The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 23: Terimakasih, Sirena.



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Athanaxius memutar bola matanya malas sembari menarik kekang kudanya. Dia yang berencana ingin menghabiskan waktunya untuk melukis harus terlewati karena ayahnya, Raja Hylobates menyuruhnya untuk ikut mengawal kepergian Hydrasa juga Regiana menuju Kekaisaran Alhena.


Meskipun dia malas sekali, namun matanya tetap waspada terhadap sekeliling. Musuh selalu bisa mencari kesempatan sekecil apapun itu.


"Maaf merepotkanmu, Athan,"


Athanaxius menoleh ke samping, dimana Hydrasa menyejajarkan kudanya dengan kuda milik Athanaxius. Setelah itu pandangan Athanaxius beralih menatap ke depan lagi, dia tak membalas ucapan Hydrasa.


"Tidak punya etika sekali! Kenapa Ibunda Airith yang baik hati dan bijaksana harus memiliki anak sepertimu, Athanaxius?" Salamandra ikut menyejajarkan kudanya dengan kuda Athanaxius.


Athanaxius berdecih, baik hati dan bijaksana?


Dahulunya Athanaxius sempat berpikir seperti itu. Namun semakin dia beranjak dewasa, dia mengerti ibundanya tak sebaik dan sebijaksana apa kata orang.


"Berhentilah bicara. Aku tak suka bau mulutmu." Balas Athanaxius yang membuat Salamandra geram.


"Sialan kau, Athan!"


"Hentikan aksimu, Salamandra!" Salamandra yang baru saja mengeluarkan pedangnya untuk menyerang Athanaxius harus terhenti karena larangan Hydrasa, "Istriku tengah tidur di dalam kereta. Jangan membuatnya terbangun hanya pertengkaran tidak jelas kalian!"


"Cih! Membosankan!" Athanaxius menarik kekang kudanya untuk lebih maju lebih dulu.


"Kau terlalu sering membelanya, Kak Hydrasa!" Ucap Salamandra masih tidak terima.


Sret


Tring


Lalu tiba-tiba sebuah anak panah hampir saja mengenai Salamandra bila saja Athanaxius tidak menangkisnya dengan pedang miliknya.


Salamandra mematung karena nyawanya yang hampir saja melayang akibat kecerobohannya.


"SEMUANYA BERSEDIA! AMANKAN KERETA ISTRIKU!" Seru Hydrasa pada legion.


Tepat setelah Hydrasa berseru, sekelompok orang berpakaian serba hitam dengan cadar di wajah mengepung rombongan Hydrasa.


Salah satu pimpinan kelompok berpakaian hitam itu maju di depan Athanaxius.


"Serahkan Putri Regiana pada kami!"


Putri Regiana yang terbangun akibat keributan itu merasa takut di dalam keretanya.


"Ambil saja kalau kau bisa." Ucap Athanaxius santai.


"SERANG!"


Kedua kubu itu saling beradu kekuatan dan juga pedang. Tak sedikit yang menjadi korban kekacauan malam ini.


"Mengapa semakin banyak?" Athanaxius bergumam sembari terus menyerang sekelompok penjahat itu dan bergerak mendekati kereta Regiana.


"ARGHH HYDRASA!! TOLONG AKU!"


Athanaxius sedikit terlambat, dia bisa melihat Regiana yang hendak dibawa pergi oleh pimpinan sekelompok penjahat itu.


Hydrasa menoleh dan terkejut mendapati istrinya tengah meronta-ronta dalam pelukan pimpinan penjahat.


Athanaxius menginjak sesuatu, saat dia mengambilnya, ternyata adalah sebuah lencana kerajaan. Dan Athanaxius tahu lencana berlambang matahari adalah kerajaan mana.


"Pangeran dari kerajaan Perseids, ternyata kau begitu pecundang!" Ucapan Athanaxius membuat suasana seketika hening, bahkan rombongan yang ikut juga tercengang mendengar ucapan Athanaxius.


