The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 18: Firasat Buruk



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Istana Utama, Kerajaan Willamette.


Di ruang tamu kerajaan, Putri Nervilia beserta yang lain tengah berkumpul menikmati jamuan minum teh bersama.


"Ayahanda, apakah aku boleh mengajak Sirena ke acara perayaan pernikahan Putri Regiana?" Nervilia tengah mencoba meminta ijin pada Raja Monachus. Putri Regiana sendiri adalah adik dari Elephas.


"Kenapa mengajaknya, Nervilia?" Elephas menatap Nervilia tak suka, "Aku tak ingin kau terluka lagi karena ulahnya."


Nervilia menatap Elephas, "Sirena tak akan membuatku terluka lagi, Elephas. Kau selalu bersamaku, aku aman." Nervilia menampilkan senyum terbaiknya.


"Apa kau yakin ingin mengajak anak itu, Putriku?" Raja Monachus juga merasa tak suka bila Nervilia harus memohon hanya demi Sirena. Bahkan Raja Monachus enggan memanggil nama Sirena saking tak sukanya.


Ratu Amanita yang duduk di sebelah Raja Monachus menampilkan senyum tipis, "Ijinkan saja, Adiose. Aku yakin calon menantu kita akan menjaga Nervilia dengan baik. Lagipula Falco, Elanus pun ikut ke acara perayaan pernikahan Putri Regiana. Anak itu pasti tak akan membuat ulah."


"Yang dikatakan ibunda benar, ayahanda ... Mohon ijinkan Sirena ikut." Ucap Nervilia lagi.


Raja Monachus akhirnya mengangguk menyetujui. Raja Monachus beralih menatap Falco, "Bagaimana kondisi istrimu, Falco?" 


Falco menghela nafas berat, "Masih sama, ayahanda. Dia masih nyenyak dalam tidurnya." Nada bicara Falco sedikit lemah. Dia memikirkan istrinya yang terbaring tak berdaya hampir dua bulan lamanya. Dan semua itu akibat ulah Sirena. Istrinya terluka parah terkena tusukan pedang dari Sirena karena melindungi Nervilia dari serangan tiba-tiba Sirena.


"Semoga Dewa memberikan keajaiban untuk istrimu, Falco." Raja Monachus mengulas senyum untuk menguatkan hati anak tertuanya.


"EFARISH SIRAKUSA MEMASUKI RUANGAN ..."


Semua mata tertuju pada Sirakusa yang baru saja memasuki ruangan. Sirakusa berjalan dengan langkah tenang. Rambut pirang panjangnya berkibar karena tertiup angin seiring dia berjalan.



Sirakusa memberi hormat pada Raja Monachus, "Semoga keberkahan selalu menyertai Yang Mulia Raja Monachus Virgatus Gal Willamette ..."


"Duduklah, Sirakusa. Ada apa kau datang tanpa aku harus mengundangmu terlebih dahulu? Apa  terjadi sesuatu?" Tanya Raja Monachus.


Sirakusa duduk di sebelah Elanus yang sedari tadi diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Hamba mendengar, Putri Sirena dihukum tak boleh keluar istana selama satu bulan, bukan? Apakah hukuman itu sudah dihapus?"


"Belum. Hukuman itu masih berlaku untuk anak itu. Kenapa kau bertanya tentang hukuman anak itu, Sirakusa?" yang bertanya adalah Ratu Amanita.


"Hamba hanya bertanya saja, Yang Mulia Ratu ... Beberapa jam yang lalu, hamba melihat seseorang yang mirip dengan Putri Sirena sehabis dari perpustakaan kekaisaran." Ucap Sirakusa dengan tenang.


Raja Monachus membelalakkan matanya, "Legion! Cepat periksa Manor Chysanthemum segera!"


Beberapa legion yang memang berjaga di dalam ruang tamu segera melaksanakan perintah.


"Tidak mungkin Sirena bisa berada diluar istana," gumam Elanus sambil berpikir. Manor Chysanthemum sangat dijaga ketat oleh para legion. Lantas bagaimana bisa Sirena keluar?


