
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Sepeninggal Raja Monachus, rakyat Osaka diliputi duka yang tak kunjung usai. Setelah Kaisar dan Permaisuri, kini mereka harus kehilangan sosok Raja. Ketakutan yang sempat menghilang karena adanya Devita, kini kembali tumbuh karena Osaka diteror terus menerus oleh monster yang mencoba menembus dinding pelindung.
Sirakusa sebagai orang yang melindungi mereka sudah merasa lelah bahkan sampai sakit. Kekuatan miliknya tak seharusnya dia forsir berlebihan atau nyawanya dalam bahaya.
"Kapan mereka akan kembali, Diantha?" Dengan nada lemah Sirakusa bertanya pada sosok perempuan yang baru saja datang dengan tiba-tiba menemuinya.
"Tidak lama lagi, bertahanlah sebentar!" Diantha menyentuh pundak Sirakusa dan tak lama muncul sinar biru yang membuat Sirakusa merasa sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
"Tubuhku mulai melemah. Ini pertama kalinya aku menggunakan kekuatanku dengan skala besar, uhuk-uhuk ..." Sirakusa terbatuk darah karena mendapat pemulihan dari Diantha.
"Aku juga ingin membantumu, tapi kekuatanku tidaklah cukup. Aku juga harus melindungi Kerajaan Uranus yang juga mendapat serangan dari Ratu Amanita." Diantha memandang Sirakusa yang mengusap darah di mulutnya menggunakan sapu tangan.
"Jadi ini alasan mengapa kau benar-benar mengandalkan si kembar?"
Diantha diam sejenak kemudian mengangguk, "Seperti yang tertulis dalam buku ramalan, keturunan terakhir Asthropel yang bisa mengalahkan Sang Dryas."
"Kekaisaran Alioth sudah ditaklukkan. Benua kita sepenuhnya menjadi milik Ratu Amanita sekarang." Gumam Sirakusa.
"Tidak hanya benua kita." Ucapan Diantha membuat kepala Sirakusa menegak, "Benua Majoris juga sudah ditaklukkan. Ratu Amanita membuat perselisihan besar diantara Kekaisaran disana dan membuat perang antar Kekaisaran sedang terjadi saat ini."
"Sekacau itu ..."
"Semakin banyak orang yang ditaklukkan oleh Ratu Amanita maka semakin bertambah pula kekuatan yang berhasil dia serap."
Itulah alasan kenapa Ratu Amanita tak henti-hentinya menaklukkan banyak orang bahkan pemimpin sebuah Kekaisaran besar juga menjadi incarannya. Dengan kekuatan yang bermacam-macam dari banyak orang itulah yang akan membuatnya tak terkalahkan.
"Arghh!!" Sirakusa menggeram menahan sakit saat jantungnya terasa ditikam oleh sebuah pedang. Rasa sakit itu juga tak kunjung menghilang meskipun dia menggunakan sihir penyembuh milikinya.
Diantha tidak tinggal diam, dia juga menyalurkan sihir penyembuh miliknya untuk menghilangkan rasa sakit yang sedang diderita oleh Sirakusa.
"Ak-aku ... T-tidak tahan ..." Rintihan Sirakusa begitu menyayat pendengaran.
"Kalau begitu hentikan." Diantha akhirnya mengerti sebab Sirakusa kesakitan seperti itu, "Tarik kembali sihir pelindung untuk desa Osaka ini. Hanya itu caranya agar kau tetap hidup."
"TIDAK BISA!"
Diantha lantas menoleh ke seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar Sirakusa.
"Bagaimana dengan rakyat Osaka? Apa kau tidak lihat seberapa takutnya mereka melihat monster yang tak kunjung berhenti menyerang desa?" Galcinia bertanya dengan nada membentak.
Diantha memandang Galcinia dengan tatapan lelah, "Takdir tetaplah takdir, manusia diberi kesempatan untuk berusaha. Maka dari itu, inilah saatnya manusia berusaha."
