
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Istana Kekaisaran Alioth.
"CEPAT SAMPAIKAN PADA KAISAR HYLOBATES DENGAN SEGERA! SAMPAIKAN PADANYA BAHWA PANGERAN ATHANAXIUS TIDAK ADA DI DALAM MANOR ASPHODEL! PANGERAN ATHANAXIUS BERHASIL KELUAR!" Seorang legion berseru kencang kepada legion lain dengan nada panik. **( Manor \= Rumah pengasingan Pangeran/Putri )
"BERGEGASLAH! TAK ADA BANYAK WAKTU!"
Legion itu berlari sekuat tenaga menuju ruang singgasana istana kekaisaran Alioth, dimana Kaisar Hylobates berada.
Sesampainya di ruang singgasana, legion itu berlutut dihadapan Kaisar sembari menunduk.
"Semoga berkah Vulcan selalu menyertai Yang Mulia Kaisar Hylobates Muelleri Lyn Alioth ..."
Kaisar Hylobates menatap bingung kedatangan legion berseragam hitam yang ada di depannya.
"Katakanlah tujuanmu menemuiku," ucap Kaisar Hylobates.
"Mohon ampun, Yang Mulia Kaisar Hylobates, kedatangan saya mengganggu pembicaraan penting Yang Mulia. Hamba ingin menyampaikan bahwa Pangeran Athanaxius berhasil keluar dari Manor Asphodel. Beberapa legion penjaga pintu ditemukan sudah tak bernyawa." Legion itu menjelaskan dengan kepala yang menunduk.
"APA? BAGAIMANA BISA?" Kaisar Hylobates refleks berdiri dari singgasananya. Wajahnya berkerut risau.
"Mohon maaf, Yang Mulia Kaisar Hylobates, bukankah Manor Asphodel sudah diberi sihir penghalang agar Pangeran Athanaxius tidak bisa keluar?" Perdana menteri kekaisaran Alioth itu angkat bicara.
Kaisar Hylobates mengangguk, "Kau benar. Manor Asphodel sudah diberi sihir penghalang oleh Efarish Bardas Alfonso. Ini yang membuatku bingung, seharusnya anak itu tak bisa keluar. Aku khawatir anak itu berulah lagi."
"Selain diberi sihir penghalang, bukankah penjagaan di Manor Asphodel sangat ketat dengan para legion yang merupakan anak asuh dari Efarish Bardas Alfonso? Lantas mengapa Athanaxius berhasil keluar?"
Kaisar menatap anak pertamanya sekaligus calon Putra Mahkota Kekaisaran Alioth, yaitu Pangeran Hydrasa Meika Lyn Alioth dengan sorot mata bingung, kemudian matanya beralih kembali menatap legion yang masih setia berlutut, "Jelaskan! Bagaimana bisa anak itu berhasil keluar?"
"Mohon ampun, Yang Mulia ... Sebelumnya, salah satu legion menyadari bahwa sihir pelindung Manor Asphodel sudah mulai memudar sekitar satu Minggu yang lalu. Kami hendak melapor, namun urung kala melihat Avior kami ditemukan tewas di dalam Manor Asphodel. Puncaknya, malam ini, kami para legion, melihat sendiri Pangeran Athanaxius mengeluarkan sayap hitam, kemudian terbang keluar istana." Semua orang yang berada di ruang singgsana tercengang mendengar penjelasan dari legion itu. **( Avior \= Jenderal )
"APA? SAYAP HITAM?" Kaisar Hylobates terkejut, "HYDRASA! SEGERA PANGGIL EFARISH BARDAS KEMARI!"
Pangeran Hydrasa pun segera pergi setelah mendapatkan titah dari sang ayahanda.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Rombongan dari Kerajaan Willamette itu beristirahat setelah setengah hari melakukan perjalanan. Mereka beristirahat di hutan Lafayetii, hutan perbatasan antara wilayah kekaisaran Alioth dan Alhena.
Tap tap
Suara langkah kaki Sirena menuruni kereta kuda terdengar begitu keras hingga membuat semua orang menatap ke arahnya.
'Gue kebelet pipis, anjir!'
Sirena sendiri sedang mengamati sekitar sambil memegang kedua sisi gaun panjangnya.
Elanus yang selesai mengikat kudanya segera mendekati Sirena yang wajahnya nampak tengah menahan sesuatu.
"Kau butuh sesuatu?"
Sirena menoleh dan menatap Elanus lalu mengangguk cepat, "Ya, dan aku sudah tidak tahan! Adakah sungai di sekitar sini? Aku ingin buang air ..."
