The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 60: Hadiah Untuk Osaka



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Di sepanjang perjalanan menuju desa Osaka, Devita memikirkan banyak hal. Terkadang, dia merasa begitu mampu untuk melakukan sesuatu, namun saat berhadapan langsung dengan apa yang akan dia lakukan, seketika perasaan takut datang.


Akan tetapi Devita selalu ingat pepatah yang sering dia baca di artikel yang mengatakan, 'Kamu tidak perlu menjadi hebat untuk memulai sesuatu. Lakukan sekarang dan jangan pernah menunda karena kesempatan mungkin tidak datang dua kali'.


Kegagalan adalah masalah terbesar bagi manusia. Akan tetapi, kegagalan bukanlah akhir segalanya, itu benar. Namun banyak yang memilih menyerah setelah berjumpa dengan kegagalan.


Seperti yang sudah dia dengar, Devita takut usaha untuk menarik perhatian rakyat desa Osaka akan mengalami kegagalan. Mengingat mereka yang menganggap penyerangan monster waktu itu adalah ulah Sirena, tubuh yang sekarang dia tempati.


Sebuah tepukan menyadarkan lamunan Devita, Agda lah yang menepuk bahu Devita.


"Kau terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu hal yang belum pasti terjadi, Sirena. Berhenti khawatir terhadap sesuatu, karena kekhawatiran membuat kau semakin takut untuk mencoba."


Devita menghela nafas panjang, matanya melirik ke arah Sirena yang duduk di depannya, tepat disamping France yang tengah tertidur. Sirena nampak memandangnya dengan tatapan bersalah.


"Kau tahu sendiri, Agda. Ini pertama kalinya aku bersosialisasi dengan banyak orang juga harus memakmurkan suatu wilayah. Statusku dipertaruhkan saat ini, bagaimana aku tak khawatir?"


Agda mengerti kekhawatiran yang dirasakan Devita saat ini, "Raja Monachus memberikan mahkota Putri Willamette tentu saja dengan alasan. Itu artinya kau mampu menjalankan tugas ini, buktikan! Buktikan kalau kau benar-benar mampu untuk memakmurkan desa Osaka."


"Seharusnya aku yang melaksanakan tugas dari Ayahanda, tapi aku tak mampu melakukannya. Maafkan aku, Devita ..." Sirena berujar dengan kepala tertunduk.


Devita ingin membalas ucapan Sirena, namun dia takut Agda mengetahuinya. Belum saatnya semua orang tahu siapa dia sebenarnya. Maka dari itu, Devita memilih memejamkan matanya.


Tubuh Devita terguncang-guncang akibat jalanan yang terjal. Beruntung sebelum berangkat Devita meminta obat kepada Sentrasenda agar dia tak mabuk darat. Apa boleh buat, aspal masih belum ditemukan di dunia ini, atau mungkin siapa tahu dia yang akan menemukannya nanti. Dan mungkin karena faktor jalan yang seperti ini yang membuat perjalanan bisa sampai berhari-hari lamanya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Perjalanan menuju desa Osaka tanpa menggunakan portal teleportasi memakan waktu dua hari lamanya. Seharusnya tidak sampai dua hari kalau saja Devita tidak meminta untuk beristirahat, lebih tepatnya untuk buang air kecil.


Srak


Devita membuka tirai jendela kereta yang ada di sebelahnya untuk sekedar melihat-lihat. Saat itu pula dia dikejutkan dengan sosok Sirakusa yang menunggang kuda putih tiba-tiba ada di samping jendela.


"Apa Anda ingin buang air kecil lagi?" Sirakusa bertanya dengan nada mengejek.


"Tidak!" Sahut Devita ketus, "Omong-omong, kapan kita akan sampai?"


"Sebentar lagi, setelah kita keluar dari hutan ini." Setelah mengatakan itu, Sirakusa tak sengaja menatap kening Devita.


'Dimana simbol itu? Mengapa menghilang tanpa jejak?'


"Aku bosan melihat hutan terus menerus ..." Devita meletakkan kepalanya di jendela, menikmati semilir angin sore hari yang terasa sejuk. Sebentar lagi malam tiba, Devita berharap rombongannya akan segera tiba di desa Osaka sebelum malam.


"Apa kau lelah?"


Devita mendongakkan kepalanya lagi untuk melihat Sirakusa, "Tidak. Em ... Dimana Athanaxius?" Pasalnya dia tak melihat Athanaxius sedari tadi.


