
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Istana kekaisaran Alioth kini disibukkan dengan acara pernikahan Pangeran Hydrasa yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Beberapa luster serta legion bergotong-royong merias seluruh istana kekaisaran agar lebih indah.
Athanaxius Deimor, lelaki itu memandang dingin pemandangan dibawah sana. Hanya Manor miliknya yang tak dihias dan tampak begitu suram. Deimor tersenyum tipis sarat dengan kebencian.
"Pernikahan, ya?" Athanaxius mengeratkan genggaman tangannya dipembatas pagar balkon miliknya.
Athanaxius merasa muak, muak dengan kehidupannya sejak dulu hingga sekarang. Bila Hydrasa selalu dicintai oleh semua orang, maka berbanding terbalik dengannya yang mendapat kebencian.
Iris abu-abu miliknya berubah menjadi semerah darah. Athanaxius merasakan perubahannya akibat kutukan itu. Kutukan yang selama ini membuatnya tersiksa.
Athanaxius mencoba mengontrol emosinya. Perlahan iris merah darahnya kembali seperti semula menjadi abu-abu. Athanaxius mendongak menatap langit malam yang disinari oleh sinar bulan.
Tok tok
"Mohon maaf, Pangeran Athanaxius bila hamba mengganggu ketenangan Anda. Yang Mulia Selir Agung Airith Mayzetta, ibunda Anda ingin bertemu." Achilles Fordyn memberi tahu.
Athanaxius memutar tubuhnya, berjalan pelan di dalam kamarnya yang gelap tanpa sebuah cahaya. Athanaxius berhenti sekitar dua meter dari pintu kamarnya. Tanpa beranjak dari tempatnya, Athanaxius membuka pintu kamarnya dengan sihir miliknya.
Cklek
Tepat saat pintu terbuka, Athanaxius melihat wajah datar ibundanya, Airith Mayzetta. Airith berjalan dengan penuh keanggunan menghampiri Athanaxius lalu berhenti tepat di depan Athanaxius.
Athanaxius menampilkan senyum terbaiknya untuk Airith, "Ibunda ..." Athanaxius memeluk Airith erat, namun tak dibalas oleh Airith.
Karena sadar sang ibu tak membalas pelukannya, senyum Athanaxius menghilang. Perlahan dia mengurai pelukannya, menatap Airith di depannya.
"Apa ada sesuatu yang ingin ibunda katakan?"
Airith mengangguk, "Tentu saja. Aku tak datang kemari tanpa tujuan yang jelas." Nada bicara Airith terdengar dingin.
"Kalau begitu apa tujuan ib-"
PLAK
Kepala Athanaxius tertoleh ke samping, Airith menamparnya begitu kuat. Rasa panas begitu terasa di bekas tamparan itu, mungkin sekarang pipi putihnya sudah memerah.
"Kenapa kau selalu membuatku merasa malu memiliki anak tidak berguna sepertimu, Athan? Kenapa?"
Athanaxius diam, ingin mendengar kelanjutan ucapan ibundanya.
"Seharusnya kau yang menikah dengan Putri Regiana Chloris! Kau memang tak berguna! Kenapa kau selalu menjadi nomor dua setelah Hydrasa? KENAPA?"
"Aku tidak pernah ingin menjadi nomor dua, ibunda ..." Gumam Athanaxius dengan tatapan matanya yang kosong.
Airith tersenyum miring, "Itulah bedanya dirimu dengan Hydrasa. Pantas saja ayahmu lebih memilih Hydrasa menjadi penerus kekaisaran daripada dirimu."
Athanaxius kembali menatap Airith, "Kukira ibunda datang kemari untuk memberiku sebuah pelukan hangat," Athanaxius tersenyum kecut, "maafkan anakmu yang tak berguna ini, ibunda ..."
"Setelah Hydrasa menikah, kau pun harus menikah, Athanaxius! Aku tidak ingin kau membuatku semakin malu karena tak ada gadis yang ingin menikah denganmu akibat kutukan itu." Setelah mengatakan hal itu, Airith berbalik lalu pergi dari Manor Asphodel.
Athanaxius mengepalkan tangannya kuat-kuat. Apakah akan selalu seperti ini? Dan kenapa harus ibundanya yang menjadi penyebab hancurnya hatinya?