"Arah utara. Di sana ada sungai." Elanus menunjuk arah utara hutan yang nampak menyeramkan, "Kau cukup berjalan lurus saja untuk menuju sungai."
Sirena menelan ludahnya karena merasa takut. Ini pertama kalinya dia berada di hutan, tentu hal itu membuat adrenlinnya terpacu.
"Terimakasih sudah memberitahuku. Aku pergi dulu ..." Sirena bersiap untuk pergi, namun tangannya sudah ditahan oleh Elanus.
"Apa kau mau kutemani?" Tawar Elanus.
Sirena menggeleng, "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Sudah, ya? Aku harus cepat! Aku sudah tidak tahan!" Dan tanpa menunggu jawaban dari Elanus, Sirena sudah berlari tunggang langgang menuju arah yang ditunjukkan Elanus.
Tak butuh waktu lama, Sirena menemukan sungai yang dimaksud Elanus. Sirena segera menuntaskan keperluannya tanpa berpikiran bahwa bisa saja ada yang mengintipnya.
Selesai dengan keperluannya, Sirena membasuh wajahnya dengan air sungai yang menyegarkan.
Byur
"Ahh ... Segarnya ..."
Sirena berdiri setelah lama berjongkok untuk membasuh wajahnya. Dia memperhatikan sekeliling sungai yang nampak sunyi dan menyeramkan.
"Namanya juga hutan, ya pasti sunyi, kalau pasar baru rame." Sirena terkekeh dengan monolognya sendiri.
"Mending balik deh, ngeri juga lama-lama disini," Sirena pun berbalik dan hendak melangkah pergi.
Srek srek srek
Langkah kakinya terhenti kala mendengar suara kasak-kusuk dari seberang sungai. Sontak Sirena berbalik cepat untuk melihat.
"Siapa itu?"
Srek srek srek
"Shh ... T-tolong ..."
"ANJIR! SUARA APAAN TUH?" Sirena semakin merinding, namun rasa penasarannya juga membumbung tinggi.
Sirena mengangkat kedua sisi gaunnya tinggi-tinggi. Dia memutuskan untuk mencari tahu suara apa itu. Dengan langkah hati-hati, dia mulai menyebrangi sungai yang tak terlalu lebar juga tak terlalu dalam.
"H-hentikan! H-hen- ARGHH!!"
Sirena yang sudah berhasil menyebrangi sungai sontak terhenti kala mendengar teriakan itu. Tapi sudah kepalang tanggung, Sirena memutuskan untuk lanjut mencari tahu.
Sirena semakin dekat dengan suara itu. Di depannya kini sudah ada semak-semak yang rimbun, di samping semak-semak terdapat pohon besar. Dan Sirena bersembunyi dibalik pohon besar itu.
"A-am-pun ... H-hentikan aku mohon hiks ..."
Sirena membelalakkan matanya kala melihat hal menyeramkan di depannya. Sirena begitu terkejut, dia menyaksikan sendiri seorang psikopat tengah menjalankan aksinya.
"Hentikan, hm?"
Suara berat itu menyentak Sirena. Suara berat lelaki itu membuatnya terpaku, dan hal itu membuat Sirena sadar bahwa lelaki di depannya memang berbahaya.
Gadis itu sudah tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah. Dari penampilannya, dia seperti gadis desa yang mungkin tengah mencari kayu bakar.
"Sayang sekali ... Bukankah kau yang awalnya mengajakku bersenang-senang? Bukankah kau yang awalnya mengajakku bermain?" Lelaki itu mengusap wajah gadis itu dengan kukunya yang panjang juga hitam, "Lantas mengapa ingin aku menghentikannya, hm? Apa permainanku membosankan?"
Krek
"ARGHH!! DASAR KAU ORANG HILANG AKAL! SIALAN!!" Jerit gadis itu kala merasakan tangannya dipatahkan.
Lelaki itu berdiri, netra merahnya menatap korbannya sambil menyeringai, "Ya, aku memang hilang akal, anggap saja begitu. Tidakkah kau mengetahui rumor seorang Athanaxius Deimor Lyn Alioth?"
Byar
...
(anggap begitu, ya:v)...
Sayap hitam membentang lebar, muncul begitu saja dari punggung lelaki itu. Gadis itu membelalakkan matanya, "P-pangeran ..."
Sedangkan Sirena, dia membeku ditempatnya. 'GILA! SAYAPNYA KEREN BANGET!' Berbeda dengan hatinya yang berteriak kagum.
