The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 28: Serangan Monster



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


"Sirena, ini sudah malam. Apa kau tidak ingin pulang, huh?" Agda sudah benar-benar lelah sekarang. Agda menyesal sudah mengajak Sirena untuk menonton sebuah drama dari sekumpulan rakyat di pasar malam yang ada di desa Aibek. Letak desa Aibek sendiri jauh dari istana kerajaan karena letaknya berada di ujung kota Willamette.


"Astaga, Agda! Bisa diam tidak? Dramanya belum selesai! Aku ingin melihat akhir dramanya!" Agda pikir, Sirena tak akan suka dengan drama buatan sekumpulan rakyat itu, namun dugaannya salah.


Irash bahkan sudah mode mengantuk di sebelahnya. Ketiganya duduk berjejer beralaskan daun pisang.


"Irash, menurutmu kutukan Ruskie akan hilang karena Theresa atau bukan?" Ruskie adalah pemeran pria dari drama yang dia tonton sekarang. Sedangkan, Theresa adalah pemeran wanitanya. Dalam cerita drama itu, Ruskie memiliki kutukan, kutukan yang berasal dari rakyat-rakyat yang mendoakannya karena kesal dengan Ruskie yang suka semena-mena. Alhasil, Ruskie mendapat kutukan berupa matanya yang dibuat buta oleh para Dewa.


Irash yang semula ingin menutup mata seketika terbuka kembali, dengan cepat dia menyahut, "Tentu saja karena Theresa! Drama romansa semacam itu sudah biasa."


"Sirena ... Tak bisakah kita pulang sekarang?" Agda merengek kepada Sirena. Dia hanya takut kalau-kalau ada hal yang tak menyenangkan akan terjadi. Firasatnya tidak enak semenjak mereka menginjakkan kaki ke desa Aibek.


"Nan- astaga! Benarkan dugaan gue? Kutukan Ruskie hilang bukan karena Theresa! Theresa emang pemeran utama, tapi kutukan itu dari rakyat yang berdoa sama dewa. Jadi, kutukannya hilang juga karena rakyat!" Sirena bertepuk tangan riuh mengikuti para rakyat yang menonton drama itu.


Prok prok prok


"LUAR BIASA!"


"Kelompok Krisanthida selalu hebat dalam menampilkan sebuah drama!"


"Kau benar! Tidak rugi aku membayar tiga koin perak untuk menonton drama buatan mereka."


Suara-suara rakyat yang menyanjung Krisanthida terdengar dari berbagai penjuru. Para rakyat tidak mengetahui bahwa seorang Putri dari kerajaan mereka ikut menonton dan berada di posisi paling belakang.


"Dramanya sudah selesai, kita pulang, Sirena!" Agda terus saja meminta pulang.


"Tenanglah, Agda. Apa kau lupa aku sudah mengantongi izin dari Pak Raja dalam menggunakan portal teleportasi kerajaan? Aku bahkan bisa membawa kalian langsung sampai ke kerajaan." Sirena mencoba menenangkan Agda.


"Jadi, apa kau ingin pulang sekarang atau masih ada hal yang ingin kau lakukan?" Pertanyaan dari Irash membuat lelaki itu langsung dipelototi oleh Agda.


'Sialan kau, Irash! Mau mati, hah?'


Irash yang mendapat tatapan tajam dari Agda dan seolah-olah bisa mendengar bahasa kalbu Agda langsung bergidik ngeri.


"Em ... Kalau misal Krisanthida kita undang untuk menampilkan drama di pesta pernikahan Nervilia bagaimana?" Sirena mencoba meminta saran. Pasalnya, dia mendengar bahwa Krisanthida tak hanya menampilkan drama saja, namun juga bisa bernyanyi dan bermain musik.


Pletak


"Apa kau bercanda, Sirena? Krisanthida tidak termasuk dalam jajaran sekelompok penghibur untuk golongan bangsawan!" Agda tidak setuju dengan ide Sirena.


"Terserah! Pesta pernikahan Nervilia aku yang mengurus! Jadi, aku memutuskan untuk mengundang mereka untuk menghibur." Putus Sirena.


Agda mencoba mengatur emosinya, "Lantas mengapa kau bertanya pada kami kalau kau sudah memutuskan, Sirena?" Agda mengusap dadanya mencoba menyabarkan diri.