"Dia berhenti di suatu tempat saat kita singgah siang pagi tadi. Mungkin nanti akan menyusul. Sebaiknya kau duduk dengan manis, Sirena. Sebentar lagi kita akan melewati tepi jurang, jangan sampai kau membuat kereta milikmu tidak seimbang dan berakhir jatuh." Sirakusa kemudian melajukan kudanya hingga di barisan depan.


Benar saja, jalanan yang mereka lewati mulai menanjak dan terjal. Tak lupa di sebelah kanan adalah jurang yang dimaksud Sirakusa. Jurang tersebut tak terlihat seberapa dalam karena tertutup oleh kabut.


Devita membayangkan, betapa susahnya rakyat desa Osaka untuk meminta bantuan kalau jarak desa mereka dengan desa yang lain sangat jauh. Di dunia ini, belum ada kendaraan mesin seperti di bumi.


Grhrghh


Langit yang semula memang mendung kini mulai menunjukan gejala akan datangnya hujan. Devita memutuskan untuk duduk manis di dalam kereta. Kemudian saat melirik ke arah Agda, ternyata wanita itu juga tidur.


Namun ada yang aneh, "Mengapa wajah Agda terlihat pucat?"


"Mungkin dia sakit."


Devita hampir melupakan keberadaan Sirena, "Agda sakit?" Devita mengecek suhu di kening Agda menggunakan punggung tangannya. Dan ternyata memang panas.


"Kau benar, dia sepertinya sakit." Devita memijit kepala Agda pelan. Bisa saja Agda sedari tadi menahan pusing hingga membuat wajahnya pucat.


"Dev, apa kau membawa buku itu?"


Devita mengangguk, "Iya, kau tenang saja. Aku masih penasaran dengan buku milik ibundamu. Tidak mungkin itu hanya sebuah lembaran kosong." Devita menjawab sembari memijit kepala Agda.


Suasana sempat hening sebentar sampai Devita kembali membuka suara, "Sirena, akhir-akhir ini tidak ada berita tentang penyerangan monster maupun roh iblis. Ini terlihat aneh atau tidak?" Sejujurnya Devita senang kalau tidak ada lagi monster yang menyerang, namun bukan berarti ini akhir dari semuanya bukan?


"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Sang Dryas?" Sirena menaikkan sebelah alisnya.


"Nah! Bisa saja!" Pekik Devita, tersadar kalau suaranya keras, Devita langsung menutup mulutnya. Matanya sontak menelisik wajah Agda maupun France.


Devita menghela nafas lega saat melihat France maupun Agda tidak terganggu oleh suaranya. Devita pun lanjut berbincang dengan Sirena.


'Sirena? Kau ada di sini? Di dalam kereta ini?'


Tanpa menyadari bahwa si kecil France tidak pernah tidur selama perjalanan. Dia hanya menutup mata berpura-pura tidur.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Tepat malam tiba, rombongan Devita sampai di depan gerbang desa Osaka. Devita memutuskan untuk turun, dia ingin melihat-lihat.


Desa Osaka dibentengi oleh dinding besar yang mengelilingi desa untuk melindungi mereka dari binatang buas saat malam tiba. Akan tetapi dinding di samping pintu gerbang terdapat lubang dengan diameter tiga meter kalau Devita mengira.


"Apa separah ini efek penyerangan monster waktu itu?" Devita menyentuh pinggiran dinding yang berlubang itu.


"Ayo, kita masuk sekarang!" Sirakusa menginterupsi dari atas kudanya.


Devita hanya menanggapi dengan anggukan. Dia melihat lima belas legion istimewa yang ikut bersamanya nampak kelelahan, "Sebentar lagi kalian bisa beristirahat, maaf aku merepotkan kalian."


Berkat ucapan Devita, para legion seketika tertunduk, "Harap Tuan Putri Sirena jangan berkata seperti itu. Sudah tugas kami untuk menjaga keselamatan Tuan Putri Sirena."


"Setelah aku sampai di tempat penginapan, kalian carilah tempat makan. Aku tahu kalian menahan lapar sejak pagi tadi."


Salah satu dari legion mengangkat tangannya, "Kalau kami pergi mencari tempat makan, siapa yang akan menjaga Tuan Putri?"


"Tuh!" Devita menunjuk Sirakusa yang dengan sengaja mengalihkan pandangannya.


