
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Yang Mulia, hamba baru saja mendengar dari teman bahwa kerajaan Bacuburito dan Perseids baru saja mendapat serangan dari para monster. Hamba juga mendengar di salah satu desa dari kerajaan Perseids ada wabah aneh, dimana hewan ternak para rakyat tiba-tiba mengamuk secara bersamaan dan mati seketika."
Raja Monachus mendengar setiap laporan yang diberikan oleh Sirakusa, "Apakah ini semua ulah Raja iblis?"
"Benar. Menurut teman hamba, dia menemukan sihir kegelapan di tubuh hewan ternak yang sudah mati." Jawab Sirakusa lagi, sebelumnya dia juga sudah memberitahu kepada Kaisar Hylobates tentang ini.
Raut khawatir tercetak jelas di wajah Raja Monachus yang sudah mulai menua, "Sirakusa, pastikan saat pernikahan Nervilia nanti semuanya aman." Raja Monachus berharap saat hari pernikahan Putrinya, tidak ada monster yang akan mengganggu.
"Baik, Yang Mulia, hamba akan memastikan semua akan tetap baik-baik saja. Dan soal festival tahunan, para rakyat sudah mulai membuka tenda-tenda dagang mereka, Yang Mulia ... Ini bisa menjadi daya tarik untuk para tamu undangan yang sudah mulai berdatangan ke istana."
"Itu benar, Sirakusa. Upeti tahun ini mungkin akan meningkat dibandingkan sebelum-"
"PANGERAN ELANUS DAN PANGERAN FALCO MEMASUKI RUANGAN ..."
Cklek
Pangeran Elanus dan Falco berjalan beriringan. Dua saudara itu juga akan melapor perihal tugas yang diberikan pada mereka dari Raja Monachus.
"Salam dari kami, Ayahanda ... Semoga ayahanda diberikan panjang umur ..." Ucap mereka bersamaan.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Raja Monachus tanpa basa-basi.
"Para rakyat desa Osaka menolak Sirena mengambil alih pemerintahan disana, Ayahanda ..." Falco yang berbicara terlebih dahulu.
"Mereka takut serangan monster kembali terjadi saat Sirena berada disana, terlebih lagi karena simbol kutukan miliknya yang sudah tersebar kemana-mana." Kali ini Elanus yang berbicara.
Raja Monachus memijit pelipisnya, merasa pusing. Kenapa anaknya yang satu itu selalu membuatnya pusing? Belum lagi dia dibuat pusing dengan dua lamaran untuk Sirena. Sedangkan Sirena belum juga bangun, dia tak enak hati kepada Pangeran Phyron yang masih menunggu jawaban dari Sirena.
"Aku dan dewan istana sudah sepakat memberikan tugas kepada Sirena. Meskipun rakyat desa Osaka menolak, Sirena akan tetap mengambil alih pemerintahan disana." Putus Raja Monachus.
"Apa tak bisa dibatalkan, Ayahanda? Kita tahu sendiri kemampuan Sirena seperti apa, terlebih dia juga tidak lulus ujian masuk akademi kedua karena ketidakmampuannya."
"Elanus benar, ayahanda ... Bukankah ini sama saja menambah rumor buruk untuknya?"
Raja Monachus menggeleng tegas, dia yakin bahwa Sirena mampu meskipun dalam hatinya ada sedikit keraguan. Raja Monachus yakin Sirena mampu saat melihat dengan jelas raut wajah Sirena yang begitu meyakinkan kala itu.
"Keputusanku tetap sama. Oh iya, apa kalian melihat dimana Pangeran Athanaxius dan Pangeran Phyron saat ini?"
"Mereka tengah beradu pedang di barak."
Sirakusa menatap Falco yang berbicara begitu santai, "Kau membiarkannya begitu saja, Falco? Tidakkah kau tahu seberbahaya apa Pangeran Athanaxius? Keselamatan Pangeran Phyron adalah yang utama." Sirakusa berdiri dari duduknya.
"Sirakusa, kau tak bisa anggap remeh Pangeran Phyron. Pangeran Phyron sama hebatnya dalam hal beradu pedang." Elanus menepuk bahu Sirakusa.
