The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 61: Jiwa yang Tertukar



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Malam di desa Osaka terasa begitu dingin, terlebih sekarang hujan sedang turun sangat deras. Semua rakyat Osaka berada di tenda dan berusaha menghangatkan tubuh masing-masing.


Devita sendiri memilih berkeliling dan membagikan selimut kepada rakyat Osaka dibantu Sirakusa.


"Apa masih ada yang belum mendapat selimut?" Devita menyisir satu persatu orang yang ada di tenda terakhir yang dia datangi.


"Tidak ada, Putri." Salah satu dari mereka menjawab.


"Kalau kalian membutuhkan sesuatu, datanglah ke tenda milikku. Katakan saja apa yang kalian butuhkan."


Setelah mendapat respon dari mereka, Devita bergegas menuju tenda miliknya, dimana ada Agda yang tengah sakit. Dia sangat khawatir dengan kondisi Agda.


Saat sampai di dalam tenda miliknya, Devita melihat Agda tengah duduk sambil meminum air dengan bantuan France.


"Agda, kenapa kau tak bilang kalau kau sedang sakit? Kalau tau kau sakit, seharusnya kubiarkan kau tinggal di Manor bersama Bang Indra." Devita mendekati Agda sembari mengoceh. Dibelakangnya, Sirakusa mengekori Devita.


"Aku tidak apa-apa, Sirena. Kenapa kau belum tidur?" Agda menatap penampilan Devita yang kini tak memakai mahkota Putri Willamette.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau sahabatku sedang sakit?" Devita kembali menyentuh kening Agda dengan tangannya.


Dalam hati Devita mendesah kecewa, seandainya ada termometer disini, pasti akan lebih memudahkan dalam mengecek suhu tubuh. Terlebih lagi, farmos yang dikirim Raja untuk desa Osaka sudah meninggal karena diserang monster hingga membuat rakyat Osaka tidak tahu lagi harus meminta bantuan pengobatan kepada siapa.


Cling


Lampu kepintaran seketika menyala. Devita menoleh cepat ke arah Sirakusa, "Hei, Sirakusa!"


'Entah kenapa, aku merasakan firasat buruk.' Sirakusa menatap wajah sumringah Devita, "Apa?"


"Bukankah kau bisa mengobati seseorang dengan sihir penyembuh milikmu?"


"Hm, lalu?"


"Kalau begitu, besok ikut aku untuk bertemu rakyat yang sedang sakit. Aku membutuhkan sihirmu untuk menyembuhkan mereka." Devita tersenyum lebar, di dalam kepalanya sudah tersusun rencana apa saja yang akan dia lakukan besok.


"Ada syaratnya, Putri Sirena ..."


Senyum Devita luntur, "Kenapa harus bersyarat?"


Sirakusa tak menjawab, dia memilih pergi setelah membenarkan kembali tudung kepalanya.


"Sirakusa, tunggu!" Devita lantas mengejarnya.


Langkah Sirakusa terhenti saat lengannya dicekal oleh Devita. Sirakusa lantas berbalik untuk menatap Devita.


"Apa syaratnya?"


Sirakusa memberi isyarat agar Devita lebih dekat dengannya. Devita pun menurut hingga suara bisikan dari Sirakusa terdengar di telinganya.


"Menikahlah denganku."


Devita menegang di tempatnya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Keheningan hutan menuju desa Osaka, terdengar suara kuda yang meringkik karena dipacu untuk berlari lebih cepat lagi.


Athanaxius, lelaki itu memacu kudanya menuju air terjun yang ada di kaki gunung Yahrimun, tidak jauh dari desa Osaka berada.


Tak selang beberapa saat, ada seseorang yang menunggang kuda kemudian menyamai laju kudanya. Athanaxius menyeringai melihat sosok orang itu. Dia mengira sosok yang sedang menyamainya saat ini tak akan datang untuk menemuinya.


"HYA!" Athanaxius menepuk kudanya agar lebih cepat lagi hingga dia berhasil mendahului orang itu.


"Terima kasih sudah bekerja keras untukku."


"Berkudamu boleh juga, menantu ..."


Athanaxius menoleh, mendapati orang yang tadinya dia tinggal berhasil menyusulnya. Matanya menatap orang itu yang kini turun dari kudanya, kemudian berjalan hingga berjarak satu meter dengan Athanaxius.


"Semoga Dewa dan Dewi Vulcan memberikan keselamatan untuk Anda, Yang Mulia Raja Monachus ..." Athanaxius menundukkan kepalanya memberi salam hormat.


"Aku tidak bisa berlama-lama, jadi apa yang ingin kau bicarakan?"


Athanaxius menegakkan tubuhnya kembali kemudian memandang sosok Raja yang kini berpenampilan tertutup.


