The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 17: Misi Gagal!



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Athanaxius memandang Sirena dengan tatapan heran, "Apakah Putri dari Kerajaan Willamette saat tidur selalu berposisi seperti itu?" Athanaxius menghela nafas, "Menyusahkan!"


Dengan gerakan pelan dan lembut, Athanaxius memindahkan posisi kepala Sirena yang menggelantung dipinggir dipan, lalu tangannya merapatkan mulut Sirena yang terbuka.


"Emh ..." Sirena melenguh setelah Athanaxius membenarkan posisi kepalanya yang menggelantung. Lalu tiba-tiba Sirena mengalungkan tangannya ke leher Athanaxius hingga membuat posisi wajah keduanya sangat dekat. Athanaxius sontak menahan berat tubuhnya dengan menumpukan kedua tangannya di sisi kanan kiri kepala Sirena.


Ditempatnya Athanaxius tengah menahan nafas, 'Wanita ini agresif sekali. Aku baru tahu ada wanita bangsawa yang tidak ada wibawanya sama sekali sepertinya.'


"Pangeran ... hihihi ..." Athanaxius menatap datar Sirena yang masih memejamkan matanya namun mulutnya berbicara sembari tersenyum, "Tolong cintai aku seumur hidup bisa tidak?"


"Tidak."


Dalam tidurnya, Sirena merasa bingung, bagaimana bisa guling yang dia peluk sekarang bisa bicara? Perlahan Sirena mencoba membuka matanya. Dan ...


"ASTAGADRAGON!!!"


Brugh


"Sialan!"


Sirena menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, matanya membola karena begitu terkejut kala mengetahui yang dia peluk bukanlah guling, melainkan psikopat ganteng. Maka dari itu dia refleks mendorong dengan kuat Athanaxius hingga terjengkang ke belakang.


Segera saja Sirena beranjak dari dipan lalu menghampiri Athanaxius untuk membantunya berdiri. Namun Sirena kalah cepat, Athanaxius sudah berdiri sendiri. Sekarang Athanaxius tengah menatapnya dengan tajam hingga Sirena tak berani menatap Athanaxius.


"M-maafkan aku ... A-aku tak s-se-sengaja mendorongmu ..."


Tak ada jawaban dari Athanaxius membuat Sirena mendongak, lalu kembali menunduk dengan cepat saat melihat wajah siap membunuh Athanaxius.


"Kau-"


"HUAHHH MAAFKAN AKU, PSIKOPAT GANTENG! AKU BENAR-BENAR TAK SENGAJA ... TOLONG JANGAN BUNUH AKU ..." Sirena berlutut memeluk kaki Athanaxius erat.


"Bunuh?" Perlahan seringaian Athanaxius terbit, "atas alasan apa aku harus mengampuni nyawamu?" Athanaxius menggerakkan kakinya hingga tangan Sirena terlepas. Lelaki itu berjalan memunggungi Sirena yang menatap tercengang Athanaxius.


"Aku tak pernah mengampuni nyawa orang yang membuatku kesal, kecuali orang itu menguntungkan."


"Menguntungkan?" Gumam Sirena, "A-aku akan memberimu imbalan sesuai keinginanmu. T-tapi kau jangan membunuhku, ya?" Sirena sudah bersusah payah agar terbebas dari hukuman mati, dia tak akan rela bila harus mati terbunuh di tangan psikopat ganteng.


"Sesuai keinginanku?" Athanaxius berbalik menatap Sirena, "Jangan menyesali akan keputusanmu itu, Sirena ..."


Mendengar perkataan Athanaxius, Sirena merasa ada yang tidak beres. Rasa menyesal mulai menjalari hatinya. Sirena bisa melihat bahwa psikopat ganteng ini adalah orang licik.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Sirena merapatkan jubah yang tengah dia kenakan sekarang. Di sampingnya ada Athanaxius yang berjalan tegap dengan tatapan mata yang waspada. Saat ini keduanya memasuki pusat kota Kekaisaran Alhena, sedangkan perpustakaan kekaisaran berada tak jauh dari istana kekaisaran, masih di pusat kota.


Sirena sesekali mencuri pandang kepada Athanaxius. Saat Athanaxius balas memandang, Sirena langsung membuang muka, memandang sekeliling dimana anak-anak asik bermain. Seketika Sirena ingat di dunianya, agak mirip tapi itu dulu. Sekarang anak-anak di dunianya sudah jarang yang bermain bersama, lebih memilih bermain gadgetnya masing-masing.


"Kudengar rumor Putri Sirena sudah melupakan Pangeran Elephas, apa kau mempercayai rumor itu, Dhe?"


Sirena menghentikan langkahnya saat tak sengaja mendengar pembicaraan dua orang wanita bangsawan yang menyangkut namanya. Athanaxius pun ikut berhenti saat melihat Sirena berhenti, matanya mengikuti arah pandang Sirena.


"Tentu saja tidak! Putri Sirena yang bodoh itu, sudah berani merebut calon suami Putri Nervilia dan hampir mencelakai Putri Nervilia, tapi masih dibebaskan dari hukuman mati? Ckck! Seharusnya Putri Sirena mati saja. Kau tahu, Phai? Karena ulah Putri Sirena, sekarang seluruh kekaisaran dari penjuru negeri merasakan kegelisahan akibat monster yang dikendalikan Raja iblis!"


