
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Yang Mulia,"
Raja Monachus yang semula sibuk dengan dokumen-dokumen penting di depannya kini mendongak untuk menatap Lasel, tangan kanannya.
"Ada apa, Lasel?"
"Putri Sirena sudah sadarkan diri. Apa Anda tidak ingin menjenguknya?" Lasel menatap Raja Monachus datar.
"Menurutmu, apa aku harus menjenguknya?"
Lasel menghela nafas lelah karena majikannya yang juga temannya ini. Lasel memijit pelipisnya yang terasa pusing, "Anda sudah bersikap terlalu jauh terhadap Putri Sirena."
Kini giliran Raja Monachus yang menghela nafas panjang, "Kau tahu sendiri aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya menuruti semua kemauan mendiang Agalia."
"Lantas bagaimana dengan ke depannya, Yang Mulia? Apa Anda akan tetap diam setelah perlahan mengetahui siapa yang salah?" Tanpa sadar Lasel menaikkan nada bicaranya.
Raja Monachus berdiri dari duduknya, lalu menatap tajam Lasel, "Lasel, jaga bicaramu! Bagaimana kalau istriku mendengarnya?"
Lasel menahan kekesalannya, "Ratu sudah melampaui batasannya. Anda tahu sendiri akhir-akhir ini serangan monster sudah tidak ada lagi, tapi sebagian rakyat kehilangan putra-putrinya. Dengan ini semua, apakah Anda akan tetap diam?"
Suasana seketika hening. Raja Monachus memilih berbalik, menatap jendela yang ada di dalam ruang kerjanya yang memperlihatkan pemandangan Manor Chysanthemum dimana Sirena berada.
"Kau tidak tahu apa-apa, Lasel. Aku sudah menyiapkan beberapa rencana, termasuk mengirim Sirena ke desa Osaka. Biarlah Sirena tahu sendiri kebenaran tentang dirinya dan ibunya." Selama ini Raja Monachus tahu akan kelakuan Ratunya. Namun demi keselamatan semua orang, berpura-pura tidak tahu adalah jalan utamanya. Termasuk mempersiapkan diri untuk berperang melawan musuh yang sebenarnya.
Perang melawan kegelapan. Sampai hari itu tiba, dia harus berhasil membuat Sirena menyadari siapa dirinya sebagai keturunan terakhir Asthropel.
'Petunjuk alam untuk kegelapan yang menyelimuti. Asthropel si keturunan terakhir.'
Itu adalah sebagian kalimat dari buku ramalan yang sudah Raja Monachus baca. Siapa yang mengira kalau selama ini, Raja Monachus lah yang menyimpan buku ramalan itu?
'Malam tanpa bulan, pagi tanpa matahari. Pengikut kegelapan bertebaran demi nyawa ...'
'Tidak ada Zifgrid untuk Dryas sang pewaris kegelapan ...'
"Dimana Ratu berada sekarang?" Tatapan Raja Monachus berkilat dingin.
"Ratu sedang berada di taman istana untuk menjamu para wanita bangsawan yang datang bertamu." Jawaban Lasel membuat Raja Monachus menggertakkan giginya.
"Bukankah tanpa izin dariku, tidak ada yang diperbolehkan memasuki istana Kerajaan? Sepertinya kau sudah lebih kuat dari sebelumnya, Ratuku ..." gumaman dari Raja Monachus mampu didengar oleh telinga Lasel. Meskipun Lasel sudah berkepala empat, tetapi hal itu tidak membuat kemampuannya memudar.
Namun satu hal yang masih Lasel ingin ketahui, "Yang Mulia ... Apa Anda tidak ingin memberitahu Putri Sirena kalau dia masih mem-"
"Berhenti bicara, Lasel!" Raja Monachus berbalik dengan cepat dan memotong ucapan Lasel, "Dia akan tahu sendiri nantinya. Sebaiknya kau ikut denganku ke Manor Chysanthemum."
Lasel sudah tidak berani berbicara lagi. Mungkin dia terlalu meremehkan majikannya ini. Satu hal yang dia lupakan, Raja Monachus tidak akan menjadi Raja kalau dia tidak secerdik itu.