"Sirakusa, sebaiknya kau temui mereka, ajak untuk makan siang di ruang penjamuan." Raja Monachus tahu, adu pedang itu tak akan selesai kalau tidak dihentikan.
"Baik, Yang Mulia ... Hamba akan menemui mereka."
"Jangan lupa, kau juga ikut makan siang dengan kami." Elanus mengingatkan Sirakusa.
Sirakusa mengangguk, sebelum melangkah keluar dari ruang kerja Raja Monachus.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Di Manor Chysanthemum saat ini, tengah diliputi kegembiraan saat mereka mengetahui kabar tentang Sirena yang sudah sadar dan keadaannya jauh lebih baik.
Sedangkan Sentrasenda, lelaki itu akhirnya memiliki kesempatan berbicara dengan Putri Sirena.
"Anda sungguh luar biasa, Putri! Anda mampu bertahan hidup dengan luka seperti itu. Bahkan Putri Galcinia sampai saat ini belum membuka matanya karena luka tusukan pedang."
Sirena mengernyitkan keningnya, siapa Putri Galcinia? Ingatan Sirena asli belum memberitahu sosok Putri Galcinia yang dibicarakan Sentrasenda.
"Anda hanya perlu lebih banyak istirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berat agar luka Anda tidak terbuka lagi." Ucapan Sentrasenda membuat lamunan Sirena buyar.
"A-ah iya, aku akan makan lebih banyak dan istirahat yang cukup agar lekas pulih."
Sentrasenda mengangguk sembari tersenyum senang, "Kalau begitu hamba ijin undur diri, Putri Sirena ..."
Sirena hanya menanggapi seadanya. Setelah kepergian Sentrasenda, Agda dan Adelphie masuk ke dalam kamarnya sembari membawa nampan berisi makanan.
"Sirena, aku membuatkanmu krim sup. Kau harus makan banyak agar kondisimu semakin membaik!" Agda duduk di sebelah Sirena lalu mulai menyuapi Sirena.
Mulut Sirena penuh karena Agda terus menyuapinya. Sedangkan Agda dan Adelphie tertawa melihat wajah Sirena yang begitu lucu.
"Hahaha, Agda, sudahlah! Aku tak tahan melihat raut wajah Sirena yang menggemaskan!" Adelphie mencubit kedua pipi Sirena yang menggembung.
Sirena sendiri segera menangkis tangan Adelphie sambil menatap tajam wanita itu. Setelah selesai menelan makanannya, Sirena mengacungkan kedua jari tengahnya untuk Agda dan Adelphie, "Sialan kalian! Aku ini sedang sakit! Seharusnya kalian memperlakukanku dengan sebaik mungkin, bukan malah menertawakanku!"
"Hahaha, maaf, Sirena," Agda kembali menyuapi Sirena dengan pelan, tak seperti tadi.
"Sirena, maaf sebelumnya. Aku tahu keadaanmu belum membaik sepenuhnya, tetapi perihal makanan untuk pesta pernikahan Nervilia yang sudah kuajukan kepada wanita itu tak diterima. Dia meminta langsung agar kau yang mengajukan makanan apa saja untuk disajikan kepada para tamu." Adelphie sedikit berwajah masam saat mengatakannya.
"Ish! Putri yang satu itu, kenapa menyusahkan sih? Sudah tahu saudaranya tengah sakit, masih saja merepotkan. Aku menyesal pernah mengidolakannya." Agda bergidik ngeri membayangkan dia yang dahulunya begitu mengidolakan Nervilia.
"Hm, begitu ya? Oke, setelah ini kalian berdua harus membantuku bersiap. Aku akan ke dapur istana untuk memberikan daftar makanan apa yang akan disajikan di pesta nanti." Tidak hanya itu, dia juga akan menemui Raja perihal lamaran.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Saat ini, Sirena sudah berada di dapur istana dan ditemani oleh Agda dan Adelphie. Sirena menahan tawa saat melihat kebingungan para koki yang tengah melihat daftar makanan dan minuman yang dia berikan.
Salah satu koki menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari menatap takut-takut Sirena, "M-ma-af, Pu-putri ... Sebelumnya kami belum pernah memasak makanan yang ada dalam daftar ini."
