The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 97: Surat Perintah



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


"Habis darimana?"


Langkah Athanaxius terhenti ketika suara Devita menyapa telinganya. Athanaxius tersenyum melihat Devita yang berjalan pelan ke arahnya.


"Mencari angin sebentar," Athanaxius mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh Devita, "lustermu dimana? Kenapa kau berlatih tanpa pengawasan?"


"Dia sedang memasak makan siang untuk para legion dan akulah yang menyuruhnya. Oh iya, baru saja elang dari Kekaisaran Alioth datang mengantarkan surat."


Athanaxius menerima surat yang diberikan Devita lalu membukanya dan membaca dengan seksama.


...SURAT PERINTAH ...


Atas waktu dan tempat yang sudah ditentukan, diharuskan kepada Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth turut hadir dalam perayaan pengangkatan Putra Mahkota menjadi Kaisar untuk Kekaisaran Alioth.


Karena demi kepentingan bersama, Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth juga diharuskan untuk memperkenalkan calon istrinya yaitu Putri Irena Harmony Asthropel kepada seluruh rakyat yang hadir di perayaan.


Harap tidak menolak dan segeralah ke istana. Waktu adalah emas!


^^^Tertanda^^^


^^^Kaisar Baru, Hydrasa Meika Lyn Alioth.^^^


"Ck!"


"Apa isinya?" Devita menatap ingin tahu pada Athanaxius yang justru berdecak kesal setelah membaca surat dari Kekaisaran.


"Bagaimana kondisimu? Apa sudah merasa lebih baik?" Athanaxius justru balik bertanya dengan tangannya yang mengusap-usap rambut halus Devita.


Devita menatap Athanaxius bingung tapi tak ayal dia menjawab pertanyaan lelaki itu, "Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Aku sudah bisa berjalan meskipun belum bisa berlari."


"Tidak perlu berlari, aku akan berjalan sejajar denganmu selamanya." Ucapan manis Athanaxius diakhiri dengan kecupan singkat di pipi Devita.


"Aishh!" Devita memukul lengan Athanaxius pelan, "Aku bertanya serius. Apa isi suratnya? Kenapa kau terlihat kesal?"


Dengan malas Athanaxius menjelaskan, "Kita diharuskan datang ke perayaan penobatan Hydrasa. Haruskah kita datang?"


Devita mengangguk antusias. Dia sebenarnya suka melihat suasana pesta. Melihat ada banyak wanita yang memakai jenis gaun-gaun cantik lalu para pria tampan dan beberapa kalimat mengagungkan diri membuat Devita suka.


Namun ingatan saat pesta pernikahan Nervilia terlintas. Dulu dia justru menjadi pengiring lagu dansa untuk Athanaxius dan Kayanaka di pesta pernikahan itu.


Devita lantas memicingkan matanya, "Aku ingin datang dan bawa aku kesana! Aku ingin lihat apakah aku akan menjadi pengiring lagu dansa lagi untuk pria dan wanita yang sudah lama tak bertemu atau tidak."


Athanaxius menahan senyumnya saat tahu Devita ternyata sedang menyindirnya. Dia juga ingat betul saat itu. Dulu mungkin dia terbawa suasana dan bimbang pada perasaannya sendiri. Tetapi setelah tahu bagaimana perasaannya, Athanaxius ingin memutar waktu.


Bila waktu bisa diputar, maka Athanaxius akan menolak ajakan dansa Kayanaka kemudian menghampiri Devita dan mengajaknya berdansa.


Athanaxius ingin sekali berdansa dengan seorang perempuan yang sangat dia cintai dan ingin disaksikan oleh banyak orang. Karena menjadi wanita yang dicintai olehnya sangatlah tidak mudah.


Andai waktu bisa diputar, maka dia akan langsung membunuh Kayanaka saat itu juga agar tidak membuat Devita menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan.


Cukup waktu itu saja Athanaxius membuat Devita kecewa. Kedepannya dia akan berusaha keras untuk itu.


Athanaxius mengacak-acak rambut Devita gemas, "Maka berlatihlah! Aku akan menunggumu menjadi pengiring dansaku lagi."


"Sialan!" Devita memukul keras lengan Athanaxius hingga berbunyi cukup nyaring. Berbeda dengan pria itu yang justru tertawa setelah mendapat pukulan dari Devita.


