The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 26: Hari Bahagia Adelphie



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Aindrea tengah duduk di gazebo depan Minor sembari membersihkan pedangnya agar tetap bersih. Tak lama tatapannya beralih pada Sirena yang baru saja datang dari taman Manor sembari menepuk kedua pipinya berulang kali.


"Pipimu bisa memerah kalau kau menepuknya berulang kali, Sirena," Aindrea berjalan menghampiri Sirena yang kini tengah menatapnya.


"Bang Indra? Belum tidur?"


"Kau sendiri? Mengapa belum tidur larut malam seperti ini?" Pertanyaan Aindrea membuat Sirena kembali teringat dengan ulah Athanaxius kepadanya.


'Imbalan pertama katanya? Imbalannya kok ngeri sih? Besok-besok apa lagi? Kalau sampe minta jantung gue gimana?' Sirena bergidik ngeri, 'Gue harus menjauh dari Athan! T-tapi ...' Sirena tanpa sadar menggigiti kuku-kukunya, dia tak bisa menjauh dari Athanaxius begitu saja. Apalagi lelaki itu selalu ada saat dia membutuhkan pertolongan. Sirena memiliki banyak hutang budi pada Athanaxius.


"Sirena?" Aindrea agak bingung melihat tingkah Sirena yang nampak aneh setelah kembali dari taman Manor.


"E-eh ... Hehe ... K-kenapa, Bang Indra?" Sirena menjadi gugup saat ditatap sedemikian rupa oleh Aindrea.


"Kau yang kenapa! Lupakan saja, sekarang masuklah ke dalam Minormu. Angin malam tak baik untuk kesehatanmu, kau bisa sakit nanti. Dan masalah besok, aku akan menemanimu keluar istana." Aindrea mengacak-acak rambut Sirena.


Diperlakukan manis seperti itu membuat Sirena merasa senang bukan main. Dahulunya, dia selalu iri saat melihat Vanessa yang selalu diusap kepalanya oleh Gilang. Tapi sekarang dia tak perlu iri lagi. Disini, sudah ada Aindrea yang menjadi kakak paling dia sayang.


"Kalau begitu, selamat malam, Bang Indra," Sirena menghadiahkan senyum manis untuk Aindrea yang membuat Aindrea tak tahan untuk tak mencubit pipi Sirena.


"Astaga! Bagaimana bisa Raja melupakanmu sebagai orang yang paling menggemaskan?" Aindrea tertawa saat melihat raut wajah cemberut Sirena karena ulahnya yang terus mencubit pipi Sirena tanpa henti.


"Sakit tahu!" Sirena mencebik kesal, "Sudahlah! Aku mau tidur, bye!" Setelahnya Sirena melenggang pergi dengan langkahnya yang sengaja dia hentak-hentakkan.


Aindrea yang melihat itu semakin tak kuasa menahan tawanya. Saat Sirena sudah tak lagi terlihat, barulah dia berhenti tertawa. Raut wajahnya kembali datar seperti sebelumnya.


"Kau harus bertahan, Sirena! Harus!" Aindrea mencengkram kuat gagang pedangnya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Pagi ini Sirena sarapan ditemani Agda. Sirena yang tengah mengunyah makanannya itu menatap Agda penuh tanya, "Agda, mengapa Adelphie tak ikut sarapan?"


"Dia sakit."


Sirena menghentikan acara makannya, "Sakit apa? Mengapa tak memberitahuku?"


Agda menghela nafas, "Mungkin demam. Tadi pagi sewaktu aku hendak membangunkannya, dia bilang dia ingin istirahat karena sakit."


Sirena mengangguk, "Kupikir dia tahan banting. Ternyata bisa sakit juga, ya?"


"Adelphie hanyalah manusia biasa, Sirena ..." Agda berbicara dengan nada ala membaca puisi, "Oh iya, kau ingin menggunakan kereta atau tidak?"


Sirena menggelengkan kepalanya, dia kapok menaiki kereta kuda yang akan membuatnya muntah-muntah, "Kita jalan kaki saja."


