The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 94: Luka dan Penyesalan



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Athanaxius memandang wajah Devita yang tertidur lelap. Melihat wajah tenang Devita membuat senyum tipis muncul dari bibirnya. Bagi Athanaxius, Devita adalah kelemahan sekaligus kekuatan untuknya.


Tidak pernah sekalipun Athanaxius berpikir untuk mencari sosok baru lagi seperti Devita. Bila Devita tiada, maka sudah bisa dipastikan hatinya pun ikut mati rasa. Karena cinta yang dia miliki sepenuhnya hanya milik Devita.


"Mimpi indah, cantikku ..." Athanaxius mengecup kening Devita dengan pelan agar tidak mengganggu wanitanya yang tertidur pulas.


Tangan Athanaxius masih setia membelai kepala Devita dengan gerakan pelan agar tidak mengganggu tidur wanitanya yang lelap sekali.


"Kau harus memimpikanku! Jangan memimpikan pria lain!" Bisik Athanaxius tepat di telinga Devita sebelum beranjak dari tempat tidur.


Athanaxius berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


"Ka-kau belum tidur?"


Athanaxius sedikit terkejut saat membuka pintu dan hendak keluar dia langsung berhadapan dengan ibundanya. Segera Athanaxius menormalkan wajahnya dengan menampilkan raut datar.


Setiap kali melihat wajah orang di depannya, luka yang selama ini ditutup rapat seolah-olah terbuka kembali dan membuat Athanaxius merasakan rasa sakit dan sesak sekaligus.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, Airith berdeham, "Ehm, aku membawakanmu susu hangat. Ibunda tahu kau tidak akan tidur dan menjaga Devita, jadi kubuatkan susu hangat ini agar tubuhmu tetap sehat."


"Lalu bagaimana caranya ibunda membuat hatiku sehat kembali?"


Wajah Airith pias, "I-itu ... Athan, Aku min-"


"Sebaiknya ibunda kembali, ini sudah larut malam dan tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap Athanaxius mengalihkan perhatiannya dari ibundanya.


Tangan kiri Airith terulur untuk meraih jemari dingin Athanaxius lalu menggenggamnya erat.


"Ibunda minta maaf ..."


Deg.


Athanaxius kembali melihat ke arah ibundanya yang tengah menundukkan kepalanya. Athanaxius tercekat mendengar ibundanya meminta maaf kepadanya.


"Hiks ... I-ibunda meminta maaf untuk semuanya ..."


Rasa sakit dan sesak memenuhi rongga dada Athanaxius. Lidahnya kelu hanya untuk sekedar menyahut ucapan ibundanya. Dia tak mampu berbuat dan berkata apa-apa sekarang.


Airith mendongak untuk melihat wajah anaknya. Hanya raut wajah datar yang dia dapati dan tidak seperti yang dia bayangkan.


Bayangan Airith, Athanaxius akan memeluknya erat seperti dulu. Airith merindukan pelukan yang selalu diberikan Athanaxius saat melihatnya. Tapi sekarang? Jarak antara dirinya dan Athanaxius tidaklah seperti ibu dan anak, mereka sudah seperti orang asing.


Airith tersenyum kecut, jarak itu dialah yang membuatnya. Dia yang terlalu memaksakan kehendaknya agar Athanaxius menjadi sosok anak yang sempurna baginya.


"Kembalilah ke kamarmu, ibunda. Kau harus mempersiapkan dirimu untuk kembali ke istana, bukan?"


Hati Airith terluka mendengar perkataan dingin yang dilontarkan Athanaxius untuknya. Apakah rasa sakitnya seperti ini yang selalu dirasakan Athanaxius?


"Athan, ibun-"


Athanaxius tidak sanggup berada di situasi yang begitu menyesakkan untuknya. Maka dari itu, dia mengambil segelas susu yang dibawa ibundanya dan kembali masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya.


Athanaxius bersandar di pintu sembari memejamkan matanya yang perlahan mengeluarkan air matanya.


"Setelah dua puluh tahun, kenapa baru sekarang?" Lirih Athanaxius. Luka hati yang diberikan oleh ibundanya tidaklah sedikit.


"Kenapa baru sekarang meminta maaf?"


Saat membuka matanya, Athanaxius terhenyak melihat Devita yang bangun dan tengah memandangnya sembari tersenyum manis.


"Aku tiba-tiba saja tidak bisa tidur. Apa kau butuh pelukan dariku?"