"Haruskah aku mengajarimu cara menjadi perempuan yang lemah lembut, Putri Irena Harmoni?" Athanaxius menaikkan dagu Devita dengan jari telunjuknya.


"Ih! Tidak perlu!" Devita menyingkirkan jari telunjuk Athanaxius dari dagunya kemudian berbalik dan hendak pergi ke dapur.


Melihat Devita yang akan pergi, Athanaxius lantas menahan lengan Devita kemudian dengan cepat mengangkat Devita dalam gendongannya.


"ATHAAAN!!" Teriak Devita yang terkejut karena tubuhnya diangkat tiba-tiba oleh pria itu.


Athanaxius tertawa pelan dan memilih terus berjalan keluar dari rumah dengan diiringi omelan dari Devita.


"Kau ingin membawaku kemana? Aku harus membantu Hera memasak, Athan!!"


"Tidak perlu membantunya."


"Athanaxius! Jangan main-main, ya!"


"Aku tidak main-main, aku ingin membawamu ke suatu tempat yang mungkin akan kau sukai."


Devita tak lagi membalas karena terlalu malu saat tatapan rakyat Osaka berpusat kepada mereka berdua. Devita hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Athanaxius.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Tak disangka Athanaxius membawanya ke pusat kota Kerajaan Willamette dan mengajaknya masuk ke sebuah butik dimana ada banyak gaun-gaun yang memanjakan mata para wanita.


Athanaxius membawanya ke Willamette dengan menunggang kuda hitam miliknya. Mereka berdua menghabiskan waktu setengah jam untuk sampai di pusat kota Kerajaan Willamette.


Lalu keduanya tanpa sengaja bertemu dengan Sirena dan Ambrogio yang tengah berada dibutik itu.


Sirena tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan saat bertemu dengan Devita. Sirena lantas mengajak Devita berkeliling butik dan meninggalkan dua pria yang saling melempar tatapan menilai satu sama lain.


"Bajumu terlihat seperti saudagar kaya, apa kau mencurinya, Ambrogio?"


Ambrogio menaikkan sebelah alisnya dan berdecak kesal akan ucapan Athanaxius, "Kau pikir aku begitu pantas menjadi seorang pencuri huh?"


Athanaxius bersidekap dada lalu kepalanya mengangguk sebagai jawaban, "Sangat pantas."


Plak


"Sesekali kepalamu memang legal untuk dipukul." Ambrogio tertawa karena bisa membuat Athanaxius kesal.


Dengan wajah tertekuk Athanaxius mengusap kepalanya yang sedikit berdenyut akibat pukulan dari Ambrogio yang begitu keras. Keduanya bahkan menjadi pusat perhatian para pelayan butik karena ulah Ambrogio.


"Aku mendapatkan baju ini karena hasil jerih payahku, tahu! Aku pergi ke Kekaisaran Alphard dan membantu Kaisar Yerikho menyelesaikan permasalahan antar Kerajaan disana. Kau tahu apa gelarku sekarang?"


Dengan malas Athanaxius menggeleng menanggapi Ambrogio.


"Aku menjadi penasihat Kekaisaran Alphard! Harap Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth yang terhormat tidak iri dengan kesuksesanku." Ambrogio membenarkan kerah kemeja biru lautnya dengan senyum mengembang lebar.


"Sayang sekali aku tidak peduli pada kesuksesan orang. Tetapi, aku ikut senang karena kau memiliki kemauan untuk memantaskan diri bersanding dengan seorang Putri." Athanaxius memberikan jempol kepada Ambrogio, "Kau keren."


Wajah Ambrogio bersemu karena malu mendapat pujian dari Athanaxius yang notabenenya tidak pernah mengatakan hal seperti itu kecuali pada Devita.


"Iya." Tatapan Athanaxius teralih pada Devita yang masih sibuk memilih gaun kemudian kembali menatap Ambrogio, "Jarak menuju Alioth lebih cepat ditempuh dari sini daripada Osaka." lanjutnya.


"Aku mengira kau tidak akan datang. Bagaimanapun juga mereka pernah membuatmu tidak memiliki rumah untuk pulang."


"Kenapa kau membuatku mengingat luka lamaku?!" Athanaxius tersenyum kecut. Yang diucapkan oleh Ambrogio memang benar, Alioth adalah rumah yang menyakitkan untuknya.