Athanaxius menghembuskan nafasnya berkali-kali, mencoba menahan emosinya. Tapi sayang, emosi itu tak berhasil dia padamkan. Mungkin dengan mencari mangsa malam ini akan membuat emosinya mereda.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Athanaxius kini berjalan diantara kerumunan rakyat Alioth. Berada di pasar malam dengan melakukan penyamaran. Saat ini dia tengah menyamar menjadi seorang pengelana, tak lupa dengan cadar yang menutupi setengah wajahnya serta tudung kepala yang menutupi kepalanya.
Athanaxius merasa tidak ada yang menarik dari pasar malam yang dia kunjungi saat ini. Mungkin berburu hewan di hutan Lafayetii bisa membuatnya merasa senang. Athanaxius pun menggunakan kekuatan berlarinya menuju hutan Lafayetii.
Athanaxius memasuki hutan Lafayetii dengan langkah tenang. Matanya menatap sekeliling berharap mendapatkan hewan incarannya, yaitu singa bermata hijau.
"BANGSAT!!! JANGAN SENTUH GUE, KAMPREET!"
Namun bukannya mendapat singa bermata hijau, dia malah mendengar suara teriakan seorang perempuan.
"Sialan!" Desis Athanaxius tak suka.
"JANGAN MENDEKAT! TOLONGGG!!"
Entah kenapa Athanaxius berjalan menuju dimana teriakan perempuan itu berasal. Langkahnya semakin cepat seiring dengan degup jantungnya yang berdetak kencang.
Hingga akhirnya Athanaxius melihat lima orang bandit tengah bermain dengan korbannya. Athanaxius menyeringai, mungkin orang-orang yang mengganggu perburuannya ini bisa memuaskan rasa bosan serta emosinya yang belum padam.
Tanpa menimbulkan suara, Athanaxius mendekati empat bandit yang tengah tertawa menyaksikan korbannya ingin dimangsa oleh sang pimpinan.
Athanaxius mengeluarkan sihir miliknya. Empat sulur hitam bayangan muncul dari kedua tangannya, kemudian sulur itu menyerang empat bandit itu. Sulur bayangan itu menembus jantung empat bandit hingga mati seketika.
Athanaxius menyeringai, dia kemudian mengeluarkan pedang sakti miliknya. Athanaxius bersiap melempar pedangnya menuju pimpinan bandit yang masih belum menyadari keadaan.
Jleb
"ARGHHHH!!!"
Dengan tepat sasaran, lemparan pedang Athanaxius berhasil mengenai punggung pimpinan bandit hingga menembus jantungnya.
Athanaxius menarik pedangnya dengan sihir miliknya hingga berakhir di tangannya kembali. Pedangnya itu masih meneteskan darah segar milik pimpinan bandit.
Pandangan Athanaxius terpaku pada perempuan yang menatapnya dengan mulut menganga lebar. Athanaxius berjalan pelan menghampiri perempuan itu hingga berdiri tepat dihadapan perempuan itu.
"Sudah kuduga, kita akan bertemu lagi."
"PSIKOPAT GANTENG!"
Athanaxius jongkok, memegang dagu perempuan itu, "Ingat denganku, hm?"
Perempuan itu tak lain adalah Sirena. Tubuh Sirena semakin menggigil ketakutan tatkala lelaki di depannya membuka cadar yang dia kenakan. Namun tatapan Sirena terpaku pada iris abu-abu milik lelaki itu.
Athanaxius terpaku dengan iris coklat milik Sirena. Hingga akhirnya dia tersadar, kenapa bertatapan dengan perempuan di depannya kutukan mata merah itu tidak bereaksi?
'Apa yang terjadi? Kenapa wanita ini tak membuat kutukannya muncul? Dan mengapa ada sinar merah di keningnya?' Athanaxius menatap kening Sirena yang tertutupi rambut itu nampak memancarkan sinar merah.
Sirena mengerjapkan matanya berkali-kali setelah tersadar karena terlalu lama menatap mata psikopat ganteng di depannya.
'Kelepasan kan gue jadinya! Devita please, sadar!'
Perlahan rasa panas Sirena rasakan dari keningnya. Sirena memegang keningnya. Seketika ucapan Sirakusa terbesit dalam ingatannya. Rasa panas ini muncul diikuti oleh sinar merah yang menjadi tanda akan adanya serangan monster.
