
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Apakah sekarang aku terlihat luar biasa dengan seragam legion istimewa ini?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Virga membuat jengah Devita, Sirena, dan Irena. Bukan sekali dua kali Virga bertanya hal yang sama.
"Tanya sekali lagi dapat piring cantik." Sahut Devita dengan nada jengah, tapi tak ayal dia melirik Virga yang nampak gagah dengan seragam legion istimewa. Tidak lupa, Virga juga mengenakan kumis palsu serta menambahkan beberapa tahi lalat di wajahnya agar menyamarkan wajahnya.
Seragam legion istimewa itu berbahan kain katun dengan warna hitam dibagian punggung dan dada, lalu warna putih untuk bagian lengan serta kerahnya. Di dada sebelah kiri terdapat emblem bergambar pedang dan ada tulisan "Proudyios Alphard" dibawah emblem. Untuk celana, panjangnya sampai mata kaki lalu ada ikat kepala berwarna hitam yang wajib dipakai oleh legion istimewa.
"Tuan Putri, mohon pikirkan baik-baik sekali lagi ... Di luar wilayah Kekaisaran Alphard sangatlah berbahaya! Bagaimana kalau Yang Mulia Kaisar Yerikho mengetahui Anda keluar tanpa izin darinya?"
Virga yang tadinya sibuk berpose di depan cermin kini berbalik untuk memandang sang luster pribadinya yang memang begitu penakut dan taat peraturan.
"Lizta, dengarkan aku!" Virga mendekati Lizta, lusternya, "Aku akan baik-baik saja meskipun berada diluar Kekaisaran Alphard. Dan ... Apa kau tidak kasihan melihatku yang lama-lama bisa gila berada di istana ini? Oh Lizta, aku sudah muak hidup terkekang!" Virga berbicara dengan mimik wajah yang sangat menggambarkan bagaimana keadaannya.
"Tapi ini semua demi kebaikan Tuan Putri sendiri! Yang Mulia Kaisar sangat peduli dengan Anda dan tidak ingin Anda terluka sedikitpun!"
Virga memandang lusternya dengan wajah datar. Sia-sia saja dia berbicara dengan wajah menjelekkan seperti tadi.
"Tolong pikirkan sekali lagi, Tuan Putri ..." Lizta bersujud sembari menangis tersedu-sedu.
"Kami akan segera pergi. Jadi ikut atau tidak?" Irena sudah tidak tahan dengan drama majikan dan babunya.
"TENTU SAJA IKUT!" Virga tak peduli dengan lusternya yang begitu kaku terhadap aturan ayahandanya.
"Aku akan melihat situasi di luar kamar. Apakah aman kalau Virga keluar sekarang atau tidak." Sirena dengan mudah menembus dinding kamar Virga untuk melihat apakah ada legion yang berpatroli atau tidak.
"Lizta, kau ikut aku atau tidak? Kalau tidak ya sudah! Aku akan tetap pergi!"
Lizta lantas berdiri dengan cepat, "S-s-saya ikut!" Lizta tidak mungkin membiarkan Tuan Putri yang dijaganya pergi sendirian. Meskipun dia sangat menentang hal ini, tapi dia harus terus bersama dengan Tuan Putrinya kemanapun Virga pergi.
"Bagus! Nanti kalau kau ditanya kenapa kau mengikuti mereka oleh legion di depan aula istana, kau jawab saja kalau disuruh olehku untuk mengantar mereka sampai selamat di rumah Beta Arigha."
Dengan pasrah Lizta mengangguk menuruti ucapan Virga. Demi kebahagiaan Virga, dia akan menurutinya.
"Di luar aman." Sirena kembali lagi ke dalam kamar untuk memberitahu.
Mereka pun lantas keluar kamar dan Virga memposisikan dirinya berada di belakang Devita dan Irena. Lalu disampingnya terdapat Lizta yang sudah menormalkan wajahnya untuk terlihat tenang.
Cermin kuno itu sendiri sudah berada di dalam kereta kuda yang disiapkan oleh Kaisar untuk mengantarkan Devita dan Irena pulang ke rumah Beta Arigha.