"Maafkan aku," Ambrogio menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena tidak bisa mengontrol ucapannya.


Kedua pria itu lantas melirik ke arah Sirena dan Devita yang berjalan menuju arah mereka berada dengan tangan yang masing-masing membawa gaun.


Sirena lebih dulu memperlihatkan sebuah gaun mewah berwarna biru laut yang mana dibagian dada dihiasi oleh mutiara penuh lalu dibagian pinggang ke bawah yang mengembang dihiasi dengan serbuk kelap kelip.


"Menurutmu gaun ini bagus atau tidak?"


"Menurutku itu bagus. Apa kau sudah mencobanya?"


Sirena menggeleng, "Aku belum mencobanya. Aku hanya berniat menunjukkannya padamu untuk meminta pendapatmu."


"Gaun itu cocok untukmu." Athanaxius ikut memberi pendapat yang semakin membuat Sirena tersenyum lebar.


"Aih, terima kasih, Pangeran Athanaxius yang tampan." Sirena mengedipkan sebelah matanya, kemudian menyeret tangan Ambrogio untuk ikut dengannya.


Setelah kepergian Sirena dan Ambrogio barulah Devita menunjukkan gaun yang dia pilih pada Athanaxius.


"Aku belum mencobanya, tetapi aku jatuh cinta dengan gaun ini sebelum benar-benar mencocokkannya dengan tubuhku."


Athanaxius memberikan pandangan menilai pada gaun berwarna peach yang diperlihatkan Devita. Dibagian lengan atas, pinggang serta pergelangan tangan gaun dihias dengan bunga yang tidak terlalu banyak.


"Kau pasti akan terlihat imut saat memakainya. Cobalah terlebih dahulu, aku akan menunggumu, jangan terburu-buru karena kita masih memiliki banyak waktu."


Devita mengangguk semangat. Dia lantas berbalik dan pergi menuju ruang ganti. Karena Athanaxius sudah mengatakan demikian, Devita jadi tidak sungkan dalam membuat Athanaxius menunggu.


Sembari menunggu Devita mencoba gaunnya, Athanaxius memilih melihat-lihat gaun yang ada di butik.


"Apa kau sudah dengar bahwa Putri Sirena sudah membatalkan lamarannya pada Pangeran Kekaisaran Alioth yang katanya seram itu?"


Telinga Athanaxius yang tajam mendengar pembicaraan tiga orang gadis di sebelah kanannya.


"Tentu saja. Berita itu masih menjadi trending topik teratas, ditambah lagi ternyata Putri Sirena memiliki saudari kembar! Mendiang Raja Monachus benar-benar pandai menyembunyikan rahasia ya ..."


"Tapi yang lebih membuatku penasaran, kenapa Putri Sirena membatalkan lamarannya dengan Pangeran dari Kekaisaran Alioth?"


"Mungkin Putri Sirena takut mati karena kutukan Pangeran itu?" Gadis berambut hitam berbicara dengan jari telunjuk di dagu, "Aku pernah mendengar cerita tentang kutukan mata merah yang dimiliki Pangeran itu. Orang yang menatap mata Pangeran akan mati terbunuh!"


Gadis berambut sebahu terurai mendengus, "Kau tidak tahu nama Pangeran itu, Leah? Mungkin ceritamu akan lebih menyenangkan bila kau tahu namanya."


"Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth, itu namanya."


Ketiga gadis itu sontak menoleh bersama setelah mendengar dan akhirnya tahu nama Pangeran yang sedang mereka bicarakan.


Devita menatap ketiga gadis itu dengan mata tajamnya, "Apa kalian tidak tahu hukuman apa yang akan menimpa kalian bila membicarakan keluarga Kerajaan?"


Ketiga gadis itu ternganga lebar. Mereka sulit untuk berbicara karena syok melihat wajah Devita yang begitu mirip dengan Sirena yang mereka kenal. Hanya saja rambut Devita berwarna ungu sedangkan Sirena berwarna pirang keemasan.


"Oh, ada apakah ini?" Kehadiran Sirena membuat ketiga gadis itu semakin syok dan langsung bersujud di hadapan Devita dan Sirena.


