The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 13: Jangan Kehilangan Kendali



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Jauh di dalam lembah gunung Macrophylla yang gelap dan sunyi, sekelompok orang berjubah hitam berdiri di depan pintu gerbang yang tinggi dan besar dengan patung iblis bertanduk di sebelah kanan dan kiri.



"Buka pintunya!"


"Laksanakan, Yang Mulia ..." Beberapa pria bertudung maju lebih dulu untuk membuka pintu gerbang yang besar itu. Belum sempat mereka membuka pintu gerbang, mereka terpental jauh ke belakang.


"Berani-beraninya manusia rendahan seperti kalian lancang memasuki wilayahku,"


Sebuah suara yang mendesis dan mampu membuat merinding memasuki Indra mereka.


Salah satu diantara mereka menyeringai, "Raja iblis Ambrogio Agafya ..."


"Beri hormat untuk Raja iblis!"


Orang-orang bertudung hitam itu sontak bersimpuh memberi hormat kepada Raja iblis.


"SALAM RENDAH KAMI UNTUK SANG PENGUASA CANOPUS AMBROGIO AGAFYA ... SEMOGA KEABADIAN TERLIMPAH UNTUK SANG PENGUASA CANOPUS ..." Ucap mereka serempak.


"Aku tak membutuhkan salam kalian! Pergilah atau kubuat kalian terjebak disini," Suara desisan itu kembali terdengar.


"Hamba mengetahui siapa sang pembangkit. Sang penguasa Canopus, biarkan kami masuk dan memberikan sebuah penawaran." Sang pemimpin kelompok bertudung itu angkat bicara. Suara halus namun lantang itu terdengar sampai telinga sang Raja iblis yang menyeringai di singgasana miliknya.


"Manusia dengan sifatnya yang duniawi ... Hm, pergilah! Aku tak menerima penawaran apapun!"


"Bukankah Sang Penguasa ingin seorang pendamping? Maka, hamba akan membantu mempermudah keinginan Sang Penguasa." Wanita cantik dibalik tudung kembali berbicara.


Kriet ...


Perlahan pintu gerbang yang tinggi dan besar itu terbuka lebar. Sekelompok orang berjubah itu segera masuk ke istana kegelapan milik sang Raja iblis.


Tampaklah sebuah istana kegelapan di atas bebatuan dan dilingkupi kabut.



"Cukup jelaskan tujuan kalian kemari. Kalian tidak bisa memasuki istanaku."


Karena perintah itu, langkah sekelompok itu terhenti. Lalu seseorang berjalan sedikit ke depan diantara yang lain. Menunjukkan bahwa dialah si pemimpin kelompok berjubah hitam itu.


"Hamba datang kemari ingin membuat sebuah penawaran. Hamba mengetahui siapa sang pembangkit itu ... Dan sang pembangkit itu masuk kriteria untuk Sang Penguasa sebagai pendamping."


"Aku tak menyangka ... Seorang ibu negara melakukan hal terpuji seperti ini ... Hm, baiklah katakanlah!"


"Sebelum hamba mengatakan siapa sang pembangkit, hamba menginginkan sebagian kekuatan Sang Penguasa untuk mengendalikan seluruh monster di benua Canopus."


"LANCANG! BERANI-BERANINYA MANUSIA RENDAHAN SEPERTIMU MENGINGINKAN KEKUATANKU!"


"Bukankah itu sebanding dengan informasi yang akan hamba sampaikan, Sang Penguasa?"


"Sialan! Cepat katakan siapa!"


Wanita itu tersenyum penuh kemenangan, "Putri Sirena Stylanie Asthropel, anak Raja Monachus Virgatus Gal Willamette dengan mendiang selir Agalia Xi Asthropel."


"Sesuai keinginanmu, manusia sialan ..."