Sirena tersenyum mengejek ke arah Agda, "Iseng saja, haha ..."


'Kenapa aku harus memiliki majikan yang aneh seperti Sirena?' batin Irash tersenyum culas.


"Irash, cepat temui pimpinan Krisanthida! Beritahu mereka bahwa aku mengundang mereka untuk memberikan hiburan dalam pesta pernikahan Nervilia!"


Irash mengangguk, dia kemudian berdiri lalu membelah kerumunan untuk menemui pimpinan Krisanthida.


Setelah kepergian Irash, Sirena menatap Agda yang masih merengut kesal, "Setelah Irash selesai, kita pulang. Kau tak perlu kesal lagi padaku, Agda." Sirena menyenggol Agda untuk mencairkan suasana.


"Aku tak peduli!" Ketus Agda, dia melirik kesal pada Sirena. Namun matanya seketika membelalak saat melihat dari balik poni Sirena ada sinar merah yang berpendar, "Sirena! Keningmu bercahaya merah!"


Sirena terkejut, "SERIUS?" melihat anggukan cepat dari Agda membuat Sirena ketar-ketir, "Bahaya! Ini bahaya!" Sirena sontak berdiri dari duduknya.


"Bahaya? Bahaya apa yang kau maksud, Sirena?" Agda ikut berdiri, dia memandang Sirena yang terlihat cemas sekali.


"Pertanda bahwa akan ada serangan monster atau ... iblis ..." Lirih Sirena.


GROAHHHHG


"KYAAA!! MAKHLUK APA ITU?"


Sirena dan Agda menoleh ke sumber suara. Kedua wanita itu terkejut saat melihat banyak sekali monster menyeramkan tiba-tiba datang dan menyerang para rakyat.


"SIRENA! KITA HARUS CEPAT LARI!!" Agda langsung menarik tangan Sirena dan mengajaknya berlari menjauh dari pasar.


Suara teriakan dari rakyat-rakyat desa Aibek begitu menggema dimana-mana akibat ulah monster yang menggila.


Brugh


"Akhh!!" Sirena dan Agda terjatuh bersamaan saat tiba-tiba di depannya muncul sesosok monster mengerikan. Manusia tengkorak dengan gigi tajamnya. Bentuknya hampir sama seperti monster yang menyerang Sirena di hutan Lafayetii.



Monster yang hendak menyerang Sirena dan Agda seketika terpental ke belakang karena mendapat serangan dari Irash yang baru saja datang.


"KALIAN! CEPATLAH PERGI! GUNAKAN PORTAL TELEPORTASI KERAJAAN, SIRENA!" teriak Irash.


"TIDAK BISA!! AKU TAK BISA MENINGGALKANMU SENDIRIAN DISINI, IRASH!" balas Sirena.


Trang


Trang


Brugh


Irash terpental hingga jatuh tepat di depan Sirena. Irash segera bangkit, lalu kembali menyerang monster itu.


"Ayo, Sirena! Kita harus pergi!" Agda panik bukan main, dia bahkan sudah menangis karena terlalu takut.


"T-tapi, I-irash bag-"


"AKU TAK APA! CEPATLAH!" teriakan dari Irash membuat Sirena langsung menggenggam tangan Agda erat, lalu mengajaknya berlari menjauh dari kekacauan. Sembari berlari, tangannya menggenggam liontin kalung steorra dan menggumamkan kalimat agar portal teleportasi kerajaan segera muncul.


Sring



Portal teleportasi kerajaan muncul. Sirena dengan cepat mendorong Agda untuk masuk ke portal teleportasi.


"SIRENA! APA YANG KAU LAK- ARGHH!" Ucapan Agda terhenti saat tubuhnya perlahan tersedot oleh portal teleportasi.


Sirena bernafas tersengal-sengal, "Shh


.. shh ... G-gue nggak m-mungkin lari dari masalah yang gue lakuin, A-agda ..." Setelah berucap seperti itu, Sirena berlari ke arah kerumunan untuk membantu Irash dan beberapa rakyat yang melawan monster.


Sirena tak sadar, bila sedari tadi di atas sebuah loteng tua dekat dengan tempat drama pertunjukan diadakan. Seorang wanita memakai gaun hitam bertudung mengawasinya sembari tersenyum miring.


