The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 42: Hutang Penjelasan



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Tak terasa hari pernikahan Nervilia akan segera tiba. Hari esok, tepat di hari esok, pernikahan Nervilia akan berlangsung.


Beberapa Putri dari kerajaan lain sibuk membantu Nervilia melakukan adat pernikahan untuk pengantin wanita. Sudah menjadi tradisi di Willamette, bahwa pengantin wanita harus pergi ke Hypatia dengan jalan kaki tanpa menggunakan alas kaki dan nantinya akan bermalam disana. Perjalanan pengantin wanita akan diikuti para wanita yang masih gadis juga dengan ibu sang pengantin.


Sedangkan untuk pengantin pria, mereka diharuskan berjalan kaki menuju Hypatia untuk menjemput pengantin wanita setelah pengantin pria resmi mengucapkan ikrar pernikahan di rumah sang pengantin wanita. Saat itulah yang paling meriah, di belakangnya para tamu undangan akan turut serta berjalan kaki menemani sang pengantin pria dengan membagikan satu koin emas untuk para rakyat jelata. Pembagian koin emas ini berlaku untuk para bangsawan serta keluarga kerajaan ataupun kekaisaran.


"Kak Nana, apakah aku diperbolehkan ikut dalam pesta pernikahan Tuan Putri Nervilia?" France bertanya dengan nada ragu sambil menunduk di depan Sirena yang tengah memegang baju khusus untuk France.


"Kenapa tidak?" Sirena tersenyum, "Apa yang membuatmu bertanya seperti itu? Apakah ada orang yang melarangmu?"


France menggeleng cepat, anak ini membuat Sirena curiga. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan. France terlihat lebih pendiam semenjak dia diajak berbincang dengan Raja Monachus.


"Apakah Pak Raja mengatakan sesuatu yang membuatmu merasa tak enak hati tinggal bersamaku?" Sirena memegang kedua pundak France. Anak kecil di depannya terlihat lebih tampan dari sebelumnya.


"E-em itu ..."


"Katakan saja. Kau tak perlu takut, aku akan melindungimu, seperti janji yang aku ucapkan."


France akhirnya mendongakkan kepalanya dan menatapnya, "Kata Yang Mulia Raja Monachus, dia ingin aku pergi dari sini agar tidak mengganggu Kak Nana," mata France berkaca-kaca, "Sebagai jaminan hidupku, Yang Mulia Raja Monachus akan memberiku sebuah rumah bagus di pusat kota Willamette dengan syarat, yaitu pergi dari Manor ini."


Sirena tak bisa untuk tak marah, "Udah tua bukannya tobat, malah nyari dosa mulu!" Sirena memeluk France untuk menenangkan anak itu, "Kau tak perlu pergi dari Manor ini. Manor ini milikmu, milik kita bersama. Siapapun yang membutuhkan tempat untuk pulang, Manor ini akan menjadi tempat pulang."


Prok prok prok


Sirena mengurai pelukannya dari France. Dia menatap ke arah pintu kamar France yang memang terbuka, disana ada Agda dan Adelphie serta Aindrea yang menatapnya sambil tersenyum mengejek.


"Lihatlah! Sirena sekarang sudah menjadi ibu-ibu!"


"Hahaha ..." Adelphie terbahak melihat raut wajah Sirena yang cemberut.


"Sirena, sepertinya France tidak cocok menjadi adikmu, dia lebih cocok menjadi anakmu, hahaa ..." Aindrea juga ikut menjahili Sirena.


France hanya bisa tersenyum malu-malu saat melihat orang-orang dewasa itu melemparkan candaan. Tetapi dalam hati, dia sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Sirena, orang baik hati yang rela menampungnya serta memberikan pendidikan untuknya. Selain Sirena, orang-orang di dalam Manor ini juga begitu ramah kepadanya.


"Sialan kalian!" Sirena memperagakan ingin menonjok mereka dan gerakan Sirena pun ternyata dibalas oleh ketiga orang jahil itu.


"Akhh!!" Agda yang pura-pura terhempas ke belakang.


Adelphie, dengan gerakan mengelak seakan-akan dia akan terkena pukulan dari Sirena.


"ASTAGA HIDUNGKU!!" pekik Aindrea seolah-olah Sirena berhasil menonjok hidung mancung Aindrea.


"LELUCON MACAM APA INI, SAUDARA-SAUDARA!" Sirena benar-benar geram. Akhir-akhir ini mereka selalu menjahili Sirena.


Ketiga orang itu tertawa kencang. Tak lama Aindrea berjalan hingga berdiri di sebelah France, menepuk kepala anak itu dua kali, namun tatapannya tertuju pada Sirena.


"Sirena, Krisanthida sudah sampai di depan. Apa kau tak ingin menyambut mereka?"


