The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 75: Bertemu Beta Arigha



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


... Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Saat membuka mata, Devita dan yang lain sudah berada di sungai ujung pusat kota Kekaisaran Alphard. Akan tetapi, ingatan tentang perubahan Athanaxius begitu mengganggu pikirannya. Devita tak mengerti kenapa Athanaxius menjadi penjahat baginya.


"Kekaisaran Alphard tidak jauh dari sini," Elephas memberitahu karena lelaki itu sudah pernah ke Kekaisaran Alphard sebelumnya.


"Langit di sini cerah sekali!" Nervilia berdecak kagum melihat keindahan langit pagi yang nampak cerah dan tak seperti di langit desa Osaka.


"Itu karena perlindungan mendiang Efarish Legumiro, maka hanya wilayah ini yang aman." Devita juga turut memandang langit.


"Pandangi saja terus langitnya." Sindir Irena yang ternyata sudah berada di depan, cukup jauh dari tempat Devita, Nervilia dan Elephas.


Mereka bertiga pun menyusul Irena agar tak ketinggalan. Merasa ada yang janggal, Nervilia tak melihat sosok Sirena dan Ambrogio.


"Omong-omong, dimana Sirena dan Ambrogio?"


"Sirena sedang bersama Ambrogio, mungkin sebentar lagi mereka akan tiba." Selesai menjawab, Devita pun mempercepat langkah kakinya agar tak menyamai langkah pasutri di sebelahnya. Bagaimanapun dia merasa seperti nyamuk saat melihat Nervilia dan Elephas bergandeng tangan.


Di sepanjang perjalanan, mereka melihat para rakyat Alphard yang terlihat sederhana dan hidup rukun. Ada banyak anak-anak yang bermain kejar-kejaran tanpa memikirkan adanya sang Dryas yang berhasil menguasai sebagian Vulcan.


Tidak jauh berbeda dari pusat kota Kekaisaran Alhena, pusat kota Kekaisaran Alphard terlihat dipenuhi oleh rakyat golongan bangsawan dan banyak sekali toko kue serta butik milik para bangsawan, terlihat dari nama toko yang kebanyakan menggunakan nama marga bangsawan. Yang terlihat membedakan adalah adanya sepeda di pusat kota ini.


Berjalan diantara banyak orang membuat mereka menjadi pusat perhatian, terlebih dengan pakaian mereka yang terlihat lusuh dan kotor karena pertarungan dengan Athanaxius sebelum kemari.


"Untung gue pakai cadar, jadi nggak malu-malu amat." gumam Irena yang merasa tenang karena wajahnya tak terekspos dengan jelas.


"Kalau tau begini, gue bakal ngikut pakai cadar." Devita lantas menutup kepalanya dengan tudung kepala yang bersambung dengan gaun yang dia kenakan.


Irena dan Devita lantas menoleh ke belakang untuk melihat Nervilia dan Elephas; apakah mereka juga merasa malu karena penampilan mereka atau tidak. Naasnya, rasa iri yang dirasa oleh Irena maupun Devita.


"Kenapa mereka harus ikut sih?"


"Lap teros mukanya sampai polos!"


Tentu saja ucapan yang terakhir adalah ucapan Irena. Matanya terasa jengah melihat Elephas yang mengusap kotoran di wajah Nervilia menggunakan sapu tangan.


"Ehm!"


"Astaga!" Deheman seseorang membuat Devita dan Irena terkejut.


Pelakunya tak lain adalah Ambrogio, lalu Devita bertemu dengan Sirena yang dalam wujud tak nyatanya.


"Dimana Sirena?" Elephas tak melihat sosok Sirena.


"Di sebelahku." Jawab Ambrogio, setelahnya pandangan lelaki itu kembali tertuju pada Irena dan Devita, "Keberuntungan berpihak pada kita hari ini. Ada pertemuan dewan istana Kekaisaran Alphard di istana, jadi kita bisa masuk ke dalam istana dan bertemu Kaisar Yerikho."


"Sebelum ke istana, kita harus menemui Beta Arigha." Kali ini Sirena yang bersuara.


Irena mengernyitkan keningnya bingung, "Siapa Beta Arigha?"


"Beta Arigha? Dia ada disini?" Nervilia membulatkan matanya.


"Ya, Beta Arigha ada disini beserta istri dan anaknya. Sewaktu Sirena terluka; aku dan Sirena tiba-tiba saja berada di depan sebuah rumah dan ternyata ada Beta Arigha yang menghuninya." Jelas Ambrogio.


"Kalau begitu, ayo kita segera kesana!" Devita senang, setidaknya masih ada keluarga Atreo yang merupakan pendukung terkuat kerajaan Willamette yang tersisa dan sudah bersumpah untuk setia dan melindungi setiap keturunan dari Kerajaan Willamette.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Beta Arigha dan istrinya menyambut hangat kedatangan Devita dan Irena. Kedua orang itu sudah mengetahui bahwa Devita adalah saudara kembar Sirena yang menempati tubuh Sirena begitupula perihal Irena.