Wanita misterius itu mengangkat tangannya. Muncul sebuah sihir hitam yang berbentuk bola hitam. Bola hitam itu dia arahkan ke beberapa monster yang menyerang hingga membuat monster semakin membabi-buta.


"Kalau perlu, bunuh Sirena juga." Gumamnya yang merupakan sebuah perintah.


Sedangkan Sirena sendiri hendak menolong ibu-ibu yang menggendong anaknya yang ingin diserang monster dengan terus menyerang monster itu menggunakan batu.


"BU! CEPAT LARI, SEMBUNYI KE TEMPAT YANG MENURUT IBU AMAN!"


Ibu itu mengangguk tak yakin. Pasalnya dia masih terkejut akan kehadiran seorang Putri Sirena. Terlebih saat melihat kening Sirena yang memendarkan sinar merah. Namun demi keselamatan diri dan sang anak, ibu itu lari meninggalkan Sirena yang sudah kewalahan melawan monster.


"BANGSAT! MATI KEK LO!" Sirena sudah tak menemukan batu lagi. Wajahnya pucat saat menyadari bahwa para monster yang semula menyerang warga mulai berjalan ke arahnya.


Para rakyat mendesah lega saat tahu para monster itu sudah bergerak menjauh.


"Jadi, kejadian ini karena Putri Sirena?" Salah satu rakyat bergumam.


"Tak bisa dipungkiri. Lihat keningnya yang terus memendarkan sinar merah. Simbol kutukan, bahwa dialah sang pembangkit!" Ada rasa marah dalam ucapan salah satu rakyat.


"T-tapi dia sudah m-menolongku juga anakku, Yan!"


"SIRENA! LARI!" Seruan dari Irash membuat ucapan para rakyat terhenti dan melihat bahwa para monster menargetkan Sirena.


Sirena, wanita itu berlari menjauhi desa Aibek agar desa itu aman. Tanpa sadar, dia berlari ke arah hutan Donati. Hutan perbatasan wilayah antara kerajaan Willamette dan kerajaan Aquarids yang masih satu kekuasaan dibawah naungan kekaisaran Alhena.


Sret


Sret


"ARGHH!" Lengan Sirena terkena kuku panjang milik monster yang dilayangkan untuknya.


Sret


Sret


Brugh


Sirena terjatuh karena tubuhnya baru saja diserang oleh sihir murni yang entah datang darimana.


"Uhuk ... Ugh," Sirena terkejut bukan main saat dia batuk darah. Dia menoleh ke belakang dimana para monster semakin dekat dengannya.


Sirena bangkit berdiri lagi, lalu kembali berlari sambil memegang liontin kalung steorra berharap agar portal teleportasi kerajaan muncul. Tetapi sayang, portal itu tak kunjung muncul.



"Sial! Hosh ... G-gue lupa ka-lau hosh ... Portal cuma bisa digunain dua kali hosh ... P-pulang dan pergi,"


Sirena terus berlari tanpa menyadari bahwa langkahnya semakin masuk ke dalam hutan Donati yang lama-kelamaan semakin gelap. Yang terpenting dia tak tertangkap oleh monster yang mengejarnya. Akan tetapi, tubuhnya mulai lemas karena efek simbol kutukan di keningnya. Tenaganya perlahan-lahan hilang.


"Shh ... Monster kampret! Shh ..."


Brugh


Sirena terduduk di tanah, dia sudah benar-benar lemas. Dia tak tahu harus berbuat apa. Kakinya benar-benar sudah tak bisa dia gerakkan untuk sekedar merangkak.


Rasa takutnya semakin besar saat para monster itu mengepung dirinya. Air liur yang menetes dari monster manusia tengkorak itu membuat Sirena bergidik ngeri luar biasa.


"Ja-jadi gini rasanya m-main film Re-resident Evil ..." Sirena tersenyum kecut, "Mengerikan!" Dia menyesal sudah membayangkan menjadi tokoh Alice yang pemberani dalam melawan zombie. Sekarang, monster yang mengepungnya jauh lebih mengerikan daripada zombie.


"Musnahkan sekarang!"


Suara lirihan seseorang membuat Sirena mengedarkan pandangannya. Dia benar-benar tak menyangka ternyata para monster ini dikendalikan. Namun dia ingat, yang bisa mengendalikan monster hanyalah raja iblis.