Regiana yang berada dalam pelukan pimpinan penjahat itu seketika menarik cadar yang menutupi wajahnya. Regiana terkejut bukan main.


"A-artamus ... Me-mengapa kau melakukan ini?" Regiana tak menyangka sahabat baiknya akan melakukan perbuatan semacam ini.


Artamus memandang wajah Regiana sendu, "Maaf, Regiana. Aku baru menyadari perasaanku. Aku mencintaimu, dan aku tak rela bila kau harus menikah dengan Hydrasa."


Athanaxius memberi kode pada Hydrasa agar segera menarik Regiana.  Hydrasa mengangguk mengerti.


"REGIANA!" Artamus berteriak kala Regiana sudah berpindah dalam pelukan Hydrasa.


Artamus menggeram marah pada Athanaxius. Selalu saja Athanaxius yang terus ikut campur urusannya sedari dulu. Artamus langsung saja menyerang Athanaxius membabi-buta. Bahkan keduanya membuat sihir pelindung agar orang lain tak mengganggu perkelahian mereka.


"HYDRASA, KAU HARUS MEMISAHKAN MEREKA! AKU MOHON hiks ..." Pinta Regiana. Namun Hydrasa hanya diam. Dia memberi kode pada yang lain agar tak mengganggu perkelahian mereka.


Sementara dalam sihir pelindung, yang terus menyerang adalah Artamus. Dia sangat membenci Athanaxius terlampau sangat.


"Mengapa kau selalu mengacaukan rencanaku, Athan?" Artamus menggeram marah sembari terus menyerang Athanaxius.


"Karena kau begitu pecundang, Artamus." Balas Athanaxius dengan wajah datar. Tidak ada raut emosi dalam wajahnya, benar-benar datar.


"Sialan! Kau selalu mengataiku pecundang, apakah kau tak berkaca siapa yang sebenarnya pecundang disini, huh?"


Athanaxius menyeringai, tubuhnya tersentak ke belakang saat Artamus berhasil menendang perutnya.


"Aku berbeda denganmu. Kau terlalu gegabah dalam bertindak, Artamus. Itu sebabnya aku tak ingin memiliki teman sepertimu." Athanaxius ingat, dulu semasa mereka masih satu akademi, keduanya adalah sahabat baik. Namun hanya bertahan satu tahun saat tahu, ternyata Artamus membencinya hanya karena dia yang tak mendukung hubungannya dengan Regiana. Padahal Athanaxius dulunya sangat senang, karena Artamus orang pertama yang mengajaknya berteman meskipun tahu kutukannya itu.


"MATI SAJA KAU ATHANAXIUS!" Artamus berlari kencang sambil bersiap menusukkan pedangnya pada Athanaxius.


Jleb


"ARTAMUSSS!" Regiana berteriak sembari menangis saat melihat Artamus yang tertusuk pedang milik Athanaxius terlebih dahulu.


Artamus diam membeku di tempatnya saat perlahan rasa sakit di dadanya mulai menjalar. Darah segar keluar dari mulut lelaki itu. Artamus bertemu pandang dengan iris merah darah milik Athanaxius yang tak disadarinya.


"Seharusnya kau tahu, kutukanku berlaku juga padamu." Ucap Athanaxius lalu mencabut pedangnya dari dada kiri Artamus hingga membuat lelaki itu terduduk.



Cipratan darah milik Artamus mengenai pipi Athanaxius. Athanaxius menatap Artamus dingin, "Ini bukan keinginanku untuk membunuhmu, tetapi kau yang ingin kubunuh, Artamus." Athanaxius menghilangkan sihir pelindung hingga membuat Regiana berlari menghampiri Artamus.


Artamus memandang sendu Athanaxius, "M-ma-af, A-than ..."


Athanaxius masih memandang dingin Artamus. Regiana yang melihat itu menatap benci Athanaxius.


"KAU MONSTER, ATHANAXIUS! KAU MENGERIKAN! JAUH LEBIH MENGERIKAN DARI MONSTER! KAU IBLIS!" maki Regiana sambil menunjuk Athanaxius.