Tiba di depan aula istana, ternyata Kaisar Yerikho dan tangan kanannya sudah berdiri tegap untuk mengantar kepulangan Devita dan Irena.
"Salam kami untuk Kaisar Agung Kekaisaran Alphard ... Semoga kesehatan dan berkah Dewa selalu menyertai Anda ..." Devita dan Irena menundukkan kepalanya, di belakangnya Virga dan Lizta memberi hormat selayaknya seorang legion dan luster.
"Ya." Jawab Kaisar Yerikho dengan singkat.
Devita dan Irena mengangkat kepalanya yang semula menunduk sedikit setelah mendapat balasan atas salam mereka.
"Be careful. I believe that the evil that Queen Amanita committed will be defeated." (Berhati-hatilah. Aku percaya bahwa kejahatan yang dilakukan Ratu Amanita akan berhasil dikalahkan)
"Thank you for the words of encouragement, Your Majesty ..." ( Terima kasih untuk kata semangatnya, Yang Mulia ...) Balas Devita sembari menampilkan senyum tipis.
"Kami permisi ..."
Irena dan Devita bersiap memasuki kereta kuda yang sudah ada di depan mereka.
"Tunggu,"
Mendengar itu, Virga tengah senam jantung sekarang.
"Lizta, mengapa kau juga naik ke dalam kereta Putri Sirena dan Putri Irena?"
Lizta lantas menundukkan kepalanya dalam-dalam, "Mohon ampun, Yang Mulia ... Hamba diperintah oleh Tuan Putri Virga untuk menemani Putri Sirena dan Putri Irena hingga sampai rumah Beta Arigha begitupula dengan salah satu legion istimewa ini." Lizta menunjuk Virga yang tengah menyamar.
"Itu benar, Yang Mulia ... Hamba juga diperintah untuk mengawal Putri Irena dan Putri Sirena." Virga menundukkan kepalanya dan memberatkan suaranya seperti laki-laki.
"Aku tercengang! Suaranya persis seperti laki-laki!" Ujar Sirena yang menyaksikan hal itu.
"Hm begitu ya? Sepertinya kalian berhasil menjadi teman untuk Virga." Kaisar Yerikho menganggukkan kepalanya pelan.
"Suatu kehormatan bagi kami dapat berteman dengan Putri Virga." Irena yang membalas ucapan Kaisar.
"Ya, ya ... Kalian boleh pergi."
Setelah mendapat izin dari Kaisar Yerikho, Devita, Sirena, Irena dan Lizta masuk ke dalam kereta kuda. Sedangkan Virga duduk di kursi samping kusir.
Kereta kuda mereka akhirnya pergi meninggalkan istana Kekaisaran Alphard yang begitu megah.
Setelah kepergian mereka, tatapan Kaisar Yerikho berubah tajam dan tangannya pun mengepal kuat.
"Memangnya semudah itu melarang Virga?" Kaisar Yerikho menghela nafas berat, "Aku tahu Virga seperti apa. Dia akan semakin membenciku kalau aku membongkar penyamarannya di depan kalian."
Kaisar Yerikho teringat sewaktu dia berada di luar Kekaisaran Alphard untuk menemui seseorang. Tapi tak disangka, Virga juga ikut bersamanya tanpa diketahui olehnya. Virga pandai menyamar dan karena itulah Kaisar Yerikho mengawasi jauh lebih intens terhadap Virga.
"So, what should I do now, Your Highnees?" ( Lantas, apa yang harus saya lakukan sekarang, Yang Mulia? )
"Kerahkan seratus legion untuk menjaga putriku. Kalau sampai putriku terluka sedikitpun, aku tak akan mengampuni nyawa kalian!"
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Di dalam kereta, Devita merasa sedikit tak nyaman dengan kehadiran luster pribadi Virga. Perasaannya mengatakan bahwa wanita di depannya ini akan membawa suatu hal yang buruk.
Selama perjalanan, mata Devita terus mengawasi Lizta yang tak mengalihkan perhatiannya dari cermin yang dia letakkan di sebelahnya.
"Mengapa kau terus memperhatikannya?"
