
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Kalau kau tak ingin membunuhku, aku akan mencari orang lain untuk membunuhku."
Sirakusa memandang langit malam yang nampak mendung sembari mengingat-ingat kembali ucapan Irena yang terus memenuhi otaknya. Sirakusa sangat yakin bahwa tekad Irena kali ini tak akan bisa dia hentikan sekalipun dia bersujud di bawah kaki wanita itu.
"Bersujud?" Sirakusa tertawa hambar, benarkah dia menyukai orang keras kepala seperti Irena?
Sirakusa kembali memandang langit, "Dewa ... Kau tidak sedang berniat membuat hatiku kembali terluka bukan? Kali ini saja, biarkan aku merasakan apa yang dirasakan manusia pada umumnya."
Awan-awan mendung yang semula menguasai langit kini perlahan sirna. Sinar bulan merah yang semula tertutup awan mendung kini mulai memancar untuk menyebarkan cahayanya.
Sebentar lagi dia harus bergegas pergi menuju rumah Irena untuk ritual pertukaran jiwa. Tetapi ritual pertukaran jiwa ini harus membuat Irena mati terlebih dahulu, berbeda saat ritual jiwa ini dilakukan ketika seseorang baru lahir.
Dan Sirakusa sedang mempersiapkan diri. Pikirannya menerka-nerka apakah Irena sudah mati atau belum? Karena sejujurnya Sirakusa tak akan sanggup membunuh penolongnya. Jika dia bertemu Irena dalam kondisi masih hidup, maka dia sendiri yang terpaksa harus membunuh Ir-
"Tuan! Tuan!"
Tok tok tok
"Tuan Sirakusa!"
Sirakusa bergegas membuka pintu kamarnya kala mendengar suara legion yang berjaga di rumahnya.
"Mohon maaf atas kelancangan saya ..." Legion itu menundukkan kepalanya sebentar kemudian menatap Sirakusa, "Ada utusan dari rumah Putri Irena yang mengabarkan bahwa Putri Irena ditemukan meninggal dunia bersimbah darah di hutan."
Deg.
Hantaman tak kasat mata menyerang jantung Sirakusa tiba-tiba. Matanya membola sesaat sebelum akhirnya bisa menguasai dirinya sendiri.
Menghembuskan nafas pelan-pelan, Sirakusa balas memandang legion di depannya, "Siapa yang membunuhnya dan siapa yang menemukannya?"
"Tidak ada yang tahu siapa yang membunuh Putri Irena, tetapi Putri Irena ditemukan seorang Achilles bernama Aindrea dari Kerajaan Willamette yang datang ke desa Osaka untuk bertemu Putri Sirena."
Sudah lama sekali Sirakusa tak mendengar nama itu. Tanpa menunggu apa-apa lagi, Sirakusa bergegas menuju rumah Irena dengan perasaan yang membuatnya kacau.
"Aku tidak ingin menduga-duga yang tidak-tidak. Aku tahu kau tidak sebodoh itu untuk mengakhiri hidupmu sendiri, Irena ..."
Baru saja Sirakusa hendak melangkah keluar rumah, sekelebat bayangan muncul. Bayangan itu terpotong-potong, akan tetapi yang paling dominan dia melihat sebuah kotak kaca yang terbuat dari es lalu ada seseorang di dalam kotak es itu.
Setelah dirasa bayangan itu tak muncul lagi, Sirakusa menggunakan sihir teleportasi miliknya menuju rumah Irena. Seharusnya tanpa keluar rumah pun dia bisa dengan cepat sampai ke rumah Irena. Namun karena kabar Irena meninggal membuat konsentrasinya menurun.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Sesampainya di rumah Irena, Sirakusa langsung menuju taman belakang yang ada di rumah Irena dimana ritual pertukaran jiwa itu akan dilakukan.
Tubuh Sirakusa membeku melihat sosok Irena sudah terbaring kaku di atas dipan. Dengan langkah pelan dan mata yang hanya tertuju pada wanita itu, Sirakusa memegang dadanya dimana jantungnya seolah diremas kuat oleh tangan tak kasat mata.
Di taman belakang rumah Irena kini ada beberapa orang yang ingin menyaksikan ritual pertukaran jiwa itu. Orang luar yang bisa ikut menyaksikan ritual ini ada tiga orang, yaitu Aindrea, Virga, dan Kaisar Yerikho.
Sirakusa memandang wajah damai Irena yang terpejam. Wajah ini sebentar lagi akan berganti nama menjadi Devita, bukan lagi Irena si keras kepala dan acuh tak acuh semacam Irena.
"Ritual ini akan aku mulai. Tidak ada yang boleh mendekati lingkaran yang kubuat selain orang yang memang aku butuhkan." Ucap Sirakusa sambil menggerakkan tangannya mengeluarkan sihir dan membuat garis melingkar dengan diameter lima meter melingkari dipan dan cermin kuno.
Sesaat Sirakusa kembali terpaku pada wajah Irena, "Siapa yang berhasil mengabulkan keinginanmu, Irena? Karena orang itu, aku tak bisa memberikan ucapan selamat tinggal untukmu."
Tangan kanan Sirakusa terangkat untuk memiringkan cermin kuno agar cahaya bulan merah terpantul.
Cermin kuno itu bergetar setelah menerima cahaya sinar bulan merah. Tidak hanya itu, partikel-partikel kecil bercahaya biru muncul hingga akhirnya cermin dibagian kacanya berwarna biru sepenuhnya.
Cahaya bulan yang terpantul ke kaca itu terpantul kembali ke arah Irena yang terbaring hingga tubuh Irena terbungkus sinar berwarna merah.