"AMBROGIO AGAFYA SIAALANNN! MATI AJA LO BANG- ARGHHH!!" umpatan Sirena terhenti saat para monster itu menyerang Sirena dengan brutal.


Brughh


Krakk


Para monster bergantian menendang tubuh Sirena bagai bola hingga terpental dan menabrak pohon saking kerasnya tendangan itu.


Sirena merasakan tubuhnya remuk. Tak bisa berbuat apa-apa karena dia tak memiliki sihir untuk melawan para monster.


Sirena hendak bangun, namun tubuhnya kembali di tendang oleh salah satu monster hingga melayang tinggi dan menabrak monster lain. Monster itu menahan tubuh Sirena agar tetap melayang.


Jleb


Sirena merasakan sesuatu yang tajam menusuk punggung Sirena hingga tertembus ke perutnya. Saat dia melihat ke arah perutnya, matanya melotot kaget saat menyaksikan sebuah benda tajam berlumuran darah menembus perutnya.


Slrup


"Ugh ..."


Brugh


Sirena terjatuh ke tanah tepat setelah sesuatu yang tajam itu ditarik paksa. Sirena memejamkan mata. Setetes air mata mengalir dari sudut mata kirinya.


"Si-sirena hiks ... I-ini sakit ugh ..." Sirena menangis sembari menahan rasa sakit luar biasa di perutnya yang berlubang.


"T-tolong ..." Sirena hanya bisa pasrah saat para monster tak ada hentinya untuk menendangnya, seolah-olah membiarkan Sirena mati secara perlahan.


Suara ringikan kuda yang tak jauh dari keberadaannya membuat Sirena membuka mata. Siluet seseorang yang menunggang kuda sembari mengeluarkan pedang miliknya membuat Sirena berpikir keras.



'A-apa gue harus b-benar-benar menjauh dari, A-athan?'


"Imbalan kedua menantimu, Sirena. Jangan berharap kau bisa lari dari balas budimu."


Seseorang itu adalah Athanaxius Deimor.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Jauh di dalam lembah gunung Macrophylla, Ambrogio tengah menahan sakit karena perlahan kekuatannya keluar dari dalam tubuhnya untuk mencari Tuan yang baru.


'AMBROGIO AGAFYA SIAALANNN!!'


Seketika mata Ambrogio terbuka saat telinganya yang super tajam mendengar suara Sirena menyebut namanya.


"Sirena ..." Ambrogio melihat simbol mawar hitam di lengannya yang mengeluarkan sinar merah.


Ambrogio berdiri dari tempat bertapanya. Tangannya terkepal erat saat tahu ada orang yang menyalahgunakan kekuatannya untuk membunuh Sirena, wanita yang akan dia jadikan permaisurinya.


"Wanita sialan!" Desis Ambrogio saat tahu siapa dalang dari semua ini.


Ambrogio lantas memejamkan mata untuk berteleportasi dimana Sirena berada.


Sesampainya di hutan Donati, Ambrogio bersembunyi dibalik pohon. Dia sudah terlambat. Ada seseorang yang sudah lebih dulu membantu Sirena. Seseorang itu tengah menghabisi para monster menggunakan sayap hitam besar miliknya.


"Sialan!" Umpat Ambrogio. Namun tak ayal dia membantu seseorang itu untuk melawan para monster dengan sisa kekuatan pengendalinya.


Demi menolong Sirena, dia rela bila harus terluka parah dan kekuatannya akan terkuras banyak karena ini. Dengan sekuat tenaga, Ambrogio mengerahkan kekuatannya. Dia arahkan ke para monster yang tengah mengerubungi seseorang itu.


"Musnahlah!" Ucap Ambrogio pelan dengan penuh penekanan.


DUARR


Suara ledakan akibat Ambrogio membuat para monster itu hancur membuat seseorang itu mengernyit heran. Tapi tak lama, dia langsung menghampiri Sirena yang sudah tak sadarkan diri dengan wajah pucat.


Athanaxius Deimor. Lelaki itu segera menggendong Sirena lalu pergi menggunakan teleportasi miliknya menuju kerajaan Willamette.


Tinggallah Ambrogio sendirian didalam hutan dengan rasa sedih karena bukan dia yang menggendong Sirena, melainkan orang lain.


"Apakah masih ada harapan agar aku bisa memilikimu, Sirena?"


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?


Kasian Ambrogio, ga sih? ಥ╭╮ಥ