The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 67: Wellcome Home



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Kesibukan Devita di desa Osaka tak kunjung usai. Dia terus berusaha agar rakyat Osaka merasakan kehidupan yang jauh lebih baik setelah menjadi korban serangan monster. Karena kesibukannya itulah, dia belum mengetahui kabar bahwa Kaisar Helarctor telah meninggal dunia.


Hari ini, Sirakusa dan para rakyat berhasil membangun lima rumah sederhana untuk ditinggali. Mendengar hal itu, Devita harus pintar-pintar memilih keluarga mana yang akan menempati rumah itu.


Di sampingnya, terdapat Sirena yang duduk memperhatikan Devita yang sedang melihat daftar keluarga rakyat Osaka.


"Ada saran?" Devita meminta pendapat Sirena.


Sirena ragu-ragu mengangguk, "Menurutku, rumah yang sudah jadi lebih baik ditinggali oleh para wanita yang sudah tak memiliki suami lagi, terlebih yang memiliki anak."


Dari catatan yang sudah dilihat oleh Devita, ada tiga puluh lima rumah di desa Osaka ini. Devita sendiri tidak berencana membuatkan rumah banyak-banyak untuk rakyat Osaka karena fokus Devita adalah memajukan desa Osaka dan meningkatkan produktivitas kerja serta kreativitas rakyat Osaka melalui ilmu yang dia dapat dari dunia modern.


"Kalau misalnya jangan ditempati dulu, gimana?" Devita mencoba memancing Sirena. Dia ingin melihat Sirena tidak lagi ragu dalam memberikan sebuah pendapat.


Sirena menggeleng cepat, "Harus ditempati segera! Para wanita yang kehilangan suaminya sudah pasti bingung mau mengandalkan siapa, berbeda dengan orang yang masih memiliki kepala keluarga. Dengan begitu, para wanita itu tak perlu mencemaskan mereka akan tinggal dimana lagi, mereka cukup mencari pekerjaan untuk hidupnya."


Senyuman puas tercetak jelas di wajah Devita. Ternyata pemikirannya soal Sirena benar, bahwa Sirena bukanlah Putri bodoh seperti yang orang-orang pikir.


"Oke-oke, tetap tenang bestie!" Devita tertawa melihat wajah cemberut Sirena, "By the way, pendapat lo boleh juga. Gue bakal bilang ke rakyat Osaka nanti, kalau mereka setuju berarti rasa kepedulian sosial satu sama lain diantara mereka sangatlah baik."


Karena masalah rumah yang akan ditempati siapa sudah mendapatkan jalan keluar, Devita pun mulai mendata beberapa wanita yang memiliki anak dan sudah tak punya suami untuk rumah itu.


"Dev,"


"Hm? Kenapa, Na?" Devita tak melihat ke arah Sirena karena dia masih sibuk menulis menggunakan lidi. Devita juga menuliskan beberapa rumah yang akan dia jadikan sebagai rumah produksi.


"Pada malam hari setelah kita berbincang di atas pohon, aku melihat France."


Mendengar nama anak kecil kesayangan Devita disebut, dia pun lantas mengalihkan pandangannya hi hingga hanya tertuju pada Sirena.


"France?" Devita menaikkan sebelah alisnya, "Masa iya France keluyuran malem-malem ?"


'Beritahu Devita atau tidak ya?'


Sirena menggigit bibir bawahnya karena ragu, haruskah dia ceritakan tentang jati diri France yang sebenarnya pada Devita?


Prok


"WOY!  Devita bertepuk tangan sekali di depan wajah Sirena hingga membuat wanita itu terkejut.


"Gue tungguin malah ngelamun!" Devita menanti penjelasan dari Sirena yang justru diam dengan wajah bingung.


Sirena dilema, apakah perlu Devita mengetahui siapa sebenarnya France?


"France, d-dia ... berubah menj-"


"KAK NANA!!"


Kehadiran France yang tiba-tiba membuat Devita kaget dan hampir terjungkal dari duduknya, berbeda dengan Sirena yang masih tidak percaya bahwa France adalah Raja iblis, Ambrogio Agafya yang sudah menjadi manusia biasa.


"Kau membuatku terkejut, France," Devita pun berdiri untuk menghampiri France yang nampak panik di depan pintu ruangannya, "Kenapa kau terlihat panik?"


"I-itu, disana!" France menunjuk ke arah luar lalu kemudian menarik tangan Devita keluar dari ruangannya.


Devita bertanya-tanya akan dibawa kemana dirinya oleh France, namun France tak menjawab, dia justru membawa Devita ke rumah kesehatan.