"Benar, Putri ... Si-siomay? Apa itu siomay? Kami belum pernah memasak makanan ini." Koki yang lain juga turut kebingungan.
"Kalian persiapkan saja bahan-bahan untuk membuat semua yang ada didaftar makanan dan minuman. Besok aku akan memberitahu kalian caranya." Sirena berucap sembari menatap Agda dan Adelphie bergantian. Kedua sahabatnya itu tentu sudah tahu tentang makanan dan minuman yang ada dalam daftar karena Sirena pernah membuatkannya.
"Baik, Putri! Kami akan menyiapkan bahan-bahan yang sudah Putri Sirena tulis."
"SIP! Kalau begitu, aku permisi dulu." Para koki pun menundukkan kepalanya untuk menghormati Sirena yang membuat Sirena menghela nafas lelah.
Selesai dengan urusan dapur istana, Sirena harus menemui Raja Monachus terlebih dahulu diikuti oleh Agda dan Adelphie. Maka dari itu Sirena akan berkunjung ke ruang kerja Raja Monachus.
Sesampainya di depan ruang kerja Raja Monachus, Sirena dihentikan oleh Suzdal.
"Mohon ampun, Putri Sirena ... Yang Mulia Raja Monachus tidak ada di ruang kerja. Saat ini Raja beserta yang lain tengah berada di kamar calon Putri Mahkota Galcinia Dulcis."
"Putri Galcinia? Kenapa mereka berada disana?" Tanya Sirena.
"Kondisi calon Putri Mahkota Galcinia tengah memburuk."
Sirena bertanya-tanya dalam hati, memangnya Putri Galcinia siapa? Dan sakit apa hingga kondisinya semakin memburuk? Sirena pun menarik tangan Agda dan Adelphie untuk pergi menjauh dari ruang kerja Raja.
"Agda, Adelphie, ada beberapa hal yang kulupakan. Aku ingin tahu, siapa Putri Galcinia? Dan sakit apa dia hingga kondisinya memburuk?"
Agda dan Adelphie memandang terkejut Sirena. Apa Sirena melupakan Putri Galcinia?
"Kau benar-benar lupa?" Anggukan dari Sirena membuat Agda dan Adelphie saling pandang. Agda menyuruh Adelphie untuk menjelaskan.
"Putri Galcinia Dulcis adalah istri saudaramu, Pangeran Falco. Dia tidak sakit apa-apa mulanya. Tetapi dia terbaring tak sadarkan diri hingga saat ini dan kondisinya memburuk karena ulahmu, Sirena."
"LHA KOK GUE?" Sirena berucap tak terima, "Adelphie, kau jangan sembarangan bicara, ya? Memangnya apa yang kulakukan pada kakak iparku itu?"
"Kau menusuknya dengan pedang! Mulanya kau ingin menyerang Putri Nervilia, tetapi Putri Galcinia melindungi Putri Nervilia dan tahu sendiri apa yang terjadi."
"ANJIR!" Sirena tercengang mendengar kelanjutan yang disampaikan Agda, "Apa benar ada bukti kalau aku yang melakukan itu?"
"Ratu Amanita dan Selir Agung Cordyline sendiri yang lihat, mereka jugalah yang mengatakan kalau kau yang melakukannya."
"Anj-" Sirena menahan umpatannya. Saat ini mengumpat pun tak akan berguna, "Kalau begitu, antarkan aku untuk ke kamar Putri Galcinia sekarang!"
Ketiganya pun bergegas menuju kamar Putri Galcinia. Di sepanjang perjalanan ketar-ketir. Di pikirannya memikirkan banyak hal.
'Ini nggak mungkin banget! Kapan si Falco nikahnya coba? Dalam novel nggak ada tuh penjelasan kalau Falco punya bini. Dalam novel, si Falco masih jomblo anjir! Lha ini? Kok udah punya bini aja sih?'
"Disana kamarnya!" Agda menunjuk arah depan.
Sirena dapat melihat, di depan kamar Putri Galcinia sangat ramai dengan keluarganya. Ada Athanaxius juga yang nampak bosan dengan suasana tegang di situ.
"Sirena," ucapan Nervilia membuat seluruh mata mengarah pada Sirena yang baru saja datang.
"Biang masalah muncul juga." Selir Agung Cordyline berdesis.