"KALAU BEGITU AYO KITA MASUK!" ajak Devita dengan begitu semangat. Dia berjalan kaki sendirian masuk ke dalam, melewati pintu gerbang yang terbuka separuh. Berbeda dengan Agda yang masih tertidur di kereta, sedangkan France hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sirena, ehm ... maksudnya Devita.


Satu menit kemudian.


Devita tercengang dengan kondisi desa Osaka yang dia lihat sekarang, "Ini bukan desa, tapi pengungsian ..."


Rumah-rumah banyak yang hancur, lalu tak jauh dari rumah ada beberapa tenda kecil yang saling berjejeran. Ada pula rumah yang setengah rusak, kalau dilihat lebih detail, rumah yang masih utuh hanya berjumlah sepuluh.


Devita bisa melihat, di dalam setiap tenda itu ada sekitar enam sampai tujuh orang. Mereka semua tengah menatapnya tajam, tak lupa ditangan mereka terdapat senjata tajam, seolah-olah akan menyerang Devita kapan saja.


"Mereka menyambut kita dengan sambutan hangat, bukan?" Gurau Devita kepada rombongannya.


"Kau benar, sepertinya kau tak akan bisa melihat hari esok." Sahut Sirena yang sudah berdiri di sebelahnya.


Rakyat desa Osaka satu persatu keluar dari tenda. Wajah mereka nampak kotor, baju juga compang-camping.


Hap


Sirakusa turun dari kuda, kemudian bergegas melindungi Devita. Para legion juga membuat barisan melingkar untuk melindungi Devita. Sedangkan Legion yang tersisa melindungi kereta kuda, dimana ada France dan Agda.


"PERGI DARI DESA KAMI!" Salah satu pemuda bertubuh besar mengacungkan tombak bambu ke arah Devita.


"PERGI DARI DESA KAMI! KAMI TIDAK BUTUH PUTRI SIRENA YANG BODOH DAN TIDAK BERGUNA!!" Ucap para rakyat desa Osaka serempak disertai menodongkan senjata mereka ke arah Devita.


"Dimana sopan santun kalian terhadap Putri Willamette? Putri Sirena diutus kemari oleh Yang Mulia Raja Monachus untuk membantu kalian bangkit kembali. Turunkan senjata kalian!" Sirakusa membela Devita.


Pemuda bertubuh besar tadi berjalan maju hingga berhadapan langsung dengan Sirakusa. Sirakusa langsung mengeluarkan pedang dari dalam saku pedangnya.


"Tuan Efarish, mengapa Anda mendukung keputusan Yang Mulia Raja Monachus memerintahkan anak tidak berguna sepertinya untuk desa kami?"


"Putri Sirena belum mencoba, setidaknya berilah Putri Sirena kesempatan untuk desa kalian." Sirakusa menatap sekilas Devita yang hanya diam.


"TIDAK BISA!" Pemuda itu berteriak lantang, "TIDAK ADA KESEMPATAN UNTUK PUTRI YANG BERSEKUTU DENGAN IBLIS INI! HYA!" Pemuda itu lantas menyerang Sirakusa dengan membabi buta.


"SIRAKUSA! BERHENTI MELAWAN MEREKA! JANGAN BUAT MEREKA TERLUKA!" Devita berseru lantang.


Keributan yang sempat terjadi seketika terhenti. Devita memanfaatkan situasi itu untuk maju, keluar dari perlindungan legion dan Sirakusa.


"Sirena! Mundur! Apa yang kau lakukan?"


Devita terus maju, dia tak mengindahkan perintah Sirakusa untuk mundur.


Pemuda yang menyerang Sirakusa itu lantas menodongkan tombak miliknya hingga menyentuh perut rata Devita.


"Devita, kau harus berhati-hati. Jangan bahayakan dirimu sendiri." Peringat Sirena yang hanya bisa mendoakan keselamatan Devita.


"Tuan muda, tolong dengarkan saya sebentar."


Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, "Katakan, cepat!"


Devita memejamkan matanya sebentar sembari menarik napas dalam-dalam. Dia harus memutar otak agar rakyat desa Osaka tertarik dengannya.


Setelah mendapat ide, Devita membuka mata, "Di dalam kereta itu," Devita menunjuk kereta Kerajaan Willamette yang dia tumpangi, "ada teman saya yang sakit dan juga adik saya. Mereka butuh tempat istirahat. Meskipun Anda sekalian mengusir saya pergi, setidaknya tolong teman saya dulu."


