The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 50: Pembuktian



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


"Cukup diam dan biarkan seperti ini." Sirakusa meletakkan dagunya di kepala Sirena, "Aku ingin memastikan sesuatu, sedari awal tujuannya sudah benar atau ternyata ... salah."


Diam-diam Sirena menyunggingkan seringainya.


"ARGHHH!! KENAPA KAU SUKA SEKALI MENJAMBAK RAMBUTKU!!"


"HAHAHAHA!!" Sirena tertawa puas melihat Sirakusa kesakitan. Setelah dipikir berulang kali, Sirena tahu dimana kelemahan Sirakusa, yaitu di rambut panjangnya.


Sirena terus menjambak rambut Sirakusa meskipun lelaki itu berusaha melepas tangannya.


"BANGSAT!! KAU MEMANG HARUS DIBERI PELAJARAN, TAHI KUDA!" jerit Sirena dengan penuh emosi.


"ARGHHH KEPALAKU!!" Sirakusa benar-benar tidak berdaya.


Setelah melihat Sirakusa yang tidak berdaya, Sirena merasa kasihan, maka dari itu dia melepas jambakannya. Tatapan mata Sirena menatap tajam Sirakusa, "Kau pikir kau siapa bisa menuduhku seenaknya, hah? Kalau kau memang seorang Efarish, tidak seharusnya kau memiliki prasangka buruk dalam hatimu."


Mendengar sindiran itu, Sirakusa memandang Sirena dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


"Aku heran dengan Dewa yang memberikan gelar suci Efarish kepadamu." Sirena mendekati Sirakusa, "Perlu kau ingat, Sirakusa, aku masihlah manusia biasa yang bisa terluka hatinya dengan segala perkataanmu. Tuduhan tidak berbukti darimu membuatku terluka." Sirena berbalik, enggan menatap Sirakusa.


Sirakusa diam ditempat. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Mengingat kejadian di Hypatia, dia tak sepenuhnya menyalahkan Sirena, tetapi dia juga belum tahu siapa dalang dari kejadian Hypatia. Sirakusa dan para Hester diam-diam mendiskusikan hal ini. Roh-roh iblis dan pengikutnya memang sudah lama membuat onar, dan sekarang mereka menjadikan Sirena kambing hitam.


"Bukankah kau menyukai Putra Mahkota? Lantas mengapa kau membiarkan pernikahan ini terjadi?" Sirakusa ingin tahu jawaban Sirena.


"AKU TIDAK MENYUKAINYA LAGI! MENYUKAINYA SAMA SAJA MEMBUATKU MENDERITA HINGGA TIADA AKHIR!!!"


Sirakusa dan Sirena saling tatap. Bedanya Sirena sedang mencoba mengendalikan emosinya yang kian membuncah. Mungkin ini yang dinamakan bom waktu. Sirena asli dan Devita sama-sama orang yang menahan emosinya berkali-kali.


"Sirena?"


Melihat kedatangan orang yang baru saja memanggilnya membuat emosi Sirena semakin tersulut. Sirena mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Athanaxius yang baru saja datang setelah mencari Sirena kemana-mana akhirnya menemukan keberadaan Sirena. Sayangnya Sirena tidak sendiri, ada Sirakusa juga disini.


Sirena bersidekap dada, "Untuk apa Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth yang Terhormat ini datang kemari? Bukankah seharusnya Anda memperkenalkan calon istri di depan orang tua Anda?"


Sirakusa tiba-tiba merasakan hawa mencekam lebih dari yang dia rasakan tadi, 'Apa sebaiknya aku pergi saja?'


Athanaxius tertegun, "Sirena ... Sejujurnya ak-"


"Apa Putri Kayanaka tidak mencari Anda, Pangeran? Kasihan Putri Kayanaka, dia termakan oleh pesona Pangeran Kematian. Tidak tahu apakah umurnya panjang atau pendek saat dia yang menjadi istri Anda nanti." Sirena memandang Athanaxius sinis, tak lupa decihan keluar dari mulut Sirena.


'Cowok ganteng semuanya sama aja! Sama-sama bikin sakit hati! Nggak disini nggak disana, sama aja!'