"Mereka membicarakan kita juga Athanaxius." adu Devita pada Sirena, "Hey kalian! Kenapa kalian bersujud? Berdirilah!"


Ketiga gadis itu masih bersujud tidak berani berdiri.


"Kami benar-benar melewati batas, tolong maafkan kami, Tuan Putri ..."


"Eihh, kalian tidak dengar saudariku menyuruh apa? Cepat berdiri!"


Sirena dan Devita lantas terkikik pelan lalu sedetik kemudian kembali merubah raut wajah mereka menjadi galak lagi.


Ketiga gadis itu berdiri dengan kepala tertunduk, tidak lupa tangan mereka saling menyenggol entah untuk apa.


"Angkat kepala kalian, apa tidak lelah menunduk terus?" Devita kembali membuka suara.


Setelah melihat ketiga gadis itu mendongak dan melihat ke arahnya juga Sirena, Devita menyunggingkan senyum ramahnya, "Perkenalkan, aku Irena Harmony Asthropel, saudari kembar Sirena. Lalu, coba kalian lihat pria yang berdiri tidak jauh dari kalian itu," Devita menunjuk ke arah Athanaxius berdiri sambil menatapnya dengan datar.


Ketiga gadis itu melakukan apa yang disuruh oleh Devita untuk melihat ke arah Athanaxius.


"Dia adalah orang yang kalian bicarakan, Pangeran dari Kekaisaran Alioth yaitu Athanaxius Deimor Lyn Alioth." lanjut Devita, "Apa kalian merasa terancam dan seperti ingin dibunuh saat melihat matanya?"


Ketiga gadis itu kembali menundukkan kepalanya merasa bersalah ke arah Athanaxius. Salah satu gadis berambut hitam terurai maju lebih depan, "Kami meminta maaf karena sudah berbicara yang tidak-tidak kepada Pangeran Athanaxius. Tolong maafkan kami, Pangeran ..."


"Hei! Bicaralah, bodoh! Jangan hanya menampilkan wajah datar seperti itu!" Sirena menjadi geregetan sendiri karena wajah Athanaxius.


Athanaxius justru berjalan mendekati mereka, tepatnya mendekati Devita dan merangkul pinggang Devita dengan mesra. Tatapan Athanaxius beralih ke arah tiga gadis itu, "Aku memaafkan kalian. Tolong segeralah menyingkir dari tempat ini sebelum aku berubah pikiran."


Ketiga gadis itu langsung lari keluar butik tanpa memberikan salam hormat kepada keluarga Kerajaan seperti yang sudah mereka pelajari.


Senyum Athanaxius mengembang karena merasa kejadian tadi begitu menghiburnya. Pria itu lantas membuat Devita berposisi di depannya dan melihat betapa cantiknya wanitanya memakai gaun yang tadi.



"Kau cantik sekali." Puji Athanaxius dengan tatapan matanya yang tidak bisa beralih selain pada Devita.


"Huh! Aku seperti hantu saja, tidak dianggap disini." Sirena lantas kembali pergi menghampiri Ambrogio yang menyaksikan kejadian tadi dengan wajah santai di dekat ruang ganti satu.


"Kau tidak berbohong kan?"


"Kau bisa mempercayaiku. Kalau kubilang kau cantik, itu artinya kau memang cantik." Athanaxius mengusap kepala Devita dan terkekeh pelan saat melihat wajah Devita yang bersemu.


"Te-terima kasih," ucap Devita pelan. Devita lalu pergi ke ruang ganti tiga untuk berganti baju dengan gaun yang dia kenakan sewaktu datang kemari.


Setelah kepergian wanitanya, Athanaxius menghela nafas panjang, "Apa semua akan baik-baik saja?" Kepalanya tertunduk untuk menatap lantai.


Surat perintah yang dikirim Hydrasa begitu membebaninya. Athanaxius merasa belum siap untuk kembali ke rumah yang tidak pernah menginginkannya untuk tinggal. Ditambah lagi dengan rakyat Alioth yang menganggapnya monster tentu masih membuatnya gusar.


Sebuah genggaman tangan hangat menyadarkan Athanaxius. Dia kembali melihat ulasan senyum yang diperlihatkan Devita untuknya.


"Seperti yang kau katakan, aku juga akan berjalan beriringan bersamamu selamanya. Semangat sayang!"


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.