Dengan langkah pelan, Diantha mendekati Galcinia. Sesampainya di depan Galcinia, Diantha mengusap lengan kanan Galcinia, "Aku yakin kau mendengar pembicaraan kami sedari tadi, kau pasti mengerti. Sirakusa sudah berusaha semaksimal mungkin melindungi desa Osaka dari serangan monster dan mempertaruhkan nyawanya sendiri."
Emosi yang tadinya menguasai Galcinia perlahan surut saat matanya dengan jelas melihat wajah Sirakusa yang pucat dan tidak berhenti muntah darah.
"Meskipun dia mendapat anugerah dari Dewa, tetapi dia tak boleh menggunakan kekuatannya berlebihan dalam jarak waktu yang berdekatan. Resikonya adalah nyawanya sendiri." Diantha menoleh untuk melihat Sirakusa lalu kembali menatap Galcinia kembali, "Aku meminta tolong padamu, Galcinia, beritahu suamimu serta Pangeran Elanus untuk bersiap melawan monster. Juga beritahu rakyat bahwa mereka harus bersiap melawan. Aku akan memberi aba-aba dari balkon kamar Sirakusa sebagai tanda bahwa Sirakusa sudah menarik kembali sihirnya."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Dengan air mata yang tak kunjung berhenti, Galcinia menghampiri satu persatu rakyat Osaka agar bersiap melawan monster. Banyak rakyat yang langsung menangis dan meratapi nasib mereka kedepannya akan bagaimana. Mereka sudah ketergantungan terhadap Sirakusa yang selama ini melindungi mereka.
Dan saat mendapat berita bahwa mereka harus melawan para monster mengerikan itu, gemetar serta gelengan kepala lah yang menjadi jawaban para rakyat. Mereka sama sekali tidak siap.
"Kami tidak siap, Putri Mahkota, hiks ... Kami takut ..."
Galcinia ingin mengatakan hal yang sama bahwa dia juga takut dan tak bisa melawan monster yang mengerikan dan menunggu untuk menghabisi nyawa mereka. Akan tetapi, dia memegang posisi sebagai Putri Mahkota, istri dari Putra Mahkota Kerajaan Willamette. Kali ini dia harus berguna untuk dunia yang masih terlihat tak nyata di matanya.
Melihat Falco dan Elanus yang sudah bersiap melawan, maka Galcinia pun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya pelan-pelan guna mengurangi rasa takutnya.
"Mungkin udah saatnya gue harus berguna dan nggak jadi beban lagi bagi siapapun, salah satunya adalah ..." Galcinia melirik ke arah balkon kamar Sirakusa, dimana Diantha sudah berdiri bersiap memberi aba-aba, "Falco." Sambung Galcinia bertepatan dengan sihir pelindung Sirakusa yang sudah menghilang.
BRUG BRUG BRUG
Batu-batu berukuran lumayan besar berjatuhan dari atas langit akibat serangan monster yang memang tiada henti sebelumnya.
"ELANUS! LINDUNGI RAKYAT OSAKA SEBISAMU!" Galcinia memberi instruksi sembari menghindar dari batu-batu yang berjatuhan.
Karena terlalu fokus membantu anak-anak untuk mencari tempat berlindung dari hujan batu, Galcinia tak menyadari bahwa ada batu yang akan jatuh menimpa dirinya.
"GALCINIA, DI ATASMU!" Falco berlari ke arah Galcinia, tetapi usahanya menyelamatkan Galcinia sia-sia karena batu itu berhasil mengenai punggung Galcinia hingga membuat perempuan itu merintih kesakitan.
"PUTRI MAHKOTA!!" Anak-anak yang ditolong oleh Galcinia menjerit histeris saat melihat Galcinia baru saja tertimpa batu.
Galcinia mencoba bangkit meskipun rasa sakit di punggungnya terasa sangat menyakitkan.
"Galcinia! Kau tak apa-apa?" Falco datang dengan raut wajah panik.
