The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 47: Fakta Yang Tersembunyi



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


"KENAPA KAU BARU BILANG PADAKU, HAH?"


Adelphie tersentak, untuk pertama kalinya dia melihat Agda bisa semarah ini. Suara Agda begitu menggelegar hingga para legion yang ada di luar Minor mendengar.


"Aku benar-benar kecewa padamu ..." Agda terduduk lesu di kursi ruang tamu Minor, "Bagaimana bisa aku memakai gaun sebagus ini, sedangkan Sirena memakai gaunnya yang sudah pasti kotor di penjara bawah tanah,"


Adelphie ikut duduk di sebelah Agda, "Maafkan aku, Agda ..."


"Sekarang, bagaimana dengan Sirena? Mereka benar-benar orang sialan! Mereka menikmati pesta malam ini berkat usaha keras Sirena, dan Sirena justru mendekam dalam penjara, ini tidak adil!" Agda tahu sendiri perjuangan Sirena dalam menyiapkan pesta pernikahan ini. Sirena ingin pesta pernikahan Nervilia begitu berkesan di hati semua orang. Tetapi untuk Sirena sendiri?


"Agda ... Kaisar tidak akan percaya dengan mudah kalau kita berkata bahwa kekacauan di Hypatia bukanlah ulah Sirena. Terlebih kita tahu sendiri bahwa Sirena sang pembangkit, tentu saja menimbulkan pikiran banyak orang bahwa bisa saja Sirena bersekutu dengan roh bahkan Raja iblis." Aindrea angkat bicara.


Agda menatap tajam Aindrea, "Pasti ada jalan!"


"Ada apa ini ribut-ribut?"


Ketiganya mengalihkan pandangannya pada sosok Elanus yang begitu tampan dengan baju khas Pangeran miliknya.


"Pangeran Kedua ... Semoga Dewa dan Dewi Vulcan memberikan keselamatan untuk Pangeran Kedua Elanus ..." Agda, Adelphie dan Aindrea memberi hormat bersamaan.


"Bangunlah!" Elanus kemudian berjalan menghampiri mereka, lalu berhenti di samping Agda, "Mengapa kalian tidak ke istana Azalea untuk menikmati pesta?"


"K-kami t-"


"Kami tidak akan ke pesta. Sahabat kami sedang menderita di penjara, bagaimana bisa kami menikmati pesta?" Agda memotong ucapan Adelphie.


Sedangkan Adelphie dan Aindrea saling pandang, mengapa Agda begitu berani terhadap Elanus yang notabenenya adalah Pangeran, tuannya.


Elanus memandang Agda dengan tatapan yang sulit diartikan, "Tinggalkan kami berdua disini."


Adelphie dan Aindrea pun melenggang pergi meninggalkan Elanus bersama Agda. Sepertinya ada suatu hal yang Adelphie belum ketahui.


"Kalau begitu, saya izin undur diri, Pangeran ..." Agda pun hendak pergi, namun segera ditahan oleh Elanus.


"Apakah aku mengizinkanmu pergi?"


"Tanpa izin Anda pun saya tetap bisa pergi," Agda ingin sekali menghilang dalam sekejap mata. Demi apapun dia tak ingin satu ruangan dengan lelaki yang tengah menahannya ini.


"Agda Aegeus!" Elanus menarik tangan Agda hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya, "Jangan menjauh, aku mohon ..."


Agda berusaha memberontak, "Lepaskan aku, Elanus! Lepaskan!"


Elanus tak mengindahkan perintah Agda, dia justru mendekap semakin erat kepada Elanus, "Sebentar saja, biarkan seperti ini."


Sejujurnya Agda merindukan pelukan hangat dari Elanus, orang yang dia cintai sampai sekarang.


"Sejak kau berbicara dengan Sirena dulu, tetiba kau menjauh dariku. Apa Sirena mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" Ini yang Elanus ingin tahu, alasan kenapa dia masih ragu soal Sirena. Karena Sirena, wanita yang dia cintai menjauh.


"Bagaimana kalau aku bilang, Sirena justru membantuku?" Agda mendorong dada Elanus untuk menjauh, "Aku masih bernafas sampai sekarang itu karena berkat Sirena!"