Mata Sirena membulat sempurna, pasalnya Irash sebelumnya memberitahunya bahwa Krisanthida menolak untuk menghibur di acara pesta pernikahan Nervilia. Ngomong-ngomong soal Irash, lelaki itu patah tulang yang membuatnya tak bisa berjalan hingga sekarang setelah peristiwa serangan monster di Desa Aibek.


"B-benarkah? Bukankah mereka sebelumnya menolak?"


"Untuk itu, coba kau tanyakan langsung. Aku masih harus menghitung hasil penjualan anak buahku yang berjualan di festival." Aindrea pun pamit untuk pergi ke ruang kerja miliknya.


Sirena menyamakan tingginya dengan France, "Mau ikut denganku menemui mereka?"


France mengangguk dengan semangat, "AYOOO!"


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Di tempat yang berbeda, tepatnya kamar Pangeran Putra Mahkota Kekaisaran Alhena, yaitu Pangeran Elephas, lelaki itu baru saja pulang dari Hypatia untuk mendapatkan pemberkatan dari Hester.


Di samping lelaki itu ada tangan kanannya yang senantiasa bersamanya.


"Anda pasti sangat senang sekarang, akhirnya Anda akan menjadi suami dari Tuan Putri Nervilia." Elephas hanya menanggapi tangan kanannya yang bernama Ninox Sculata dengan senyum tipis.


"Kudengar, Sirena yang mengurusi pesta pernikahanku dengan Nervilia di Kerajaan Willamette. Apakah kau menemukan hal yang mencurigakan selama wanita itu mengurusnya?"


"Selama hamba mengawasi Putri Sirena, tidak ada yang mencurigakan, Pangeran. Hamba bahkan terkejut saat Putri Sirena sedang merintis usaha kecil-kecilan."


"Usaha kecil-kecilan?" Elephas berpikir keras, apakah Sirena mempu untuk berbisnis? Selama ini yang dia tahu, perempuan itu hanya tahu cara mencari perhatiannya saja.


"Ya, Putri Sirena mengembangkan kacang kedelai menjadi makanan bernama tempe dan tahu lalu menjualnya di pasar dengan harga yang sesuai untuk rakyat jelata, bahkan para legion yang ada disana juga diajarkan untuk membuatnya."


Elephas mengangguk-angguk, "Lalu, apakah dia masih menyimpan lukisan diriku di Minornya?"


Ninox menggeleng, "Tidak ada, Pangeran. Achilles Aindrea membakar lukisan Anda atas perintah Putri Sirena."


Elephas menghela nafas lega, dia mengira Sirena masih tergila-gila padanya. Namun, perubahan sikap Sirena begitu cepat dan membuatnya hampir tidak percaya.


"Apa kau yakin, ini bukan triknya untuk menarik perhatianku lagi kan?"


Ninox nampak berpikir, tetapi setelah dia tinggal beberapa hari disana, menyamar menjadi salah satu legion yang berjaga di depan gerbang Manor membuatnya tahu bahwa Sirena yang sekarang menganggap derajat semua orang sama. Sirena tak membedakan siapapun dalam bergaul. Dia juga sering melihat kedatangan Pangeran dari Kekaisaran Alioth yang merupakan calon suami Sirena.


"Sepertinya tidak. Putri Sirena kini sudah menjadi calon istri Pangeran dari Kekaisaran Alioth. Bisa jadi Putri Sirena sudah melupakan Anda, Pangeran."


Elephas puas akan informasi dari tangan kanan kepercayaannya ini, "Selain Sirena, bagaimana dengan calon istriku? Apakah dia baik-baik saja?"  Elephas bisa membayangkan senyum manis Nervilia saat ini. Wanita itu pasti sangat bahagia sekarang.


Lelaki itu semakin merasa lega. Akhirnya Nervilia merasakan kebahagiaan setelah lama menderita karena ulah Sirena. Sirena yang terus menyiksa Nervilia dengan berbagai cara, ingatan itu membuat kebencian untuk Sirena semakin bertambah. Meskipun dia mendengar Sirena sudah berubah, tidak menutup kemungkinan itu semua hanyalah topeng busuk Sirena. Dia tak akan termakan drama murahan Sirena untuk kesekian kalinya.


'Aku tak akan semudah itu percaya padamu, Sirena. Kau tetaplah pembawa penderitaan untuk Nervilia, orang yang kucintai.'


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Selesai menemui para anggota Krisanthida, Sirena pergi ke istana Azalea dimana tempat pesta pernikahan diadakan. Sirena hanya ingin memastikan, apakah semuanya sudah benar-benar beres atau masih ada kendala.


Sirena tidak sendiri, dia ditemani France yang terus dia gandeng. Anak ini masih belum terbiasa dengan suasa istana.


"Bagaimana, France? Apa kau menyukai tinggal di istana yang besar ini?"


"Aku tidak menyukainya."


Sirena berhenti melangkah, dia memandang France, "Kenapa?"


"Aku tak akan sanggup hidup dengan orang-orang palsu, Kak Nana." Balas France dengan wajah polos, "Kata Ibu, istana adalah tempat yang menyeramkan bagi orang yang mengerti, namun tempat yang menyenangkan bagi orang yang serakah."