Agda langsung mengacungkan jempolnya, "Bagus! Kau harus lebih merakyat, Sirena!"


"Merakyat gundulmu!" Sirena mendengus, "Aku akan membuatkan bubur untuk Adelphie terlebih dahulu. Kau siapkan saja barang yang akan kita perlihatkan kepada pengrajin." Sirena berencana memberikan suvenir kepada para tamu undangan nanti. Suvenir itu berupa lilin aromaterapi yang dia buat sendiri dan dibantu oleh penghuni Manor.


"Mungkin setelah acara pesta pernikahan, akan ada banyak pesanan lilin aromaterapi nantinya. Kau memang jenius, Sirena!" Puji Agda yang membuat Sirena menepuk dadanya bangga.


"Oh jelas pastinya! Sirena memang mantap kan?" Sirena menaikkan kedua alisnya dengan wajah sombong.


"Aku menyesal sudah memujimu." Agda mendengus, "Lalu soal gaun yang akan dipakai oleh Putri Nervilia bagaimana?"


"Paksa Nervilia untuk ikut serta dengan kita." Sirena menjawab dengan nada santai.


Wajah Agda memucat, "Kau tahu, aku trauma dengannya setelah aku ditampar malam itu."


Sirena menghela nafas panjang, "Hah yasudah! Biar aku yang akan memaksanya. Sekarang kau siapkan saja apa yang akan kita lakukan hari ini."


"Siap laksanakan!" Agda yang kebetulan sudah selesai makan langsung keluar dari Minor menuju ruang produksi yang letaknya ada di sebelah dapur Manor.


Sirena yang juga sudah selesai makan mulai berkutat untuk membuatkan Adelphie bubur sumsum.


"Sirena?"


Sirena menoleh, mendapati Aindrea yang berjalan menghampirinya, "Kenapa kau tidak siap-siap?" Aindrea melirik bubur buatan Sirena, "Bubur untuk siapa itu?"


"Aku membuat bubur sumsum untuk Adelphie terlebih dahulu, dia tengah sakit." Sirena mengangkat panci setelah bubur yang dia buat sudah matang. Sirena mulai menuangkan air gula merah dan bubur sumsum buatannya sudah jadi.


"Bang Indra, sahabatku Adelphie tengah sakit, tidak mungkin bila dia harus ditinggal sendirian bukan? Maka dari itu, aku minta tolong jagakan Adelphie untukku satu hari ini. Dan ini," Sirena menyerahkan mangkuk bubur sumsum kepada Aindrea, "tolong antarkan kepada Adelphie di kamarnya. Aku harus pergi cepat karena Agda menungguku."


"Ta-tap-"


"Sirena yang cantik dan baik hati ini, meminta tolong padamu, Bang Indra ... Mau ya?" Sirena menyatukan kedua tangannya sembari memasang wajah polos.


Aindrea mendesah berat, "Baiklah! Kalau begitu di perjalanan kau harus berhati-hati! Aku akan menyuruh Irash untuk mengawalmu, tidak boleh menolak!"


"Okeh!" Sirena mengacungkan jempolnya. Lalu kemudian keluar dari Minornya dengan langkah riang.


Sesampainya di luar Minor, benar saja, Agda sudah menunggunya. Agda melihat wajah sumringah Sirena dengan herat, "Ada apa dengan raut wajahmu itu? Kau seperti mendapat jodoh saja!"


"Hahaha ... Terserah kau saja kawan!" Sirena merangkul pundak Agda, "Setelah ini pasti Adelphie akan sembuh dengan cepat. Kau harus percaya dengan ucapanku, Agda."


'Lo bisa nyembunyiin rasa suka lo dari orang lain bahkan Bang Indra sendiri, Adelphie ... Tapi gue tahu kalau lo suka sama Bang Indra ...'


"Pokoknya kapal gue harus berlayar!" Agda yang ada di sebelah Sirena mulai bergidik ngeri karena Sirena mulai berbicara aneh lagi, "Ayo Agda, Irash! Kita ke istana utama terlebih dahulu untuk menjemput Tuan Putri!"