Beberapa legion yang ditugaskan sudah kembali dan berlutut di hadapan Raja Monachus, "Mohon ampun, Yang Mulia Raja Monachus, Putri Sirena tidak ada di Manornya. Hanya ada kedua luster pribadi Putri Sirena di  Manor. Saat kami bertanya pada kedua luster pribadi Luster, mereka nampak menyembunyikan sesuatu."


"APA?" Raja Monachus menggeram marah, "Seret kedua luster itu ke penjara! Malam ini, bila Putri Sirena tak kembali dan kedua luster itu bungkam tentang keberadaan Putri Sirena, hukum cambuk dua ratus kali untuk kedua luster itu!"


"Siap laksanakan!" Beberapa legion itu undur diri untuk kembali melaksanakan perintah Raja Monachus.


"Ayahanda ... Bisa saja orang itu bukan Sirena. Mohon jangan hukum kedua luster pribadi Sirena," Elanus akhirnya membuka suara.


"Ada apa denganmu, Elanus? Mengapa kau memohon untuknya?" Raja Monachus semakin menggeram marah.


Elanus diam tak menjawab. Ada alasan tersendiri mengapa dia tak menjawab pertanyaan ayahnya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Hal yang paling disukai oleh Sirena di dunia Vulcan ini adalah langit malamnya. Langit yang bertabur dengan ribuan bintang yang berkelap-kelip selalu membuatnya terpesona. Langit malam disini jauh lebih indah daripada langit malam di dunianya.



Namun perasaan Sirena seketika tidak enak. Entah kenapa dia memiliki firasat buruk. Pikirannya melayang pada dua temannya, yaitu Agda dan Adelphie.


"Athanaxius ..." Panggilan Sirena membuat Athanaxius menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang dimana Sirena berada. Athanaxius memandang Sirena dengan tatapan bertanya.


Mengerti dengan tatapan itu, Sirena sedikit ragu untuk mengatakannya. Tapi dia benar-benar butuh untuk mengatakannya.


"Hehe ..." Sirena berlari kecil menghampiri Athanaxius. Setelah berdiri di sebelah Athanaxius, Sirena menatap Athanaxius dengan tatapan memohon, "Athan ... Tolong antar aku pulang ya? Aku memiliki firasat buruk. J-jadi ... T-tolong bantu aku sekali lagi, apakah bisa? Aku tak punya sihir murni yang bisa digunakan untuk berteleportasi."


Athanaxius membuka cadarnya, dia menyeringai, "Kau fikir aku peduli dengan segala firasatmu itu? Hh, perlu kau ingat, Sirena. Aku akan menolong bila aku ingin." Athanaxius memakai kembali cadarnya lalu mengeluarkan sihir teleportasi bersiap untuk pergi meninggalkan Sirena.


Sirena terperangah, bagaimana bisa dia bertemu dengan lelaki tak punya hati seperti Athanaxius?


"DASAR PSIKOPAT! NGGAK PUNYA HATI! ATHANAXIUS KENTUT KUDA!!!" Umpat Sirena setelah Athanaxius benar-benar pergi.


Namun seketika dia sadar, dia berada di hutan Lafayetii. Dia ditinggalkan sendirian disini. Dengan langkah ragu-ragu Sirena menyusuri hutan Lafayetii untuk kembali ke tempat dimana dia muncul sebelumnya. Dia ingat dia sudah memberi tanda dimana dia muncul menggunakan papan kayu kecil.


Sesampainya disitu, Sirena kebingungan, "Kali ini gue harus ngapain supaya portal teleportasinya muncul?" Sirena tanpa sadar menggenggam erat liontin kalung steorra yang dia pakai, "Gue harap portalnya bisa muncul."


Tepat setelah mengatakan itu, tiba-tiba angin pusar muncul di depannya. Perlahan angin pusar itu berbentuk bulat dengan warna ungu yang mengitari.


"WAHHH!" Sirena memekik senang, akhirnya portal teleportasi muncul di hadapannya.



Perlahan kakinya mulai melangkah memasuki portal, hingga membuatnya kembali tertarik dengan kuat dalam keadaan tidak siap.