Galcinia mendengus, "Lo nggak liat tadi gue ketimpa batu? Jelas aja nggak baik-baik aja lah!" Galcinia pun berdiri dibantu Falco. Lelaki itu tak mengerti apa yang diucapkan istrinya, namun dia mengerti kalau istrinya tengah kesal padanya.
"Putri Galcinia! Pangeran Falco!"
Galcinia dan Falco menoleh ke arah Agda yang berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka.
"Hei bodoh! Kau ini sedang hamil, tapi kenapa malah lari-lari?!" Marah Galcinia pada Agda yang baru saja tiba didepannya.
"Itu tak penting! Aku baru saja menemukan tempat perlindungan sementara yang aman untuk rakyat!"
"Dimana?" Falco menatap Agda penasaran.
"Di rumah kesehatan. Di lantai dapur ternyata ada pintu menuju ruang bawah tanah. Saat aku mengeceknya, ruang bawah itu luas dan terdapat penerangan yang cukup." Jelas Agda dengan satu tarikan nafas.
"Kalau begitu, langsung saja bawa rakyat ke sana."
Galcinia, Falco dan Agda menatap ke arah Diantha yang baru saja tiba.
"Cepatlah!" Pekik Diantha.
Saat membawa para rakyat menuju rumah kesehatan, Galcinia merasa seperti relawan bencana alam di dunianya. Cukup melelahkan namun entah kenapa rasanya seru juga.
Setelah berhasil mengevakuasi rakyat ke ruang bawah tanah, Galcinia melepas kalung steorra yang dia pakai.
'Sebelumnya, Devita pernah pingsan karena nyentuh kalung ini. Kalung ini gue yakin kalung ajaib.' Galcinia menatap kalung yang ada ditangannya, dia lantas menutup matanya, 'Lindungi rakyat Osaka yang tengah berlindung disini, tolong ...'
Selesai mengucapkan kalimat itu, kalung steorra bercahaya putih yang menyilaukan. Galcinia yang baru saja membuka mata langsung terkejut saat benar-benar melihat keajaiban kalung yang dia pakai selama ini.
"Putri Galcinia, cepatlah masuk kemari!" Agda menyembulkan kepalanya dari bawah lantai.
Galcinia menggeleng, "Aku harus membantu yang lain, Agda. Kau tenangkan rakyat Osaka agar tenang, ya?"
"Tapi, Putri ... B-bagaimana kalau ternyata tempat ini berhasil ditembus oleh monster?" Cemas Agda.
"Kau tenang saja. Bawa kalung ini bersamamu," Galcinia menyerahkan kalung steorra yang masih bercahaya kepada Agda, "kalung ini akan melindungimu dan rakyat Osaka disini."
"Bagaimana denganmu, Putri?"
"Aku akan baik-baik saja." Tanpa ragu Galcinia mengucapkan itu, "Sampai jumpa nanti, Agda." Galcinia lantas menutup pintu ruang bawah tanah kemudian meletakkan karpet yang tadinya menutupi pintu ruang bawah tanah. Selesai dengan hal itu, Galcinia lantas keluar rumah kesehatan untuk membantu melawan monster.
Baru saja keluar rumah kesehatan, Galcinia terkejut saat melihat dua monster yang menghadangnya. Monster itu bertubuh kekar dan tinggi, lalu kepalanya dilindungi oleh topi besi yang akan sangat sulit untuk dilawan.
"NGAGETIN AJA, DASAR MONSTER!"
Dua monster itu lantas maju dan menyerang Galcinia dengan brutal menggunakan tombak.
Sebisa mungkin Galcinia terus menghindar dari serangan dua monster yang sangat menginginkan nyawanya itu.
Galcinia mencoba balik menyerang dengan pisau dapur yang dia ambil tadi, tapi tak berpengaruh sama sekali terhadap monster berkepala besi itu.
Monster itu lantas mengayunkan kakinya hingga berhasil mengenai tubuh Galcinia dan membuatnya terpental jauh ke belakang.