Sirakusa terkejut bukan main saat sebuah kristal es muncul dari bekas luka tusukan di tubuh Irena lalu memancar ke langit kemudian hancur selayaknya kembang api.
Layar biru di kaca itu lantas bercahaya putih begitu terang sekitar tidak lama. Saat cahaya putih itu hilang, cermin itu menunjukkan sebuah tempat yang sangat asing di mata siapapun yang menyaksikannya, kecuali Galcinia.
Di cermin itu ada sebuah tempat tidur dengan seorang perempuan yang terbaring di atasnya, lalu ada banyak alat-alat rumit yang tak pernah Sirakusa lihat sebelumnya.
"ITU DEVITA!" Seruan Galcinia berhasil membuat Sirakusa menoleh ke arah wanita itu.
Galcinia berlari mendekat hingga berada tak jauh di batas garis, "Itu adalah raga Irena yang asli, raga yang pernah ditempati Devita sebelumnya."
"Jadi, begitukah duniamu memperlakukan orang yang sedang sakit?" Sirakusa kembali memandang cermin itu. Di dalam cermin itu dia melihat jiwa Irena yang sudah berdiri di samping raganya.
"Wah! Itu Irena!" Galcinia senang saat jiwa Irena kini berhasil kembali sisi raganya. Tinggal menunggu saatnya masuk kembali ke dalam tubuhnya sendiri.
"Ritual ini akan gagal bila jiwa Devita tidak juga muncul berdiri di sebelah tubuhnya." Ucapan Sirakusa berhasil membuat Sirena yang sedaritadi tidak tenang semakin panik.
Sirena pun ikut berlari mendekati garis dan berdiri di sebelah Galcinia. Raut wajah panik tercetak jelas di wajah cantiknya, "Lantas bagaimana caranya memanggil jiwa Devita?"
"Itulah yang membuatku berpikir semakin keras. Aku pikir setelah jiwa Irena muncul maka jiwa Devita pun ikut muncul, nyatanya tidak." Sirakusa lantas mengingat-ingat sesuatu karena sepertinya dia melupakan sesuatu.
Sirena menggigit kukunya lalu mendongak untuk melihat bulan merah yang tiba-tiba tinggal separuh saja, "Bulannya tinggal separuh, Sirakusa! Apakah waktunya sesingkat ini?"
Anggukan Sirakusa membuat Sirena menoleh untuk melihat kekhawatiran Athanaxius. Lelaki itu sedaritadi hanya diam bersandar di depan pintu dengan bersidekap dan mata yang terpejam.
"HEI, ATHANAXIUS BODOH! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA HAH?" Sirena berteriak kesal karena lelaki itu yang sepertinya sudah pasrah menunggu Devita.
Athanaxius.
Sirakusa menemukan jawabannya. Sekelebat bayangan dimana ada seseorang yang berada di dalam kotak es itu mungkin adalah Devita. Dan orang yang bisa membawa jiwa Devita adalah, Athanaxius.
"Hei, Athanaxius." Panggil Sirakusa dengan pelan, tetapi Sirakusa yakin lelaki itu mendengarnya, "Aku tahu dimana jiwa Devita berada. Masuklah ke dalam lingkaran dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan!"
Blarrr
Sayap putih dan besar milik Athanaxius seketika terbuka lebar hingga membuat helai rambut orang-orang beterbangan sebentar.
Saat Athanaxius membuka matanya, dia disambut oleh berpasang-pasang mata yang memandangnya takjub. Lelaki itu lantas terbang mengabaikan semua orang kecuali Sirakusa yang memanggilnya.
"Dimana Devita?" Tanya Athanaxius tanpa basa-basi setelah masuk ke dalam lingkaran ritual.
"Kau yang lebih tahu dimana Devita berada." Balas Sirakusa sembari menunjuk cermin yang sudah berubah menampilkan sebuah kotak es di padang rumput yang begitu luas.
Athanaxius mengikuti jari Sirakusa yang menunjuk ke arah cermin. Dia tahu dimana itu, Eleftheria.
Sring
Athanaxius mengeluarkan pedang miliknya dan langsung menghunuskan pedangnya ke cermin itu hingga retak dan kembali bercahaya putih.
Cahaya putih itu berhasil membuat siapapun menutup matanya saking silaunya. Hanya Athanaxius yang masih membuka matanya dan tidak berefek apapun pada matanya karena cahaya putih itu adalah jalan untuk menjemput wanitanya.
"Devita, aku datang!" Ucap Athanaxius pelan dengan air mata yang berhasil keluar dari sudut mata kirinya.
Cahaya putih itu menarik tubuh Athanaxius masuk ke dalam cermin menuju Eleftheria. Setelah Athanaxius sudah masuk sepenuhnya, cahaya itu lenyap dengan cepat dan tampilan cermin berganti menjadi Irena kembali di dunia Bumi.
"Ku harap kau cepat kembali, Athanaxius." Ucap Sirakusa dengan kepala mendongak melihat bulan merah yang semakin lama akan hilang.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Semua yang ada di adegan chapter ini murni pemikiran aku yaaaaaa. Semoga kalian menikmati cerita ini.
Aku butuh waktu banget buat chapter ini yang aku pikir mudah ternyata nggak mudah sama sekali. Aku harus baca cerita-cerita fantasi dulu, nonton drakor Alchemis of Soul dulu aja rasanya belom cukup. Dan terakhir aku nonton MV Blackpink - Ready for Love yang membuat ide-ide kembali muncul.
Untuk kotak es itu aku terinspirasi dari MV Blackpink, hehe ...