"Beruntung sekali hari itu aku beserta istri dan anakku berkunjung ke rumah teman lamaku di Alphard ini." Beta Arigha bercerita bagaimana bisa dia berada disini, "Aku sangat bersyukur kalian semua selamat serta aku turut berduka atas kematian Raja Monachus."


"Terima kasih, Beta Arigha ..." Ujar Sirena dengan tulus.


"Kapan kita akan segera ke istana?"


Semua mata tertuju pada Devita yang berdiri di depan jendela tanpa ikut duduk bersama yang lain.


"Malam ini. Aku akan memberitahu temanku bahwa kalian adalah anak Agalia, lalu kalian bisa ikut ke istana Kekaisaran sebagai perwakilan Agalia."


"Mendiang selir Agalia masih menjabat sebagai dewan istana, ya?" Irena bertanya karena merasa aneh saat mendengar kata 'perwakilan Agalia'.


"Iya. Kaisar Yerikho tahu kalau hilangnya mendiang selir Agalia saat itu adalah ulah beberapa orang yang tak menyukainya karena menjadi dewan istana kesayangan Permaisuri Daisy sewaktu masih hidup. Maka dari itu, posisi mendiang selir Agalia tak pernah dicabut hingga saat ini." Kali ini Betaris Betony yang berbicara sembari memangku anak bungsunya yang tengah tidur.


"Aku mendengar bahwa Putri Sirena bertunangan dengan Pangeran Athanaxius, jadi maksudnya yang bertunangan itu Putri Devita, 'ya?" Beta Arigha memandang Devita yang masih setia melihat keluar jendela.


"Iya, karena yang menempati tubuh Sirena saat itu adalah Devita." Ambrogio memandang Sirena yang nampak sedih karena melihat ke arah Devita.


"Kalau begitu, yang memberiku rancangan gaun-gaun indah adalah Putri Devita." Gumam Betaris Betony, lalu wanita itu berdiri untuk menghampiri Devita setelah menyerahkan anak bungsunya pada Beta Arigha.


Betaris Betony menepuk bahu Devita pelan hingga membuat Devita menoleh, "Kau sedang memikirkan sesuatu, Putri?" Betaris Betony berani berbicara informal karena Sirena sebelumnya yang menyuruhnya.


"Tidak ada yang sedang aku pikirkan." Devita mengulas senyum tipis.


Betaris Betony tahu kalau Devita berbohong, "Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tahu kalau kau bukanlah Putri Sirena?"


Devita mengangguk, "Dia sudah tahu."


"Apa kau mencintainya?" Betaris Betony juga mengetahui tentang Athanaxius yang melakukan penyerangan hingga membuat Raja Monachus meninggal.


Pertanyaan Betaris Betony mampu membuat Devita terdiam. Berbeda dengan Sirena yang lantas menghampiri Devita kemudian memeluk kembarannya itu tanpa bisa dilihat oleh wanita itu. Hanya Ambrogio, Irena dan Devita yang bisa melihat wujud tak nyata Sirena.


"Bila memang berat menjawab pertanyaan Betaris, tak perlu kau jawab, Dev," Sirena berbisik.


"Aku mencintainya, tetapi aku juga membencinya." Semua orang mendengar jawaban Devita, "Aku bingung, perasaan benci atau cinta kah yang sedang menguasai hatiku saat ini."


Tidak disangka oleh Betaris Betony kalau ternyata Devita menjawab pertanyaannya. Dia mengira Devita akan diam saja dan tak ingin mengungkit kembali nama seseorang yang memberi luka.


"Apa boleh aku memelukmu?"


Devita memandang Betaris agak lama, "Apa aku terlihat sangat menyedihkan?"


"Sangat!" Betaris langsung memeluk Devita, "Aku tahu kau sangat mencintainya, matamu memperlihatkan apa isi hatimu yang sebenarnya." Bisik Betaris yang hanya bisa didengar olehnya dan Sirena yang langsung menyingkir saat Betaris memeluk Devita.


"Aku juga membencinya, betaris ..."


"Tidak apa-apa, kau boleh membencinya. Kau tak perlu membohongi perasaanmu sendiri. Cukup katakan apa yang kau rasakan pada dirimu sendiri lalu bertemanlah dengan luka yang baru saja kau dapat." Betaris mengusap punggung Devita, "Kau pantas bahagia, Nak ...."


"Terima kasih untuk pelukan ini, Betaris." Devita kini merasa lega, "Aku merasa seperti dipeluk oleh ibunda."


"Ibumu orang yang baik," Betaris mengurai pelukannya kemudian mengusap pipi Devita, "ada beberapa orang yang membenci ibundamu di istana Kekaisaran, maka dari itu nanti malam kau harus berhati-hati."


Devita mengangguk, "Terima kasih lagi, Betaris."


"Sama-sama, sayang."


"Kalian semua pasti lapar sekarang. Sayang, sajikanlah makanan enak untuk mereka, aku ingin bertemu Alfon untuk membicarakan tentang Putri Sirena dan Putri Devita." Beta Arigha berdiri dari duduknya lalu melenggang menuju kamar anak bungsunya.


"Sesuai dengan perintah Beta, kalian bergegaslah ke meja makan. Aku akan menyajikan makanan enak untuk kalian!"


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.