The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 84: Telah Kembali



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


... Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


"S-seperti inikah c-caramu m-memba-las c-cintaku, Athan?"


"Bodoh sekali! Dia tak akan mendengar ucapanmu, Dev, hahaha ..." Kayanaka tertawa mengejek, "Percuma saja kau berbicara cinta kepada Deimorku, dia tak akan mendengarmu!"


Devita hanya mampu menatap Athanaxius dalam diam. Meskipun dia kecewa, tak bisa dipungkiri olehnya bahwa cinta untuk Athanaxius masih ada di dalam relung hatinya.


"Dei, bunuh wanita ini!" Kayanaka menyeringai, sebentar lagi Athanaxius hanya akan menjadi miliknya.


Tubuh Athanaxius bergerak untuk melakukan perintah Kayanaka. Lelaki itu kini sudah bersiap memberikan kematian untuk Devita.


"A-athan ..."


Tangan yang semula bergerak untuk melayangkan pedang miliknya seketika terhenti saat mendengar suara lirih Devita.


"Aku s-senang bi-sa mengenal-mu ..." Devita memberikan senyum tulus untuk terakhir kalinya.


"Apa yang kau tunggu, Athan? Cepat bunuh dia!" Ratu Amanita berseru marah, dia tak ingin melewatkan kesempatan yang bagus ini. Dengan kematian Devita tentu saja kedepannya tidak akan ada lagi penghalang untuknya menguasai dunia.


Devita memejamkan matanya sembari menggenggam liontin kalung steorra, 'Hal yang tak bisa dihindari manusia adalah kematian. Tetapi, sebelum aku benar-benar mati, tak bisakah aku menjadi seseorang yang berguna bagi banyak orang di dunia Vulcan ini? Kekuatan terhebat seorang manusia adalah kesabarannya. Semoga kesabaranku berbuah manis kali ini.'


Jleb


Pedang Athanaxius tertancap tepat di jantung tubuh Sirena yang Devita tempati.


"DEVITAAAAA!!!" Irena berteriak histeris saat melihat Athanaxius dengan kejam membunuh Devita.


"HAHAHAHA!" Ratu Amanita tertawa puas saat melihat Devita benar-benar sudah tak bernyawa dihadapannya. Saat itu pula jiwa Sirena yang berada di dalam kotak kaca menghilang.


Para monster yang masih begitu banyak turut serta tertawa karena merayakan kemenangan yang mereka peroleh. Berbeda dengan Athanaxius yang diam mematung setelah mencabut pedangnya kembali. Mata tajamnya memandang darah Devita yang menetes dari pedang miliknya dengan tatapan kosong.


"Apa yang aku lamunkan?" Gumam Athanaxius yang hanya bisa didengar olehnya. Tatapannya kembali beralih pada sosok wanita yang sudah tergeletak tak bernyawa.


"Mengapa kau melihatnya seperti itu?" Athanaxius menoleh saat pundaknya ditepuk oleh Kayanaka.


Athanaxius hanya menggeleng sebagai jawaban, lalu matanya kembali melirik Devita.


"Kalian berdua! Ikat mereka yang masih hidup!" Perintah Ratu Amanita adalah mutlak bagi keduanya.


Athanaxius pun melakukan tugasnya mengikat mereka hingga tiba giliran Diantha yang akan dia ikat.


"An-da b-berubah banyak, P-pangeran ..." Diantha tersenyum tipis memandang Athanaxius yang membalasnya dengan tatapan tajam.


"Aku bukan lagi Pangeran!" Athanaxius lantas mengikat tangan Diantha.


"D-devita sangat me-mencintaimu, Pangeran ..."


Gerakan tangan Athanaxius terhenti saat mendengar ucapan Diantha. Melihat itu diam-diam Diantha tersenyum penuh arti.


"Jangan mengatakan omong kosong! Orang yang sangat mencintaiku adalah Kayanaka, bukan wanita itu!" Athanaxius berdiri tegak karena selesai mengikat Diantha.


"Lawanlah energi buruk yang menguasai dirimu, Pangeran ... " Ucap Diantha sebelum Athanaxius benar-benar beranjak dari tempatnya.


Kini giliran Irena yang akan diikat oleh Athanaxius. Melihat tatapan tak bersahabat dari wanita didepannya membuat Athanaxius hanya mendengus. Dia lantas mengeluarkan tali untuk mengikat Irena.