Wanita itu menyeringai, hal yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang. Mendapat sebagian kekuatan Sang Raja iblis.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Sirena kini berada di dapur istana yang jauh lebih besar daripada dapur Manor miliknya. Tiga koki kerajaan kini tengah terdiam ditempat masing-masing setelah melihat kedatangan Sirena.


Karena merasa hari ini adalah hari yang buruk, Sirena memutuskan menuju dapur istana untuk mencari makanan manis yang bisa mengembalikan suasana hatinya.


"Apa kalian membuat kue pie atau sejenisnya?"


Salah satu koki mengangguk, "Ya, kami membuat beberapa kue karena mengingat ada kunjungan Pangeran Putra Mahkota Kekaisaran Elephas hari ini."


Sirena berbinar mendengarnya, "Apa aku boleh mencicipinya?"


"T-tentu s-saja, Putri ..." Koki yang lainnya mengambilkan beberapa macam kue untuk Sirena.


Sirena sendiri menggosokkan kedua telapak tangannya tidak sabaran saat melihat koki menyajikan untuknya dipiring.


"Ini untuk Putri, semoga Anda menyukainya ..."


Sirena mengangguk antusias, tangannya menerima piring berisi berbagai kue yang dibuat oleh koki. Ada kue pie susu, kue sus, dan dua kue yang tidak pernah Sirena lihat sebelumnya.


"Emh .... Inhi enhwak!!" Dengan mulut penuh, Sirena berucap yang membuat Sirena terlihat lucu di mata para koki, "Kalian yang terbaik!!!" Sirena mengacungkan jempolnya setelah mulutnya tak lagi penuh.


Sirena pun memutuskan untuk kembali ke Manornya sembari membawa piring berisi kue. Dia memakannya sambil berjalan menuju Manor miliknya. 


Saat hendak memasuki gerbang Manor, langkah kaki Sirena terhenti saat Nervilia memanggilnya.


"Anjir! Ngapain mereka ngumpul di taman deket Manor? Mau pamer?" Sirena tak menanggapi Nervilia, dia hanya memandang dari jarak yang lumayan jauh mereka sembari memakan kue.


"Sirena! Mari bergabung dengan kami!"


Tetapi Sirena akhirnya mendekati mereka saat mendapat tatapan tajam dari Elanus. Sirena melihat jelas betapa kebahagiaan yang semula menguar kini meredup saat kedatangannya. Terlebih saat melihat anak kecil berumur sekitar delapan tahun yang nampak ketakutan melihat Sirena.


Di taman dekat Manor miliknya adalah taman bunga mawar serta tulip, di tengah taman terdapat patung seorang Putri yang menumpahkan air ke kolam. Di dekat kolam inilah Nervilia dan yang lain berkumpul. Ada Falco, Elanus, Elephas juga ketiga saudara Sirena yang merupakan anak dari Selir Agung Cordyline Macrousa, yaitu Pangeran Gallus Quarlesi Gal Willamette, Putri Vanda Insignis Gal Willamette dan Putri bungsu Tamarinda Indisa Gal Willamette.


Gallus Quarlesi setahun lebih muda dari Sirena, sedangkan adiknya, Vanda Insignis, berusia delapan belas tahun dan si bungsu Tamarinda berusia delapan tahun. Sirena tahu karena ingatan Sirena asli yang sudah otomatis membuatnya tahu.


"Dimana tata kramamu itu, Sirena? Apa perlu aku mengusulkan kepada ayahanda untuk kembali mengirimmu belajar tata krama?" Falco sebagai saudara tertua menegur Sirena.


Sirena berdecak kesal, menjadi Putri Raja lebih banyak tidak enaknya, 'Begini salah ... Begitu salah ...'


"Keinginanku berkumpul bersama, akhirnya tercapai juga. Susah sekali mengajakmu sekedar meminum teh, adikku, Sirena." Nervilia memulai pembicaraan.


Sirena yang selesai memakan kue miliknya itu memutar bola matanya malas, "Sebenarnya, ada pekerjaan yang lebih penting daripada sekedar meminum teh, Kakak."