Saat Devita membuka pintu rumah kesehatan, betapa terkejutnya dia melihat sosok Raja Monachus juga saudara-saudara Sirena, ada Galcinia juga, kecuali Selir Agung Cordyline, Nervilia, dan Ratu Amanita.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


"BESTIE!!"


Tubuh Devita sedikit terjengkang ke belakang akibat ulah Galcinia yang melompat untuk memeluknya.


Sirena sendiri hanya bisa mengerutkan keningnya karena bingung dengan kedatangan keluarganya yang mendadak. Tetapi matanya terfokus pada ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang.


"Devita, cobalah lihat ayahanda ..." Devita menoleh sekilas ke arah Sirena, lalu dia memandang ke arah Raja Monachus yang terbaring lemah di atas ranjang.


Devita pun berjalan mendekati Raja Monachus. Melihat keadaan Raja Monachus yang memprihatinkan, membuat Devita merasakan hal aneh di dirinya, seperti sedih?


"Apa yang terjadi denganmu, Pak Raja?" Tanya Devita setelah berdiri di sebelah kanan ranjang.


Dengan wajah sayunya, Raja Monachus memberikan senyum tipis sebagai jawaban.


"Yang Mulia Raja terluka akibat serangan Ratu Amanita." Sirakusa memberitahu, "Kaisar Helarctor juga meninggal akibat ulah Ratu Amanita."


Mendengar itu, Devita dan Sirena terkejut. Ratu Amanita sudah menunjukkan taringnya ternyata.


"S-sirena ..." Panggil Raja Monachus dengan nada pelan.


Devita kembali memusatkan perhatiannya pada Raja Monachus, "Ya? Anda butuh sesuatu?"


"B-boleh ayah memelukmu?"


Permintaan Raja Monachus membuat Devita terdiam. Apakah dia harus mengabulkan atau tidak? Devita melirik Sirena yang ada disampingnya.


"Mengapa kau diam, Sirena? Bukankah kau selama ini menginginkan pelukan dari ayahanda?" Ucapan Elanus entah kenapa membuat Devita kesal.


"Itu bukan keinginanku! Tapi keinginan Sirena." Devita memandang Sirena yang matanya membola.


"Apa maksudmu, Sirena?" Falco bingung dengan ucapan Devita.


"Karena aku bukan Sirena. Sirena, tidak perlu sembunyi lagi, kau bisa menampakkan diri." Devita menatap Sirena dengan yakin.


"Apa kau gila??" Sirena marah.


"Aku masih waras ya!" Devita berkacak pinggang.


Devita kini layaknya orang gila yang berbicara sendiri. Sedangkan di sudut ruangan, ada Athanaxius yang hanya terkekeh kecil melihat tingkah Devita.


"Berhenti, Sirena! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila karena berbicara sendiri?" Bentak Falco tanpa sadar. Keadaan yang kacau membuatnya mudah terbawa emosi.


Devita memandang Falco penuh dengan kekesalan, "Kenapa kau membentakku? Memangnya kau fikir kau siapa hah?" Devita berkacak pinggang, "Aku akan ingat-ingat kelakuanmu ini, Falco!"


"Sirena, dia adalah kakakmu, kenapa kau hanya memanggilnya nama saja?"


"Diam kau, Sirakusa!" Devita menatap tajam Sirakusa yang berani ikut campur.


Sirakusa pun akhirnya memilih diam. Suasana seketika menjadi hening setelah melihat Devita mencoba mengendalikan emosinya.


Devita kembali memandang Raja Monachus, "Mengapa Anda ingin memeluk saya?"


Raja Monachus balas memandang dengan tatapan sayu, "Karena kamu adalah anakku." Raja Monachus mengambil tangan Devita lalu menggenggamnya erat, "Selamat datang kembali ke rumahmu, anakku ..."


Devita mengerutkan keningnya, ada yang ganjal dari ucapan Raja Monachus.


"Apakah selama ini kau hidup dengan baik? Apa di duniamu tinggal kau mendapatkan kasih sayang? Ceritakan! Ayahanda ingin mendengarnya,"


"Ayahanda, apa maksud pertanyaan ayahanda? Bukankah selama ini dia tinggal di dunia yang sama dengan kita?" Gallus yang sedari tadi diam kini angkat bicara.


"Itu benar. Pertanyaan ayahanda seperti Sirena baru pulang darimana saja." Elanus juga turut serta angkat bicara.


Raja Monachus hanya tersenyum saja menanggapi kebingungan dari anak-anaknya.


"Karena Sirena yang sekarang, bukanlah Sirena yang sebenarnya."


Tatapan semua orang seketika tertuju pada sosok perempuan bercadar yang berdiri di depan pintu rumah kesehatan.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Maunya selesai berapa chapter yak?