Sirena membelalakkan matanya terkejut saat melihat sosok yang berdiri di belakang Athanaxius.
"AAAAAA MONSTERRR!!"
Athanaxius sontak menoleh ke belakang. Dengan cepat dia menyahut pinggang Sirena lalu menghindar dari serangan monster.
Athanaxius memandang bingung dengan kehadiran monster yang baru saja menyerangnya. Monster itu memiliki tinggi tiga meter, dengan tubuh hanya tulang tanpa kulit, memiliki kepala tengkorak tetapi berambut panjang, tak lupa gigi taring yang terlihat begitu menyeramkan.
Sirena tanpa sadar mencengkram erat pakaian Athanaxius hingga membuat Athanaxius memandangnya sebentar.
"GROAARRR!!"
Suara geraman monster itu memekakkan telinga Athanaxius dan Sirena. Monster itu berlari menuju mereka berdua hendak menyerang.
Srettt
Athanaxius langsung melompat ke atas dengan membawa Sirena menghindari tulang tajam yang hampir mengenai mereka. Athanaxius langsung menendang monster itu sekuat tenaga hingga membuat monster itu tumbang.
Athanaxius melepas pinggang Sirena hingga membuat wanita itu terjatuh begitu keras di tanah.
Brugh
"ADOHHHH PANTAT GUE!!!" Sirena memekik kesakitan karena tidak siap dijatuhkan dari ketinggian. Bayangkan dirimu diajak terbang lalu tiba-tiba dihempas, sakit pastinya.
Berbeda dengan Sirena yang mengusap pantatnya mencoba meredakan rasa nyerinya, Athanaxius tengah beradu dengan monster tengkorak itu.
Athanaxius terengah-engah, dia menatap tajam Sirena dari jauh, "Wanita sialan!" gumamnya pelan. Setelahnya dia kembali fokus untuk mengalahkan monster itu yang tak kunjung mati.
Athanaxius kelelahan karena sangat susah untuk membunuh monster itu. Monster itu sudah beberapa kali dia penggal, namun kepalanya kembali menyatu.
Sret
Brugh
Athanaxius terjatuh dengan perutnya yang tertusuk tulang tajam itu. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
"AKHHHH JANGAN MENDEKAT MONSTER JELEKKK!" Sirena memekik ketakutan kala monster itu mendekat ke arahnya.
Sirena mengambil apapun yang ada di sekitarnya lalu melempar ke arah monster itu. Monster itu seolah mentertawakannya.
"Hahaha ... Permaisuri kecil ... Raja iblis menunggumu ..."
"ANJIR! MONSTERNYA BISA BICARA COK!" Sirena semakin membulatkan matanya.
"Menurutlah dan ikut denganku!" Monster itu mengangkat tubuh Sirena, memanggulnya di atas bahunya.
"HUAHHHH TURUNKAN AKU!!! AKU TAK MAU IKUT DENGANMU, MONSTER JELEKKK!!!" Sirena memandang sekeliling mencari pertolongan si psikopat ganteng yang tiba-tiba hilang entah kemana.
"PSIKOPAT GANTENG! TOLONGG, HUAHHH!! DIMANA SIH LO??" Sirena terus memberontak digendongan monster tengkorak itu.
Tiba-tiba sebuah cahaya merah mengarah ke monster itu.
Sring
"AKHHH BANGSAT! PANTAT GUE KENA LAGI!" Sirena kembali terjatuh hingga membuat pantatnya semakin terasa nyeri.
Sirena melihat ke depan. Disana psikopat ganteng itu kembali muncul dengan penampilan yang berbeda.
Athanaxius menyerang membabi buta monster itu. Mencabik-cabik tubuh bertulang monster itu hingga patah-patah dengan kuku hitam yang tajam miliknya. Tak membiarkan monster itu kembali menyatukan tubuhnya, Athanaxius segera menginjak kepala monster itu hingga hancur.
Krak krak
Ditempatnya, Sirena ngilu mendengar bunyi tulang yang hancur itu. Sirena bahkan menutup telinganya dengan kedua tangannya, lalu memejamkan matanya.
"Gue nggak liat, gue nggak liat!!!"
Setelah beberapa menit, Sirena tak mendengar apapun lagi, "Apa udah selesai?" Dengan perlahan Sirena membuka matanya. Tepat saat membuka mata, Sirena bertatapan langsung dengan mata semerah darah milik Athanaxius.