Elanus terus memperhatikan raut wajah Agda, wanitanya benar-benar nampak marah.


"Dulu aku mungkin membenci Sirena karena dia menarikku kemari, ke Manor ini dan membuatku jauh darimu. Tapi setelah aku mengerti maksud Sirena, aku paham." Agda ingat ucapan Sirena kala itu, kala dia masih dalam kondisi bersedih akibat dipindahtugaskan.


"Kalau kau ingin hidup aman, menurutlah padaku. Kau pikir cintamu bisa membuat semua orang berbelas kasih padamu, huh? Lihatlah dirimu dan lihatlah Kak Elanus, kalian bagaikan tanah dan langit."


Sampai akhirnya Agda sadar maksud ucapan Sirena. Sirena ingin melindunginya. Hubungan percintaan antara bangsawan dengan rakyat jelata sepertinya hanya akan mengantarkan nyawa.


"Apa yang dikatakan Sirena?" Elanus ingin tahu.


"Elanus, coba kau jawab pertanyaanku, dahulunya aku siapamu?" Agda bersidekap dada mendongak untuk memandang Elanus.


"Dahulunya, kau adalah luster pribadiku." Jawab Elanus meskipun dahinya membentuk sebuah kerutan halus.


"Sekarang lihat, siapa dirimu? Apa statusmu?"


"Pangeran Kedua Kerajaan Will- tunggu," Elanus akhirnya paham. Ternyata karena statusnya, Elanus memandang sendu Agda, "Kalau aku bisa memilih, aku pun tak ingin menjadi seorang Pangeran. Aku benar-benar mencintaimu, Agda ... Aku hanya ingin bersamamu, sesederhana itu."


"Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu, Elanus. Ceritanya akan berbeda bila kau bukan seorang Pangeran, kita tidak akan pernah bertemu dan perasaan itu tak akan tumbuh." Agda berbalik, membelakangi Elanus, mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Elanus mendekati Agda, memeluk Agda dari belakang, "Aku akan berbicara pada ayahanda dan ibunda, bahwa kau lah wanita yang aku pilih."


"Itu tidak akan terjadi." Agda melepas tangan Elanus yang melingkarinya.


"Kenapa, Agda? Apa kurangnya aku?"


'Kau tidak pernah kurang apapun, Elanus ... Hanya saja, kita memang sulit untuk bersama.'


"Karena kita bukan berjodoh. Tolong jangan mengajakku bicara lagi, aku tidak ingin ada yang tahu kalau kita pernah menjalin sebuah hubungan."


Agda berbalik, "Apa keinginanmu?"


"Hanya malam ini, buatlah akhir cerita kita berkesan." Elanus menatap mata Agda dalam.


Antara ragu, tapi Agda akhirnya menyetujui, "Baik."


'Untuk yang terakhir ...'


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Di dalam sebuah kamar dengan nuansa gelap, seorang lelaki tengah berkaca di depan cermin, memandang penampilannya yang menawan serta terlihat gagah.


Untuk pertama kalinya, dia akan mengikuti acara resmi bersama keluarganya. Dan di acara resmi inilah dia akan menunjukkan seseorang kepada keluarganya, dia adalah Athanaxius.


Dari pantulan cermin, raut wajah Athanaxius terlihat datar, tidak ada raut wajah bahagia sama sekali. Dingin, sama seperti suasana kamarnya yang dibiarkan gelap tanpa disinari cahaya lilin.


"Gelap sama sekali tidak menyembunyikan fakta bahwa aku hanya sendiri." Monolognya sembari terus memandang ke arah cermin.


Iris matanya sudah berubah menjadi merah darah, tidak bisa kembali lagi menjadi abu-abu miliknya. Simbol sayap yang ada di punggungnya nyaris sudah menghitam, hanya meninggalkan sisa warna putih.


"Aku mengerti kegelisahanmu."


Athanaxius menoleh cepat, memandang tajam pada sosok hitam yang berdiri di depan pintu balkon yang dia biarkan terbuka.


Sosok itu hanya menyerupai sebuah asap pekat yang membentuk tubuh manusia, terdapat dua mata merah dibagian wajahnya.