Mendengar itu, Sirena memilih abai. Sirena memilih posisi di dekat Athanaxius, "Bagaimana kondisi kakak ipar?" Tanya Sirena pada Nervilia, namun tatapannya terfokus pada Falco yang berdiri menyendiri sembari memejamkan mata.
"Kami belum tahu, Sirakusa dan Sentrasenda tengah memeriksa di dalam." Jawab Nervilia.
Sirena terdiam, tak lama matanya melihat ruangan terbuka yang ada di depan kamar Putri Galcinia. Seketika tatapannya berbinar saat dia menemukan piano di sana. Tanpa menghiraukan tatapan dari pasang mata yang lain, Sirena berlari menuju ke sana.
Sirena mengusap piano berwarna putih yang ada di depannya, "Udah berapa lama gue nggak main piano?" Sirena tersenyum lirih. Mengingat di kehidupannya dulu, dia tak bisa leluasa menyalurkan hobinya untuk menyenangkan hati Vanessa, kakak tirinya. Sirena lantas duduk, kemudian merenggangkan jari jemarinya.
Tangan lentik Sirena mulai memainkan tuts-tuts piano dengan pelan. Suara yang dihasilkan pun menggema hingga membuat mereka yang sedari tadi melihat Sirena kini terpaku, terlebih saat Sirena juga mulai menyanyi.
I know what it's like
I know how it feel
Let the pain break you down
Now you gotta give it time to heal
Don't worry now, even though the fear is real
Just hold on~
If you're looking for a sign
Something to carry you back into the light
Love is the answer
Love is the answer
When you're ready start again
I'll be here waiting reaching out my hands
Love is the answer
Love is the answer
Sementara di dalam kamar, Sirakusa menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara dentingan piano dan orang yang menyanyi. Suaranya terdengar merdu, hingga dia memutuskan untuk keluar kamar untuk melihat siapa yang memainkan piano disusul oleh Sentrasenda yang juga penasaran.
I know it's struggle, i know it's a fight
Not to end every day feeling like you've been living a lie
Suara Sirena seolah membius mereka untuk diam ditempat dan ingin terus mendengarkannya hingga dia selesai menyanyi.
It's time to be free, it's time to find peace by the waters
And just hold on
If you're looking for a sign
Something to carry you back into the light
Love is the answer
Love is the answer
Putri Galcinia yang masih tertidur dalam kondisi buruk perlahan diselimuti sihir berwarna biru yang berasal dari Sirena yang tengah bermain piano. Sinar itu menyelimuti tubuh Putri Galcinia hingga beberapa saat sihir kegelapan tiba-tiba keluar dari tubuh Putri Galcinia.
When you're ready start again
I'll be here waiting reaching out my hands
Love is the answer
Love is the answer
Tepat selesai Sirena bernyanyi, mata Putri Galcinia terbuka. Mata bernetra biru itu mengerjap untuk melihat sekelilingnya. Dia kemudian mencoba duduk.
"I-ini dimana?"
"Putri Galcinia? Anda sudah bangun?" Sentrasenda yang baru saja kembali seketika terkejut melihat Putri Galcinia sudah sadar.
Pekikan dari Sentrasenda membuat semua orang langsung masuk ke dalam kamar untuk melihat, terutama Sirena.
"Putri? Putri Galcinia?" Putri Galcinia menatap semua orang dengan tatapan bingung.
Sentrasenda mendekati Putri Galcinia, kemudian memeriksa denyut nadi Putri Galcinia, "Ini benar-benar sebuah keajaiban. Anda berhasil melewati masa kritis, Putri ..."
"Menantuku ... Apa kau merasa lebih baik?" Raja Monachus mencoba mengajak berbicara.
Sirena sedari tadi menatap Putri Galcinia yang tampak aneh. Rasanya dia dejavu dengan dirinya sendiri sewaktu terbangun di dunia Vulcan ini.
"Menantu? Menantu ap-" Galcinia menutup mulutnya seketika, "BAHASA APA YANG AKU GUNAKAN INI?"
"Sentrasenda, Sirakusa, sepertinya ada yang salah. Coba periksa menantuku lagi," titah Raja Monachus.