Athanaxius menyeringai, hal yang sering dia tunjukkan bila dia dihina, "Begitukah caramu berterima kasih, Putri Regiana?" Athanaxius berbalik badan, "Aku memang iblis, kalau kau belum tahu. Jauh lebih mengerikan daripada monster." Setelahnya Athanaxius pergi dengan teleportasi.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Berendam air hangat di malam hari di dalam kamar mandi kini sudah menjadi kebiasaan untuk Sirena. Setelah seharian penuh membuat perubahan di Manor, dia baru sempat mandi pada malam hari.


Senyum Sirena refleks muncul saat perlahan rasa pegal di sekujur tubuhnya mulai menghilang. Dia bahkan tak peduli akan kepulangan Nervilia dengan rombongannya, lagipula mereka tak sepenting itu untuk Sirena.


Setelah puas berendam, Sirena mengenakan kimono merah miliknya. Sirena melangkah keluar dari kamar mandi untuk berganti baju. Aroma bunga mawar menguar ke seluruh ruangan setelah Sirena keluar kamar mandi.



Sirena berjalan menuju almari sembari mengusap rambutnya dengan handuk agar cepat kering. Sirena memilih untuk mengenakan gaun terusan selutut berwarna biru langit.


Sirena yang hendak membuka tali kimono seketika menghentikan aktivitasnya saat dia menyadari ada seseorang di dalam kamarnya melalui pantulan cermin.


"Mengapa berhenti?"


"Berkunjung mungkin?" Jawabnya dengan nada santai.


"Sopankah berkunjung lewat jendela, Pangeran Athanaxius Deimor?" Sirena berkacak pinggang. Tak lama Sirena memundurkan langkahnya menjauhi Athanaxius. Dia dapat melihat mata merah milik Athanaxius yang menyala terang di gelapnya kamar miliknya.


'Jadi keinget mata merahnya milik Tristan di sinetron GGS, anjir!'


Athanaxius melompat untuk berdiri, dengan langkah pelan mendekati Sirena yang juga melangkah mundur dengan teratur.


Sirena meneguk ludahnya kasar. Jujur dia takut, sebenarnya tujuan Athanaxius datang malam-malam ke kamarnya untuk apa? Sirena semakin terpojok. Dia tak bisa kemana-mana saat punggungnya sudah menyentuh tembok, sedangkan Athanaxius menyeringai sembari memerangkapnya.


Sirena dapat melihat bercak darah di pipi Athanaxius juga aroma anyir dari tubuh lelaki itu.


"A-apa k-kau baru s-saja me-m-membunuh?" Sirena dengan tangan gemetar menunjuk pipi Athanaxius dimana bercak darah itu berada.


Seringaian Athanaxius hilang digantikan raut datar miliknya, "Mereka yang ingin kubunuh." Suara Athanaxius terdengar sangat dingin.


"K-kenapa kau membunuh?"


"Sudah kubilang, mereka yang ingin kubunuh!"


Bugh


Sirena sontak memejamkan matanya saat Athanaxius melayangkan pukulan ke dinding tepat di sebelah wajahnya. Pukulan itu sangat keras, mungkin dinding di sebelahnya retak akibat pukulan keras Athanaxius.


Sirena menahan nafas saat dia merasakan hidung Athanaxius yang bersentuhan dengan hidungnya, tak lama dia merasakan hembusan nafas di telinganya, "Apa kau takut, hm?" Bisik Athanaxius.


"Si-s-siapa yang takut?" Sirena membuka matanya, dia mendorong tubuh Athanaxius agar sedikit menjauh darinya meskipun usahanya itu sia-sia karena tubuh Athanaxius tak bergerak sedikitpun.


"Tatap mataku, Sirena." Titah Athanaxius yang langsung membuat Sirena mengalihkan pandangannya menghindari mata merah Athanaxius.


Amarah dalam diri Athanaxius belum reda sepenuhnya. Melihat Sirena tak menuruti keinginannya membuatnya semakin marah.


