
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Hari pernikahan Nervilia sudah tiba. Karena hal itu, Sirena harus bangun lebih pagi untuk bersiap-siap. Beruntung dia sudah membuat gaun sederhana yang dia gunakan untuk kondangan. Gaun yang dia rancang sendiri.
Sirena bercermin, menatap bayangan penampilannya yang terlihat begitu anggun dan cantik. Matanya tak bisa untuk tak berkaca-kaca, masih tidak menyangka, akhirnya dia merasakan bagaimana memiliki tubuh ideal dan sempurna dengan gaun yang melekat di tubuh.
Saat ini, dia tengah memakai gaun berwarna coklat susu. Sengaja memilih warna coklat susu karena dia ingin terlihat berbeda dari yang lain. Dia pastikan banyak tamu wanita bangsawan yang akan mengenakan gaun warna putih.
"Oke, nggak boleh nangis! Sirena udah kasih kesempatan buat gue, gue harus manfaatin sebaik mungkin." Sirena menyunggingkan senyum manisnya.
Tok tok tok
"Sirena, aku membawa pesan dari Yang Mulia Raja Monachus untukmu."
Mendengar suara Agda, Sirena segera menghampiri pintu lalu membukanya. Sirena melihat Agda yang hari ini mengenakan gaun biru rancangannya, terkesan sederhana namun elegan.
"Pesan apa?" Mata Sirena kali ini tertuju pada sebuah kotak lumayan besar yang dibawa Agda, namun kotak itu tertutupi oleh sebuah kain.
"Pesan itu menyuruh kau agar mengenakan mahkota Putri Willamette." Agda menyerahkan kotak itu ke tangan Sirena, "Kau harus memakainya, Sirena. Selama ini kau tak pernah mendapat kesempatan untuk memakai mahkota Putri Willamette, bukan?"
Itu benar. Sirena asli tidak pernah memakai mahkota Putri Willamette selama dia menjadi Putri di Kerajaannya sendiri. Mahkota sangatlah penting untuk Putri Raja, hal itu menunjukkan bahwa dia memang anak Raja yang diakui. Hanya Sirena yang tak mengenakan mahkota di istana Willamette ini.
Sirena tak mengatakan apapun, Sirena lantas membuka kain yang menutupi kotak itu. Saat dibuka kotak kaca yang melindungi mahkota Putri Willamette pun terlihat.
Agda menganga saat melihat mahkota itu terlihat bagus dengan berlian-berlian yang mengkilap. Siapapun yang memakainya pasti akan terlihat anggun dan berkuasa.
"Sirena, cobalah cepat! Aku ingin melihatmu memakai mahkota!" Agda benar-benar tidak sabar melihat Sirena.
Sirena pun menurut saja, dia masuk kembali ke dalam kamar menuju cermin diikuti oleh Agda. Sesampainya di depan cermin, Sirena membuka kotak kaca lalu dengan hati-hati mengeluarkan mahkota agung itu.
Memakai mahkota ternyata tak semudah yang dibayangkan. Sirena harus memakai jepit rambut dibagian tali mahkota agar mahkotanya tidak lepas. Beruntung ada Agda yang membantunya.
Kini mahkota itu sudah berada di atas kepala Sirena dengan cantik. Mahkota itu menyambung membentuk sebuah lingkaran di belakang kepala. Lingkaran itu merupakan simbol bahwa wawasan seorang Putri Raja haruslah luas bagaikan bola dunia.
( Fokus mahkotanya ya ...)
"Astaga, Agda! Betapa cantiknya aku saat mahkota ini sudah ada di kepala, meskipun berat tapi aku menyukainya, hihi ..."
"Sirena, kita harus bergegas men- Astaga!" Aindrea yang baru saja datang begitu terkejut melihat penampilan Sirena.
"Apakah yang kulihat ini adalah titisan Dewi Elegi? Kau sungguh cantik sekali, Sirena ..." Puji Aindrea dengan mengacungkan dua jempolnya.
"Tentu saja, aku memang cantik!" Sirena menyibak rambutnya dengan wajah angkuh.
Agda berdecih melihat tingkah Sirena, namun tak ayal untuk tetap tersenyum, "Aku juga ingin berterimakasih kepadamu, Sirena. Berkat gaun pemberianmu, aku jadi tahu bagaimana rasanya memakai gaun bagus."
"Memang ada rasanya?" Aindrea melihat penampilan Agda dari atas hingga bawah, gaunnya hampir sama dengan milik Adelphie.
(Yang kiri si Agda, yang kanan Adelphie)
"Bukan itu maksudku, bodoh!" Umpat Agda.
"Siapa yang kau bilang bodoh?" Aindrea menatap tak terima Agda.
"Tentu saja, kau! Astaga! Bagaimana bisa Adelphie jatuh cinta pada orang bodoh sepertimu, Aindrea?"
"Kau-"
"Dimana France?" Sirena sengaja bertanya agar kedua orang itu berhenti adu mulut.
"Kak Nana!"
Orang yang ditanyakan Sirena pun muncul di depan pintu. Terlihat France yang nampak berjalan malu-malu saat semua orang memandangnya dengan pandangan takjub.
Sirena benar-benar kagum dengan penampilan France yang menggunakan baju pangeran buatannya. Warna putih sangat cocok untuk France yang rambutnya ungu, sama seperti rambut Elanus.