Athanaxius sudah berhasil mengalahkan monster itu hingga menjadi abu beberapa menit yang lalu. Dengan nafas terengah-engah dan luka yang menganga lebar di perutnya, Athanaxius berjalan tertatih menghampiri Sirena yang berjongkok karena ketakutan. Athanaxius ikut berjongkok lalu memandang wajah Sirena yang entah kenapa nampak lucu.
Saat mata milik Sirena terbuka, mereka kembali berpandangan. Perlahan tangan Sirena yang menutupi kedua telinganya dia turunkan. Sirena memandang leher hingga rahang Athanaxius yang terdapat urat-urat hitam yang menjalar.
Athanaxius terkejut saat Sirena menyentuh lehernya lalu menjelar hingga rahangnya, menyentuh urat-urat hitam yang muncul itu.
"Apa ini sakit?" Tanya Sirena tanpa sadar. Setahunya varises itu munculnya bukan di leher hingga rahang, varises juga tak berwarna hitam. Sirena baru tahu varises ada yang berwarna hitam seperti ini.
Lalu tanpa sadar Athanaxius mengangguk, menjawab pertanyaan Sirena.
"Bagaimana caranya urat-urat hitam ini hilang?"
Athanaxius diam tak menjawab. Setelahnya dia berdiri, tak seharusnya dia terlalu dekat dengan wanita di depannya itu. Dia pun memutuskan untuk pergi saja.
Byarr
Sayap hitamnya membentang lebar, bersiap untuk terbang. Namun, sebuah tangan mencekal sayap miliknya. Saat dia menoleh, ternyata wanita itu.
"WOAHH!! SAYAPMU KERENN!" Sirena tahu dia bertingkah lebay sekarang. Wajar saja dia bertingkah lebay, dia melihat sendiri sayap yang tertempel langsung di kulit.
Athanaxius mengepakkan sayapnya hingga membuat Sirena terhempas sedikit ke belakang. Melihat itu, Athanaxius bersiap kembali untuk terbang.
"TUNGGUU!" Entah sudah keberapa kali Sirena berteriak. Sirena kini mencekal tangan Athanaxius erat-erat.
"Kau mau kemana? Jangan pergi dulu," Sirena menatap hutan Lafayetii yang gelap dan sunyi. Dia takut akan ada monster lain kembali muncul. Dia juga merasakan tubuhnya mulai lemas.
Brugh
Sirena jatuh terbaring saat merasakan tubuhnya benar-benar lemas seolah-olah tak ada tenaga dalam tubuhnya sama sekali.
"J-jangan p-pergi ..." Lirih Sirena.
Sayap hitam milik Athanaxius menghilang. Athanaxius berjongkok untuk memeriksa keadaan Sirena. Panas, itulah yang dirasakan Athanaxius. Tanpa sengaja matanya melihat simbol mawar hitam di kening Sirena.
"Ternyata karena ini," gumam Athanaxius. Ya, dia tahu simbol mawar hitam.
Athanaxius kemudian menggendong Sirena ala bridal style, entahlah dia akan membawa kemana wanita digendongannya ini.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba hujan turun. Athanaxius mempercepat langkahnya saat merasakan suhu tubuh Sirena semakin panas. Bila mencari penginapan, tentu akan membuat mereka berdua semakin basah kuyup. Apalagi saat melihat Sirena bergetar kedinginan karena kehujanan membuat Athanaxius harus berpikir keras.
Keberuntungan memihak untuk mereka berdua. Di depannya kini ada sebuah rumah kecil yang tak berpenghuni. Segera saja Athanaxius masuk ke dalam rumah itu seiring dengan hujan yang semakin deras.
Athanaxius membaringkan tubuh Sirena diatas dipan. Athanaxius mengeluarkan sihir miliknya untuk memberikan penerangan di ruangan gelap rumah kecil ini.
"Shh ... D-dingin ..." Sirena meringkuk memeluk dirinya sendiri.
Melihat itu, Athanaxius mendekat, kemudian mengubah posisi Sirena menjadi duduk. Athanaxius duduk di belakang Sirena, kemudian memeluk Sirena erat dari belakang. Athanaxius menggunakan sihir miliknya untuk menghangatkan tubuh mereka lalu membantu pemulihan Sirena. Tubuh mereka diselimuti sinar hijau karena sihir penyembuh milik Athanaxius.