Sirena benar-benar merasa mual karena tubuhnya diputar-putar di dalam teleportasinya.


"ARGHH!!"


Brugh


"Aduh ... Pantat gue kena sial mulu perasaan!" Sirena berdiri sembari mengusap pantatnya.


Sirena refleks berbalik saat mendengar suara bentakan dari arah belakangnya. Betapa terkejutnya saat mendapati Falco, Elanus, Raja Monachus, Elephas dan beberapa legion yang menodongkan pedang ke arahnya.


"Kali ini, rencana jahat apalagi yang kau rencanakan hingga membuatmu melanggar hukuman dari ayahanda, Sirena?" Falco bertanya dengan nada dingin.


"Enak saja kau bilang rencana jahat! Aku tak merencanakan apapun!"


"Katakan saja! Apa yang kau rencanakan, Sirena? Apa kau berencana menggagalkan pernikahanku dengan kakakmu?" Elephas ikut berbicara.


"WOILAH! Pede gila lo ya!" Sirena tertawa keras, bisa-bisanya dia bertemu dengan orang seperti Elephas.


"Hei, Elephas! Listen to me! Aku benar-benar sudah melupakanmu, aku bahkan muak melihat wajahmu. Jadi, untuk apa aku membuang waktu hanya untuk menggagalkan rencana pernikahanmu, huh? Kau pikir kau adalah pria yang pantas diperjuangkan? Hahaha, BIG NO!" 


Semua orang terkejut mendengar penuturan Sirena yang bisa menggunakan bahasa bangsa Alphard. Bagaimana bisa seorang Putri bodoh yang tak lolos tes masuk akademi bisa berbahasa bangsa Alphard?


"Masih banyak pria tampan, kaya dan hebat selain dirimu, Elephas! Jangan berbangga diri!" Lanjut Sirena.


"Cukup Sirena! Dimana sopan santunmu terhadap Pangeran Kekaisaran? Dasar anak pembawa sial!" Ucapan Raja Monachus membuat Sirena menatap Raja dengan pandangan terluka.


'Perasaan kosong perihal keluarga. Kita sama, Sirena. Lagi-lagi kita memiliki kesamaan dalam hal luka batin.'


Sirena tersenyum dingin, "Persetan dengan sopan santun! Aku tak peduli!"


"Legion! Tangkap Putri Sirena dan seret dia ke Gymanel! Biarkan dia melihat kedua lusternya dihukum karena menyembunyikan keberadaannya." Perintah Raja Monachus yang langsung dipatuhin oleh para legion. ** ( Gymanel \= Tempat terbuka untuk memberi hukuman yang masih berada di lingkup istana. Gymanel tak seluas alun-alun peradilan.)


Mata Sirena membelalak, "PAK RAJA! JANGAN SENTUH KEDUA LUSTERKU! MEREKA TAK BERSALAH!" Sirena berusaha memberontak dari cekalan para legion yang menahannya begitu kuat.


Sirena diseret paksa menuju Gymanel, "AKU BISA JALAN SENDIRI! LEPAS!"


"Sebaiknya kau menurut, Sirena." Ujar Elanus yang mengawalnya.


Sirena benar-benar membenci Elanus sekarang. Sirena akhirnya berhenti memberontak dan berjalan pasrah kemana dia akan diseret.


Sesampainya di Gymanel, Sirena sontak terkejut melihat Agda dan Adelphie yang diikat dan terduduk bersiap untuk dihukum cambuk.



Sirena menatap sekililing, dimana ada banyak orang yang menonton. Ada para dewan istana yang tersenyum mencemooh terhadapnya, juga tatapan kasihan dari Nervilia.


Sirena masih ditahan oleh dua legion yang begitu kuat memegang lengannya. Di atas podium dia menyaksikan Raja Monachus berdiri dan didampingi oleh Suzdal disampingnya.


