tanya Sirena dengan wajah datar. Tidak ada salam hormat untuk Galcinia dari Sirena.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tolong menjauhlah dari Nervilia." Galcinia mengambil tangan Sirena, kemudian menggenggamnya erat.
Sirena menarik tangannya kembali, "Apa kau pernah melihat aku begitu sudi mendekatkan diri padanya?"
Galcinia nampak gugup ditatap oleh Sirena, "T-tidak juga ... H-hanya saja untuk kali ini tolong kau kendalikan emosimu, terutama saat hari ulang tahunmu nanti."
"Kenapa kau begitu mengurusiku?" Sirena bersidekap dada.
"I-itu karena ..." Ucapan Galcinia menggantung karena melihat sosok Nervilia yang berdiri di belakang pohon sambil mengarahkan pedang bermata tajam ke arah Sirena.
"SIRENA, AWAS!"
Jleb
Kejadiannya begitu cepat. Galcinia mendorong Sirena ke samping hingga akhirnya Galcinia lah yang terkena pedang itu.
Sirena begitu terkejut, "Kakak ipar!!" Sirena mendekati Galcinia yang sudah tergeletak di tanah.
"Bertahanlah!" Sirena nampak panik dan tidak tahu cara melakukan pertolongan pertama untuk orang yang terkena luka tusuk. Maka dari itu dia berencana untuk mencabut pedang itu dari perut Galcinia.
"SIRENA! KAU SUNGGUH KETERLALUAN! Hiks ..."
Sirena yang baru saja memegang gagang pedang terkejut dengan kehadiran Nervilia yang sudah menangis.
"ASTAGA, SIRENA!! APA KAU BERNIAT MEMBUNUH MENANTUKU??"
Sirena semakin panik dengan kedatangan Ratu Amanita dan Selir Agung. Akibat teriakan kencang dari Ratu Amanita, Raja beserta Falco dan Elanus berbondong-bondong menuju taman.
Raja yang melihat itu langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Sirena.
"B-bukan aku, Ayahanda! Bukan aku!" Air mata Sirena mulai bercucuran.
"Ceritakan yang sebenarnya, Nervilia." Perintah Raja.
Nervilia menyeka air matanya dengan tangan, "T-tadinya aku s-sedang berbincang dengan Kakak ipar ... Tiba-tiba Sirena datang sambil marah-marah dan mengacungkan pedang ke arahku ..." Nervilia kembali menyeka air matanya yang terus saja keluar.
"DIA BOHONG!" Sirena menatap tajam Nervilia meskipun air matanya juga bercucuran.
"Kakak ipar hiks ... D-dia melindungiku dari serangan Sirena ..." Nervilia berlari mendekati Ratu Amanita.
Raja yang mendengar penjelasan itu langsung menatap Sirena dengan amarah yang membara, "Legion! Cepat bawa Sirena ke Gymanel, lalu cambuk seratus kali!"
"AYAHANDA ... hiks ... AKU TIDAK MELAKUKANNYA!!!"
Cermin itu seketika menghitam.
Devita berdiri dengan tubuh yang kaku. Jantungnya berdegup nyeri saat melihat scene itu. Berbeda dengan Sirena yang tertunduk.
"Seandainya aku bisa memperlihatkan bukti tadi ke seluruh dunia ..." Lirih Sirena yang masih bisa didengar oleh Devita.
Dari kejadian ini, Devita mulai yakin dengan hati kecilnya yang mengatakan bahwa serangan monster akhir-akhir ini adalah ulah Ratu Amanita beserta kelompoknya, mereka si pemuja iblis.
Lalu, bagaimana dengan Raja iblis? Apakah dia tidak marah namanya dimanfaatkan oleh orang-orang?
"Sirena, menurutmu, bila Raja iblis kekuatannya berhasil dimiliki oleh Ratu Amanita, apakah sosok Zifgrid mampu melawan Ratu? Bukankah musuh kita yang sebenarnya adalah mereka?"
Sirena mengangguk, "Ya, sudah pasti musuh kita adalah mereka. Mungkin saja Zifgrid memiliki cara lain untuk melawan mereka. Mereka dengan tujuan kotornya, bagaimana dengan dunia bila mereka berhasil menguasai dunia?"
Devita tak menyahuti Sirena. Kenapa semuanya semakin rumit?
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?
Aku baru nemu gambar kalung yang cocok nih guys!
...(Kalung steorra Sirena)...
...(Kalung Steorra Devita)...
...(Kalung steorra Galcinia)...