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Elanus, Falco dan Nervilia saat ini tengah di ruang keluarga untuk minum teh bersama sekaligus membahas tentang pernikahan Nervilia.


"Untuk upacara pernikahanku, ayahanda setuju kalau yang hadir hanyalah keluarga terdekat. Setelah itu malamnya adalah pesta pernikahannya di istana ini. Aku tak tahu pasti pestanya akan memiliki konsep seperti apa, karena Sirena yang mengurus itu semua." Nervilia mengangkat cangkir teh dengan anggun.


GEDUBRAK


"HUAHHH AGDA! KENAPA ADA KUCING DISINI SIH? IH GELI!"


"Sirena?" Gumam Elanus yang masih bisa didengar oleh Falco dan Nervilia.


Ketiganya langsung keluar dari ruang keluarga untuk melihat keributan yang disebabkan oleh Sirena.


"SINGKIRKAN KUCING ITU, AGDA, IRASH!" Saking takutnya Sirena dengan kucing, dia sudah terduduk di lantai depan pintu ruang keluarga tanpa peduli penampilannya.


Berbeda dengan Agda dan Irash yang malah tertawa terbahak-bahak. Namun tak ayal Irash mengangkat kucing kecil lucu yang menempel di kaki Sirena.


"Ada apa ini?"


Sirena mendengus menatap Falco yang selalu saja menatapnya tak suka, "Drama kucing garong!" Sahut Sirena ketus.


"Kucing garong?" Beo Falco.


"Oi Nervilia! Kau harus ikut denganku keluar istana sekarang. Kau tahu kan kalau aku ditugaskan oleh Pak Raja untuk mengurus pesta pernikahanmu itu?" Nervilia mengangguk anggun, "Nah! Tidak mungkin bila kau memakai gaun jelek saat pesta pernikahanmu. Jadi, kau harus ikut denganku ke tukang jahit, setelahnya kau bebas untuk kembali ke istana untuk melanjutkan masa karantinamu."


Masa karantina adalah adat istiadat di dunia Vulcan, dimana calon mempelai wanita tidak boleh keluar rumah atau istana hingga hari upacara pernikahan tiba.


"Apa kau sudah meminta ijin ayahanda untuk membawa Nervilia keluar istana?" Elanus kini sudah berdiri di sebelah Sirena.


Sirena mengambil langkah menjauh dari Elanus, "Memangnya harus?"


Nervilia mengangguk, "Ya, itu harus. Siapapun yang ingin keluar istana, haruslah mendapat ijin dari ayahanda."


"Halah ribet amat sih!" Sirena mendengus, "Yasudah! Aku akan meminta ijin sekarang." Sirena melangkah ke ruang kerja Raja Monachus yang kebetulan tak jauh dari ruang keluarga diikuti oleh ketiga saudaranya juga Agda dan Irash.


Suzdal yang hendak memberitahukan kedatangan Sirena langsung dicegah olehnya, "Tak perlu." Sirena membuka pintu ruang kerja Raja dengan sekali dorongan. Pintunya pun terbuka lebar, segera saja dia melangkah masuk dan diikuti ketiga saudaranya yang tercengang dengan ulah Sirena.


"Pak Raja, Anda harus mengijinkan saya untuk membawa anak kesayangan Anda ini ke tukang jahit yang ada diluar istana! Anda tidak boleh menolaknya!" Sirena menatap tak suka Raja Monachus.


"Sirena! Apa kau sudah hilang kewarasan? Jaga bicaramu terhadap ayahanda!" Falco menegurnya. Sirena sampai bosan, mengapa harus Falco yang terus saja menegurnya?


Raja Monachus berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Sirena yang begitu berani kepadanya.


"Aku tak berbicara denganmu, Pangeran Falco!" Sirena menjulurkan lidahnya ke arah Falco, "Telingaku terasa panas karena terus mendengar ocehanmu." Sirena mengibaskan tangannya ke arah telinganya.


"Panggil aku ayahanda terlebih dahulu, baru aku akan mengijinkanmu membawa Nervilia keluar istana."


