
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Manor Chysanthemum pagi ini terasa begitu sepi. Hanya ada suara para legion yang berjaga sambil berbincang. Sedangkan di dalam Minor, Sirena masih tertidur pulas di kamarnya.
Agda dan Adelphie yang sudah menjadi luster pribadi tentu saja tinggal di Minor, bukan lagi di bangunan sebelah. Mereka berdua merasa heran karena tidak ada tanda-tanda bahwa Tuan Putri mereka akan bangun.
"Agda, bukankah Putri Sirena terbiasa bangun pagi? Tapi kenapa sampai sekarang Putri Sirena tak kunjung bangun?" Adelphie bertanya kepada Agda yang tengah menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
"Entahlah, apa perlu kita bangunkan?"
"PAGI DUNIA TIPU-TIPU! Hoammm!" Sirena menuruni anak tangga sembari menguap lebar-lebar dan tangannya yang melakukan peregangan.
Agda dan Adelphie melongo ditempat karena terkejut melihat kelakuan Sirena yang jauh berbeda dari sebelumnya.
"Benarkah dia seorang Putri?" Adelphie menatap Sirena yang penampilannya jauh dari kata rapi kini tengah duduk di salah satu kursi ruang makan.
"Kurasa dia bukan seorang Putri sejak kepulangannya dari istana kekaisaran." Agda menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Sirena melanjutkan tidurnya di ruang makan.
"Berhenti mengoceh! Kalian ini suka sekali membicarakanku, huh! Sarapan apa pagi ini?" Dengan mata yang terpejam, Sirena bertanya.
"Aku membuat roti bakar dengan selai kacang, sarapan kesukaan Putri." Agda yang menjawab.
Sirena sontak membuka matanya dan mengangkat kepalanya, dia menatap horor roti bakar selai kacang yang ada di depannya.
"SARAPAN APAAN PAKE ROTI BAKAR?"
"Putri, kau berbicara apa? Kami tak paham."
Sirena menoleh, menatap Agda dan Adelphie bergantian. Dia lupa, mereka tak akan mengerti bahasa sehari-hari yang sering dia gunakan.
"Lupakan." Sirena menggelengkan kepalanya, "Agda, kenapa kau masih memanggilku Putri? Bukankah sekarang kita adalah teman? Jangan bersikap formal seperti itu saat bersamaku. Cukup panggil aku Sirena saja, kau juga harus memanggilku Sirena, Adelphie!"
"Baiklah-baiklah!" Ucap mereka bersamaan.
"Jadi, apa kita akan sarapan dengan roti bakar ini?"
"Tentu. Mengapa kau nampak tak terbiasa dengan roti bakar? Padahal biasanya kau setiap pagi sarapan dengan roti bakar buatan Aysun." Adelphie ingat betul tiap kali dia membersihkan Minor ini, dia selalu melihat Aysun membuatkan roti bakar selai kacang untuk Sirena.
"Mulai sekarang, aku tak ingin sarapan dengan roti bakar. Roti sekecil ini mana bisa membuatku kenyang!"
"Lantas kau ingin sarapan dengan apa?" Agda bertanya, dia adalah koki di Manor Chysanthemum ini.
"Untuk sekarang aku ingin nasi goreng." Sirena membayangkan betapa enaknya memakan nasi goreng dengan tambahan sosis, ayam serta topping lainnya.
"Nasi goreng? Nasi digoreng? Memangnya enak?" Adelphie bertanya dengan raut wajah aneh.
"Seumur-umur aku baru tahu, nasi bisa digoreng." Agda menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sirena mengangguk mantap, "Tentu saja enak! Kalian harus mencoba! Aku yang akan membuatkan untuk kalian! Kalau begitu ayo kita ke dapur sekarang!" Sirena bangkit dari kursinya dengan semangat.
"Eitssss! Kau tak ingin mandi terlebih dahulu, Tuan Putri Sirena Stylanie Asthropel yang terhormat? Demi apapun, aku tak kuat mencium bau tubuhmu!" Adelphie yang memang berada dekat di sebelah Sirena langsung menahan lengan gadis itu.
Sirena menepuk jidatnya, "Ah! Hampir saja aku lupa, hehe ... Baiklah aku mandi sekarang." Sirena segera berlari ke menuju kamarnya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Agda dan Adelphie menatap takjub sepiring besar yang berisi nasi goreng didepannya. Rasa lapar yang sedari tadi mereka tahan kini sudah sangat ingin dituntaskan. Nasi goreng didepannya membuat mereka tergiur ingin segera memakannya.
Sirena sendiri kini merasa hebat akan kemampuannya, "Apa yang kalian tunggu? Mari kita makan!"
Pandangan Agda teralih kepada Sirena yang sudah mengambil nasi goreng ke piring kecilnya, "Maksudmu ... A-apa kita akan makan bersama?"
"Astaga! Telan dulu makananmu!" Adelphie berucap dengan kesal karena terkena muncratan dari Sirena.
"Hahaa, maafkan aku Adelphie. Dan, tentu saja kita makan bersama. Oh ayolah! Kita teman sekarang, jadi jangan bertingkah malu-malu seperti itu." Sirena mendengus.
Mendengar ucapan Sirena, kedua wanita itu langsung duduk dan bergerak mengambil nasi goreng dengan cepat.