"Apa maksud ucapanmu, Sirena?" Athanaxius mencoba menahan emosinya. Matanya yang merah semakin berkilat penuh amarah.


Sirena hanya bisa tersenyum sinis, "Ada apa Anda kemari, Pangeran? Anda mencari apa?"


"Tentu mencarimu." Ucap Athanaxius dingin.


'ALAH DASAR BUAYA RAWA! MENCARIMU APAAN BINGSIT!!!'


"Mencari saya?" Sirena pura-pura terkejut, dengan langkah tenang dia menghampiri Athanaxius hingga berdiri di depan lelaki itu, "Saya cukup terkejut mendengar Anda mencari saya." Setelahnya Sirena tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air matanya.


Athanaxius dan Sirakusa saling pandang. Bertanya-tanya dimanakah letak lucunya?


"Ehm-ehm!" Sirena menghentikan tawanya, "Sepertinya sejak awal memang sudah salah kalau saya terlalu menaruh harapan pada Anda, Pangeran. Apa sebaiknya saya batalkan saja lamaran Anda? Mengingat reputasi buruk saya, tidak mungkin bila keluarga Kekaisaran Alioth menerima saya menjadi menantu."


"Batalkan?" Athanaxius tak bisa menahan emosinya lagi, "Apa yang membuatmu berpikiran sempit seperti itu?" Athanaxius mencengkram kuat lengan Sirena.


"Awh! Le-lepas!"


"Tolong jangan bertindak berlebihan, Pangeran Athanaxius!" Sirakusa menghempas tangan Athanaxius dengan mudah.


"Orang luar tidak boleh ikut campur!" tukas Athanaxius sembari menatap Sirakusa tajam, lalu tatapannya beralih menatap Sirena yang nampak mengelus lengan bekas cengkeramannya, "Dan kau, Sirena, ikut denganku! Akan kubuat kau menyesali keputusanmu karena menerima lamaranku." Athanaxius menyeret paksa Sirena menuju istana Azalea.


Sirakusa yang melihat Sirena terus meronta-ronta itu pun menyusul. Dia tak bisa membiarkan Sirena berakhir dengan Athanaxius.


"Sirena ... Kau itu milikku!"


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Setelah acara dansa, acara selanjutnya adalah makan malam. Di meja khusus yang disediakan untuk para tamu terutama meja keluarga Kekaisaran Alioth, Panthera yang tidak sengaja mendengar informasi tentang Kakaknya akhirnya membuka suara.



"Ayahanda ..."


Kaisar Hylobates yang baru saja selesai minum pun menatap anak bungsunya, "Ada apa, Panthera?"


"Aku mendengar berita dari beberapa Putri bangsawan lain saat di aula dansa tadi, Kakak Athan sudah melamar seorang wanita dan dia adalah Putri Sirena. Apakah Kakak Athan sudah memberitahu ayahanda tentang ini?"


Mendengar itu, semua orang terkejut terutama Selir Airith. Selir Airith menatap Panthera, "Anakku sayang ... Jangan sembarangan bicara! Tidak mungkin kakakmu melamar Putri Sirena!"


"Dua orang dengan segala keburukannya, hm ... Perpaduan yang sangat sempurna." Salamandra menyeringai.


"Kalau memang Athanaxius melamar Putri Sirena lantas mengapa Athanaxius justru berdansa dengan Putri Kayanaka?" Permaisuri Spizalica mengerutkan keningnya.


Sedangkan Kaisar Hylobates, dia masih terkejut dengan berita itu. Diantara kandidat wanita terbaik yang sudah dia lamar untuk Athanaxius, tidak ada yang menerima lamaran itu kecuali satu orang, yaitu Putri Kayanaka.


"Pantas saja ..." gumam Kaisar Hylobates. 'Pantas saja Raja Monachus terus menatapku sedari tadi.'


Pintu ruang penjamuan istana Azalea terbuka secara kasar dan memperlihatkan sosok Athanaxius yang tengah menggandeng Sirena.


Semua orang langsung memusatkan perhatian pada Sirena dan Athanaxius yang berjalan menuju meja keluarga Kekaisaran Alioth.