"Kau membunuh temanku!"


"Apa peduliku?" Athanaxius menyeringai.


Irena tersenyum getir, "Sadarlah, Athanaxius!" Senyuman itu hilang berganti dengan wajah penuh amarah yang tertahan, "Tunggu sampai waktunya tiba, aku akan menghajar wajah bejatmu ini!"


Athanaxius mengabaikan Irena, dia lantas menghampiri Kayanaka yang melambaikan tangan untuk mendekat ke arah wanita itu. Tetapi lagi-lagi saat melewati tubuh Devita, Athanaxius terhenti.


Deg.


Dadanya terasa sesak dan begitu menyakitkan secara tiba-tiba hingga membuatnya terduduk lalu mengerang kesakitan.


"ARGHHHH!!"


Jantungnya terasa dihujam oleh begitu banyak pisau secara bersamaan. Athanaxius tak bisa berbuat apa-apa selain mengerang kesakitan.


'Bodoh! Kau bodoh sekali, Athanaxius! Mengapa kau membunuh orang yang kau cintai?'


"Dei!!" Kayanaka mendekati Athanaxius dengan wajah khawatir, "Kau kenapa? Dimana yang sakit?"


'Apa kau tak menyesal sama sekali setelah membunuhnya? Hahaha ... Athanaxius, kau bodoh sekali! Tak seharusnya kau mengulang kesalahan yang sama sepertiku.'


Suara yang terus-menerus memenuhi kepalanya semakin membuat Athanaxius kesakitan.


"Apa yang bisa kulakukan untuk meringankan rasa sakitmu, Athan?" Kayanaka bingung harus berbuat apa melihat kondisi Athanaxius. Berbeda dengan Ratu Amanita yang justru memandanginya dan Athanaxius sembari bersidekap dada, seolah-olah menunggu sesuatu hal yang akan terjadi.


'Rasa sakit inilah yang dirasakan olehnya, sakit bukan?'


"DIAMMMM!!" Athanaxius memukul kepalanya berulang kali agar suara yang semakin membuatnya kesakitan lekas menghilang.


Kayanaka terkejut karena Athanaxius membentaknya, padahal dia sangat khawatir dengan kondisi lelaki itu saat ini.


'Melihatmu menderita seperti ini membuatku kasihan. Hm ... Aku akan membantumu terbebas dari sihir pengaruh ini.'


Melihat keanehan terhadap Athanaxius, Ratu Amanita membulatkan matanya, "KAYANAKA! MENJAUH DARI ATHANAXIUS!" Ratu Amanita lantas mengeluarkan sihir pengendali miliknya dengan skala besar ke arah Athanaxius.


"Sialan! Siapa yang berani sekali mengusikku dengan menghilangkan sihir pengendali Athanaxius?!" Ratu Amanita terus mengarahkan sihirnya ke arah Athanaxius.


"ARGHHH!" Athanaxius merasakan jiwanya ditarik keluar oleh sesuatu dan dikekang dalam waktu bersamaan.


'Ini sungguh keren! Wanita iblis itu kuat sekali ternyata, haha ... Hei Athanaxius! Setelah kau keluar, temuilah dia yang sudah menunggumu.'


Saat itu pula, Athanaxius merasakan jiwanya tertarik keluar dan kegelapan yang pekat pun menghampirinya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


I need a lover to keep me sane


Pull me from hell, bring me back again


Play me the classics, something romantic


Give him my all when I don′t even have it


Samar-samar Athanaxius mendengar suara seseorang yang terdengar begitu lembut dan putus asa dalam waktu bersamaan.


I always dreamed of a solemn face


But now I'm in pieces, barely believing


Starting to think that I′ve lost all feeling


Athanaxius mengerjapkan matanya perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah langit senja yang begitu memanjankan matanya. Athanaxius lantas berdiri dengan pelan-pelan.


"Dimana aku?" Seingatnya dia sedang di Osaka tetapi kenapa sekarang justru berada di padang rumput yang begitu luas?


You came out the blue on a rainy night, no lie


I'll tell you how I almost died


While you're bringing me back to life


Suara itu kembali terdengar, kaki Athanaxius bergerak sendiri untuk mencari tahu dimana asal suara itu.