Tanpa pikir panjang Athanaxius melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju ke arah Devita. Sebelum itu dia meletakkan segelas susu hangat di atas meja samping ranjang Devita. Kemudian dia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan hangat Devita.


"Aku pikir aku bisa, tetapi aku belum sanggup berhadapan langsung dengan ibunda ..." Lirih Athanaxius.


"Tidak apa-apa, kau sudah berusaha untuk menghadapi ibundamu, tidak apa-apa ..." Ucap Devita menenangkan Athanaxius.


Devita mengerti apa yang dirasakan oleh Athanaxius. Meskipun dari luar Athanaxius terlihat acuh tak acuh, tetapi dia memiliki luka besar di hatinya. Terlebih selama dia hidup dia selalu dikucilkan oleh orang-orang disekitarnya.


"Aku lelah ... Aku benar-benar lelah ..."


"Aku tahu." Devita lantas menuntun Athanaxius agar meletakkan kepalanya di pahanya.


Athanaxius mencari posisi ternyamannya dengan memeluk pinggang ramping Devita dan wajahnya berhadapan dengan perut rata Devita.


"Jika kau lelah maka tetaplah lelah. Jangan berusaha kuat kalau memang sudah tidak kuat. Kau boleh beristirahat, Athan." Devita mengusap kepala Athanaxius, "Kau juga boleh menangis bila sedang sedih."


"Semua akan baik-baik saja, bukan?" Athanaxius masih belum tahu bagaimana hubungan antara ibundanya, dan keluarganya kedepannya.


"Ya, semua akan baik-baik saja. Tidurlah dengan tenang, biarkan aku yang menjagamu untuk malam ini."


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Pagi-pagi sekali, para rakyat Osaka sudah berkumpul di depan rumah untuk memberikan salam perpisahan bagi keluarga Kerajaan dan Kekaisaran yang sudah beberapa hari tinggal di desa mereka.


Ada lima kereta kuda yang sudah disiapkan oleh kepala desa Osaka yang baru. Tiga kereta kuda akan ditumpangi oleh Sirena, lalu Galcinia dengan Falco dan yang terakhir Elanus dan Agda.


Rakyat Osaka yang belum pernah melihat rupa Devita begitu terkejut karena mereka baru tahu kalau Putri Sirena memiliki kembaran yang tinggal di desa ini selama bertahun-tahun.


"Aku tahu ini mengejutkan bagi kalian semua, tetapi ini penting. Perkenalkan, dia adalah Putri Irena Harmony Asthropel, saudari kembar Putri Sirena. Kedepannya dia masih tinggal disini, jadi aku berharap kalian menerima kehadirannya disini seperti sebelum kalian tahu siapa Putri Irena sebenarnya."


Tepat saat para rakyat berkumpul, Falco sebagai Raja Kerajaan Willamatte selanjutnya mengumumkan tentang sosok Putri Irena, yaitu Devita sendiri.


"Putri Irena sungguh cantik! Kenapa selama ini dia menyembunyikan dirinya di desa ini?"


"Siapa yang tahu? Selama tinggal disini, dia selalu mengenakan penutup wajah."


"Dengar-dengar ada rahasia besar yang disembunyikan mendiang Yang Mulia Raja Monachus tentang selir dan anaknya."


"Benarkah? Kau dengar darimana?"


"Tidak hanya itu, Putri Sirena yang tadinya menerima lamaran Pangeran Athanaxius juga akan dibat-"


"Diam kalian! Tidak sopan membicarakan anggota keluarga Kerajaan seperti ini! Biarlah itu menjadi urusan anggota keluarga Kerajaan."


Kebetulan Devita berdiri tak jauh dari beberapa orang yang tengah bergosip tentangnya dan Sirena, jadi dia bisa mendengar semuanya. Membicarakan urusan orang ternyata sudah menjadi kebiasaan entah di dunia ini maupun di Bumi.


Sirena yang baru saja memasukkan beberapa barang kemudian menghampiri Devita yang berdiri dengan bantuan Athanaxius.


"Kau yakin akan tetap tinggal disini, Dev?"


Devita mengangguk, "Setelah aku pulih, aku akan kembali ke istana. Ada yang masih harus aku lakukan disini."


Sirena menghela nafas, "Baiklah, aku akan mengerti. Kalau begitu kau harus menjaga dirimu baik-baik!"


