
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Kalian baik-baik saja? Aku merasakan sebuah sihir hitam yang kuat dari rumah ini." Sirakusa memandang sepasang kekasih yang tengah duduk di meja makan sembari meminum coklat panas.
"Kau datang terlambat. Aku sudah menghabisinya." Athanaxius kembali meminum coklat panasnya tanpa berniat menawarkan minuman untuk Sirakusa.
Sirakusa berjalan mendekati mereka, kemudian duduk di meja yang sama, "Siapa yang kau habisi?"
"Jagungbisa?" Devita menjawab dengan ragu, seketika dia lupa dengan nama orang yang hampir saja membahayakan nyawanya.
"Jaguisa, Amore." Ralat Athanaxius sembari terkekeh kecil.
"Nah iya, Jaguisa! Dia yang sudah membunuh Irena."
Sirakusa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Jadi Jaguisa adalah pelakunya. Pantas saja dia kesulitan mencari tahu karena ternyata yang membunuh Irena adalah penyembah iblis.
'Jaguisa sialan! Menetaplah selamanya di neraka!' Mata Sirakusa begitu menyiratkan betapa bencinya dia dengan nama Jaguisa.
"Dia sudah mati. Tidak perlu berlebihan membencinya. Kebencian akan mengarah pada dendam penyiksaan yang tak berujung, Sirakusa."
Sirakusa menoleh pada Athanaxius yang ternyata menyadari sikapnya. Mungkin nanti dia harus lebih hati-hati saat berada di hadapan Athanaxius. Pria itu menjadi lebih peka dari sebelumnya.
"Bukannya aku membenarkan apa yang diucapkan Athanaxius, tetapi memang seperti itu, Sirakusa. Semuanya adalah kuasa Tuhan, inilah takdir."
"Tcihh! Daripada memberiku sebuah kalimat bijak, sebaiknya kalian memberiku hidangan makanan karena aku adalah tamu kalian sekarang." Ucap Sirakusa ketus.
Devita tergelak, dia lupa menghidangkan makanan dan minuman kepada Sirakusa yang sudah repot-repot datang kemari mencemaskan keadaannya.
Devita lantas berdiri dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja makan. Devita ingin segera bisa berjalan lagi dan tak ingin merepotkan Athanaxius terus menerus.
"Biar aku saja!" Athanaxius mencegah Devita yang hendak berjalan menuju dapur, "Kau duduk manis saja dan lanjut mengobrol dengan pria tidak tahu waktu itu."
"Sialan kau, Athanaxius!" Sirakusa tidak terima disebut sebagai pria yang tidak tahu waktu. Padahal kedatangannya kemari karena mencemaskan keadaan mereka berdua.
"Sudah-sudah!" Devita mencegah agar tidak ada lagi perdebatan antara Sirakusa dan Athanaxius, "Aku harus melatih otot-otot kakiku agar tidak kaku. Jadi, biarkan aku pergi ke dapur, Athan." Devita menatap Athanaxius penuh permohonan.
Karena tidak tega ditatap seperti itu, Athanaxius mengalah. Maka dari itu dia membiarkan Devita berjalan tertatih-tatih tanpa membantunya.
Athanaxius kembali duduk di tempatnya lalu melirik Sirakusa yang tidak mengalihkan perhatiannya dari Devita yang sudah sampai di dapur.
"Berhentilah menatapnya atau aku congkel bola matamu!"
Sirakusa menoleh kemudian menyeringai, "Memangnya kau bisa?"
Dengan santai Athanaxius menunjukkan sebuah pisau kecil berujung tajam yang keluar dari telapak tangannya kemudian meniupnya hingga terbang menuju Sirakusa.
"KAU GILA?!!!" Sirakusa hampir terjengkang ke belakang karena menghindari serangan mendadak dari Athanaxius.
Pisau itu sendiri berhenti dua jengkal dari sebelah mata Sirakusa dan mengambang di udara karena Athanaxius menahannya.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku." Athanaxius tersenyum iblis ke arah Sirakusa.
Sirakusa lantas melenyapkan pisau itu dengan sihir api miliknya dan meninggalkan asap kecil seperti asap rokok.
"Baru aku tinggal sebentar kalian sudah perang lagi." Devita datang membawa nampan berisi kue kering dan coklat panas untuk Sirakusa.