"Kubilang, tatap mataku, Sirena!" Suara Athanaxius kali ini penuh dengan penekanan, membuat Sirena semakin ketakutan sekarang.


'Berasa nonton pilem horor anjir! Sumpah psikopat gantengnya bikin gue merin-'


BUGH


"IYA-IYA" Sirena refleks berteriak, kemudian menatap mata merah Athanaxius.


Sirena mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat Athanaxius terdiam sembari memandangnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.


'Kayaknya psikopat ganteng lagi kena sawan deh!'


Perlahan iris mata Athanaxius berubah menjadi warna coklat, iris mata yang selalu membuat Sirena terhipnotis.


"Ya Tuhan ... Ganteng banget ciptaanmu ..." gumam Sirena tanpa sadar.


"Eh?" Sirena terkejut saat tiba-tiba Athanaxius menyandarkan kepalanya ke bahunya.


"Obati lukaku!" Perintah Athanaxius dengan nada pelan.


"Idih! Kan luka itu akibat ulahmu sendiri! Aku tidak mau mengobatimu!" Sirena menjauhkan tubuh Athanaxius. Kali ini berhasil, dia memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai gaun terusan yang hendak dia pakai. Membiarkan Athanaxius sendirian. Siapa tahu setelah dia selesai berpakaian, Athanaxius sudah pergi.


Cukup lama Sirena berada di dalam kamar mandi. Sirena akhirnya keluar, namun lagi-lagi dia terkejut.


"Kok belum pergi juga sih?" Gumam Sirena saat melihat Athanaxius duduk ditepi ranjang miliknya dengan kedua tangannya bertaut meskipun terluka dan pandangannya memandang kosong ke bawah.


Sirena menghela nafas, dia kemudian keluar kamar untuk ke mengambil perban juga obat oles luka yang dibuat oleh Agda.


Sekembalinya Sirena dari luar, dia masih menemukan Athanaxius duduk dalam posisi sama. Membiarkan lukanya menganga lebar dengan darah yang mengaliri tangannya.


"Jangan melamun terus, bodoh! Kau tak lihat lukamu selebar apa, hah?" Sirena benar-benar tak habis pikir dengan Athanaxius. Bagaimana bisa dia tak meringis kesakitan? Padahal Sirena yang melihatnya saja merasa ngeri.


Sirena menggenggam pergelangan tangan Athanaxius lalu membawanya ke dalam kamar mandi untuk membasuh luka Athanaxius dengan air mengalir.


Dengan penuh kehati-hatian, Sirena membersihkan luka di ruas-ruas jari Athanaxius akibat meninju dinding tadi.


Athanaxius dapat melihat raut wajah Sirena yang berubah-ubah dari sisi kanan. Athanaxius merasa aneh dengan dirinya sendiri saat ini. Dia tersentak saat Sirena meniup lukanya.


"Semoga lukanya cepat sembuh dengan tiupan angin ajaib Sirena ..." Setelahnya Sirena terkekeh pelan karena ucapannya.


"Masih perih?" Sirena mendongak dan mendapati jarak wajah mereka yang begitu dekat.


Athanaxius diam tak menjawab. Sirena yang cepat sadar kemudian menunduk kembali. Dia jadi menyesal untuk mendongak. Sirena pun membawa Athanaxius keluar kamar mandi. Menyuruhnya duduk tenang di sofa miliknya. Sirena kemudian mengobati luka Athanaxius lalu membalutnya dengan perban.


"Kalau kau ingin merasa sedih, maka menangis saja. Tidak ada larangan lelaki tidak boleh menangis." Ucap Sirena setelah selesai membalut tangan Athanaxius dengan perban. Sirena memandang wajah Athanaxius yang terlihat sendu, seperti ada banyak kesedihan yang tak bisa dia keluarkan.


Athanaxius memalingkan wajahnya, "Lelaki lemah bila menangis." Itu adalah ucapan ibundanya semasa dia kecil. Maka sejak saat itu dia tak akan menangis agar ibundanya tak menyebutnya lelaki lemah.