"Sudah tahu siapa aku?" Lelaki itu menunduk, menatap gadis itu yang sudah takut menjadi semakin ketakutan, "****** ... Tidak pantas mendapatkan diriku. Jadi ... Bagaimana kalau kau ku kirim saja bertemu para Dewa?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya, "J-jangan hiks ... Aku mohon ..."
"Enyahlah!"
Jleb
Sirena menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan mata membelalak. Sirena melihat sendiri bagaimana lelaki itu membunuh gadis itu dengan kukunya yang menembus jantung gadis itu.
Lelaki itu, Athanaxius Deimor Lyn Alioth, Pangeran dari kekaisaran Alioth, anak Kaisar Hylobates dengan Selir Agung Airith Mayzetta.
"He's sweet but pshycho ..." gumam Sirena, "Eh apaan sih! Gue harus cepet pergi sebelum ketahuan sama psikopat ganteng itu!" Sirena pun berbalik dengan langkah hati-hati.
Sirena tak berani menoleh ke belakang, dia takut ketahuan oleh psikopat ganteng itu.
"Sayangnya, kau sudah ketahuan."
Deg.
Sirena yang hendak menyebrang sungai seketika terhenti kala mendengar suara berat itu. Dengan kepala kaku, dia menoleh ke belakang, namun tak mendapati siapapun. Tapi di kejauhan, dia dapat melihat sosok psikopat itu tengah menatapnya datar hingga perlahan-lahan menyeringai.
Melihat itu, Sirena membulatkan matanya, "HUAHHHH PSIKOPAT!!" Sirena langsung berlari menyebrangi sungai hingga membuatnya terjatuh berkali-kali dan berakhir basah kuyup.
Lelaki itu, keluar dari tempatnya setelah melihat kepergian seorang wanita yang melihatnya tengah bermain. Seringai tipis terbit di bibir merahnya, "Larilah ... Suatu hari, kita akan bertemu."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Sirena sudah tidak mempedulikan keadaannya yang kacau. Yang dia pedulikan hanyalah nyawanya. Dia takut psikopat itu mengejarnya lalu membunuhnya.
"LONTONG! EH- TOLONG!!"
Sirena terengah-engah, dia memutuskan untuk berhenti sejenak. Ternyata jarak sungai dari tempat beristirahat lumayan jauh. Dia menyesal tidak mengiyakan saja tawaran Elanus yang ingin menemaninya.
Sirena melihat ke belakang lagi. Tidak ada tanda-tanda psikopat ganteng itu akan mengejarnya.
"Sumpah! Dunia Sirena nyeremin banget anjir! Lama-lama gue nyerah juga ada di dunia ini,"
Srek srek
"ARGHHH SETAN!!!"
Sirena refleks berlari kembali sembari berteriak kuat saking kagetnya kala mendengar kasak-kusuk yang dia tak tahu apa.
Jarak Sirena dari tempat beristirahat semakin dekat, matanya bisa melihat Elanus beserta Falco yang tengah duduk mengitari api unggun.
"KAK ELANUS!! TOLONG!!! HUAHHH ADA SETAN!!!"
Ditempatnya, Elanus dan Falco, tak hanya dua Pangeran itu, tapi semua orang yang tengah beristirahat menatap kedatangan Sirena yang nampak kacau.
Elanus langsung berdiri lalu menghampiri Sirena, "Hei, apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau basah kuyup?"
"I-i-itu ... Hhh ... C-ceritanya panjang! Hhh ... ADA SETAN! SETAN!" Sirena menunjuk arah utara, arah dimana Sirena baru saja datang, "SETANNYA GANTENG!"
Elanus mengernyitkan keningnya bingung, "Setan? Apa itu setan?"
"Se-setan i-i-itu psikopat ganteng juga! D-dia bunuh orang!"
Elanus semakin dibuat bingung, "Kau bicara apa, Sirena? Aku tak meng- SIRENA!" Ucapan Elanus terhenti karena Sirena kini sudah tak sadarkan diri.
Falco yang sedari tadi menonton kini berlari menghampiri Elanus yang sudah menggendong Sirena.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Entahlah. Tapi, bisakah kau meminta pada ayahanda untuk menunda perjalanan sebentar? Sirena nampaknya benar-benar belum sehat." Pinta Elanus pada Falco.
Falco menatap Sirena yang pingsan di gendongan Elanus, ada banyak sekali pertanyaan yang terlintas dipikirannya tentang Sirena.
"Kau letakkan saja dia di tenda milikku. Aku akan berbicara pada ayahanda juga ibunda."
Elanus tersenyum tipis, "Kau yang terbaik, Falco."
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?