
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Selesai dari ruangan Pak Raja, Sirena hendak kembali ke Manor, namun lengannya ditahan oleh seseorang. Saat dia menoleh, dia mendapati Phyronlah yang menahannya.
Sirena melepas tangan Phyron dengan halus, "Ada apa, Pangeran Phyron?"
"Berikan satu kesempatan untukku membuktikan bahwa aku pun layak untuk menjadi suamimu, Putri Sirena," Phyron menatap Sirena dengan tatapan memohon. Ini pertama kalinya dia berlaku seperti ini hanya demi seorang wanita.
Dibelakangnya, Athanaxius hanya berdiam diri memandang Sirena datar sembari bersandar di dinding dan tangannya bersidekap dada. Athanaxius ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh Sirena.
"Saya ingin bertanya, darimananya Anda menyukai saya, Pangeran Phyron?" Sirena sedikit melirik Athanaxius.
"Aku menyukai keberanianmu, Sirena. Dan apa yang bisa Pangeran berhati iblis itu berikan untukmu? Dia hanya membawa kesengsaraan disetiap keberadaannya." Jawab Phyron dengan lantang, dia sengaja berbicara keras karena dia tahu Athanaxius berdiri dibelakangnya.
Sirena bisa melihat Athanaxius tengah menahan amarahnya. Entah kenapa Sirena bisa merasakan betapa perihnya hati Athanaxius saat ini.
"Hal ini yang membuat Anda berbeda, Pangeran Phyron." Sirena tersenyum tipis, matanya terfokus menatap Athanaxius yang menutup mata dengan rahangnya yang terlihat mengeras, "Pengalaman serta lingkungan yang baik selalu menyertai Anda, Pangeran. Berbeda dengan saya dan Pangeran Athanaxius, mungkin ini yang dinamakan perasaan yang sama akan mengantar pada dua takdir yang menjadi satu."
Melihat keterdiaman Phyron, Sirena kembali berbicara, "Bagi orang lain, mungkin Pangeran Athanaxius hanya membawa kesengsaraan. Tetapi bagi saya, Pangeran Athanaxius adalah sosok penyelamat dan manusia yang memiliki hati nurani."
'Hati nurani?'
"Pangeran Athanaxius hanyalah manusia biasa, Pangeran Phyron. Karena kutukan miliknya, dia menjadi seperti itu, membunuh orang yang berani menatap matanya secara langsung. Jauh berbeda dengan hatinya yang tak ingin melakukan itu."
"Tap-"
"Jawaban saya tetap sama, Pangeran. Saya memilih Pangeran Athanaxius sebagai calon suami saya." Sirena kembali melirik ke arah Athanaxius yang sayangnya lelaki itu juga tengah menatapnya.
'Tuhan! Kenapa cowok disini gantengnya nggak manusiawi?!! Gue nggak kuat! Athanaxius guanteng buangetttt! Sirena tolol banget cuma fokus sama Elephas, cih!'
"Kalau begitu, aku ingin melihat seberapa hebat orang yang kau anggap penyelamatmu itu, Sirena. Aku akan bertarung melawan Athanaxius di hadapanmu!" Phyron merasa terhina. Selama ini dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi kali ini? Dia tak bisa mendapatkan Sirena.
"Memangnya aku mau membuang waktu demi orang sepertimu? Tcih! Tidak sudi!" Athanaxius berbisik di telinga Phyron, namun bisikan itu masih bisa didengar oleh Sirena.
"Aku tahu kau memang pengecut, Athanaxius." Phyron menoleh, kemudian menatap mata Athanaxius secara langsung. Phyron bisa melihat perubahan warna netra abu-abu milik Athanaxius yang berubah menjadi semerah darah.
Sring
Phyron menyeringai, dia mengeluarkan pedang miliknya dari sarung pedang yang dia bawa, "Tidak ada kesempatan untukmu menolak, Athanaxius."
