
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Keputusan Devita untuk tetap tinggal di Osaka sementara waktu tidak serta merta membuat Falco tenang meskipun adiknya itu ditemani oleh Athanaxius.
Sebelum benar-benar meninggalkan Osaka, Falco menunjuk seorang wanita berusia empat puluhan untuk menjadi luster bagi Devita. Tidak hanya itu, dia juga memerintahkan Achilles Aindrea untuk tetap tinggal di Osaka bersama tujuh puluh legion istimewa.
"Kenapa harus sebanyak ini sih?" Devita menatap banyaknya legion yang berlutut di depannya dengan kesal.
"Karena kau sekarang adalah anggota keluarga Kerajaan. Wajar saja jika kakakmu memberikan banyak legion istimewa untuk menjagamu."
Devita mendengus, "Tapi tidak sebanyak ini juga! Sepuluh saja sudah cukup ditambah ada Bang Indra juga disini."
Achilles Aindrea begitu merindukan panggilan itu. Rasanya sudah lama sekali dia tak mendengar nama panggilan khusus yang diberikan oleh Devita untuknya.
"Sudah jangan cemberut lagi. Kau harus fokus pada kesembuhanmu disini." Aindrea terkekeh melihat wajah Devita yang masih kesal.
Raut wajah Devita yang lucu saat kesal membuat Aindrea tidak tahan untuk tak mengacak-acak rambut wanita itu. Tangannya yang hendak terulur dia urungkan saat melihat tatapan Athanaxius yang tajam dan penuh peringatan.
'Kau berani menyentuhnya lagi, maka kupatahkan tanganmu!'
Mungkin seperti itulah sinyal bahaya yang ditangkap Aindrea. Dia kemudian berbalik untuk menatap legion yang masih setia berlutut di halaman depan rumah ini dengan tatapan tegasnya.
"Dua puluh orang dari kalian bertugas melindungi rumah ini serta Tuan Putri Irena. Sisanya berpencarlah ke seluruh desa dan bantulah rakyat Osaka yang membutuhkan bantuan. Untuk penjagaan di pintu gerbang desa, aku ingin sepuluh orang yang berjaga. Mengerti?"
"KAMI MENGERTI, ACHILLES!" ucap para legion istimewa bersamaan.
"Kalau begitu selamat bekerja. Tetap waspada dan jangan lengah!"
"BAIK, ACHILLES!"
Para legion langsung berdiri dan memberikan hormat pada Aindrea kemudian pada Devita dan Athanaxius sebelum benar-benar membubarkan diri.
Aindrea kembali berhadapan dengan Athanaxius dan Devita. Sebenarnya ada satu pertanyaan yang ingin dia ajukan tetapi dia ragu.
"Ada apa?" Tanya Athanaxius yang bisa menebak raut wajah Aindrea.
Aindrea sedikit tersentak kaget karena Athanaxius sangat memperhatikannya ternyata.
"Aku ingin bertanya satu hal, apa kalian tahu bagaimana kondisi Adelphie? Setelah sadar dari pengaruh Ratu Amanita, aku mendengar kabar bahwa Adelphie datang kemari."
Athanaxius dan Devita saling pandang. Bagaimana menjelaskannya pada Aindrea tentang Adelphie yang sudah tiada?
"Tiga hari berturut-turut aku memimpikan Adelphie tengah tersenyum padaku dengan melambai-lambaikan tangannya seolah ingin pergi jauh." Aindrea menunduk untuk menyembunyikan perubahan wajahnya.
"Kita bicarakan di dalam saja, jangan disini." Ajak Athanaxius kemudian menuntun Devita berjalan pelan-pelan masuk ke dalam rumah.
Aindrea hanya bisa mengikuti mereka berdua dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Apa mungkin telah terjadi sesuatu pada kekasihnya itu? Aindrea harap Adelphie akan baik-baik saja
Sesampainya di ruang tamu, Devita mempersilakan Aindrea untuk duduk di kursi kemudian menyuruh luster barunya yaitu Hera untuk membuatkan minuman bagi mereka.
"Kau ingin jawaban langsung atau basa-basi dahulu?"
"Hm?" Baru saja Aindrea duduk, dia sudah diberi pilihan oleh Athanaxius.