Devita menatap Sirena yang bertanya, tetapi dia tak bisa menjawabnya karena Lizta belum mengetahui cerita keduanya. Hanya Virga yang mengetahui perihal pertukaran jiwa Sirena dan Devita.
"Apa kau belum pernah melihat cermin ini, Lizta?"
Lizta langsung terperanjat saat Devita bertanya hal itu. Bola mata Lizta berputar ke kanan dan kiri lalu tangan wanita itu yang meremat gaunnya dengan erat pun tak luput dari pandangan Devita.
"S-s-saya belum pernah melihat cermin ini." Ada jeda sejenak dari wanita itu karena gugup dipandang dengan tatapan tajam oleh Irena dan Devita, "C-cermin ini adalah peninggalan mendiang Yang Mulia Permaisuri Daisy, j-jadi ... Ke-beradaannya dirahasiakan."
"Begitukah?" Devita agak ragu.
"Dev, Ren! Kereta kudanya kenapa tidak menuju ke rumah Beta Arigha?" Pekikan Sirena sontak membuat Devita dan Irena langsung membuka tirai jendela untuk melihat.
Benar saja, mereka justru mulai memasuki area hutan yang lebat dan entah ke arah mana mereka dibawa.
"Hei! Ini bukan arah ke rumah Beta Arigha! Virga!!" Devita mencoba memanggil Virga yang duduk di kursi bersebelahan dengan kusir.
BRUGH
Bukannya mendapat jawaban, mereka justru mendengar sesuatu yang jatuh. Sirena langsung keluar untuk melihat. Dengan kondisinya yang berada dalam wujud tak nyatanya membuatnya aman untuk mengecek.
"YA AMPUN, VIRGA!!" Sirena terkejut saat melihat Virga tergeletak di tanah dan tidak sadarkan diri.
"Misi ini terlalu mudah untukku. Tuan Jaguisa pasti senang aku berhasil."
Sirena menoleh ke arah kusir. Dapat dia lihat sang kusir tengah tertawa senang, "ini jebakan!"
Sirena kembali masuk ke dalam kereta. Dia memberitahukan apa yang dilihatnya kepada Devita dan Irena.
Tak disangka, tiba-tiba Lizta tertawa kencang, seolah-olah dia memenangkan sesuatu.
"HAHAHAHA, ENYAHLAH KALIAN BERSAMA VIRGA!"
Lizta mengeluarkan sihir yang membuat Devita dan Irena terpental keluar dari kereta kuda.
"KYAAA!!"
BRUGH
BRUGH
Devita dan Irena jatuh terguling-guling di tanah yang keras. Mereka terjatuh tidak jauh dari posisi Virga berada.
"DEVITA! IRENA!" Sirena hendak keluar juga dari kereta kuda, tapi tiba-tiba tangannya seperti tertahan oleh sesuatu. Saat Sirena menoleh, dia sangat terkejut mendapati Lizta yang menyeringai menatapnya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk pergi, Putri Sirena?"
"K-kau ... Kau b-bisa melihatku?"
"Apa Putri pernah mendengar sebutan untuk orang yang bisa melihat roh?" Lizta memajukan tubuhnya.
Mata Sirena semakin membola, Lizta ternyata seorang 'indivora', sebutan bagi orang yang bisa melihat roh-roh dengan mata telanjang.
"L-lepaskan aku!!" Alarm berbahaya dapat Sirena rasakan saat melihat tangan Lizta mengeluarkan sihir hitam. Sudah dipastikan bahwa Lizta adalah seorang pemuja iblis dan hal itu membuatnya menjadi pengikut Ratu Amanita.
"Tidurlah!" Sihir itu melayang menuju Sirena dan perlahan menyelimuti tubuh Sirena.
"ARGHH!!" Sirena merasakan tubuhnya diremat kuat dan membuat tulang-tulangnya terasa remuk.
Perlahan tubuh Sirena melemas lalu kegelapan pun berhasil menguasainya, dia pingsan.
Lizta tertawa puas melihat Sirena sudah tak berdaya, "Hahaha, cermin kudapatkan begitupula dengan Putri Sirena. Aku sangatlah hebat! Hahahaa ..."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
THR MANA THR???? WKWKWKW