"NONA AGDA AEGEUS DAN NONA ADELPHIE ALAKAY, DINYATAKAN BERSALAH KARENA KESALAHANNYA YANG MENUTUPI KEBERADAAN  PUTRI SIRENA YANG MELANGGAR HUKUMAN, YAITU KELUAR ISTANA. MAKA DARI ITU, YANG MULIA RAJA MONACHUS VIRGATUS GAL WILLAMETTE MENJATUHKAN HUKUMAN CAMBUK SEBANYAK DUA RATUS KALI!"


DUNG DUNG DUNG


Sirena geram. Dia tak bisa tinggal diam melihat kedua temannya menangis tak berdaya dibawah algojo yang bersiap menghukum mereka.


DUNG DUNG


Gong dipukul dua kali, tanda bahwa hukuman akan segera dilakukan. Dengan kekuatan penuh Sirena menghempaskan kedua legion yang menahannya. Sirena berlari ke tengah Gymanel.


"TUNGGU DULU!" Sirena menatap Agda dan Adelphie dengan tatapan bersalah, lalu tatapannya kembali tertuju pada Raja Monachus.


"HUKUM SAJA AKU, PAK RAJA! AKU YANG BERSALAH! BIARKAN MEREKA BEBAS DARI HUKUMANNYA! Suara Sirena begitu bergema di dalam aula Gymanel.


Agda dan Adelphie tak menyangka bahwa Sirena rela melakukan itu untuk mereka.


Di posisinya, Raja Monachus menatap marah Sirena, "Sejak kapan kau memiliki hati yang baik, Sirena? Hm, baiklah. Sesuai permintaanmu, aku akan mengabulkannya."


Sirena mengepalkan tangannya kuat-kuat, "KEPARAT KAU, PAK RAJA!" umpat Sirena sembari menunjuk Raja Monachus yang membuat semua orang sontak berdiri saking terkejutnya. Baru kali ini mereka melihat anak sendiri yang menunjuk tak sopan kepada orang tuanya.


"LEGION! HUKUM PUTRI SIRENA SEGERA! HUKUM CAMBUK DUA RATUS KALI DAN DILAKUKAN OLEH DUA ALGOJO!" Titah Ratu Amanita yang begitu geram dengan tingkah Sirena.


Sirena langsung didudukkan secara paksa. Kedua tangannya diikat ke belakang. Di belakangnya terdapat dua algojo yang siap menghancurkan tubuhnya.


Sirena meneteskan air matanya, 'Maaf beribu maaf, Sirena ... Gue terpaksa ... Maaf karena nggak bisa nepatin janji gue buat jaga tubuh lo dengan baik.'


CTAR  CTAR!


Dua cambukan pertama mengenai punggung Sirena. Cambukan pertama, dia akan mengingat rasa sakit ini.


CTAR! CTAR!


"ARGHHH!!!" Sirena mulai menangis terisak karena rasa sakitnya semakin bertambah seiring dengan cambukan yang dia terima.


CTAR! CTAR!


'A-akan ada p-penyesalan unt-uk se-semua ini, Sirena ... Dan merekalah yang akan menyesal!'


Sirena sudah meringkuk kesakitan, namun cambukan belum selesai karena belum sampai dua ratus kali, lebih tepatnya empat ratus kali. Mereka benar-benar berniat membunuhnya secara perlahan. Pakaian Sirena bahkan sudah terkoyak dan tubuhnya mengeluarkan banyak darah karena luka cambuk.


"TIGA RATUS!"


CTAR!


Sirena sudah mati rasa. Dia tak merasakan apapun di tubuhnya. Dia merasa kosong saat ini, "HAHAHAA ... Hiks ..." Sirena tertawa sembari menangis pedih.


Hingga belum sempat mencapai empat ratus, Sirena sudah tak sadarkan diri bersimbah darah.


Sementara itu, sosok bercadar hitam yang menyaksikan kejadian hukuman Sirena dari awal hingga akhir dari atas atap Gymanel menyunggingkan senyum tipis.



"Aku ingin melihat, seberapa besar rasa bencimu atas semua ini, Sirena ..." Netra abu-abu miliknya berubah menjadi semerah darah seiring dengan urat-urat hitam yang muncul dari leher hingga rahangnya. Dia, Athanaxius.


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?