
╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ
Selamat Membaca
•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯
"Hya!"
Suara teriakan Devita yang sedang berlatih pedang menggema di depan rumah Irena. Devita terus berlatih tanpa henti agar kemampuan berpedangnya meningkat.
"Berhentilah sebentar, istirahatkan dirimu." Suara Elanus menginterupsi Devita, lelaki itu menghampiri Devita yang tak mendengar ucapannya. Dengan terpaksa Elanus mengibaskan pedangnya ke pedang yang dipegang Devita hingga terjatuh.
"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Devita karena diganggu Elanus, "Jangan ganggu aku berlatih!"
"Tetapi kau sudah berlatih tiada henti, kau bahkan belum makan apa-apa." Elanus menatap Devita khawatir.
Devita tak mengindahkan ucapan Elanus, dia hendak mengambil pedang miliknya namun dengan cepat Elanus mengambil pedangnya.
"Turuti perintahku, Devita!" Tegas Elanus.
"Aku tidak mau! Kembalikan pedangku!" Devita mendekati Elanus untuk mengambil pedangnya.
"Kenapa kau begitu keras kepala sekali, sih?!" Elanus geram dengan Devita.
"Kenapa kau begitu cerewet, sih?!"
"Elanus benar, Dev."
Devita menolehkan kepalanya ke arah Diantha yang datang menghampirinya.
"Kapan kau datang?" Devita menatap tak suka Diantha. Ada alasan kenapa dia bersikap ketus pada wanita itu.
Diantha tersenyum melihat wajah ketus Devita, "Kau marah padaku?"
"Dia memang berubah menjadi pemarah akhir-akhir ini." Celetuk Elanus.
"Diam kau!" Devita memelototkan matanya memberi peringatan pada Elanus.
Diantha menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Devita, tapi dalam sekejap wajahnya berubah serius.
"Kaisar Yerikho akan mengadakan pertemuan disini bersama para Raja dan pemimpin lainnya yang belum terpengaruh sihir Ratu Amanita."
Mata Devita membola, "Kenapa disini?" Tidak mungkin karena Virga tengah berada disini bukan?
"Karena kau ada disini, begitupula Irena. Yang mereka tahu, keturunan terakhir Asthropel ada disini dan mereka ingin melihat kalian." Jelas Diantha.
"Tapi Irena bukanlah keturunan Asthropel yang asli!"
"Itu benar. Maka dari itu Kaisar Yerikho mengadakan pertemuan ini, sebentar lagi."
"Sebentar lagi?" Beo Elanus dan Devita bersamaan.
Saat itu pula sebuah lingkaran berwarna pelangi muncul di depan mereka bertiga. Tidak lama lingkaran pelangi itu hilang dan digantikan oleh sosok Kaisar Yerikho bersama legion istimewa.
Lingkaran pelangi lain muncul tidak hanya satu, melainkan lima sekaligus. Dan beberapa wajah tak dikenal Devita muncul. Lingkaran pelangi itu adalah portal teleportasi.
Para rakyat Osaka yang tersisa semula merasa terkejut dan ketakutan dalam bersamaan saat melihat portal teleportasi. Mereka mengira portal teleportasi akan memunculkan sosok monster yang akan menyerang mereka.
Diantha menundukkan kepalanya ke arah Kaisar Yerikho, "Selamat datang di Osaka, Yang Mulia Kaisar Yerikho ..."
"Hm." Sahut Kaisar Yerikho singkat.
Setelahnya, Diantha mengarahkan Kaisar Yerikho dan para Raja masuk ke dalam rumah Irena diikuti oleh Devita yang masih linglung.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Kita sudah terdesak. Ratu Amanita berhasil menguasai sebagian besar benua di Vulcan. Dan aku yakin, saat ini Ratu Amanita sedang mengincar kita karena hanya kita yang belum bisa ditaklukkannya." Ucap Raja dari Kerajaan Maikos, salah satu Kerajaan yang berada dibawah kekuasaan Kekaisaran Alphard.
"Tetapi setidaknya wilayahmu masih aman dari serangan para monster yang dikendalikan Ratu Amanita." Raja dari Bacuburito berceletuk menanggapi.
"Tapi tidak dengan para pemberontak yang ada di dalam wilayah itu sendiri. Siapa yang menduga hal itu?"
"Tenanglah tenang ... Yang terpenting kita sudah tahu siapa orang yang bisa melawan Ratu Amanita." Raja dari Kerajaan Aquarids memandang Devita dan Irena berganti, "Apakah Putri Sirena dan Putri Irena sudah menemukan cara untuk melawan Ratu Amanita?"
'Kaisar Yerikho sialan!' kata hati Irena dan Devita sama.
"Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Kejahatan akan menang di awal tapi tidak untuk selamanya. Orang-orang serakah akan duniawi tidak akan pernah mendapat ketenangan sampai mati."
Devita memandang kagum Raja Fartinghale, Raja dari Kerajaan Uranus. Kalimat bijak yang keluar dari mulutnya sangat membantu situasinya saat ini.
'Ayah memang yang terbaik!' Diantha tidak pernah tidak bangga kepada ayahnya itu.
"Tunggu," Devita baru menyadari ada hal ganjil disini, bukankah Raja Fartinghale Raja dari Kerajaan Uranus? " Itu berarti Raja Fartinghale ayahnya Adelphie?" gumaman Devita dapat didengar oleh Diantha yang memang duduk di sebelahnya.
"Diantha Efigenia ... Diantha Effie Lyr Uranus ... Kenapa nama mereka berdua mirip?" Devita lantas menoleh ke samping dimana Diantha berada. Devita terkejut saat Diantha tersenyum misterius ke arahnya. Karena merasa takut dengan senyuman Diantha, Devita pun mengalihkan pandangannya.
Devita baru menyadari kalau Kaisar Hylobates bersama istrinya yang merupakan ibu Athanaxius pun turut hadir disini.
Devita memperhatikan raut wajah Selir Airith yang nampak pucat dan tatapan matanya terlihat kosong. Devita terperanjat saat ketahuan sedang memperhatikan wanita itu. Hanya sekali Devita bertemu dengan Selir Airith, yaitu saat hari pernikahan Nervilia dan Falco.
Selir Airith berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri dimana Devita tengah duduk.
"Eh? Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?" Devita memekik saat tiba-tiba Selir Airith bersujud di kakinya sembari menangis.
Karena hal itu, semua mata lantas tertuju pada mereka berdua.
"Tolong bangunlah, Yang Mulia ... Jangan rendahkan diri Anda," Devita membantu Selir Airith berdiri.
"Apa kau tidak bisa membuat Athanaxius berada dipihak kita, Nak?"
Devita menatap sendu Selir Airith, "Entahlah, sepertinya tidak bisa."
"Kau pasti bisa!" Selir Airith menggenggam tangan Devita erat, "Athanaxius sedang dikendalikan oleh sihir Amanita. Aku yakin kau pasti bisa membawa Athanaxius kembali!" Selir Airith kembali menangis.
Devita terdiam. Benarkah yang dikatakan Selir Airith? Apa benar perubahan Athanaxius yang menyebabkan lelaki itu membunuh ayahnya dan mencelakai Galcinia karena ulah sihir Ratu Amanita?
"Hiks ... T-tolong sadarkan Athanaxius, Nak ... B-bawa dia kembali ke sisimu ..."
"B-bagaimana saya melakukannya?"
"Dengan cintamu. Bukankah kalian berdua saling mencintai?"
Deg.
Devita kembali terdiam. Ya, mereka saling mencintai sebelum akhirnya lelaki itu membuatnya percaya bahwa dia hanya menjadi bahan permainan.
Athanaxius ...
Air mata jatuh dari pelupuk mata Devita. Devita merindukan lelaki itu, psikopat ganteng yang berhasil mendapatkan cintanya.
'Athanaxius ... Lo masih menjadi tahta tertinggi dalam hati gue,'
Devita merasakan sapuan tangan lembut yang mengusap air matanya, ternyata Selir Airith lah orangnya. Wanita itu terlihat sangat rapuh sekarang, berbeda saat pertama kali bertemu, Selir Airith tampak tidak menyukainya.
"Aku meminta tolong padamu sebagai seorang ibu yang tak bisa menjadi rumah untuk anaknya." Ucap Selir Airith sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Selir Airith dibawa ke dalam kamar Devita untuk mendapat perawatan. Selir Airith demam karena luka yang dideritanya.
Devita memutuskan untuk menemani Selir Airith yang masih belum sadar. Kata-kata Selir Airith membuat Devita berpikir keras. Apakah ini alasan Athanaxius lebih suka berada di luar istana daripada di istana?
Athanaxius tidak pernah bercerita perihal ibundanya sendiri sebelumnya.
Karena jenuh, Devita memutuskan untuk keluar dari kamar. Dari sini dia dapat melihat sosok Irena yang berbincang bersama para pemimpin wilayah Vulcan dengan luwes, seolah-olah dia memang Putri Irena yang asli.
"Kita harus bersiap!" Diantha tiba-tiba berseru.
"Ada apa, Diantha?" Devita sontak mendekati Diantha yang tengah diam.
"Aku merasakan aura hitam yang begitu kuat menuju kemari."
Berkat ucapan Diantha, Devita lantas keluar disusul Irena dan Nervilia. Kali ini, Devita harus memastikan rakyat Osaka yang tersisa aman.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.