Sesampainya di meja makan Alioth, Athanaxius memberikan salam untuk ayahnya, begitu pula Sirena.


"Ayahanda ... Dia adalah Putri Sirena, wanita yang aku pilih untuk menjadi istriku." Dengan tegas Athanaxius mengatakan itu. Dia kemudian menarik pinggang Sirena hingga keduanya semakin dekat.


Sirakusa yang melihat itu berhenti ditempat. Menyaksikan apa yang selanjutnya akan terjadi. 'Lebih baik aku diam menyaksikan saja. Aku tak bisa bertindak gegabah demi reputasiku.'


"Tetapi aku sudah mengirim surat lamaran kepada para wanita bangsawan dengan reputasi yang baik, dan ada satu yang menerimamu." Kaisar Hylobates berdiri, dia memandang ke arah meja makan dimana Raja Monachus dan keluarganya berada, "Sebelumnya, saya ingin meminta maaf kepada Raja Monachus. Bukan maksudku menolak Putri Sirena, menjadi menantuku. Tetapi, Putri Kayanaka dari Kerajaan Epsilon terlebih dahulu sudah menerima lamaran yang saya ajukan."


Para tamu undangan mulai berbisik-bisik. Memulai perghibahan menarik seputar Sirena.


"Aku tahu alasan Kaisar Hylobates menolak Putri Sirena, pasti karena reputasinya yang buruk!"


"Jelas saja! Dibandingkan Putri Sirena, memang Putri Kayanaka jauh lebih layak."


Sirena mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kenapa dia harus bertemu dengan banyak orang menyebalkan?


"Ayahanda! Aku hanya ingin Putri Sirena yang menjadi istriku!" Athanaxius membuka suara.


Di kursinya tiba-tiba Kayanaka berdiri, "Pangeran Athanaxius,"


Kini pandangan semua orang beralih ke Putri Kayanaka, tetapi tidak dengan Athanaxius yang justru menatap Sirena.


'Sudah kuduga, mereka pasti menolakmu, Sirena ...'


"Apakah saya belum memenuhi kriteria sebagai istri Anda? Mengapa Anda bersikukuh ingin menikah dengan Putri Sirena yang bahkan belum Anda tahu apakah dia mencintai Anda atau tidak?" Kayanaka menampilkan raut wajah sedih, "Apakah rasa cinta saya tidak terlihat oleh, Anda?"


"Lihatlah itu, Athanaxius! Putri Kayanaka begitu tulus mencintaimu! Apakah kau benar-benar ingin mencampakkannya?" Kaisar Hylobates membela Kayanaka.


Suasana begitu ramai dengan bisikan dari para bangsawan. Sirena tidak bisa diam begitu saja. Sudah cukup baginya kali ini.


"Anda lihat, Pangeran? Ada banyak orang yang menyinggung perihal reputasi saya. Saya tidak pantas bila menjadi istri Anda, menantu Kekaisaran Alioth yang besar dan makmur! Akan lebih baik bila Anda memilih Putri Kayanaka." Sirena menjauh dari Athanaxius.


Sirena kemudian menatap Kaisar Hylobates, "Sebelumnya saya juga meminta maaf kepada Kaisar Hylobates. Tadinya saya begitu kagum saat melihat Anda, tetapi saat mengetahui pandangan Anda terhadap saya, akhirnya saya tahu Anda tidak sebijak yang orang-orang bicarakan." Sirena menyunggingkan senyum manisnya, dia beralih menatap semua orang yang menatapnya kasihan, "Dan untuk para hadirin, terima kasih atas pujian kalian selama ini. Akan lebih baik bila diam saja, pujian kalian membuat saya ingin terus mendoakan semoga karma baik menimpa kalian secepatnya."


Tentu saja mereka tahu apa maksud ucapan Sirena. Dan karena ucapan Sirena lah seketika ruangan menjadi hening.


"Kalau begitu saya permisi. Pangeran Athanaxius, semoga berbahagia selalu dengan Putri Kayanaka ..." Saat Sirena hendak melangkah pergi, tangannya ditahan oleh Athanaxius.