Plak
Karena kesal dengan Athanaxius, Devita sengaja memukul lengan lelaki itu sedikit keras. Tidak bisakah Athanaxius membiarkan Aindrea menghirup nafas dalam-dalam dulu sebelum mendengar kabar darinya?
"Emm, hehe ... Apakah Bang Indra lapar?" Devita ingin berbasa-basi terlebih dahulu. Berbeda dengan Athanaxius yang justru mendengus keras.
"Katakan saja sekarang, Dev. Aku akan dengan lapang dada mendengar apapun tentangnya." Bohong Aindrea. Semoga apa yang didengarnya adalah kabar baik yang tak mengharuskannya untuk berlapang dada.
"Dia sudah tiada." Jujur Athanaxius.
Devita sesak napas ditempatnya karena ulah Athanaxius yang begitu jujur dan tak ingin berbasa-basi terlebih dulu. Devita melirik ke arah Aindrea yang sama terkejutnya.
Meskipun menyakitkan, tetapi kabar kematian seseorang bukanlah hal sepele yang harus didahului dengan berbasa-basi. Athanaxius tahu bagaimana rasa sakit itu, dia merasa tengah berkaca saat melihat Aindrea yang tertunduk menyembunyikan tangisnya.
"Relakan dia dan tetaplah hidup. Itulah sebabnya dia menemuimu dalam mimpi sampai tiga kali." Ujar Athanaxius.
"Lantas bagaimana nasib benda ini?" Suara serak Aindrea begitu menyanyat hati Devita. Lelaki itu menunjukkan sebuah kotak beludru kemudian membukanya. Sebuah cincin emas dengan tiga mata berlian yang berkilauan terlihat.
"Simpanlah itu baik-baik. Jangan kau berikan benda itu saat kau bertemu dengan orang yang berhasil mencuri hatimu nantinya." Kali ini Athanaxius lah yang mendominasi pembicaraan.
"Lalu ... Dimanakah kalian menempatkan Adelphie di peristirahatan terakhirnya? Aku ingin berkunjung meskipun hanya bertemu dengan gundukan tanah."
Athanaxius mengusap punggung tangan Devita hingga membuat wanita itu mendongak ke arah Athanaxius. Kode yang diberikan Athanaxius dipahami oleh Devita.
"Sebenarnya Irena yang tahu bagaimana kematian Adelphie terjadi. Aku diberitahu oleh Irena bahwa Adelphie berubah menjadi debu-debu emas yang terbang ke langit."
"Astaga ..." Aindrea meraup wajahnya frustasi. Kematian Adelphie tak wajar untuknya. Bagaimana manusia biasa seperti Adelphie bisa berubah menjadi debu emas setelah kematiannya?
"Adelphie adalah Sang Zifgrid yang selama ini bersembunyi. Aku pikir kau harus tahu fakta ini agar tak berpikir aneh-aneh tentangnya."
Athanaxius, Devita, dan Aindrea menoleh ke arah pintu dimana Sirakusa berdiri. Lelaki itu kemudian berjalan mendekat untuk bergabung dengan mereka bertiga.
"Adelphie menyerahkan batu permata kehidupannya untukku." Sirakusa kembali mengingat-ingat kejadian dimana Irena menolongnya, "Waktu itu aku sekarat, lalu Irena menolongku dengan batu permata yang harus kutelan. Setelah menelan batu permata itu, aku melihat semua hal yang dialami oleh Adelphie selama dia hidup. Aku juga tahu kalau Adelphie yang menyerahkan batu permata kehidupan secara sukarela."
Aindrea seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa sekarang. Bagaimana bisa dia tidak tahu fakta siapa sebenarnya Adelphie? Yang dia tahu, Adelphie adalah seorang Putri tetapi tidak untuk Sang Zifgrid.
"Aku tidak mengerti ..." Pikiran Aindrea kacau-balau.
Sirakusa tak tega melihat Aindrea yang kalut dalam kesedihannya. Maka dari itu dia memutuskan untuk membuat Aindrea tertidur.
Devita menyaksikan bagaimana rapuhnya seorang Aindrea dan semuanya karena cintanya. Cinta memang begitu hebat efeknya, Devita akui hal itu.
'Semoga cinta akan selalu ada untuk orang yang patah hati.'