Athanaxius yang sudah dikendalikan oleh kutukan miliknya pun langsung menyerang Phyron. Dalam pikirannya, dia harus membunuh Phyron bagaimanapun caranya.
"WOY! JANGAN REBUTIN GUE WOY! UDAHAN WOY!" Sirena kalang kabut melihat pertarungan antara Athanaxius dan Phyron. Sirena menepuk jidatnya, "Duh lupa, mereka kan nggak ngerti gue ngomong apaan!"
Trang
Trang
Suara pedang bertemu pedang yang memekakkan telinga membuat Sirena menutup telinga dengan kedua tangannya, "ANJAY LAH! HEI KALIAN! BERHENTI!!!" Sirena tak berani mendekati mereka, tak ada niatan untuk melerai. Dia takut, bukannya berhasil justru dia yang akan celaka karena terkena sabetan pedang. Tidak-tidak! Sirena masih sayang nyawa.
Keributan yang disebabkan oleh Athanaxius dan Phyron membuat Pak Raja serta kedua istrinya keluar dari ruang kerja Pak Raja. Mereka menyaksikan betapa mengerikan Athanaxius saat dikendalikan oleh kutukan miliknya. Aura hitam begitu menyelimuti tubuhnya. Namun Phyron juga tak bisa dianggap remeh, lelaki itu bahkan hampir menusuk jantung Athanaxius kalau Athanaxius tak menahan pedang Phyron dengan tangannya.
"ATHANAXIUS! TOLONG KENDALIKAN DIRIMU!" Sirena ngeri sendiri melihat darah segar keluar dari telapak tangan Athanaxius yang menggenggam pedang Phyron.
"Astaga! Apakah mereka bertarung karena memperebutkan dirimu, Sirena?" Selir Agung Cordyline menatap Sirena sangsi.
"Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, kenapa? " Sirena benar-benar kesal dengan Selir Agung Cordyline, "Iri bilang bos! Istri kedua diam saja! Mulut Anda bau api neraka!"
"Jaga bicaramu, anak sialan!" Selir Agung Cordyline termakan emosi. Selir Agung Cordyline hendak menghampiri Sirena untuk memberi pelajaran, namun ditahan oleh Ratu Amanita dan Raja Monachus.
"Kendalikan dirimu, Cordyline. Tidakkah kau melihat situasi kita yang sedang tidak aman? Kalau seandainya Pangeran Phyron terluka parah di istana kita, kita akan kehilangan martabat dihadapan Kaisar Helarctor!" Raja Monachus memperingati Cordyline.
"Kalian musyawarahnya nanti saja, anjir! Lihatlah! Pertarungan itu tak akan berhenti sampai Athanaxius bisa membunuh Pangeran Phyron!" Sirena semakin kesal melihat ketiga orang tua ini.
Saat Sirena hendak mencari bantuan, Sirakusa beserta Avior dan Elanus datang. Mungkin inilah kehebatan dinding istana. Tidak perlu menunggu hitungan menit, hal sekecil apapun pasti akan segera diketahui.
Sirakusa berdiri di sebelah Sirena, memandang Sirena tajam, "Kalau sampai Pangeran Phyron terluka parah, Anda yang bersalah, Putri Sirena!" Setelah mengatakan itu, Sirakusa berlari mendekati dua lelaki yang tengah bertarung.
"Watdepak! Kok gue?" Sirena menunjuk dirinya sendiri dengan kebingungan, "Sirakusa babi! Tahi kuda! Monyet! Anj- hmmpft"
Elanus sengaja membekap mulut Sirena, "Sejak kapan kau bisa berbicara kasar tidak tahu etika seperti itu, Sirena?"
Sirena menghempaskan tangan Elanus dengan kasar, "Tangan lo bau azab!" Sirena mendengus, "Terserah aku mau berbicara apa, Pangeran Elanus! Itu tak ada hubungannya dengan Anda! Understand?"
"ARGHH!!"
