The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 7: Tekad



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Setelah selesai sarapan, Sirena baru tahu kalau kehidupan di era monarki begitu rumit dan terlalu bertele-tele. Sebelum pulang, Kaisar mengajak untuk minum teh bersama.


Dan disinilah Sirena berada, di ruang santai anggota kekaisaran. Berada bersama orang-orang yang tak menganggap kehadirannya.


"Hft ..." Tanpa sadar Sirena menghembuskan nafas bosannya.


"Apa acara minum teh bersama yang ku adakan begitu membosankan, Sirena?"


Sirena terperanjat dari tempat duduknya, dia menatap semua orang yang lagi-lagi menatapnya. Sirena mengerjapkan matanya sebentar, lalu tersenyum tipis, "Bukan begitu, Yang Mulia Kaisar Helarctor. Saya hanya memikirkan beberapa hal. Dan sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah membebaskan saya dari hukuman."


"Seharusnya kau memang harus mati! Perbuatanmu benar-benar mencerminkan seorang kriminal!"


Sirena menatap tajam Elephas, ingin rasanya Sirena menggeplak mulut suci Elephas. Bagaimana bisa Sirena asli begitu menyukai orang semacam Elephas?


"Lantas? Haruskah saya peduli dengan ucapan Anda, Yang Mulia Pangeran Putra Mahkota Elephas?" Sarkas Sirena.


Melihat situasi yang tidak setenang tadi, Kaisar Helarctor berdehem, "Sudahlah, Elephas ... Bebasnya Sirena sudah menjadi bagian dari keputusanku. Dan untukmu Sirena, kau tahu kekacauan apa yang kau perbuat?" Kaisar Helarctor kini menatapnya.


Sirena mengangguk, "Saya tahu, Yang Mulia ... Saya membangkitkan Raja iblis Canopus yang berbahaya bagi seluruh benua di Vulcan."


"Kuharap kau bertanggungjawab atas perbuatanmu itu." Sirena menjawabnya dengan suara rendah, setelahnya dia memalingkan wajahnya ke samping, tetapi Sirena malah bertemu pandang dengan Pangeran Phyron.


'Ini gue yang kepedean apa gimana kalau gue ngerasa si Phyron liatin gue terus?'


Sedangkan Phyron, pangeran satu itu perlahan menyunggingkan senyum manisnya yang jarang diperlihatkan ke semua orang. Pangeran Phyron terkenal dengan sifatnya yang pendiam dan jarang tersenyum. Berbeda dengan Pangeran Phyton, saudara kembar tak identiknya yang ramah dan murah senyum.


'Sirena ... Kau berhasil menarik perhatianku.'


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


"Berhati-hatilah di jalan. Semoga Dewa dan Dewi Vulcan melindungimu juga keluargamu, Monachus," Kaisar Helarctor menepuk bahu Raja Monachus dua kali.


Sirena sendiri, kini bersiap untuk menaiki kereta kuda yang sudah dipersiapkan untuknya. Sayangnya, dia akan duduk di kereta kuda sendirian. Berbeda dengan Nervilia yang berada di kereta kuda yang sama dengan Ratu Amanita. Untuk Raja Monachus, dia menaiki kuda putih miliknya bersama para legion dan Pangeran Falco Badius dan Pangeran Elanus Hypoleuca.


Pangeran Falco Badius adalah calon Putra Mahkota kerajaan Willamette, penerus Raja Monachus. Sedangkan Pangeran Elanus Hypoleuca adalah adik dari Pangeran Falco. Keduanya merupakan kakak dari Nervilia.


Saat hendak menaiki kereta kuda, Sirena agak kesusahan karena gaun yang dia pakai terlalu ribet. Ingatkan Sirena untuk membuat pakaian sendiri nantinya. Lalu netra Sirena melihat Nervilia yang dibantu naik ke kereta kuda oleh Elephas, Nervilia yang dibantu pun menampilkan wajah merah merona malu.


"Sinetron sekali, ckck!" Sirena menggelengkan kepalanya.


Kaki Sirena yang hendak naik ke pijakan tanpa sengaja menginjak gaunnya sendiri hingga membuat Sirena terjengkang ke belakang.


Sret


"Berhati-hatilah, Putri Sirena ..."


Hampir saja Sirena terjatuh, lalu lagi dan lagi Phyronlah yang menahan pinggangnya. Sirena sontak berdiri tegak dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Te-terima kasih, Pangeran Phyron," Sirena gugup. Bagaimanapun berhadapan dengan rupa-rupa tampan di dunia ini membuat jiwa pemburu cogannya meronta-ronta. Pangeran Phyron adalah sosok pangeran tampan yang selalu menjadi karakter fantasi dalam imajinasinya.