"Aku belum mengizinkanmu pergi, Sirena. Tetap disini!" Setelah mengatakan itu, Athanaxius menggunakan penutup matanya kembali.


'Ngapain dipakai lagi? Mau heran tapi ini Athanaxius.'


"Putri Kayanaka, bisakah Anda berdiri di sebelah Putri Sirena?" Permintaan dari Athanaxius tentu mengherankan semua orang.


Berbeda dengan Putri Kayanaka, dia sudah berbinar karena merasa Athanaxius akan mengakuinya sebagai calon istrinya. Terbukti saat melihat Athanaxius kembali memakai penutup matanya untuk keamanannya. Maka dengan senang hati dia melangkah hingga bersebelahan dengan Sirena.


"Ayahanda, apakah Anda ingin tahu alasan saya melamar Putri Sirena?" Athanaxius melirik Kaisar Hylobates yang hanya diam, "Saya akan memperlihatkan alasannya."


Athanaxius kembali membuka penutup matanya, kemudian dia menatap satu titik ke arah mata Kayanaka.


"ATHANAXIUS!!"


Saat itu juga semua orang begitu panik, terlebih saat Kayanaka tidak bisa mengalihkan matanya dari mata merah Athanaxius.


"PUTRI KAYANAKA! JANGAN MENATAP MATANYA!!"


"PUTRI! TOLONG KASIHANILAH NYAWAMU!!"


Semua orang berteriak panik karena melihat perubahan Athanaxius yang sangat cepat.


Athanaxius dengan cepat mencekik leher Kayanaka dengan jemarinya yang memperlihatkan kuku-kuku hitam dan panjang miliknya. Mencekik dengan kuat leher Kayanaka hingga wanita itu sulit untuk bernafas.


Sirena juga ikutan panik, "ASTAGA ATHANAXIUS! HENTIKAN, WOI!" Sirena dengan segera menarik tangan Athanaxius hingga akhirnya terlepas.


Kayanaka terjatuh di lantai yang segera ditolong oleh orangtuanya.


"Athanaxius! Kendalikan dirimu! Apa yang kau lakukan? Kau bisa membuat kutukanmu semakin bertambah kuat bila terus membunuh orang!" Sirena memegang kedua pipi Athanaxius. Menatap mata merah Athanaxius yang tak kunjung berubah, tetapi urat-urat hitam yang muncul di leher lelaki itu perlahan hilang.


'Matanya kenapa terus merah?'


"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa matamu terus saja merah?" Sirena semakin tak bisa mengalihkan pandangannya.


"Ayahanda lihat sendiri bukan?" Athanaxius memegang tangan Sirena yang ada di pipinya, "Hanya bersama Putri Sirena kutukanku tidak bereaksi." Mata Athanaxius tak sekalipun beralih ke hal lain, hanya tertuju pada manik mata coklat Sirena, "Hanya bersama Sirena saya menjadi seorang manusia biasa, tanpa takut kutukan muncul dan mulai membunuh orang."


'Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu, Sirena!' tekad Athanaxius. Dia sudah salah sebelumnya karena mementingkan perasaannya. Athanaxius kira dia masih menyukai Kayanaka tadinya, tapi setelah membuktikan dengan berdansa, Athanaxius tahu perasaan untuk Kayanaka tidak ada sama sekali.


Kaisar Hylobates menghela nafas panjang, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menerima.


"Aku mengucapkan selamat bergabung menjadi keluarga besar Kekaisaran Alioth untukmu, Raja Monachus ..."


Berkat ucapan Kaisar Hylobates, Raja Monachus berdiri dari duduknya lalu memberikan hormat dan diikuti oleh istri dan anaknya.


Para bangsawan tidak menyangka bahwa Raja Monachus begitu beruntung bisa menjalin hubungan kekeluargaan dengan dua Kekaisaran terkuat seperti Alhena dan Alioth.


"Sialan! Sirena ... Kenapa kau selalu beruntung?" Diam-diam seseorang meremas gaunnya dengan erat.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Emang kayak sinetron ya?? ,(〒﹏〒)