Teriakan keras itu membuat Sirena menoleh, dia terkejut mendapati Athanaxius yang terikat oleh sihir bayangan milik Sirakusa. Sedangkan Sirakusa, lelaki itu menolong Pangeran Phyron yang hanya terluka sedikit.
"BEDEBAH! SIRAKUSA! TARIK SIHIRMU, BANGSATTT!" Sirena berlari ke arah Athanaxius yang sudah terduduk di tanah dan terlihat kesakitan akibat lilitan sihir bayangan Sirakusa.
"Athan!! Bertahanlah!" Sirena ingin menangis saat melihat Athanaxius yang terlihat tak berdaya sekarang. Melihat Athanaxius seperti ini, Sirena sadar bahwa Sirakusa tak bisa dianggap remeh.
"M-menjauhlah, Si-rena!" Athanaxius mencoba berbicara meskipun bicaranya tersendat-sendat.
Sirena menggeleng, dia kemudian berdiri dan berlari ke arah Sirakusa. Sirena tanpa aba-aba langsung menjambak rambut panjang Sirakusa.
"KAN SUDAH AKU BILANG, BERHENTI! KENAPA KAU TERUS MENYIKSANYA, SIRAKUSA ANJING!"
"ARGHH!" Sirakusa mengerang kesakitan sambil mencoba melepaskan tangan Sirena dari rambutnya dibantu Phyron. Namun genggaman tangan Sirena begitu kuat. Elanus bahkan turut membantu untuk melepas tangan Sirena.
"INI PANTAS UNTUKMU, SIRAKUSA! ANGGAP SAJA INI BALAS DENDAMKU PADAKU!" Sirena melepas jambakannya, dia melihat tangannya yang terdapat beberapa helai rambut Sirakusa, "Helai rambutmu tak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan saat itu, Sirakusa." Sirena berbalik untuk kembali menghampiri Athanaxius yang sudah terbebas dari lilitan sihir bayangan Sirakusa.
"Athan!" Sirena duduk disamping Athanaxius, menahan tubuh besar lelaki itu, "Apakah kau masih bisa menggunakan sihir teleportasi milikmu ke Manorku? Aku akan mengobati lukamu."
"T-tutup matamu!"
Sirena pun menutup matanya. Dia berpegangan erat di lengan kokoh milik Athanaxius. Setelahnya dia bisa merasakan tubuhnya yang seolah ditarik oleh magnet.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Setibanya di Manor, tepatnya di dalam kamar Sirena, Athanaxius jatuh tak sadarkan diri hingga menimpa tubuh Sirena.
Brugh
"Aduh, Athan! Kenapa lo musti pingsan di atas tubuh gue sih? Kenapa nggak di kasur aja?" Sirena mencoba menyingkirkan tubuh berat Athanaxius.
Setelah beberapa saat, akhirnya Sirena berhasil membawa tubuh berat Athanaxius ke atas kasur. Sirena pun keluar kamar untuk mengambil sebaskom air untuk membersihkan luka Athanaxius serta membawa obat-obatan.
Saat tengah sibuk mengisi air di dalam baskom, Sirena terkejut dengan sekelebat bayangan hitam yang baru saja melintas, "Anjrot! Apaan tadi?" Sirena bergidik ngeri.
"SIRENA! DIMANA KAU? SIRENA!"
Sirena mendengar teriakan Agda yang menggelegar, "DISINI, DI DAPUR!" balas Sirena berteriak.
Ditempatnya, Sirena bisa mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru menuju dapur. Tak lama sosok Agda muncul dan disusul oleh Adelphie.
Agda datang dengan raut wajah panik, "Kudengar, Pangeran Athanaxius dan Pangeran Phyron bertarung memperebutkanmu, apa itu benar?"
"Aku juga mendengar bahwa Pangeran Athanaxius terluka karena Efarish Sirakusa, bagaimana keadaannya?" Tanya Adelphie yang juga penasaran.