"Baik, Yang Mulia ..."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Di dalam kamarnya, Sirena masih berbaring memandang langit-langit kamarnya yang terbuat dari kayu. Tidak ada lukisan seperti kamar Putri bangsawan lainnya. Sesederhana ini kamar seorang Putri Sirena.
"Kira-kira dimana Sirena? Apa dia berhasil keluar dari dalam kalung yang menjebaknya?" Devita yang ada di dalam raga Sirena mulai merindukan sosok Sirena.
"Sirena ..."
"Ada apa memanggilku?"
Devita masih menatap langit-langit kamarnya, "Lo dimana sek-" Devita langsung duduk kemudian menoleh ke arah jendela kamarnya. Matanya membola saat melihat sosok Sirena yang tengah berdiri sambil bersidekap dada memandangnya datar.
"Jangan membuat wajahku terlihat jelek dengan raut seperti itu, Devita!" Sirena mendumel saat melihat wajahnya berekspresi begitu mengerikan.
Devita tidak mempedulikan ocehan Sirena, dia lantas bangun kemudian berlari memeluk Sirena.
"Ya ampun sis! Gue kira lo nggak bisa keluar dari dalam kalungnya Galcinia," Devita mengurai pelukannya.
Sirena terkekeh, "Itu semua juga berkat dirimu." Mata Sirena kini menelisik kamarnya yang nampak berbeda. Kamarnya jauh lebih berwarna dari sebelumnya yang di dominasi warna biru tua.
"Bagus kan kamar lo sekarang?" Devita menampilkan raut wajah jumawa. Memamerkan hasil kerja kerasnya atas kamar ini kepada Sirena.
Sirena mengangguk, "Seleramu, boleh juga." Sirena terlihat puas melihat kamarnya yang bagus, dia lantas duduk di tepi ranjang diikuti Devita.
"Devita, aku belum memberitahumu tentang suatu hal yang ingin kupastikan bukan?"
Devita mengangguk, "Apaan tuh?"
"Kalau begitu, libatin gue juga." Devita meraih tangan Sirena, menggenggam erat tangan halus dan dingin Sirena, "Selama ini, gue nggak pernah dapat kesempatan untuk berbakti sama Mama gue. Mama gue selalu nolak kehadiran gue disampingnya."
Anggukan dari Sirena membuat Devita tersenyum, "Kalau dilihat-lihat kita kayak kembar aja,"
"Aku dengan senang hati memiliki kembaran sepertimu yang suka makan, haha ..."
Tok tok tok
"Sirena, Yang Mulia Raja Monachus ingin menjengukmu. Kau mengizinkan beliau masuk atau tidak?" Suara Aindrea menginterupsi pembicaraan Sirena dan Devita.
Devita dilanda panik seketika, "Sirena, gimana kalau Pak Raja lihat kita? Maksud gue, ngeliat lo ada dua begini?" Devita menunjuk dirinya dan Sirena.
"Kau tenang saja, aku akan memperlihatkan diriku bila aku ingin memperlihatkannya. Sebaiknya kau berbaring saja di tempat tidur." Sirena menatap ke arah pintu dengan pandangan dingin, "Tumben sekali dia datang menjenguk."
"Positif thinking aja, bapak lo kena sawan." Celetuk Devita yang sudah berbaring di tempat tidur.
Sirena tertawa, "Ada-ada saja kau ini, Devita. Ya sudah, biarkan Ayahanda masuk. Aku ada disana untuk melihat." Sirena kemudian berjalan ke arah meja rias, dia duduk di kursi itu.
Devita berdehem sejenak, "Biarkan Pak Raja masuk, Bang Indra."
Tak lama pintu kamar Sirena terbuka, sosok Raja Monachus yang masih terlihat gagah meskipun tidak muda lagi berdiri di ambang pintu memandang putrinya yang juga menatapnya.
Raja Monachus menutup pintu itu, kemudian dia berjalan dengan langkah tenang menghampiri putrinya itu. Melihat ada kursi untuk duduk di tepi ranjang, Raja Monachus pun duduk disitu.