Sirena yang masih sadar sebenarnya merasa gugup bukan main. Ini pertama kalinya dia dipeluk dari belakang oleh seorang lelaki. Sirena juga bisa merasakan perut kotak-kotak milik psikopat ganteng yang memeluknya.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Athanaxius tepat di telinga Sirena.
Sirena yang sudah lebih baik dari sebelumnya menelan ludah sebelum menjawab, "L-lebih baik dari sebelumnya."
Sirena kira psikopat ganteng itu akan menjauh setelah dia menjawab. Namun Athanaxius malah menumpukan dagunya di kepala Sirena.
"Aku meminta imbalan atas ini."
"Imbalan? Imbalan apa? Koin emas?"
Athanaxius tak menjawab. Dia memejamkan matanya karena merasa nyaman dengan posisi seperti ini, memeluk Sirena dari belakang. Memeluk seorang perempuan yang ternyata adalah sang pembangkit raja iblis.
"Kau akan tahu imbalannya seperti apa nantinya. Siapa namamu?"
Sirena mengernyitkan keningnya bingung, "Namaku Sirena Stylanie Asthropel, anak Raja Monachus yang tak berakhlak."
Sudut bibir kanan Athanaxius terangkat, "Bagus, ini akan mempermudah imbalanku." Setelah mengatakan itu, Athanaxius melepas pelukannya. Dia bangkit berdiri menyingkir dari Sirena.
Athanaxius mencari beberapa helai kain di beberapa laci meja yang sudah tua dan nampak rapuh di rumah ini. Athanaxius hanya mendapat satu kain saja. Dia kemudian menyerahkan kain itu ke Sirena.
"Untukmu."
Sirena menerima kain itu. Dia memandang Athanaxius dengan tatapan aneh. 'Psikopat ganteng baik juga ternyata,' Sirena menyunggingkan senyumnya, "Terimakasih,"
Sirena menggunakan kain itu untuk menyelimutinya. Perlahan dia berbaring diatas dipan itu, lalu mulai memejamkan matanya karena merasa ngantuk. Untuk urusan ke perpustakaan Kekaisaran Alhena, bisa dia pikirkan nanti. Dia benar-benar lelah sekarang. Terlebih sekarang ada seorang lelaki bersamanya, dan entah kenapa dia percaya bahwa psikopat ganteng itu akan menjaganya. Malam ini dia akan bersama psikopat ganteng yang dia lupa namanya.
"Siapa namamu? Aku lupa namamu, namun aku mengingat kau adalah seorang Pangeran." Tanya Sirena sebelum benar-benar menutup mata.
Athanaxius yang duduk mengusap pedangnya itu menghentikan aktivitasnya, "Apa penting mengetahui namaku?"
Sirena menguap, "Hoamm ..." Sirena sudah benar-benar mengantuk sekarang, matanya perlahan menutup, "Tentu saja penting. Kau sudah tahu namaku, dan sebaliknya aku harus tahu namamu ..." balas Sirena dengan suara yang sangat pelan.
Athanaxius memandang Sirena yang sudah tertidur. Dia kemudian menghampiri Sirena, lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sirena. Tanpa sadar tangan Athanaxius terulur menyentuh simbol mawar hitam di kening Sirena lalu perlahan turun menyentuh hidung dan terakhir adalah bibir pink Sirena.
Athanaxius mendekatkan wajahnya semakin dekat hingga berjarak satu jengkal, "Namaku, Athanaxius Deimor ..." Bisik Athanaxius dengan matanya yang terus menatap bibir pink Sirena.
Athanaxius segera menjauh dan menggelengkan kepalanya setelah tersadar dengan apa yang dia perbuat. Dia langsung kembali ke aktivitasnya yang semula terhenti. Meraih pedangnya, lalu mengusapnya berkali-kali, berusaha mengenyahkan pikiran kotor dari kepalanya.
Tak lama senyum tipis muncul dari bibirnya, "Hm ... Imbalan yang menarik."
...•───────•°•❀•°•───────•...
terimakasih sudah membaca.
ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
saya menerima kritik dan saran. apakah cerita ini menarik? Maaf kalo ada typo hehe ...