"Pekerjaan penting bersekutu dengan iblis maksudmu?"


Sirena menoleh ke kanan, menatap Gallus datar, "Anak kecil sepertimu, tidak baik memikirkan urusanku, mengerti?" Sirena menyeringai.


"Anak kecil? Aku bukan anak kecil!" Gallus tak terima dikatai anak kecil oleh Sirena.


"Gallus, aku tahu kau masih kecil. Jadi, terima saja nasibmu, benar begitu Tamarinda?" Sirena mengalihkan tatapannya pada gadis kecil lucu yang duduk meringkuk di sebelah Falco, "Astaga! Jangan takut padaku, aku kan tidak menggigitmu, bocah! Kau mau kue?" Sirena menyodorkan kue pie susu yang tersisa satu di piringnya.


Hal kecil itu sontak membuat mereka terkejut dengan perubahan Sirena. Sirena yang sekarang jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Apa kau tidak mau? Ini enak loh! Aku mengambilnya langsung saat baru matang ke dapur istana, loh!" Sirena masih menyodorkan kue pie susu ke arah Tamarinda yang perlahan mulai mengambil kue pie itu.


"T-terima k-kasih, Kakak Sirena ..." Cicit Tamarinda.


Setelahnya suasana kembali hening. Sirena sendiri enggan membuka suara, dia lebih memilih meminum teh hijau yang tersedia dengan sekali teguk. Di sebelahnya, Elanus hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sirena. Lalu saat menyadari ada yang berbeda dari Sirena, Elanus baru tahu, gaun yang dipakai Sirena sangatlah sederhana.


"Kemana gaun mewah milikmu, Sirena?" Pertanyaan Elanus membuat mereka kembali memandang Sirena.


"Ah, aku baru menyadarinya. Pantas saja, kau terlihat berbeda, Sirena." Nervilia ikut berbicara. Di sebelahnya Nervilia, ada Elephas yang hanya menatap Sirena.


"Kuberikan pada Agda dan Adelphie untuk dijual. Aku sudah tak lagi menyukai gaun-gaunku. Kakak tahu? Sudah lama aku ingin terbebas dari korset yang harus kugunakan agar pinggangku terbentuk sempurna." Sirena bercerita dengan raut wajah polos, "Lalu aku meminjam gaun milik Adelphie. Gaun ini lebih baik daripada gaun milikku. Ukh! Kini aku merasa nyaman!" Sirena menepuk perutnya dua kali.


"Mau kubelikan yang baru?" Tawar Elanus.


Sirena menggeleng, "Tidak perlu, Kak. Aku berencana menemui penjahit langganan Adelphie lalu membuat rancangan gaun sendiri." Setelah itu keheningan kembali melanda.


"Ehm, tidakkah kau tahu kakak, kedatanganmu membuat suasana berubah?" Gallus lagi-lagi berbicara yang membuat Sirena ingin menggampar mulutnya itu.


"Gallus!" Nervilia memperingati.


"Tidak usah membelanya, Kakak! Apa Kakak tidak ingat, kalau Kak Sirena mencintai tunangan Kakak? Dan karena kebodohannya juga, Kakak hampir celaka dibuatnya." Gallus menunjuk wajah Sirena.


'Sabar ... Sabar ...'


"Aku tak mempermasalahkan itu, Gallus. Aku sudah melupakan semua yang dilakukan Sirena untukku. Jadi, kau tak perlu mengungkitnya, Gallus. Lagipula, sebentar lagi aku akan menikah dengan Elephas."


"Nervilia benar, Gallus. Tak perlu mengungkit hal yang sudah berlalu." Elephas ikut berbicara.


"Tap-"


"Gallus, jangan memperpanjang masalah!" Falco menatap tajam Gallus.


Tepat saat Falco selesai menegur, tiga luster membawa nampan berisi beberapa kue buatan koki yang tadi sempat dicicipi oleh Sirena.