Sirakusa membantu Devita dengan mengangkat nampan itu menggunakan sihirnya dan meletakkan tepat di depannya.
Setelah kembali duduk di sebelah Athanaxius, Devita mencubit lengan lelaki itu karena kesal, "Bercandamu kelewatan, Athan!"
"Oh iya? Tapi menurutku dia pantas mendapatkannya." Athanaxius mengendikkan bahunya acuh.
"Sialan! Kenapa aku jadi sering emosi saat melihat wajah burukmu itu?" Sirakusa berusaha mengontrol amarahnya karena ulah Athanaxius.
"Pulanglah setelah kau menghabiskan hidangan yang sudah disajikan calon istriku." Athanaxius menatap Sirakusa mengejek.
Sirakusa yang kesal lantas meminum coklat panasnya dengan mata tajamnya yang terus tertuju pada Athanaxius.
Ketiganya terjebak dalam hening sejenak sebelum akhirnya Devita yang membuka pembicaraan.
"Omong-omong apa yang membuatmu sebenci itu pada Jaguisa? Setahuku kau tak berurusan dengannya."
"Tapi dia membunuh Irena dan tentu saja dia sudah berurusan denganku." Sahut Sirakusa cepat.
"Kau menyukai Irena, ya?"
Sirakusa diam. Dia akan sangat senang menjawab kalau dia menyukai Irena bila perempuan itu ada di rumah ini. Akan lebih senang lagi bila Irena mendengarnya langsung.
"Bagaimana caranya aku bisa bertemu dengannya? Apakah tidak ada portal atau sesuatu yang bisa membuatku bertemu dengannya?" Sirakusa menatap telapak tangan kanannya yang mengeluarkan sihir pendeteksi berwarna biru.
"Matilah dulu, baru kau bisa bertemu dengannya."
Brugh
Sirakusa memandang Devita, "Kusarankan cari calon suami yang baru saja. Athanaxius tidak pantas menjadi suamimu. Aku permisi!"
Devita tidak habis pikir dengan Sirakusa yang sekarang. Lelaki itu menjadi lebih sensitif dari sebelumnya. Dulu Sirakusa tak seperti itu. Sirakusa terlihat lebih berwibawa dan mampu menjaga emosinya kecuali di depan Sirena.
"Kau membuatnya marah."
"Biarkan saja, aku tidak peduli." Ucap Athanaxius acuh, "Sebaiknya kau tidur, Amore. Kau butuh istirahat lebih banyak."
Devita memilih menurut saja. Soal Sirakusa dia tak peduli. Devita hanya ingin menikmati perhatian dari Athanaxius yang tulus.
"Aku akan berjalan sendiri menuju kamar." Devita hendak berdiri namun dicegah oleh Athanaxius.
"Apa kau masih belum mengerti ucapanku? Kau butuh banyak istirahat agar cepat pulih!" ketus Athanaxius.
"Kalau begitu gendong aku! Untuk malam singkat ini, aku bergantung padamu, Athanaxius. Antarkan aku ke kamar, aku sudah mengantuk." Devita mengalungkan kedua tangannya ke leher Athanaxius sembari tersenyum lebar.
Inilah yang Athanaxius tunggu. Dia suka melihat Devita tersenyum lebar dan bertingkah manja kepadanya.
"Dengan senang hati, Tuan Putri ..." Athanaxius lantas mengangkat tubuh Devita dengan mudahnya, "Aku akan menjagamu hingga kau bangun." Athanaxius menundukkan kepalanya untuk mengecup kening Devita.
"Terima kasih, Athanaxius ganteng ..." Devita membalas memberikan kecupan di pipi Athanaxius.
Devita merasa kehidupan yang dijalaninya berputar begitu cepat hingga akhirnya dia bisa merasakan kasih sayang seseorang yang begitu besar untuknya.
Benar saja, bila memang menjadi takdirmu maka dia akan menuju ke arahmu.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Cinta adalah alasan yang klise mengapa seseorang bisa berubah. Meskipun demikian, cinta selayaknya bunga mawar yang indah namun berduri. Cinta itu seperti hujan yang membuat basah kuyup tapi bisa juga seperti matahari yang membuat kekeringan.