Sarapan pagi berlangsung begitu menyenangkan di Minor ini. Terlebih mereka yang sudah akrab, melupakan bahwa Sirena adalah seorang Putri, sedangkan dua wanita itu hanyalah seorang luster. Di meja makan itu, Sirena bercerita kejadian saat di istana kekaisaran kepada dua luster pribadi barunya. Dan dua lusternya pun bercerita kehidupan mereka masing-masing.
"Jadi, apa kalian tahu tentang Zifgrid sang pengendali?"
Agda menggeleng, "Aku tak tahu apapun. Karena selama ini hidupku kuhabiskan untuk menjadi seorang luster."
"Menyedihkan!" Ejek Adelphie.
Agda yang diejek pun tak terima, "Memangnya kau tahu, Adelphie?"
"Tentu saja aku tahu, meskipun sedikit. Dulu kakekku pernah bercerita soal Zifgrid sang pengendali. Zifgrid sang pengendali, adalah orang pilihan dari Dewa yang ditakdirkan untuk mengendalikan Raja Iblis bila Raja Iblis bangkit dari tidur panjangnya. Kekuatan Raja Iblis sangat tak tertandingi, terutama bila para pemujanya memberikan sesembahan dan raja iblis berhasil menjadikan seseorang yang membangkitkannya terikat dengannya. Raja iblis akan semakin tak tertandingi!"
Sirena menegang ditempatnya. Cerita yang diceritakan oleh Adelphie sangatlah mengerikan untuknya.
"Maka dari itu, Zifgrid sang pengendali adalah orang pilihan Dewa untuk mengendalikan Raja iblis. Konon katanya, Zifgrid sang pengendali adalah sosok kaisar masa depan di benua Canopus yang terkenal terlarang. Maka dari itu, Zifgrid sang pengendali hanya akan muncul bila Raja iblis bangkit. Kalian tahu apa artinya ini semua, bukan?" Adelphie menatap Agda dan Sirena bergantian, "Ini semua adalah takdir. Seperti api dan air. Mereka ada untuk keseimbangan kehidupan."
"Menurutmu, Zifgrid sang pengendali, laki-laki atau perempuan?" Sirena bertanya dengan penasaran.
"Dari cerita kakekku, entah benar atau tidaknya jangan terlalu percaya. Ini hanya sebuah cerita dari kakekku. Zifgrid sang pengendali mempunyai sayap putih dipunggungnya. Soal pertanyaanmu itu, aku tak tahu, kau pasti berharap dia lelaki tampan, bukan?"
Pertanyaan Adelphie membuat Sirena terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kakekmu tahu darimana kalau Zifgrid sang pengendali mempunyai sayap putih?" Agda meragukan cerita Adelphie.
"Ramalan." Adelphie menjawab dengan nada meyakinkan, "Ramalan yang diramalkan oleh Efarish Legumino Alzer. Efarish Legumino Alzer adalah Efarish dari Kekaisaran Alphard. Efarish Legumino Alzer sewaktu masih hidup, sudah meramalkan tentang bangkitnya Raja iblis. Maka dari itu, Efarish Legumino rela mati menangguhkan kekuatan yang berasal dari Dewa untuk melindungi kekaisaran Alphard dari apapun yang masih berkaitan dengan Raja iblis."
"Kakekmu tahu banyak ternyata," Agda manggut-manggut.
"Tentu saja! Dahulunya Kakekku adalah seorang Legion dari kekaisaran Alphard." Adelphie berucap dengan nada sombong.
"Kalau begitu, kalian berdua harus membantuku mencari Zifgrid sang pengendali! Aku tak ingin hidup dalam bayang-bayang perasaan bersalah atas perbuatanku yang membangkitkan Raja iblis." Sirena tak bisa mencarinya sendiri. Dia butuh teman untuk membantunya.
"Apa kau gila? Dunia ini begitu luas, Sirena! Bagaimana kalau Zifgrid sang pengendali berbeda benua dengan kita? Tentu saja itu sangat menyulitkan. Terlebih kau ataupun aku tak mempunyai sihir yang bisa membantu kita kapan saja."
Sirena meletakkan kepalanya di atas meja makan merasa frustasi, "****! Kenapa dunia Sirena begitu menyusahkan sih? Coba aja gue masuk ke tubuh Sirena pas masih awal alur. Jadi gampang mau ngubah alur. Kalau udah begini, gue kudu gimana anjir!" gumam Sirena sembari mengacak-acak rambutnya yang dibiarkan tergerai.
"Sirena mulai gila." Agda melihat dengan raut prihatin.
"Turut berduka untuk deritamu, Sirena." Adelphie semakin mengacak-acak rambut Sirena.
"Sialan kalian!" Umpat Sirena, "Bukannya membantu mencari solusi malah semakin membuatku stress!"
"Solusi, ya?" Adelphie menampilkan raut berpikir. Tak lama Adelphie menjentikkan jemarinya, "Kita harus mencari petunjuk!"
"Petunjuk?" Gumam Sirena.
"Kita harus mencari petunjuk sekecil apapun itu. Yang pertama adalah mencari tahu lewat buku ramalan yang ada di perpustakaan Kekaisaran. Ku dengar, disana ada buku ramalan yang dijaga oleh Efarish Sirakusa Kartago."
Sirena mengangguk paham. Pantas saja, Sirakusa langsung tahu simbol mawar hitam yang muncul di dahinya serta lengannya kala itu.
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?