'Sabar ... Orang sabar cepet kaya dan dapet suami ganteng!' Sirena menghembuskan nafas kesal. Setelah itu dia kembali melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan.


Tak butuh waktu lama, dia sudah berada di depan perpustakaan kekaisaran. Ada beberapa legion kekaisaran yang berjaga.


"Kau pergilah sendiri. Aku ingin pulang,"


Sirena mendongak untuk menatap Athanaxius, "Kau ingin pulang sekarang?"


Athanaxius mengangguk, lalu hendak berbalik dan melangkah pergi. Namun, lagi-lagi Sirena menahan Athanaxius.


"Athan ..." Athanaxius menoleh, menatap wajah Sirena yang nampak ragu-ragu mengatakan sesuatu, "A-apa kau tahu cara memunculkan portal teleportasi? A-aku hanya bingung, bagaimana caraku pulang."


Athanaxius menarik tangannya yang dipegang oleh Sirena hingga terlepas, "Bukan urusanku." Setelahnya Athanaxius benar-benar pergi hingga hilang dari pandangan Sirena.


Sirena mengepalkan tangannya karena merasa kesal, "Sumpah! Lama-lama gue stress kalau ngadepin manusia kuampret semacem Athanaxius!" Sirena tahu nama Athanaxius tadi pagi setelah drama termehek-mehek yang dia buat.


Sirena lebih memilih segera masuk ke perpustakaan kekaisaran. Tapi siapa sangka bila memasuki perpustakaan kekaisaran harus menunjukkan tanda pengenal.


"Maaf, Nona Muda, Anda tidak bisa memasuki perpustakaan kekaisaran bila tak menunjukkan tanda pengenal Anda dan tujuan Anda kemari."


Memberitahu sama saja cari mati. Sirena tak boleh membiarkan mereka tahu siapa dia.


"Apakah harus? Saya hanya ingin meminjam buku bisnis. Ku dengar di perpustakaan kekaisaran sangatlah lengkap tentang buku-buku bisnis." Sirena berbicara tanpa membuka tudungnya, membuat dua legion yang mencegatnya semakin curiga.


"Tentu saja sebuah keharusan, Nona Muda. Ini sebuah peraturan yang dibuat langsung oleh Efarish Sirakusa Kartago. Jadi, serahkan tanda pengenal Anda, Nona Muda."


Sirena bingung sekarang, bila dia menyerahkan tanda pengenal maka dia akan ketahuan, tapi bila tak menyerahkan tanda pengenal maka semuanya usahanya, usaha Adelphie dan Agda akan sia-sia.


Brugh


Sirena terduduk di tanah, menangis, "Tuan-tuan hiks ... B-bagaimana s-saya menunjukkan tanda pengenal bila ... hiks ... R-rumah saya terbakar dan tak ada yang tersisa hiks ... hiks ..."


Kedua legion itu saling tatap, namun salah satu menggelengkan kepalanya. Satu legion lagi membantu Sirena berdiri, "Kami turut berduka atas musibah yang menimpa Anda, Nona Muda. Tetapi peraturan tetaplah peraturan, Anda tak bisa memasuki perpustakaan kekaisaran tanpa kartu pengenal. Harap datanglah lain kali,"


Sirena menghentikan akting menangisinya. Dia kemudian mengangguk, tanpa kata dia berbalik dengan langkah terseok-seok. Usahanya mencari petunjuk di perpustakaan kekaisaran, gagal!


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Sirena terduduk lemas seperti gelandangan di samping kedai sembari memegangi perutnya yang terus berbunyi. Dia benar-benar tak menyiapkan apapun, bahkan uang sepeserpun, hanya mental nekat yang dia bawa.


Krughh~


"Laper hiks ..." Sirena melengkungkan bibirnya ke bawah, tangannya mengusap perutnya berkali-kali, "Anak-anak, sabar ya? Nanti setelah kita pulang, kita makan sup satu kuali."


"Rakus!"


Sirena langsung bangun dari duduknya, memperhatikan sekeliling apakah ada orang yang baru saja menyahutinya.


"Wanita bodoh! Ck!"


"WAAA!" Sirena kaget akan kehadiran Athanaxius yang tiba-tiba ada di sebelahnya. Sirena mengelus dadanya guna meredakan rasa keterjutannya.


"Hanya bermodal nekat, bagaimana kau menghadapi dunia yang kejam ini, Sirena?" Athanaxius berjalan memutari Sirena. Athanaxius berhenti di belakang Sirena, menunduk kemudian berbisik di telinga Sirena, "Kalau hanya mengandalkan nekat, kau mati, Sirena."


Mata Sirena membola, "M-mati?"


Athanaxius menghela nafas, memandang jengah wajah pucat Sirena, "Sudahlah! Ikut aku." Tanpa menunggu jawaban Sirena, Athanaxius menarik tangan Sirena masuk ke dalam kedai.