Selama hidup yang dijalaninya dulu, Sirakusa hanya mampu bertahan untuk melihat mawar hitam berdurinya, yaitu Sirena. Dia ingin menggenggam bunganya tetapi takut akan telapak tangannya yang terluka. Itu sebelum dia tahu fakta bahwa Sirena bukanlah pelaku pembunuh ibunya.
Lalu saat dia melihat bunga mawar yang berbeda dan ingin menggenggamnya, bunga mawar itu justru layu lalu lenyap.
Sirakusa memandang bunga mawar putih yang ada di tangannya. Alasan dirinya masih bertahan di desa ini adalah menunggu Irena. Sirakusa bukanlah lelaki yang suka membuang-buang waktu untuk hal yang tak pasti, tetapi demi Irena dia merelakan waktunya.
"Menyedihkan sekali melihatmu yang seperti ini."
Sirakusa terperanjat lalu spontan menatap orang yang baru saja menyindirnya. Pria itu berdecak kala tahu siapa orangnya, Athanaxius.
"Ada pepatah mengatakan, berkacalah sebelum melihat kejelekan orang lain lalu mencacinya."
"Aku tidak perlu berkaca karena aku memang tampan." Athanaxius mengambil tempat duduk di sebelah Sirakusa. Tatapannya tertuju pada mawar putih yang ada di genggaman tangan Sirakusa, "Ku pikir kau masih mencintai Sirena."
"Tidak lagi. Aku tidak ingin mencintai seseorang yang pada dasarnya tidak akan bisa kumiliki. Sejak awal, Sirena memang bukan untukku."
Momen yang begitu langka melihat kedua lelaki tampan ini berbicara tanpa perang sindiran. Di taman Osaka yang dibuat oleh kepala desa yang baru, keduanya terlihat bercahaya tersorot sinar matahari pagi.
Beberapa rakyat Osaka yang melintas bahkan legion sedikit heran melihat kedua lelaki itu duduk tanpa berdebat.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa cintamu akan kembali, Athan?" Sirakusa menatap Athanaxius serius.
"Detak jantungku berdebar kencang setiap harinya. Debaran itu selayaknya orang yang bertemu dengan cintanya, dari situ aku yakin bahwa wanitaku pasti kembali."
Sirakusa mendengarkan dengan wajah seriusnya, "Kalau begitu pinjam tanganmu," Sirakusa membawa tangan Athanaxius menuju dadanya dimana letak jantungnya berada, "menurutmu, jantungku berdebar kencang tidak?"
Athanaxius dengan cepat menarik tangannya sambil bergidik jijik, "Jangan jadikan tangan suciku kelinci percobaan, sialan!"
"Aku kan hanya ingin memastikan saja, apakah sama denganmu atau tidak." Sanggah Sirakusa sambil memutar bola matanya.
Athanaxius lega, beruntung tidak ada orang yang melihat kejadian memalukan itu. Kalau sampai ada yang melihat, sudah bisa dipastikan dia akan sangat malu.
"Jika dia memang untukmu, dia akan kembali padamu. Takdir tidak akan pernah salah tujuan." Athanaxius menepuk bahu Sirakusa selayaknya teman akrab.
"Sebenarnya kemarin malam aku memimpikannya. Aku melihat dia terbaring lemah di sebuah ranjang kecil dan bagian hidungnya tertutup sebuah alat yang entah apa, tetapi aku yakin itu alat bantu pernapasan." Ini pertama kalinya dia bermimpi di sebuah ruangan yang dipenuhi benda asing dan melihat keadaan Irena yang lemah tak berdaya.
"Aku pikir Devita tahu apa maksudnya." Lanjut Sirakusa memandang Athanaxius.
Athanaxius menaikkan sebelah alisnya, "Kau ingin Devita membantumu, begitu?"
"Iya."
"Tidak bisa! Devita sedang masa pemulihan. Dia tidak boleh terlalu lelah apalagi banyak beban pikiran!" Athanaxius memberikan tatapan menusuk pada Sirakusa.
Kemudian lelaki itu berdiri, "Tunggu sampai kondisi Devita benar-benar pulih. Kau bisa datang ke rumah kapan saja." Athanaxius melangkahkan kakinya meninggalkan Sirakusa yang tersenyum puas.
"Aku pegang ucapanmu, Athan!" Seru Sirakusa pada Athanaxius yang sudah jauh.
-
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca. ;)