"Tidak perlu cemas, aku akan menjaganya dengan baik-baik." Athanaxius yang menjawab.


"Huh! Entah kenapa aku lebih suka melihatmu diam daripada bicara." Sebal Sirena.


Devita tertawa kecil melihat interaksi keduanya. Sirena dan Ambrogio adalah orang yang sama-sama sebal terhadap Athanaxius.


"Dimana iblis itu? Aku tak melihatnya sejak pagi."


"HEH!" Sirena mencoba menahan emosinya di depan banyak rakyat Osaka karena Athanaxius, "Dia sudah menjadi manusia, ya!"


Athanaxius menaikkan sebelah alisnya sembari memandang Devita, "Aku kan hanya bertanya, kenapa saudarimu marah?"


Devita balas menatap Athanaxius malas, "Lebih baik kau diam saja, Athan!"


"Kalau tidak sedang berada di depan rakyat Osaka, sudah kutendang kau, Athan!" Sirena lantas melangkah pergi dengan raut wajah kesal.


Athanaxius mengendikkan bahu tanda tidak peduli setelah kepergian Sirena. Dia kembali melihat orang-orang yang sibuk berlalu-lalang hingga matanya bersitatap dengan ibundanya.


Bukan hanya ibundanya, keluarganya juga turut melihat ke arahnya dan kemudian berjalan mendekatinya.


Tanpa sadar tangan Athanaxius melingkari pinggang Devita begitu erat hingga membuat Devita meringis.


Devita mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Athanaxius dan hendak menegurnya tetapi tidak jadi lantaran melihat pandangan Athanaxius yang seperti tertuju pada sesuatu. Devita lantas turut mengikuti arah pandang Athanaxius.


'Oh! Jadi karena ini.'


Sejujurnya Devita sendiri masih merasa canggung dengan keluarga Athanaxius. Apalagi sebelumnya dia pernah ditolak menjadi menantu keluarga mereka. Jadi, berhadapan dengan mereka masih agak aneh saja menurutnya.


"Kami sangat berharap kau akan hadir di acara penobatan Hydrasa sebagai Kaisar Alioth yang baru, Athan." Kaisar Hylobates membuka pembicaraan.


"Sepertinya saya tidak bisa. Saya takut akan membuat kekacauan di acara itu." Balas Athanaxius dengan acuh.


"Bukankah kutukanmu sudah hilang?" Kaisar Hylobates memandang mata Athanaxius yang merah seperti darah.


"Kutukan saya memang sudah hilang, tetapi ingatan saya atas perlakuan kalian tidak hilang." Nada bicara Athanaxius terdengar dingin dan menusuk.


Kaisar Hylobates terkejut dengan jawaban Athanaxius yang menusuk hatinya. Sesaat dia membatu dan menatap Athanaxius yang tak menatapnya balik. Dia seperti dianggap tidak ada oleh Athanaxius.


Kaisar Hylobates melirik Airith yang tengah meremat lengannya. Airith memberikan tatapan isyarat sudah saatnya untuk pergi dan tidak perlu bicara lagi dengan Athanaxius.


"Emm ... Kira-kira kapan acara itu diadakan, Yang Mulia?" Devita melirik sekilas Athanaxius lalu memberikan senyum canggung untuk Kaisar Hylobates.


"Satu minggu lagi. Apa kau akan datang bersama Athanaxius, menantu?" Kaisar Hylobates sangat berharap Devita bisa membujuk Athanaxius untuk datang.


Devita mendongak untuk melihat Athanaxius. Bagaimanapun dia tak ingin memaksa Athanaxius untuk pergi bila itu akan membuatnya terluka. Athanaxius membutuhkan waktu untuk sembuh dari luka yang disebabkan oleh keluarganya sendiri.


Athanaxius yang ditatap oleh Devita merasakan dadanya sedikit lega. Athanaxius tahu bahwa Devita pasti akan memikirkan perasaanya.


"Saya akan mengirim pesan bila kami bisa datang, Yang Mulia." Balas Devita.


"Oh, baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu." Kaisar Hylobates kembali menatap Athanaxius, "Jagalah kesehatan kalian berdua."


"Tentu."


Sejujurnya Kaisar Hylobates kecewa dengan jawaban Devita, tetapi mau bagaimana lagi? Dia mengerti kenapa Athanaxius bersikap dingin padanya.


Penyesalan memang datang di akhir dan Kaisar Hylobates benar-benar menyesali perbuatannya.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.