Mata Athanaxius mengedar melihat kedai yang nampak sepi. Setelahnya Athanaxius kembali menarik tangan Sirena duduk di salah satu kursi.



"Apa tujuanmu mengajakku masuk ke kedai, Athan? Kau tahu aku tak punya uang untuk membayar makanannya." Sirena dapat melihat ada satu pelayan laki-laki yang berjalan menghampiri mereka.


"Kau pikir aku tak sanggup membayar, hm?"


Sirena menggelengkan kepalanya cepat, "T-tidak! Bukan begitu maksudku, Athan. H-hanya saja aku suka melampaui batas bila menyangkut makan, hehe ..." Sirena tanpa sadar menepuk keningnya. Hampir saja dia membuat kesal Athanaxius, bisa-bisa nyawanya melayang dalam kondisi perut kosong.


Athanaxius duduk bersandar sambil bersidekap dada. Matanya memandang Sirena tajam, "Kalau begitu pesan apa yang kau mau."


Sirena berbinar mendengarnya, "Boleh?"


"Hm."


"Asik! Pelayan! Saya pesan ini, ini, ini, ini, dan ini. Lalu minumnya ini, tiga gelas, terimakasih." Sirena menutup buku menu dengan perasaan senang.


Berbeda dengan Athanaxius yang terperangah. Dia kehilangan kata-kata  yang hendak dia ucapkan untuk Sirena. Pertanyaannya, apakah Sirena mampu menghabiskan makanan yang dia pesan?


'Wanita ini benar-benar tak mencerminkan seorang Putri kerajaan ...'


"Pangeran Athanaxius Deimor sangatlah baik hati." Sirena menampilkan senyum manisnya, "Semoga kebaikanmu ini akan terus berlanjut, hehee ..."


"Tidak tah-"


"Tuan, Nyonya, ini pesanan Anda sekalian ... Selamat menikmati ..."


Prok prok prok


Sirena bertepuk tangan heboh, "Wahhh! Aku baru saja memesan dan makanan sudah ku dapatkan dengan cepat? Ini keren!!" Sirena memandang  makanan yang tersaji di atas meja.



"Kesenangan pelanggan adalah yang utama, Nyo- ASTAGA PUTRI SIRENA?" Pelayan lelaki itu terkejut saat tudung yang dikenakan Sirena terbuka dan memperlihatkan wajah cantik miliknya.


Pelayan itu tanpa sadar menunjuk wajah Sirena, " P-putri ... Bukankah  seharusnya P-putri sudah m-mati?"


Sirena bangkit dari duduknya, menepis tangan pelayan lelaki itu yang berani menunjuknya, "Kalau aku seharusnya masih hidup, memang ada urusannya denganmu, huh?"


Pelayan itu menundukkan kepalanya, "M-maafkan atas kelancangan h-hamba, Putri ..." Pelayan itu segera berlalu pergi begitu saja.


Sirena kembali duduk setelah menatap kepergian pelayan lelaki itu. Menghela nafas lelah, dia mengambil sendok lalu memakan makanan yang tersaji di atas meja hingga mulutnya penuh.


"Menarik sekali,"


Sirena menatap Athanaxius yang tengah memasang wajah mengejek ke arahnya.


"Tak kusangka aku harus bertemu dengan seorang Putri bodoh dan tak berguna sepertimu," Ujar Athanaxius dengan wajah sengaknya.


Sirena mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Shut up your mouth, fuckboy!" Mata Sirena berkaca-kaca, dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya yang menetes.


'Kita emang sama, Sirena. Gue, lo, hidup untuk dicaci oleh orang-orang.' Sirena menghapus air matanya dengan cepat. Dia lalu melanjutkan makannya yang tertunda. Sedangkan Athanaxius diam ditempatnya memandang wajah Sirena dengan tatapan yang sulit diartikan.


Athanaxius sebenarnya tidak pulang. Dia berkeliling pusat kota kekaisaran Alhena untuk mengetahui desas-desus tentang Sirena, wanita yang ditolongnya dari monster. Kegiatannya membuahkan hasil. Dari yang dia ketahui, Sirena adalah Putri yang dibenci diseluruh kerajaan Willamette bahkan kekaisaran Alhena. Nama Sirena begitu santer dikabarkan sebagai Putri pembawa petaka, Putri yang membangkitkan Raja iblis hanya karena ingin menumbalkan saudarinya, yaitu Putri Nervilia atas dasar rasa cintanya pada Pangeran Putra Mahkota Kekaisaran Elephas. Tak hanya itu, dia mendengar bahwa Sirena tak memiliki sihir murni, hingga membuatnya dianggap tak berguna oleh keluarga kerajaan.


Athanaxius tersenyum miris, hanya karena cinta seseorang bisa menjadi sangat bodoh dan tak berpikir logis.


Berbeda dengan mereka berdua, seseorang yang duduk tak jauh dari mereka tengah menyembunyikan senyum liciknya.


"Putri Sirena ... Kau harus dihukum,"


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?


Pipit up tiga hari sekali, bila Pipit agak melar waktunya untuk up, Pipit ada kendala yang nggak bisa dijelasin. Mohon pengertiannya ya readers ...