
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Suasana di Kerajaan Willamette malam ini terlihat ramai untuk mengantar kepergian Nervilia, Elephas, Falco dan Elanus untuk menuju Kekaisaran Alhena, dimana acara pernikahan adik Elephas diselenggarakan.
"Kalian, berhati-hatilah di jalan, ya? Doaku selalu menyertai kalian ..." Raja Monachus menatap mereka dengan bangga.
"Terimakasih untuk doanya, Ayahanda ..." Ucap Elanus, Falco, dan Nervilia sembari menundukkan kepalanya hormat.
"Hoamm!!"
Semua orang sontak mengalihkan perhatiannya kepada seseorang yang baru saja menguap lebar, siapa lagi kalau bukan Sirena.
"Apa keberangkatan kami, mengganggu tidur nyenyakmu, Putri Sirena?" Elephas bertanya dengan nada menyindir.
Sirena mencoba membuka matanya yang nampak susah untuk terbuka, "Of course!" Sirena kembali menguap setelah mengucapkan itu.
Bagaimana tidak mengantuk, baru saja dia mau tertidur, tiba-tiba Achilles Aindrea datang memberitahunya bahwa Raja memerintahkannya untuk mengantar kepergian rombongan Nervilia menuju Kekaisaran Alhena. Agda dan Adelphie tadinya ingin menemaninya, namun Sirena tidak mau. Melihat raut kelelahan kedua temannya, membuatnya tak tega untuk menyusahkan mereka.
"Sirena!" Raja Monachus memberi tatapan peringatan untuk Sirena yang dibalas dengan dengusan oleh Sirena.
Mereka sama sekali tak memikirkan kondisi Sirena. Beruntung kondisinya sudah lebih baik, hanya tinggal menunggu bekas luka cambuk di tubuhnya menghilang.
Sirena merapatkan jubah berbulu miliknya saat udara malam semakin terasa dingin, bertepatan saat Nervilia mendekatinya.
"Maaf, aku tak bisa mengajakmu ke pernikahan Putri Regiana," Nervilia mengusap lengan Sirena lembut, "Cepatlah sembuh, Sirena!" Nervilia tersenyum tulus.
Sirena tak menanggapi Nervilia, sudah dia bilang, jiwanya sebagai Devita yang menempati tubuh Sirena juga merasa tak nyaman berdekatan dengan Nervilia. Nervilia seperti orang yang banyak menyembunyikan sesuatu dalam senyum tulusnya.
Nervilia kembali ke sisi Elephas. Nervilia dibantu naik ke atas kereta kuda oleh Elephas. Sedangkan Falco sudah menaiki kudanya sedari tadi. Berbeda dengan Elanus yang masih diam di tempat memperhatikan Sirena sejak tadi.
Sirena yang baru sadar kalau dia ditatap oleh Elanus hanya membalas dengan tatapan malas. Dia memutuskan untuk pergi saja.
"Pak Raja dan Ibu Ratu yang terhormat, saya ingin undur diri lebih dulu," Sirena mengangkat sisi gaunnya sedikit untuk pamit.
Raja Monachus tercengang dengan panggilan Sirena untuknya, "Pak Raja?"
"Pergi saja. Lagipula kau disini hanya sekedar formalitas belaka." Ini adalah suara Ratu Amanita.
Sirena menyunggingkan senyum miring menatap Ratu, "Ah baiklah, Ibu Ratu." Sirena berbalik dengan hati riang. Akhirnya dia akan segera mendarat ke pulau kapuk.
'PULAU KAPUK! I AM COM-'
Euforia Sirena terhenti saat merasakan tangannya ditahan seseorang. Saat Sirena menoleh, dia mendapati Elanus yang menahannya.
"Ada apa, Pangeran Elanus?" Sirena melepaskan tangannya dari cekalan Elanus. Dia bersidekap dada memandang Elanus datar.
"Kau marah denganku?"
"Marah? Hahaha ..." Sirena tertawa, tawanya menggema hingga membuatnya kembali menjadi pusat perhatian, "Pangeran Elanus, aku tidak pernah marah kepadamu, lebih tepatnya aku kecewa." Sirena berucap dingin.
"Dari sekian banyaknya orang yang membenciku, kau menjadi salah satu orang yang membuatku kecewa. Dan aku membenci orang yang membuatku kecewa. Kau mengerti maksudku, Pangeran Elanus?"
Deg.
"Seseorang yang pernah mengatakan ingin memutar waktu agar bisa menebus kesalahan, tetapi lagi-lagi melakukan kesalahan yang sama. Apa aku harus mempercayaimu, Pangeran Elanus?" Sirena menyeringai melihat keterdiaman Elanus.
Elanus benar-benar tertohok dengan ucapan Sirena. Elanus benar-benar merasa bodoh dengan sikapnya selama ini kepada Sirena.
"Pergilah! Mereka menunggumu." Ucap Sirena, dia menepuk bahu Elanus dua kali lalu kemudian beranjak pergi meninggalkan keterdiaman semua orang atas ucapannya.