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Hujan deras turun tepat setelah malam tiba, suasana yang begitu pas untuk mengistirahatkan tubuh setelah beraktivitas seharian.
"Malam ini begitu dingin, apa kau mau coklat panas?" Tanya Athanaxius setelah meletakkan Devita di atas ranjang.
Devita mengangguk, "Aku mau."
Athanaxius tersenyum, "Aku akan membuatnya sendiri untukmu, tunggulah sebentar."
Devita dengan cepat menahan tangan Athanaxius, "Jangan pergi!" Perasaan Devita tidak enak. Devita memandang sekeliling kamarnya yang temaram karena cahaya lilin tidak seterang lampu di Bumi.
"Ada apa?" Athanaxius refleks melihat sekeliling kamar Devita juga.
"Tetaplah disini bersamaku." Pinta Devita tanpa mengatakan kalau dirinya seperti sedang diawasi.
"Ada yang menganggangumu, hm?" Athanaxius menatap lamat-lamat ke arah Devita.
Devita mengangguk. Sepertinya wajahnya menjelaskan kegelisahan yang sedang dia rasakan tanpa harus menceritakan pada Athanaxius.
Athanaxius memejamkan matanya untuk mencari tahu kegelisahan Devita dengan mendeteksi kamar ini.
'Matilah kalian, pengacau!'
'MATILAH!'
Sayap putih Athanaxius keluar dan terbentang lebar hingga menghempas sesuatu yang hendak mendekati mereka berdua.
Brugh
Athanaxius lantas memeluk erat Devita ke dalam pelukannya. Sayap miliknya pun turut melingkupi tubuh mereka berdua.
"Ternyata belum benar-benar berakhir." Seringaian tipis muncul di bibir Athanaxius saat matanya berhasil menangkap sosok gelap di sudut atas kamar ini.
"Apa yang belum benar-benar berakhir, Athan?" Devita tidak tahu apa-apa karena dia berada di dalam pelukan lelaki ini. Athanaxius tak membiarkannya melihat apa yang terjadi sekarang di dalam kamarnya.
"Aku akan melindungimu, kau tidak perlu cemas." Athanaxius mendaratkan kecupan singkat di kepala Devita sebelum melakukan penyerangan untuk sosok gelap itu.
Sring
Serangan sihir datang bertubi-tubi dari berbagai arah selayaknya hujan yang sedang turun malam ini. Serangan sihir itu adalah sihir hitam yang mana datang dari sosok misterius.
"Siapa yang menyerang kita? Dan mengapa tidak ada orang yang datang membantu kita, Athan?" Tanya Sirena panik karena tubuhnya terguncang akibat serangan sihir hitam. Beruntung dia dan Athanaxius terlindungi oleh sayap putih milik Athanaxius.
"Dia yang membunuh Irena, namanya Jaguisa."
"Siapa Jaguisa?" Devita seperti pernah mendengar nama itu.
"Tangan kanan Ratu Amanita, seorang Raja dari Kerajaan Shoemaker."
Devita ingat sekarang. Saat berkunjung ke istana Kekaisaran Alphard, Kaisar Yerikho pernah menyinggung nama itu karena curiga adiknya menyembah iblis dan kebenaran itu terungkap sekarang.
"Apakah aku harus mengucapkan mantra pemanggil alam lagi?"
"Jangan melakukan apapun! Cukup tetap berada di dekatku, di pelukanku, maka kau sudah termasuk membantuku." Ucap Athanaxius dengan tatapan yang serius.
"Tapi aku tak ingin membebanimu terus, Athan ..."
Serangan dari Jaguisa semakin gencar hingga Athanaxius sesekali harus mengepakkan sayapnya untuk menghempas sihir hitam yang tiada henti menyerang.
"Kau belum pulih sepenuhnya, aku tidak bisa membiarkanmu terluka lagi."
DUARR
Suara ledakan terdengar begitu keras yang berasal dari serangan balik Athanaxius hingga membuat Jaguisa terpental.
Athanaxius mengepakkan kedua sayapnya hingga membuat dirinya dan Devita terbang tak terlalu tinggi menuju Jaguisa yang terbungkus asap hitam.
Devita yang berada di pelukan Athanaxius hanya bisa melihat apa yang akan dilakukan Athanaxius terhadap lelaki ini.