"Pergi!" Athanaxius berujar dingin.


"Hahaha, sungguh malang nasib Pangeran Kedua Kekaisaran Alioth ini," sosok itu perlahan mendekat hingga berdiri di depan Athanaxius.


"Apa kau ingin tahu sebuah fakta yang mengejutkan?"


"Siapa yang mengirimmu datang kemari? Apa Rajamu si Ambrogio itu, hah?" Athanaxius tahu, sosok di depannya adalah sebagian dari roh iblis.


"Aku bukan bagian dari Raja Iblis. Selama ini kau selalu menderita bukan? Karena kutukanmu, kau diasingkan, dibenci dan dianggap monster bahkan iblis. Tidakkah kau ingin tahu siapa yang membuatmu seperti ini?"


"Katakan, siapa kau? Dan siapa yang membuatku seperti ini?" Tangan Athanaxius terkepal kuat. Sudah sering dia bertanya siapa orang yang memberinya kutukan pada ibunya, tapi ibunya tidak pernah memberitahu dan justru memukulinya.


"Anggap saja aku adalah si mata merah yang sebenarnya. Aku sudah lebih kuat terikat denganmu karena kau sendiri. Selama ini kau tidak pernah mencari tahu cara untuk menghilangkan kutukan ini. Dan kejadian dimana kau membunuh banyak orang membuatku semakin kuat. Maka aku juga merupakan sebagian dirimu, mengambil alih tubuhmu dan kesadaranmu kapan saja, hahahaha ..."


Athanaxius termenung, ucapan sosok itu benar. Dia tidak pernah mencari tahu cara agar kutukannya menghilang, hingga membuat kutukannya semakin kuat dan sulit terlepas darinya.


"Orang yang mengutukmu masih berhubungan dengan orang terdekatmu. Berusahalah lebih keras untuk bertanya kepada ibumu."


"Ibunda?" Beo Athanaxius.


"Segeralah temukan cara untuk menghilangkan kutukanmu, karena aku juga tidak tahu caranya pergi."


Sosok itu lenyap seketika, bertepatan dengan pintu kamarnya yang terbuka, menampilkan sosok ibundanya yang datang dengan wajah angkuh sembari membawa sebuah kain kecil berukuran panjang berwarna hitam.


"Tutup matamu menggunakan ini!" Airith melempar kain itu di wajah Athanaxius.


"Untuk apa aku menutup mataku, ibunda?" Athanaxius menggenggam kain itu dengan erat.


"Tentu saja untuk menghindari malapetaka bagi siapapun yang hadir di pesta pernikahan Putri Nervilia nanti. Dan dengan matamu yang ditutup pasti akan lebih banyak wanita bangsawan yang mendekatimu, dengan senang hati aku akan memilihnya menjadi calon menantu." Ratu Airith menyunggingkan senyum tipisnya.


Athanaxius menghela nafas, "Aku sudah memiliki calon istri, ibunda ... aku akan memperkenalkannya di hadapanmu."


Airith menatap marah Athanaxius, tapi tak menatap matanya secara langsung, "Kau ingin menjadi anak yang durhaka, hm?"


"Terserah. Aku tetap pada pilihanku sendiri, ibunda."


Airith yang merasa marah pun mengeluarkan sihir miliknya kemudian mengarahkan ke cermin hingga cermin itu pecah berkeping-keping.


PRANG


Setelah memecahkan cermin, Airith melenggang pergi meninggalkan Athanaxius yang mulai dikelilingi oleh asap hitam.


"Seperti cermin yang pecah, Athanaxius yang lama sudah mati karena keegoisanmu, Airith." Yang berbicara bukanlah Athanaxius, melainkan si mata merah yang ada di dalam diri Athanaxius.


"Mari kita lakukan sesuai permintaan ibundamu, Athanaxius." Kain hitam yang dipegangnya mulai dia ikatkan untuk menutupi matanya. Setelah kain hitam itu terpasang dengan sempurna, Athanaxius berjalan keluar kamar.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?


Adakah yang sudah menebak hubungan antara Agda dan Elanus???