Sentrasenda pun mendekati Galcinia, "Putri Galcinia, biar hamba periksa lagi,"
"GALCINIA SIAPA? NAMAKU BUKAN GALCINIA!"
Sentrasenda menjauh dari Galcinia, "Sepertinya Putri Galcinia mengalami lupa ingatan, Yang Mulia ..."
"Bagaimana bisa?" Ratu Amanita berjalan mendekati menantunya, "Menantu, apa kau tak mengingat mertuamu ini?"
"Mertua apanya heh? Aku tak punya mertua!"
"Galcinia, cukup! Semuanya mohon keluar dari kamar Galcinia, aku ingin berbicara penting dengannya." Falco yang sedari tadi diam kini mulai berbicara dengan matanya yang terus tertuju pada Galcinia.
Karena tak ingin mengganggu privasi hubungan Falco dan Galcinia, semuanya pun memilih keluar. Mereka semua bubar untuk melanjutkan aktivitas yang tertunda.
Sirena sendiri masih kepikiran dengan tingkah Galcinia. Apakah Galcinia yang saat ini sama seperti dirinya? Apakah ini merupakan sebuah petunjuk tentang dunia yang dia tempati saat ini?
"Putri Sirena, apakah keadaanmu sudah membaik?"
Sirena tersadar dari acara berpikirnya. Dia menatap Phyron yang menatapnya hangat, "Ah iya, kondisi saya lebih baik, Pangeran Phyron."
"Bagus! Segeralah sampaikan ucapanmu itu."
Sirena mendengus kesal menatap Athanaxius yang berdiri di sebelahnya, "Kau ini terlalu buru-buru, itu tak baik tahu!"
"Lebih cepat lebih baik. Kau tahu, aku orang sibuk." Balas Athanaxius.
"Orang sibuk? Kalau begitu enyahlah kau dari sini!" Phyron menatap tak suka Athanaxius.
"Pangeran bisu, Anda terlalu banyak bicara." Athanaxius menyeringai.
Sirena bisa melihat aura permusuhan antara Athanaxius dan Phyron. Dia harus bertindak cepat, "Pak Raja! Ada yang ingin saya bicarakan. Mari ke ruangan Anda sekarang."
Raja Monachus yang sedari tadi diam menyimak permusuhan Athanaxius dan Phyron kini mengangguk. Raja Monachus berjalan diiringi dua istrinya dan dibelakangnya terdapat Sirena dengan dua kucing garong yang mengikuti. Agda dan Adelphie sendiri lebih memilih kembali ke Manor setelah Sirena masuk ke kamar Galcinia.
Sesampainya di ruang kerja. Raja Monachus menatap Sirena, "Apa yang ingin kau bicarakan, Sirena? Oh iya, aku lupa memberitahumu. Ada dua lamaran untukmu, kau harus membuat keputusan."
"Maka dari itu saya menemui Anda, Pak Raja. Saya akan memberi jawabannya." Sirena menatap Athanaxius dan Phyron bergantian.
Sirena menghembuskan nafasnya karena seketika dia dilanda gugup, "Saya memilih Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth sebagai calon suami."
Ditempatnya, Athanaxius tersenyum tipis, "Bagus, Sirena!"
"Mengapa kau memilihnya? Kau tahu sendiri Pangeran Athanaxius memiliki kutukan yang berbahaya." Pertanyaan dari Ratu Amanita mewakili suara hati Phyron.
"Lalu apa bedanya dengan saya? Saya sendiri memiliki simbol kutukan di lengan dan kening. Saya sama dengan Pangeran Athanaxius." Jawab Sirena tegas, "Bukan hanya itu alasannya. Karena bersama Pangeran Athanaxius, saya merasa nyaman. Pangeran Athanaxius yang selalu ada saat saya membutuhkan bantuan bahkan saat nyawa saya diujung tanduk." Tatapan Sirena tertuju pada Athanaxius yang juga menatapnya, "Pangeran Athanaxius adalah penyelamat saya."
'Penyelamat?' batin Athanaxius sembari menatap Sirena dengan tatapan yang sulit diartikan.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?
Kalian nggak bosen kan? Oh iya, setiap part itu wajib banget dibaca loh! Jangan ada yang ketinggalan! Oke?