"Sepertinya iya, karenaku. Eh itu tak penting! Aku harus mengobati Athanaxius terlebih dahulu!" Sirena cepat-cepat mengangkat baskom berisi air itu dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi meraih kotak obat yang sudah dia bawa sebelum ke dapur.
"Tunggu-tunggu! Memangnya Pangeran Athanaxius ada dimana?"
"Di kamarku." Balas Sirena.
"Apa ingin kubantu, Sirena?" Agda menawarkan diri.
"Tidak perlu, Agda. Aku bisa mengurusnya sendiri. Tolong buatkan saja makanan untuknya, apa saja yang penting enak!" Setelah memberi pesan kepada Agda, Sirena pun pergi dengan terburu-buru.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
BUGH
"BANGUN ANAK NAKAL!"
Athanaxius kecil yang sedang tertidur seketika terbangun saat merasakan punggungnya yang dipukul kencang menggunakan tongkat. Pukulan itu meninggalkan rasa sakit yang teramat sangat untuk anak kecil seperti dirinya.
"I-ibunda ... Mengapa ibunda memukulku? Hiks ..." Athanaxius kecil menangis karena ibundanya terus memukulinya dengan tongkat.
"KENAPA KAU SELALU MEMBUATKU MALU, ATHANAXIUS? KAU! MENGAPA KAU MELUKAI PUTRI REGIANA, HAH?"
BUGH
BUGH
"Hiks ... I-ibunda ... Hiks ... H-hentikan .."
"S-sakit ... B-berhenti ..."
Sirena yang baru saja selesai membalut tangan Athanaxius yang terluka langsung menoleh ke arah lelaki itu. Sirena mendekat kemudian menatap Athanaxius yang merintih kesakitan dalam pingsannya.
"Dimana yang sakit? Apa aku boleh mengobatinya?" Sirena mencoba menenangkan Athanaxius dengan mengusap kepala Athanaxius berkali-kali. Sirena tahu Athanaxius tengah bermimpi buruk saat ini.
Tak lama, mata Athanaxius terbuka. Lelaki itu langsung menghamburkan diri dalam pelukan Sirena. Athanaxius memeluk erat Sirena, sangat erat hingga Sirena sedikit sesak dibuatnya.
"Hanya mimpi, Athan ... Tidak apa-apa," Sirena mengusap punggung Athanaxius berulang, hingga akhirnya Athanaxius memejamkan matanya karena mengantuk.
"Sirena ..." Panggil Athanaxius dengan nada lirih.
"Ya? Aku disini." Sahut Sirena.
"Jangan memandangku dengan tatapan yang merendahkanku, aku tak suka!"
"Aku tak merendahkanmu, aku hanya ingin membantumu." Balas Sirena sambil terus mengusap punggung Athanaxius dengan lembut.
Tidak ada balasan dari Athanaxius, Sirena menganggap Athanaxius sudah tertidur. Sirena tersenyum tipis melihat keadaan mereka berdua. Kalau diingat-ingat, mereka adalah orang asing yang tak sengaja bertemu beberapa kali.
"Athan, bila kau tak sanggup menghentikan semua orang yang menghinamu, cukup tulikan telingamu. Hidupmu tak bergantung pada penilaian seseorang, termasuk orang terdekatmu sekalipun." Bisik Sirena pada telinga Athanaxius. Entah Athanaxius mendengar atau tidak, Sirena hanya ingin mengucapkan kalimat itu, kalimat yang selalu dia tekankan di pikirannya agar tetap waras dalam menghadapi kejamnya dunia.
"Hoamm!! Ngantuk!" Melihat Athanaxius yang tertidur lelap, Sirena pun tak tahan untuk ikut menyusul. Namun karena dia masih dipeluk oleh Athanaxius, jadilah Sirena tidur dengan duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
"Have a nice dream, Athan ..." Ucap Sirena sebelum akhirnya tertidur.
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?