I just wanna live in this moment forever


′Cause I′m afraid that living couldn't get any better


Started giving up on the word "forever"


Until you gave up heaven so we could be together


"Devita?" Athanaxius merasa kenal dengan suara ini. Hanya wanita itu yang sering bernyanyi di depannya.


You′re my angel


Angel baby, angel


You're my angel, baby


Baby, you′re my angel


Angel baby


Jantung Athanaxius bergemuruh begitu cepat. Langkah kakinya berlari secepat mungkin untuk segera sampai dimana sumber suara itu berasal.


"DEVITA!! KAU ADA DIMANA?"


I fall in love with the little things


Counting the tattoos on your skin


Tell me a secret, and baby, I'll keep it


And maybe we could play house for the weekend


"Maafkan aku ..." Athanaxius terduduk dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Dia ingat semuanya, semua yang sudah dia lakukan terhadap Devita.


You came out the blue on a rainy night, no lie


I′ll tell you how I almost died


While you're bringing me back to life


Matanya terpejam sesaat untuk mengatur nafasnya yang memburu, akan tetapi jantungnya tak berhenti untuk terus bergemuruh.


Athanaxius kembali membuka matanya saat suara Devita hilang. Dia segera kembali bangkit berdiri dengan kepala yang menoleh ke kanan dan kiri. Kakinya kembali berlari untuk mencari dimana Devita berada.


"DEVITA!!! INI AKU, ATHANAXIUS!! KAU ADA DIMANA?"


"KEMBALILAH BERNYANYI UNTUKKU!!!" Athanaxius terus berteriak berharap Devita yang entah dimana mendengarnya.


"AKU MENCINTAIMU, DEVITA!!"


Athanaxius kembali berhenti berlari, dia putus asa. Sejauh apapun dia berlari, Devita tak kunjung terlihat di matanya, "Devita ... Aku mohon, kembalilah bernyanyi untukku ..." Lirih Athanaxius dengan kepala tertunduk.


I just wanna live in this moment forever


'Cause I′m afraid that living couldn′t get any better


Athanaxius sontak mengangkat kepalanya, "Devita?"


Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan apakah yang ada didepannya adalah nyata atau tidak. Di depannya Devita terlihat begitu cantik dengan gaun putih selutut dan rambut ungunya yang terurai bebas.


Started giving up on the word "forever"


Until you gave up heaven so we could be together


You're my angel


Angel baby, angel


Senyuman manis tak bisa disembunyikan lagi oleh Athanaxius saat tahu bahwa Devita yang tak jauh berada di depannya bukanlah sekadar ilusi. Wanita itu nyata ...


You′re my angel, baby


Baby, you're my angel


Angel baby


Athanaxius lantas berlari secepat mungkin hingga akhirnya dia berhasil memeluk orang yang membuat jantungnya bergemuruh begitu cepat. Dia adalah Devita ...


"Maafkan aku ... Aku salah sudah melupakanmu dan membuatmu kecewa untuk kesekian kalinya ..." Athanaxius memeluk Devita begitu erat seolah-olah Devita akan menghilang bila tak memeluknya erat.


Elusan di kepala Athanaxius membuktikan segalanya. Athanaxius tidak sanggup menyembunyikan air matanya, lagi-lagi dia menangis. Entah sudah berapa lama dia tak merasakan elusan tangan yang sama ini.


"Athan ... Mengapa sulit sekali untuk membencimu?"


"Maka dari itu, jangan benci aku." Athanaxius mengurai pelukannya, tangan kirinya dia lingkarkan ke pinggang Devita, sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk menyelipkan rambut Devita ke belakang telinga.


"Aku tak bisa membencimu padahal aku ingin sekali membencimu,"


Athanaxius memandang wajah sayu Devita, "Karena aku mencintamu juga, kau tak akan bisa membenciku." Senyuman manis dia berikan untuk Devita.


Devita kemudian memeluk erat Athanaxius lalu menangis sejadi-jadinya. Akhirnya psikopat gantengnya sudah kembali. Dia mengira semua ini tak akan pernah terjadi lagi. Dia mengira Athanaxius selamanya akan melupakannya.


"Jangan pernah berhenti mencintaiku, Devita ..."


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


AKHIRNYA!!!! YEIIII ATHANAXIUS SADAR JUGA!!!!