"Siapa yang bilang seperti itu? Ututu dedek Athan ... Cini-cini peyukkk!" Sirena mengeluarkan kejahilannya sembari menoel-noel wajah Athanaxius agar menoleh.


Sirena terus gencar melakukan itu, hingga tiba-tiba Athanaxius berbalik cepat kemudian memeluknya hingga dia terbaring di sofa panjang miliknya. Sirena begitu terkejut sampai-sampai dia merasakan tubuhnya kaku.


Tak lama Sirena merasakan pundaknya basah, "A-than ... A-apa kau m-menangis?" Tidak ada balasan dari Athanaxius. Dan itu membuktikan bahwa benar, Athanaxius menangis. Lalu dengan gerakan kaku, perlahan Sirena mengusap kepala Athanaxius lembut.


Wajah Athanaxius berganti pada ceruk lehernya. Sirena geli sebenarnya, namun dia menahannya. Terus mengusap kepala Athanaxius berharap lelaki itu merasa lebih baik.


"Aku membunuh temanku ..." Lirih Athanaxius.


"M-mengapa kau membunuhnya? Kau pasti memiliki alasan untuk itu."


"Ya. Aku memiliki alasan untuk itu." Balas Athanaxius.


Suasana kembali hening. Sirena menduga bahwa Athanaxius tertidur, karena dia merasakan hembusan nafas teratur di ceruk lehernya.


"Aduh ... Lo pikir tubuh gue kasur apa? Enak banget lo nindih gue! Kalo aja lo nggak lagi jadi sadboy, udah gue tendang daritadi lo!" Sirena mendengus karena dia mencoba memindahkan tubuh Athanaxius agar tak menindihnya lagi.


"Hhh ... Akhirnya ..." Sirena terengah-engah, usahanya berhasil. Sirena pun hendak beranjak dari sofa menuju ranjangnya karena dia juga mengantuk.


"Ibunda ..."


Sirena menoleh cepat ke arah Athanaxius. Dapat dia lihat wajah Athanaxius yang berkeringat dingin, juga Athanaxius yang meracau.


"A-aku bukan lelaki lemah ..." Terlihat sekali bahwa Athanaxius tidur dalam keadaan tidak tenang.


Melihat itu Sirena merasa tidak tega. Bagaimanapun dia juga pernah merasakan hal itu di dunianya. Tidur dalam keadaan tidak tenang. Sirena memutuskan duduk kembali di sofa panjang yang sedikit lebar itu. Mengusap kepala Athanaxius agar lelaki itu lebih tenang.


"Ssst ... Itu hanya memori lama, Athanaxius ... Jangan diingat bila menyakitkan." Ucap Sirena pelan, "Hoamm ..." Mata Sirena perlahan memberat. Dia yang sudah tak kuat menahan kantuk, akhirnya tertidur dengan kepalanya yang bersandar di tangan sofa. Namun tangan Sirena masih aktif mengusap kepala Athanaxius meskipun lambat.


Tak lama, Athanaxius membuka matanya. Dia merasakan kepalanya diusap dengan lembut. Saat dia mendongak, dia mendapati Sirena yang tertidur sambil mengusap kepalanya. Athanaxius beranjak bangun. Dia memandang wajah Sirena yang tertidur. Senyum tipis muncul dari bibir merahnya.


Athanaxius pun menggendong Sirena ala bridal style untuk memindahkan Sirena ke ranjangnya. Athanaxius juga menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Sirena.


Athanaxius menegakkan tubuhnya, "Kau terlalu bersikap baik kepada monster sepertiku, Sirena ... Terimakasih ..." Tangan Athanaxius tanpa sadar mengusap pipi Sirena hingga membuat wanita melenguh dalam tidurnya karena merasa terganggu.


Athanaxius menarik cepat tangannya, kemudian segera pergi menggunakan teleportasi dengan senyuman tipis yang tak luntur dari wajahnya.


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?