"Apa kau mengerti dengan maksud ibumu?"


"Aku mengerti." Mendengar itu Sirena terdiam. France terlalu dewasa untuk memahami banyak hal.


France dengan berani menyentuh pipi Sirena, "Bagaimana Kak Nana bisa bertahan hidup di sini yang membuat Kak Nana tersiksa?"


Sirena tersenyum tipis, "Tentu saja untuk alasan tertentu. Kalau Kakak memilih pergi, itu sama saja Kakak menyerah. Tuhan tidak menyukai orang yang suka menyerah sebelum berperang."


"Aku ingin seperti Kak Nana,"


Kerutan tipis muncul di kening Sirena, "Ingin sepertiku?"


France mengangguk, "Aku ingin menjadi orang yang suka menolong seperti Kak Nana. Nanti kalau aku sudah dewasa, Kak Nana yang akan pertama kali merasakan kesuksesanku."


Sirena menutup mulutnya dan matanya menatap France terharu, "Kalau begitu cepatlah dewasa!"


"Putri Sirena?"


France dan Sirena menoleh, ternyata ada beberapa Putri dari kerajaan lain yang melihatnya dan France.


"Anda tidak bersiap-siap untuk ikut menemani Putri Nervilia menuju Hypatia?" Salah satu Putri bergaun merah bertanya pada Sirena.


"Tidak, saya masih sibuk mengurus banyak hal." Sahut Sirena. Ketiga Putri ini nampak asing bagi Sirena.


"Oh sebelumnya, perkenalkan, saya adalah Putri Ketiga Kerajaan Epsilon, Grifilda Amatira Fan Epsilon dan ini adik saya, Fayanaka Claire Fan Epsilon." Putri bergaun merah memperkenalkan diri serta adiknya yang bergaun biru cerah.


"Saya Putri bungsu Kekaisaran Spicalyze, Annethe Ilyartiza Lyz Spicalyze."


Mereka semua memperkenalkan diri dengan anggun di depan Sirena. Sirena hanya menanggapi dengan senyum tipis.


"Perkenalkan, France Asthropel, adik saya." Sirena memperkenalkan France kepada ketiga Putri itu.


France menundukkan kepalanya, "Semoga keberkahan dan kebaikan Dewi Andromeda dan Dewa Sirius menyertai Putri-putri sekalian ..."


"Saya dengar, Anda mendapat dua lamaran, dan Anda menerima lamaran Pangeran Athanaxius. Kabar bahwa Anda menolak Pangeran Phyron menyebar di kalangan bangsawan bahwa Anda menjadikan Pangeran Athanaxius sebagai pelampiasan. Apakah hal itu benar? Maaf kalau saya lancang bertanya, saya hanya ingin tahu dari orangnya langsung." Putri Annethe merasa tak enak, tetapi dia juga penasaran.


"Siapa yang menyebarkan kabar itu? Apakah saya harus dikelilingi kabar yang menyebalkan seperti itu?" Sirena mendengus, "Saya menerima lamaran Pangeran Athanaxius karena saya yakin bahwa dia adalah takdir untuk saya, bukan sebagai pelampiasan."


"Maaf atas kelancangan saya bertanya seperti itu, Putri Sirena." Putri Annethe menunduk merasa bersalah.


"Maaf, apakah saya boleh bertanya, Putri Sirena?"


"Akan saya jawab kalau pertanyaan Anda masuk akal, Putri Kayanaka." balas Sirena, tangannya kini bersidekap dada.


"Apakah Anda mencintai Pangeran Athanaxius?"


Sirena melihat raut sedih dari Putri Kayanaka. Saat melihat lamat-lamat, apakah Putri Kayanaka yang dimaksud Athanaxius?


"Mengapa Anda bertanya seperti itu?"


"Saya hanya khawatir, Anda tidak akan berumur panjang saat menikah dengannya nanti." Raut wajah Putri Kayanaka masih sama.


'Apa mungkin dia orangnya? Apa mungkin dia yang dimaksud Athanaxius?'


"Anda tidak perlu khawatir, hidup dan mati saya sudah diatur oleh Tuhan. Saya tidak takut umur saya pendek kalau Anda ingin tahu."


France kagum dengan apa yang diucapkan Sirena. Sirena akan menjadi idola kedua setelah ibunya bagi France.


"K-kalau begitu, s-saya permisi ..." Tiba-tiba Putri Kayanaka melenggang pergi sembari meremas kedua sisi gaunnya dan menundukkan kepalanya.


Putri Annethe dan Putri Grifilda pun pamit kepada Sirena untuk menyusul Putri Kayanaka.


Setelah kepergian ketiga Putri itu, Sirena kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti dengan pikiran yang terus tertuju pada Athanaxius dan Putri Kayanaka.


'Athanaxius, lo hutang penjelasan sama gue.'


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?