"Ehm ..." Raja Monachus berdehem untuk meredakan kecanggungan yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Apa kau sudah lebih baik?"
Devita mengangguk, "Saya sudah lebih baik, hanya saja saya lapar sekarang." Mata Devita sesekali melirik ke arah Sirena berada.
"Baguslah kalau begitu."
Suasana mendadak hening. Raja Monachus diam sembari menatap putrinya yang sudah lama dia abaikan ini.
'Aku tahu kau pasti sangat membenciku, Sirena ...'
Berbeda dengan Sirena yang memandang sosok Raja Monachus. Sosok ayah yang selama ini dia dambakan kasih sayangnya. Melihat ayahnya yang diam sembari memandang tubuhnya membuat dia sesak.
"Bila kondisimu sudah membaik, segeralah pergi ke desa Osaka." Raja Monachus hanya takut semuanya tidak berjalan lancar.
"Mengapa Anda ingin sekali saya lekas pergi ke desa Osaka?" Devita menatap penasaran Raja Monachus. Raja Monachus tampak menyembunyikan sesuatu.
'Apa yang disembunyiin Pak Raja? Kenapa dia pengen banget gue segera ke sana?'
"Aku belum memberitahumu, desa Osaka adalah desa dimana kau dilahirkan. Ibumu melahirkan disana saat menemaniku mengunjungi desa Osaka yang saat itu tengah dilanda kekeringan." Penjelasan dari Raja Monachus membuat Sirena dan Devita terkejut.
"Benarkah?"
Raja Monachus mengangguk sekali, kemudian tatapannya terfokus pada simbol mawar hitam di kening putrinya itu. Tangannya terulur untuk menyentuh simbol itu, "Bagaimana bisa takdir yang rumit menghampirimu?" gumam Raja Monachus sangat pelan.
'Menurut buku ramalan, kau seharusnya dengan Raja iblis, si penguasa Canopus. Bagaimana bisa kau harus bersama dengan Athanaxius?' Inilah yang menjadi buah pikir Raja Monachus setelah Athanaxius mengajukan lamarannya dan Sirena menerimanya.
Devita terkejut saat tangan Raja Monachus menyentuh keningnya. Dia merasa tidak enak hati dengan Sirena yang menatapnya dengan wajah sendu, seolah-olah dia juga ingin disentuh oleh ayahnya.
Raja Monachus menarik tangannya kembali, tidak seharusnya dia kelepasan untuk menyentuh Sirena. Mungkin sebaiknya dia harus kembali, kalau terlalu berlama-lama itu tidak akan baik.
"Aku berharap banyak padamu untuk desa Osaka. Lakukan yang terbaik, atau gelar seorang Putri yang melekat untukmu terpaksa dicabut." Raja Monachus berujar dingin.
Devita mendengus, "Anda lihat saja nanti."
Raja Monachus berdiri dari duduknya, "Aku akan memerintahkan Sirakusa untuk mengawalmu atas izin Kaisar Helarctor. Apa itu cukup?"
"Mengapa harus Sirakusa?" Devita benar-benar tidak ingin terlibat dengan lelaki aneh itu.
"Apa kau ingin calon suamimu yang mengawalmu?" Raja Monachus bertanya balik.
"Eh, bukan-bukan! Bukan begitu!" Devita menggeleng cepat. Akhirnya Devita memilih diam. Ucapan Raja adalah mutlak. Kalau Raja Monachus memilih Sirakusa untuk mengawalnya, maka hal itu tak bisa diganggu gugat.
Devita dan Sirena sama-sama memandang ke arah Raja Monachus yang berjalan menuju pintu.
Sebelum membuka pintu, Raja Monachus berhenti, "Suatu saat kau akan mengerti, Sirena ... Mengapa lebih baik diam dan pura-pura tidak tahu adalah jalan terbaik untuk selamat." Setelah mengatakan itu, Raja Monachus keluar, meninggalkan kebingungan bagi Sirena dan juga Devita.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?