Duagh
Brugh
"Shh ... Sa-sakit banget!" Galcinia mengusap punggungnya yang semakin terasa nyeri. Matanya memandang lurus ke arah monster yang menyerangnya tadi.
"Gue yakin pasti monster itu ada kelemahannya." Mata Galcinia terfokus pada bulatan merah kecil yang berada di kening monster itu, "Mungkin aja itu kelemahannya."
Galcinia kemudian berdiri, mempersiapkan diri untuk melawan monster itu. Galcinia melirik batu berukuran sedang yang ada di sebelah kakinya. Senyum miring muncul di bibirnya, "Semoga aja ilmu tolak peluru yang gue pelajari nggak sia-sia untuk kali ini."
Galcinia mengambil batu itu, lantas berancang-ancang untuk melempar batu itu ke kening monster.
"RASAKAN INI, MONSTER!" Galcinia melempar batu itu dan ...
DUGH
"ARGHHH!!"
Monster itu berteriak hingga memekakkan telinga saat batu tersebut berhasil mengenai titik merah di keningnya.
"YES, BERHASIL!" Galcinia sangat senang. Dia lantas melakukan lemparan lagi ke monster satunya yang sudah berlari ke arahnya untuk menyerang.
DUGH
Lemparan batu Galcinia berhasil lagi dan menyebabkan monster kepala besi itu akhirnya jatuh lalu hangus.
Galcinia mengatur nafas setelahnya. Setelah lebih baik, Galcinia melakukan lemparan lagi dan lagi melawan monster sejenis tadi yang tengah menyerang Falco.
"MONSTER KEPALA BESI KELEMAHANNYA ADA DI KENINGNYA! TUSUK TITIK MERAHNYA, FALCO!"
Falco yang mendengar itu lantas mencari kesempatan untuk membunuh monster kepala besi yang terus gencar menyerangnya.
Jleb
Falco berhasil menusuk titik merah di kening salah satu monster kemudian mencabut kembali pedangnya. Lelaki itu lantas melakukan hal yang sama pada monster-monster kepala besi yang lain dengan brutal.
Melihat kebrutalan Falco menghabisi para monster membuat Galcinia bergidik ngeri. Suaminya terlihat mengerikan seperti malaikat pencabut nyawa dengan pedangnya yang berlumuran darah hitam.
Galcinia lantas menoleh ke arah Elanus yang nampaknya sudah kelelahan untuk melawan para monster. Dia berniat membantu Elanus, tetapi matanya tak sengaja melihat sosok Athanaxius yang terbang di langit dan melemparkan pedang saktinya ke arah Falco.
"FALCOO!!" Galcinia berlari sekuat tenaga ke arah Falco dengan jantung yang berdegup kencang.
Mendengar teriakan Galcinia, Falco menoleh dan mendapati Galcinia yang langsung memeluknya hingga membuat keduanya langsung terjatuh.
Brugh
Jleb
Mata Falco membulat saat melihat pedang yang menusuk dada kanan Galcinia.
"Ap-apa k-kau terluka?" Galcinia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah tampan Falco yang terlihat khawatir.
"Kenapa kau melindungiku, Galcinia?" Falco meneteskan air mata saat melihat mulut Galcinia mengeluarkan darah.
Galcinia tidak menjawab, tetapi tangannya menunjuk ke arah Athanaxius yang terbang di langit.
Falco pun melihat kemana jari Galcinia menunjuk. Dia mendapati sosok Athanaxius yang tengah menyeringai.
"SIALAN KAU, ATHANAXIUS!!" Falco berteriak marah.
Athanaxius hanya tertawa saja menanggapi amarah Falco. Lelaki itu lantas menarik mundur monster yang masih menyerang hingga akhirnya menghilang.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Lebaran sebentar lagi, tidak ada hari libur. Aku update sebisaku ya sayang-sayangku :*
Terimakasih sudah terus mendukung cerita abal-abalku ini ...