'Buset! Pak Raja kesambet apaan dah?'


"Tidak mau! Anda tak pantas untuk dipanggil Ayahanda oleh saya." Sirena bersidekap dada dan tak ingin menatap wajah Raja Monachus.


"Sirena, kau tidak boleh seperti itu kepada ayahanda ..." Nervilia ikut menegur.


"Diem lo!" Sentak Sirena kepada Nervilia.


Raja Monachus menggelengkan kepalanya melihat sikap Sirena. Namun, dia merasakan kekecewaan tatkala Sirena menolak memanggilnya ayahanda.


"Sirena ... Kau boleh pergi. Tetapi setelah itu Nervilia harus kembali ke istana untuk melanjutkan karantinanya."


"Gitu kek daritadi!" Dengus Sirena, "Nervilia, cabut sekarang! Kita tidak boleh menunda-nunda waktu, karena waktu adalah uang!" Setelah mengucapkan itu Sirena melenggang pergi tanpa berpamitan kepada Raja Monachus.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Tok tok tok


Adelphie mengernyitkan dahinya saat ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok


Perlahan mata Adelphie terbuka saat ketukan itu kembali terdengar. Adelphie memandang pintu kamarnya, "Siapa?" Adelphie penasaran. Bila Sirena atau Agda, keduanya sama-sama tak beretika saat memasuki kamarnya.


"Ini aku, Aindrea."


Deg.


Jantung Adelphie seketika berdegup kencang. Bahkan hanya mendengar suaranya saja dia sudah berdegup kencang, apalagi melihat wajahnya? Pingsan mungkin.


"Apa aku boleh masuk? Aku datang membawakan bubur buatan Sirena untukmu."


'Sirena?'


"M-masuk saja."


Cklek


Pintu kamar Adelphie yang terbuat dari kayu itu terbuka lebar. Dan terpampanglah wajah Aindrea yang tampan, menurut Adelphie.


Aindrea duduk di tepi ranjang Adelphie, kemudian menyentuh dahi wanita itu untuk memeriksa suhu tubuh Adelphie yang memang panas.


"Kau terlalu kelelahan sepertinya hingga membuatmu demam." Aindrea menarik kembali tangannya dan melihat Adelphie yang mematung.


Tak


"Aww!!" Adelphie mengusap keningnya yang disentil Aindrea, "Kenapa kau memukul keningku?"


"Aku hanya menyadarkanmu." Aindrea kemudian menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Adelphie, "Buka mulutmu!"


Ragu-ragu Adelphie membuka mulutnya, menerima suapan dari Aindrea. Adelphie menerima suapan demi suapan dari Aindrea hingga bubur sumsumnya tinggal setengah.


"Sampai kapan kau akan terus-terusan bersembunyi disini, Adelphie?"


Adelphie membelalakkan matanya terkejut memandang Aindrea, "B-b-bag-"


Cup


"Tapi tak apa, aku senang dengan hadirmu." Aindrea menahan senyumnya saat melihat wajah Adelphie yang memerah karena dia mengecup singkat bibir Adelphie.


Adelphie benar-benar ingin tenggelam saja ke laut sekarang. Dia malu sekali. Alhasil dia segera berbaring lalu tidur membelakangi Aindrea, menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut dengan perasaan senang.


'A-apakah s-selama ini, Aindrea tahu aku menyukainya?'


"Baru sekarang aku melihatmu malu seperti itu. Adelphie, apa kau akan terus bersembunyi? Tak ingin melihatku, hm?"


"Diam kau, Aindrea!" Sentak Adelphie, tapi tak ayal dia senang hari ini.


"Berterimakasihlah pada Sirena. Mungkin tanpa kebaikan hatinya, kau tak akan tahu perasaanku." Bisikan Aindrea membuat Adelphie memejamkan matanya sembari menetralkan jantungnya.


'ASTAGA JANTUNGKU!'


Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Adelphie. Ternyata selama ini perasaannya terbalas yang dia kira bertepuk sebelah tangan.


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?