"Bila memang kesusahan, jangan sungkan meminta bantuan siapapun, Putri Sirena." Ujar Phyron memberi nasehat.


"Emangnya ada yang mau bantu kalo gue minta bantuan?" Gumam Sirena yang masih bisa didengar oleh Phyron, meskipun lelaki itu tidak tahu apa yang diucapkan oleh Sirena.


Sirena menanggapi ucapan Phyron dengan tersenyum canggung, "Akan kupertimbangkan saran darimu, Pangeran Phyron." Setelahnya Sirena pamit lalu memasuki kereta kudanya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


"Huek!"


Sirena sungguh merasa mual sekarang. Ini pertama kalinya dia menaiki kereta kuda seperti di film Disney yang dia tonton. Dan Sirena menyesal akan hal itu. Rasanya jauh berbeda dengan menaiki delman, atau mungkin karena faktor jalanan yang tak semulus di dunianya.


"Gue nggak kuat anjir! Huek!" Sirena menutup mulutnya yang lagi-lagi ingin muntah.


Kereta kuda yang dinaikinya terus berguncang karena memang faktor jalanan yang terjal. Hal itu membuat Sirena mabuk darat. Padahal sebelumnya dia bukanlah orang yang mudah mabuk. Dia benar-benar ingin muntah sekarang. Tapi mana mungkin dia memuntahkannya di dalam kereta kan?


"Pak! Pak! Berhenti sebentar!" Sirena agak berteriak agar kusir mendengar.


"Pak kusir!"


Di luar kereta, tepatnya dibelakang kereta kuda Sirena, Elanus mendengar suara Sirena. Karena posisi barisannya yang ada di belakang, membuat Elanus bisa mendengar suara Sirena. Raja Monachus dan Falco berada di barisan depan untuk memimpin. Di belakangnya, terdapat kereta kuda yang dinaiki Ratu dan Nervilia, setelahnya kereta kuda milik Sirena.


Elanus pun memacu kudanya hingga bersisian dengan jendela kereta kuda Sirena. Dari jendela itu, dia bisa melihat wajah pucat Sirena dan bagaimana Sirena yang mual-mual.


"Sirena, kau baik-baik saja?" Tanya Elanus khawatir. Memang diantara keluarga kerajaan Willamette, hanya Elanus yang tidak seburuk itu memandang Sirena. Hanya Elanus yang masih mengganggap Sirena saudaranya.


Sirena menoleh ke samping kiri, "Huek!" Sirena menutup mulutnya saat dia ingin muntah, dengan susah payah Sirena berucap, "T-tolong s-suruh- huek ... Kusir b-berhenti ..."


Melihat itu, Elanus memacu kudanya ke depan, dia berseru lantang, "BERHENTI SEBENTAR!"


Mendengar seruan dari arah belakang. Barisan dari depan pun berhenti. Falco dan Raja Monachus memutar kudanya untuk menghampiri Elanus.


"Ada apa Elanus? Mengapa berhenti? Kita masih setengah perjalanan, belum waktunya untuk beristirahat. Tempat ini bukan tempat aman untuk beristirahat." Falco menatap adiknya bingung.


"Huek! Huek!" 


"Ada apa dengan anak itu?" Raja Monachus turun dari kudanya begitupula dengan kedua pangeran itu. Ratu dan Nervilia pun ikut turun dari kereta kudanya karena penasaran kenapa perjalanannya terhenti.


"Kapok gue, kapok! Nggak mau lagi naik kereta kuda ... Huek!" Sirena muntah begitu banyak sampai tubuhnya melemas.


"Keluarkan saja semuanya." Sirena terkejut saat ada tangan yang memijit tengkuknya dengan lembut. Saat dia menoleh, ternyata Elanus yang berbuat demikian.


Sirena sudah merasa lebih baik setelah memuntahkan cairan dari dalam perutnya. Elanus memberinya minum yang langsung diminum Sirena.


Nervilia pun mendekat, "Apa sudah lebih baik? Kau membuatku khawatir, Sirena ..."


Sirana hanya mengulas senyum tipis, dia terlalu malas menanggapi Nervilia.


Ratu Amanita yang berdiri bersebelahan dengan Raja Monachus menatap Sirena terheran-heran, "Bukankah dia yang paling sering bepergian menggunakan kereta kuda? Kenapa dia bisa mabuk darat?"