Pemuda itu nampak berpikir, lantas menoleh ke belakang, meminta pendapat yang lain. Saat mendapat anggukan dari beberapa orang, pemuda itu kembali menatap Devita.


"Kami akan membiarkan temanmu berisitirahat. Tapi Anda, silakan pergi dari desa kami sendirian."


"Lancang!" Sirakusa hendak maju, namun tak jadi saat melihat Devita mengangkat tangannya, sebagai tanda bahwa Sirakusa cukup diam saja.


Devita mengangguk, "Baik! Tetapi sebelum saya pergi, bisakah saya memberikan sebuah hadiah?"


"Hadiah?" Beo pemuda itu.


"Ya, hadiah. Sebagai ungkapan tulus dari saya. Sebagai ungkapan bahwa saya siap mengabdi untuk desa ini, untuk Anda sekalian." Devita berharap rencananya akan berhasil.


"Kami memberimu kesempatan sebentar." Pemuda itu menurunkan tombaknya.


Devita lantas berbalik dan berlari menuju kereta untuk mengambil gitar. Sebelum kembali, Devita melihat wajah Agda yang sudah pucat pasi.


"France, jagakan Kak Agda untukku. Kak Nana memohon padamu," Devita mengusap kepala France yang nampak ketakutan.


"A-apa semua a-akan baik-baik saja, Kak Nana?"


Devita mengangguk yakin, "Percayalah dengan Kak Nana. Tolong jaga Kak Agda, ya?"


Setelah mendapat anggukan dari France, Devita bergegas kembali. Berdiri di depan rakyat desa Osaka yang menatapnya penasaran karena membawa gitar, bukan hadiah seperti yang mereka bayangkan.


"Saya tidak memiliki hadiah yang pantas untuk saya berikan pada Anda sekalian. Setidaknya ini adalah ungkapan tulus dari saya untuk kalian ..."


Devita mulai memetik gitarnya. Sebelum benar-benar datang kemari, Devita mencari tahu sedikit tentang rakyat desa Osaka. Ternyata desa Osaka bukanlah desa yang tertinggal dalam hal pendidikan. Mereka cukup dikategorikan mampu bersaing dengan bangsawan lain dalam penggunaan bahasa Alphard, Kekaisaran yang sangat disegani itu.


In the dark of night


The stars light up the sky


Rakyat desa Osaka seketika terpaku mendengar suara merdu Devita.


We see them flying free


That's just like you and me


Mereka mulai terfokus mendengarkan Devita. Mereka mengira Putri yang selama ini dikenal bodoh tidak akan bisa berbahasa orang Alphard, tapi nyatanya Putri yang ada dihadapannya justru bernyanyi dengan bahasa Alphard.


Everyone is lonely sometimes


But I would walk a thousand miles to see your eyes


You are not alone, we are family


Hold me, let's escape all this reality


You are my symphony


By your side, we are unity


You are my energy


My guiding light, we are unity


We are, we are


We are unity


Senyum Devita merekah saat melihat satu persatu rakyat desa Osaka melepas senjata tajam di tangan mereka.


We are, we are


We are unity


Although the rain might pour


A thunder starts to roar


The lightnin' wakes the wave


But through it, we are brave


Everyone is lonely sometimes


But I would walk a thousand miles to see your eyes


You are not alone, we are family


Hold me, let's escape all this reality


Senyum Devita semakin lebar saat melihat ada anak kecil yang maju hingga berdiri di sebelah si pemuda itu dan menatap kagum dirinya.


You are my symphony


By your side, we are unity


You are my energy


My guiding light, we are unity


We are unity ...


We are unity


We are unity


Lagu Unity yang dinyanyikan Devita sukses mendapat sambutan tepuk tangan dari rakyat desa Osaka.


"Hadiahnya sudah berakhir, kalau begitu saya izin pergi ..." Devita menundukkan kepalanya sebentar lantas berbalik badan.


"Tunggu!" Pemuda itu mencegah Devita.


"Hadiah yang Anda berikan sudah lebih dari cukup."


'YESSS!!!' Devita bersorak senang dalam hatinya.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Kalau kalian lebih mencermati karakter Devita, kalian akan tahu bagaimana rasanya bila diposisinya.


Okey, yang masih setia baca tapi nggak klik jempol atau komen, aku ucapkan terima kasih! Kalian suhu!