"Asik kue sus!" Sirena yang menjadi bahan pembicaraan lebih memilih fokus ke kue yang baru saja disediakan.


"Aku tak pernah memperpanjang masalah, Kak Falco! Bukankah benar, bahwa Kak Sirena hanya Putri sampah? Ayahanda saja bahkan tak memberikan gelar marga 'Gal Willamette' di belakang namanya."


Sirena menghentikan kunyahannya, ternyata masih belum selesai juga. Kupingnya sudah panas mendengar ocehan Gallus. Jangan sampai dia hilang kendali dan menghajar Gallus.


"Soal gelar marga itu, pasti ada alasannya mengapa Ayahanda tak memberikannya padanya." Nervilia menatap iba Sirena.


"Mungkin memang benar, Kak Sirena hanya Putri sampah." Vanda yang sedari tadi diam saja kini ikut berbicara. Menambah panas hati Sirena saat ini.


BRAK


Seketika tatapan semua orang mengarah pada Sirena yang baru saja menggebrak meja. Yang ditatap kini memasang wajah polos, "Oh, maafkan aku. Aku tak sengaja membunuh semut yang hendak memakan kue milikku, hehe ..."


"Aku masih bingung, mengapa Kaisar memberikanmu kebebasan dari hukum mati, ya? Padahal kau pantas mati, Kak Sirena!"


PLAK


"SIRENA!" Seru semua orang, terkecuali Gallus yang kepalanya tertoleh ke samping akibat tamparan Sirena.


Sirena berdiri dari duduknya. Tangannya terkepal erat. Seketika angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Langit yang semula cerah kini mulai ditutupi awan hitam seperti hendak hujan.


"Manusia tak tahu diri sepertimu, ingin aku mati?" Suara Sirena terdengar rendah.


Mata mereka membola kala melihat kening Sirena bersinar merah yang berasal dari simbol mawar hitam di keningnya.


"Aku diam saja mencoba bersabar menghadapi mulut liarmu itu, Gallus. Tapi sepertinya kau tidak tahu, jangan membuat air tenang menjadi beriak. Kau tak tahu monster apa yang menghuni air tenang itu." Setelah berujar seperti itu, Sirena melangkah pergi.


Saat ini, kening Sirena terasa begitu panas dan sangat menyakitkan. Entah apa yang terjadi, rasa panas itu semakin menjadi-jadi.


"ARGHH!! SAKIT!!" Sirena terduduk di tanah sambil memegang keningnya yang terasa begitu panas.


Semua orang berdiri dari duduknya hendak menghampiri Sirena. Namun, mereka semua terpental karena Sirena saat ini diselubungi sinar merah bercampur biru.


"ARGHH! APA YANG TERJADI PADAKU!!" Sirena merasakan tubuhnya ingin memberontak. Rasanya ingin menghancurkan apapun saat ini juga. Namun, Sirena mencoba mengendalikannya. Sirena menduga ini pasti ada hubungannya dengan simbol mawar hitam di keningnya. Jangan sampai dia kehilangan kendali dan semakin mempersulit keadaannya.


'Sirena ... T-tolong gue ...'


Sinar merah yang semula mendominasi kini mulai menghilang digantikan oleh sinar biru yang berasal dari kalung Sirena. Perlahan rasa panas dan sakit di keningnya, menghilang. Tubuhnya terasa lemas saat ini, hingga dia kini sudah hampir tak sadarkan diri.


Elanus segera berlari mendekati Sirena, beruntung dia tidak terpental kembali.


"Sirena, apa kau mendengarku? Hei! Katakanlah sesuatu! Apa kau baik-baik saja?" Elanus menahan punggung Sirena dan tangannya menepuk pipi Sirena berulang-ulang.


Sirena mengerjapkan matanya pelan, dia benar-benar kehilangan tenaga saat ini. Lalu tak lama, Sirena tenggelam dalam kegelapan.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?