"Ucapan gue keren juga, ya? Hahaha ..." Sirena berjalan riang menuju Manor Chysanthemum sambil tertawa penuh kesenangan.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Putri Sirena, apa yang sedang Putri lakukan di dapur?" Achilles Aindrea begitu terkejut saat melihat Sirena berada di dapur Manor siang hari begini.
Sirena yang sedang mencoba menyalakan api namun tidak bisa-bisa, akhirnya menoleh. Sirena memandang Aindrea jengah, "Aku sedang mencuci baju. Sudah tahu aku sedang apa, kenapa pula tanya!" Sirena mendengus.
Ditempatnya Aindrea menahan tawa melihat raut wajah Sirena yang nampak lucu. Dia berjalan mendekati Sirena yang sedari ingin menyalakan api namun tidak nyala-nyala.
"Biar hamba bantu, Putri," Aindrea mengambil alih dua batu yang dipegang Sirena untuk membuat api.
Tak tak
"Woahhh keren!" Sirena takjub saat melihat percikan api yang muncul. Aindrea menyalurkan percikan api itu ke jerami yang sudah dipersiapkan untuk proses pembakaran.
"Sebenarnya, Putri bisa menggunakan korek api, tak perlu memakai batu."
Mata Sirena melotot tajam pada Aindrea, "Kenapa kau tak bilang sedari tadi?"
Aindrea tertawa pelan, dia sudah tak bisa menahan tawanya saat melihat raut wajah Sirena yang semakin lucu saja di matanya.
"Kenapa Putri repot-repot memasak ke dapur? Dimana Agda dan Adelphie?"
"Mereka tengah ke pasar membeli bahan makanan yang sudah mulai habis." Sirena kini tengah mengangkat kuali yang lumayan besar.
"Putri ingin memasak apa? Apa ada yang bisa hamba bantu?" Aindrea menatap meja dapur yang sudah dipenuhi bahan mentah yang siap dimasak oleh Sirena. Ada daging ayam, ikan, bumbu yang sudah dihaluskan dalam cobek, ada sayur-sayuran hijau, serta beberapa bahan makanan yang baru dia lihat.
"Hamba bisa." Aindrea langsung melakukan pekerjaannya. Namun lelaki seusia Sirena itu terkejut saat Sirena merangkulnya.
"Aindrea, santai saja denganku. Jangan formal begitu, kupingku terasa panas kau berbicara 'hamba-hamba' terus!"
Aindrea menjauh dari Sirena dengan kaku, lalu menundukkan kepalanya, "H-hamba t-tidak berani, Putri,"
Sirena kembali merangkul Aindrea, "Hei kau dengar aku Aindrea, anggap saja aku adikmu atau temanmu juga boleh. Di Manor Chysanthemum ini, kalian semua bukanlah orang rendahan di mataku. Kalian adalah temanku." Sirena mengangkat dagu Aindrea, "Dan satu hal lagi, jangan tundukkan kepalamu saat berbicara padaku. Kuharap ke depannya, kau tak akan segan menegurku bila aku melakukan kesalahan."
Melihat senyum manis Sirena, perlahan kepala Aindrea mengangguk. Selanjutnya mereka memasak bersama sembari bercerita banyak hal.
Dua jam kemudian mereka sudah selesai memasak. Sirena menyuruh Aindrea untuk mencoba hasil masakan mereka.
Aindrea mencoba opor ayam buatan Sirena, "Ini enak, Sirena! Apa nama makanan ini?"
"Oh jelas enak! Namanya opor ayam. Setelah ini, kau pasti bisa membuatnya sendiri, Aindrea."
"Pasti anak-anak akan suka dengan masakanmu, Sirena." Aindrea kembali menyantap opor ayam dipiringnya. Tatapannya beralih pada tempe goreng, tangannya mengambil satu potong lalu memakannya. Mata Aindrea berbinar cerah, "Semua makanan buatanmu enak, Sirena!"
Sirena memasang wajah jumawa sembari bersidekap dada, "Oh jelas! Aku hebat, bukan?"
Aindrea tertawa sambil mengangguk, "Ya, kau memang hebat. Maaf selama ini aku diam-diam terlalu memandangmu remeh."
Sirena mendengus, namun senyum tulus muncul, "Tak apa. Semua orang punya penilaian tersendiri terhadap sikap dan sifat orang. Aku mengerti."
Aindrea mengacungkan jempolnya untuk Sirena. Setelahnya dia kembali makan dengan lahap. Kebetulan dia memang belum sarapan tadi pagi karena sibuk melatih legion di Manor ini.
Sirena menopang dagunya menatap Aindrea yang makan dengan lahap, 'Tokoh-tokoh yang nggak dijelasin dalam novel pun memiliki kehidupan tersendiri, seperti Aindrea.'
"Aindrea?" Panggil Sirena.
"Ya?" Aindrea meneguk air putih setelah menjawab panggilan Sirena.