"Mengenai Sirena, apa Anda sudah mengetahui kalau dia bukanlah Sirena?"


Raja Monachus tersenyum tipis, "Jadi karena ini kau membuat janji temu di tempat seperti ini." Raja Monachus berjalan hingga berada di tepi sungai, "Siapa namanya?"


Alis Athanaxius naik sebelah, merasa aneh dengan pertanyaan Raja Monachus, namun tak lama Athanaxius paham.


"Devita."


Tangan Raja Monachus yang tadinya menyentuh air kini terhenti, "Devita?" Senyum tipis lagi-lagi muncul di bibirnya. Raja Monachus lantas berdiri tegap, kemudian menautkan tangannya di punggung. Matanya menatap air terjun yang mengalir jatuh begitu derasnya.


"Jiwa Putri Anda terpecah, bukankah hal itu sangat membahayakan?" Athanaxius mengetahui hal itu dari mata merah.


"Aku tahu, tapi tak lama lagi mereka akan bertemu dan tidak terpecah lagi."


Athanaxius menatap punggung Raja Monachus dengan tajam karena Raja Monachus tak terus terang menjawab pertanyaan darinya. Athanaxius tak bisa berlama-lama disini karena dia harus menyusul ke desa Osaka.


"Mereka? Mereka siapa?"


"Sirena dan saudara kembarnya."


Keterkejutan dirasakan Athanaxius saat itu juga. Sirena memiliki kembaran? Mengapa dia tak pernah melihat kembaran Sirena?


"Dulu, aku dan mendiang istriku, Agalia, melakukan ritual pertukaran jiwa. Saat itu kembaran Sirena, mengalami lemah jantung. Hanya ada satu cara untuk membuat Irena tetap hidup, yaitu ritual pertukaran jiwa." Raja Monachus mulai bercerita, cerita yang tidak ada seorang pun tahu selain dia, istrinya dan dua perempuan yang dia percayai.


"Mengapa Anda melakukan ritual pertukaran jiwa?"


"Kami melakukannya saat mereka berusia tiga tahun. Sirena yang hidup di Kerajaan tumbuh dengan sehat, berbeda dengan Irena yang terus melemah." Raja Monachus tak menjawab pertanyaan Athanaxius, dia justru bercerita, "Hingga tetua desa Osaka menyarankan padaku ritual pertukaran jiwa. Namun ritual itu juga melibatkan Sirena."


Athanaxius kini memilih diam. Memilih mendengarkan Raja Monachus bercerita.


"Tetua desa Osaka memberitahuku bahwa ada dunia lain yang jauh lebih bagus dari dunia Vulcan, dimana ada manusia juga di dalamnya. Kemudian Tetua menyarankan untuk menukar jiwa Irena dengan jiwa manusia di dunia lain itu. Tepat saat bulan merah muncul, ritual itu kami lakukan."


Athanaxius mengernyitkan keningnya, "Apa tidak ada harga untuk ritual itu?"


"Tentu saja ada, Menantu." Raja Monachus kini berbalik, memandang sosok Athanaxius yang gagah namun tidak pada matanya. Dia masih sayang nyawanya, "Saat Sirena berusia delapan belas, jiwanya akan keluar dari tubuhnya dan digantikan dengan jiwa yang lain. Jiwa itu adalah Devita yang tidak lain adalah Irena, saudara kembar Sirena."


Athanaxius tidak tahu harus merespon dengan apa. Ceritanya begitu rumit untuk didengar.


"Mereka harus mencari jati diri masing-masing, termasuk menarik kembali jiwa lain yang masuk ke dalam tubuh Irena." Raja Monachus kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.


"Kau akan tahu alasan aku dan mendiang istriku melakukan ritual ini, selain untuk kesembuhan Irena dari buku ini." Athanaxius membelalakkan matanya saat menerima buku dari Raja Monachus yang sangat dia tahu buku apa itu. Buku ramalan, buku yang telah lama menghilang dan sangat dicari oleh para pemuja iblis ternyata ada di Raja Monachus.


"Athanaxius, jangan ceritakan ini kepada Sirena. Biarkan dia tahu dengan sendirinya."


Athanaxius memandang sosok Raja Monachus yang sudah berada di atas kudanya.


"Putuskan baik-baik, siapa yang akan kau nikahi nantinya. Jangan sampai tertukar!" Raja Monachus tersenyum lalu memacu kudanya dan pergi meninggalkan Athanaxius yang berdiri diam.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Asli sih, aku nggak nyangka ceritaku bakal serumit ini hahaha 🤣Btw aku nggak ada bosen-bosennya buat ucapin makasih, makasih banget buat kalian yang udah baca ceritaku:*