"Kau benar, Amore. Aku pun merasa heran sekarang. Dia begitu lemah!" **(Amore \= panggilan suami untuk istri)


"Ayahanda dan Ibunda tahu sendiri, Sirena berbeda dengan kita. Dia tak memiliki sihir kekebalan tubuh yang sama seperti kita. Aku pernah mendengar, Sirena pernah sakit hingga satu Minggu karena demam akibat datangnya musim dingin." Falco pun ikut menatap Sirena. Tidak ada niatan untuk mendekat sekedar menanyakan kondisi Sirena.


"Anak itu benar-benar lemah!" Ujar Raja Monachus pelan, "Kita lanjutkan perjalanan. Amore, naiklah ke keretamu kembali bersama Nervilia."


Ratu Amanita pun menuruti ucapan suaminya itu.


Raja Monachus menaiki kudanya kembali, disusul oleh Falco yang juga menaiki kudanya.


"KITA LANJUTKAN PERJALANAN!" Titah Raja Monachus yang membuat Sirena menatap Raja Monachus tak suka.


"Bapak bangsat!" Umpat Sirena pelan.


Elanus yang masih berdiri disampingnya itu mengernyitkan dahinya, "Kau mengucapkan sesuatu?"


"Eh?" Sirena lupa kalau disampingnya masih ada Elanus, "T-tidak ada. Mungkin Kakak salah mendengar. S-sebaiknya Kakak segera menaiki kuda. Aku sudah lebih baik sekarang."


"Kau yakin?"


Sirena mengangguk, "Ya, aku tak apa. Naiklah ke kudamu, Kak. Terima kasih sudah peduli denganku." Setelah mengucapkan terima kasih, Sirena memasuki kereta kudanya kembali.


Elanus pun menaiki kudanya kembali dengan pikiran yang bertanya-tanya. Sirena, adiknya itu berubah. Dalam satu hari, sudah berapa kali dia mendengar ucapan terima kasih dari mulut Sirena? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sirena?


Berbeda dengan Elanus, Sirena sendiri tengah menahan pusing di kepalanya. Sepertinya dia akan menerima ingatan milik Sirena asli. Bersamaan dengan guncangan di kereta kudanya, pertanda bahwa perjalanan sudah dilanjutkan, rasa pusing hebat menghantamnya.


Saat itu, Sirena kecil tengah bermain sendirian di taman istana kerajaan. Sirena tengah bermain dengan kelopak bunga mawar putih di tangannya. Kelopak itu dia cabut satu persatu.


"Aku suka warna putih, sama seperti rambut ibunda, hihi ..."


Saking fokusnya mencabut kelopak bunga, Sirena tak menyadari perubahan cuaca yang sebentar lagi akan turun hujan.


Sampai bunyi guntur yang menggelegar membuat Sirena kecil terperanjat kaget lalu menangis kencang.


"HUAHHH IBUNDA!! SIRENA TAKUT!"  Sirena menangis sambil berlari untuk berteduh di bawah pohon. Sirena kecil meringkuk memeluk dirinya, menangis sesenggukan diiringi suara guntur yang tiada berkesudahan.


"Hiks ... Ibunda ... S-sirena t-takut hiks ..."


DUAR


"AKHHH ..." Sirena menjerit kencang sembari menutup kedua telinganya dengan tangan mungilnya. Tubuhnya sudah bergetar kedinginan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.


"Sst ... Tak apa, aku disini, Sirena. Kau aman bersamaku." Suara sopran beserta usapan lembut di kepala Sirena membuat Sirena membuka matanya lalu menoleh ke samping.


"Kakak El hiks ... Kakak El, S-sirena takut hiks ..."


Sirena membuka matanya kembali, perlahan rasa sakit di kepalanya menghilang. Sirena mengusap air matanya yang tanpa sadar turun membentuk sungai di pipinya.


Memori Sirena asli begitu menyedihkan. Dari kecil hingga Sirena dewasa, tidak ada memori yang membahagiakan yang berasal dari keluarganya.


"Hiks ... Sirena ... G-gue bakal berusaha sekuat mungkin untuk ngerubah hidup lo, hiks ..." Sirena yang saat ini diisi oleh Devita itu benar-benar menguatkan tekadnya. Mencari kebahagiaan untuk Sirena.


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?


Aku mau kasih liat visualnya, tapi pembaca bebas sih mau ngehayal kayak gimana visualnya, hehee








Untuk Sementara, visualnya mereka dulu. yang lain menyusul.