"Menurutmu, bila kau tak sengaja masuk dalam dunia cerita pada akhir cerita, memasuki salah satu tubuh penjahat yang ada di dalam cerita, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sirena dengan pandangan menerawang.
Aindrea mengernyitkan keningnya, "Memangnya ada hal seperti itu?"
"Misalnya," sahut Sirena.
"Emm ... Bila diakhir cerita, mungkin aku menjalani peran sebagai diriku sendiri. Karena aku tak perlu memerankan sosok yang sudah tidak ada dalam cerita tersebut."
Sirena mengangguk-angguk, "Pendapatmu boleh juga."
'Berarti yang gue lakuin udah tepat. Gue juga udah ijin sama Sirena asli.'
"Oh iya, berapa jumlah legion yang berjaga di Manor?" Sirena sebenarnya penasaran dengan ini. Pasalnya dua hari lalu, legion yang berjaga sudah tidak sebanyak biasanya.
"Sebelumnya berjumlah seratus lima puluh. Tetapi Raja mengambil legion untuk tambahan penjagaan perjalanan Putri Nervilia menuju Kekaisaran Alhena kemarin malam. Legion yang tersisa di Manor ini hanya empat puluh lima."
Sirena tak habis pikir dengan pola pikir Raja Monachus, "Raja apaan tuh, bersikap adil sama anak sendiri aja nggak bisa, gimana adil sama ribuan rakyat coba?" Gumam Sirena kesal.
"Tapi kau tenang saja, Sirena. Diam-diam aku memberikan para legion yang diambil Raja hanya legion biasa. Sedangkan yang berjaga disini adalah legion istimewa."
Mata Sirena berbinar memandang Aindrea, "Kau yang terbaik, Aindrea! Sekarang panggil mereka bergiliran untuk makan siang. Aku tak ingin mereka kelaparan karena terlalu fokus menjaga Manor ini dan diriku."
Aindrea langsung berdiri tegap, "Siap laksanakan!" Aindrea berlari keluar dapur untuk memanggil para legion istimewa.
Melihat kepergian Aindrea, Sirena menyunggingkan senyum senang, "Sirena, lihat! Kita udah punya temen banyak sekarang. Semoga lo senang."
Sirena merasa puas akan kegiatan yang dia lakukan hari ini. Semoga hari-hari kedepannya akan terasa lebih mudah untuknya. Harapan yang selalu dia ucapkan dalam hati.
"Sirena, aku sudah memberitahu mereka seperti yang kau perintahkan. Sekarang mereka semua adalah temanmu." Ucapan Aindra menyadarkan Sirena dari lamunannya. Sirena memandang beberapa legion yang sedikit aneh menatapnya.
Sirena berdiri dari duduknya, "Kalian, duduklah dan makan siang dengan tenang."
"T-terima k-kasih, S-sirena ..." Ucap mereka gugup. Bagaimana tidak gugup bila seorang Putri menyuruh mereka memanggil nama saja tanpa embel-embel.
"Astaga! Kalian kaku sekali! Hahaha ... Santai saja ... Oh iya, Aindrea!" Sirena menarik tangan Aindrea keluar dari dapur. Mengajaknya duduk di salah satu gazebo yang tersedia di halaman depan Minor.
"Apa kau tahu siapa itu Pangeran Athanaxius Deimor?"
Mata Aindrea terbelalak kaget, "Mengapa kau menanyakan Pangeran Athanaxius? Kau tak berurusan dengannya kan?"
Sirena menggeleng saja, melihat raut wajah Aindrea yang nampak panik membuatnya semakin penasaran. Jadi dia tak jujur tentang dia yang sudah berurusan dengan Athanaxius berulang kali.
"Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth, Putra Kaisar Hylobates Muelleri Lyn Alioth. Pangeran dari Ailoth yang terkenal akan kutukan mata merahnya. Siapapun yang melihat tepat pada matanya, maka jiwa pembunuh dalam diri Pangeran Athanaxius akan muncul. Membunuh siapa saja yang menatapnya. Kudengar, sudah ratusan yang menjadi korbannya. Rata-rata adalah perempuan, tapi ada juga lelaki." Penjelasan Aindrea membuat Sirena kejang-kejang ditempat.
"YA AMPUN! UNTUNG GUE NGGAK DIBUNUH! BENER-BENER PSIKOPAT TUH ORANG!" pekik Sirena tanpa sadar.
Sirena benar-benar ceroboh! Bagaimana bisa dia berurusan dengan Pangeran psikopat semacam Athanaxius?
Pantas saja, aura yang dikeluarkan Athanaxius adalah aura gelap. Tidak ada aura pelangi dalam diri Athanaxius. Tapi ... Entah kenapa Sirena seketika ingin menjadi pelangi untuk Athanaxius.
"Ish, apaan sih! Nggak usah ngadi-ngadi!" Sirena menepuk keningnya saat tersadar dengan pemikiran bodohnya itu.
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik? Lanjut terus nggak nih? Ajak temen baca ceritaku dungs! Ramein komentarnya boleh?