"Hanya seperti ini kekuatanmu yang bahkan membuat wajahmu menghilang?" Athanaxius menatap remeh Jaguisa.
Ini pertama kalinya bagi Devita melihat wajah seseorang yang kosong selayaknya ruang hampa. Apakah para penyembah iblis akan menjadi seperti Jaguisa?
"Para penyembah iblis rela melakukan apapun demi menukar keinginan mereka, termasuk kehilangan wajahnya sekalipun." jelas Athanaxius seolah tahu apa yang dipikirkan Devita.
Kemudian Athanaxius mengeluarkan pedang Roseworld milik Devita yang selalu dia bawa kemana-mana.
Saat pedang Roseworld dikeluarkan dari sarung, pedang itu memancarkan cahaya merah seolah-olah aktif dan siap membunuh. Perlu diketahui, tidak semua orang bisa menggunakan pedang Roseworld. Pedang Roseworld akan terasa ringan ketika dipegang oleh orang yang dipilih pedang itu sendiri.
"Pedang Roseworld ada untuk menghancurkan kekuatan iblis ." Athanaxius menebas pedangnya ke arah Jaguisa.
Jleb
Pedang Roseworld menusuk jantung Jaguisa begitu dalam hingga menembus ke punggung Jaguisa.
"ARGHHHH!!! PANASS!!"
Erangan kesakitan Jaguisa yang menggema sangatlah memekakkan telinga Devita. Karena tidak sanggup, Devita bahkan menutup telinganya dengan kedua tangannya sembari memejamkan mata.
Athanaxius menatap puas ke arah Jaguisa yang sekarat, "Pergilah dengan damai ke neraka, Jaguisa." Dengan mudahnya Athanaxius menarik kembali pedang Roseworld dari tubuh Jaguisa.
"Ugh ... " Jaguisa melenguh pelan akibat pedang itu. Dia lantas mendongak untuk melihat Athanaxius.
"Se-seka-lipun a-aku mati, k-ketahuilah sialan! P-para penyembah i-iblis s-sepertiku tidak akan per-nah musnah h-hingga nan-"
Ucapan Jaguisa terputus seiring dengan kematiannya yang berubah menjadi debu hitam kemudian hilang tak bersisa.
"Semoga kedamaian dan ketenangan selalu mengiringi setiap hidup manusia ..."
Devita membuka matanya saat mendengar ucapan Athanaxius. Devita terkejut saat sosok Jaguisa sudah tidak ada.
"Dimana Jaguisa?"
"Neraka."
Devita mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat wajah Athanaxius yang terlihat santai ketika membalas pertanyaannya. Di wajah Athanaxius hanya ada ketenangan seolah-olah pertarungannya dengan Jaguisa tidak pernah terjadi.
"Apa semuanya sudah berakhir? Apa musuh kita benar-benar sudah tiada?"
Athanaxius tertawa kecil sebelum menyentil kening Devita pelan, "Musuh akan terus ada selama kita hidup, Amore. Bisa dikatakan, tidak semuanya benar-benar berakhir. Kejahatan dan kebaikan lahir bersamaan di setiap detiknya, kita tidak akan pernah bisa mengiranya di masa depan."
Devita terpukau dengan kata-kata bijak yang keluar dari mulut Athanaxius. Devita kemudian memeluk Athanaxius, "Kau benar, kita tidak akan pernah bisa mengira hal apa yang terjadi di masa depan kelak."
"Tetapi ada satu hal yang bisa aku kira di masa depan."
"Apa itu?"
Bukannya menjawab, Athanaxius justru diam dan membuat Devita lagi-lagi mendongak untuk melihat Athanaxius.
"Kau." Athanaxius menyunggingkan senyum terbaiknya. Lelaki itu kemudian menundukkan wajahnya ke arah telinga Devita lalu berbisik, "You is my future."
Devita kehabisan kata-kata. Siapa yang mengajari Athanaxius berbicara semanis itu? Sudah berapa kali Athanaxius membuatnya diam dan malu secara bersamaan?
Meskipun demikian, Devita berharap ke depannya dia akan terus bersama dengan orang yang mencintainya selalu.
...•───────•°•❀•°•───────•...
...Terimakasih sudah membaca....