"France, kau mengagumkan hari ini!" Sirena mendekati France yang menunduk malu, kemudian menunduk. Tangan Sirena mengangkat dagu France, "Jangan sekalipun kau menundukkan kepalamu, France. Tataplah ke depan! Seorang lelaki sejati tidak akan menundukkan pandangannya kepada siapapun kecuali pada ibunya dan orang yang dicintainya."
France mengangguk, dia menurut dengan ucapan Sirena, "Apa aku pantas memakai pakaian bangsawan ini, Kak Nana?"
"Tentu saja. Kalau begitu, ayo kita ke istana utama bersama." Sirena menegakkan tubuhnya kembali, tangannya menggenggam erat jemari dingin France. Sirena menatap Aindrea, "Bang, apa rombongan Elephas sudah berada di ruang singgasana?"
Aindrea mengangguk, "Acara belum dimulai karena mereka menunggu kehadiranmu."
"Kenapa harus menungguku?" Sirena mengerutkan keningnya bingung.
"Apa kau lupa? Seorang Pangeran saat mengucapkan ikrar memperistri kepada Raja dari seorang Putri, haruslah menunggu kelengkapan keluarga. Terkecuali saat salah satu keluarga sudah tiada atau dalam situasi berperang." Jelas Agda.
'Ribet amat sih, anjir!'
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke ruang singgasana sekarang."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Di ruang Singgasana saat ini, Raja Monachus yang duduk di kursi singgasana tengah cemas menunggu kehadiran Sirena. Tanpa keluarga yang lengkap, ikrar pernikahan tidak akan dimulai.
"Adiose, apakah kau sudah menyuruh tangan kananmu untuk menjemput anak itu?" Ratu Amanita juga nampak gusarnya, "Aish, anak itu benar-benar!"
"Aku sudah menyuruh Lasel untuk menjemput Sirena. Jangan sampai aku melepas kembali hak mahkota itu darinya." Raja Monachus sengaja memberikan mahkota Putri Willamette karena merasa Sirena berbeda dari sebelumnya. Sirena jauh lebih pintar dibanding sebelumnya. Selain itu, Raja Monachus merasa tak enak dengan keluarga kekaisaran yang sudah menunggu lama, begitu juga para tamu dari kerajaan lain.
"Dimana Putri Sirena? Mengapa dia belum juga datang?"
"Mungkin dia tak akan datang. Dia kan masih mencintai Pangeran Elephas."
Suara perghibahan mulai terdengar. Pembicaraan itu terdengar sampai di telinga Elephas yang membuat lelaki itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
'Wanita sialan! Mengapa kau selalu mempersulit keadaanku?'
"PUTRI SIRENA STYLANIE ASTHROPEL MEMASUKI RUANG SINGGASANA!"
Mendengar Suzdal memberitahukan kedatangan Sirena, sorot mata semua orang kini tertuju pada pintu yang terbuka lebar.
Tap tap tap
Langkah kaki yang teratur milik Sirena karena sepatu hak miliknya bergema di ruangan singgasana.
Tak lama sosok Sirena masuk dengan wajah tanpa senyuman. Di samping Sirena terdapat France yang berwajah sama seperti Sirena. Mereka berdua berhenti di depan Raja Monachus serta Ratu Amanita dan Selir Cordyline.
Sirena meletakkan kedua tangannya di gaun bagian depan, kepalanya menunduk sedikit, "Maaf atas keterlambatan saya, Yang Mulia Raja Monachus ... Juga kepada Pangeran Putra Mahkota Elephas ..."
"Hester, mulailah acaranya." Raja Monachus tak mengindahkan permintaan maaf dari Sirena. Hal itu tentu membuat Sirena hanya berdecih, kemudian menggandeng tangan mungil France ke tempat yang sudah disediakan untuknya.
"Kenapa kursinya hanya satu? Sebelumnya aku sudah memberitahukan bahwa aku mengajak France datang kemari." Sirena bergumam.
"Kak Nana duduk saja, aku berdiri juga tidak apa-apa." Ujar France sembari menatap teduh Sirena. France hanya ingin bersikap hormat pada Sirena sebagai orang yang lebih tua darinya.
Sirena duduk kemudian tangannya meraih pinggang France hingga duduk di pangkuannya, "Kita adalah orang penting, jadi harus duduk sama-sama, bukankah begitu adikku yang tampan?"
France merasa malu saat tatapan banyak orang mengarah padanya juga pada Sirena. Diperlakukan istimewa oleh Sirena membuat France merasa tak enak. Terutama saat matanya bertemu pandang dengan Putri Tamarinda, Putri bungsu Willamette. Putri kecil itu seolah-olah ingin merasakan apa yang saat ini France rasakan.
"Yang Mulia Putra Mahkota Elephas ... Hari ini adalah hari yang sakral dalam hidup Anda. Hari dimana Anda meminta izin memperistri kepada seorang ayah dari orang yang Anda cintai. Hamba mempersilahkan Anda untuk berdiri di depan Yang Mulia Raja Monachus Virgatus Gal Willamette."
Elephas berdiri dari duduknya. Dengan langkah kaki yang tegap, dia berjalan hingga berhenti di depan Raja Monachus.
Hester yang berada di sebelah kanan kursi singgasana Raja, Ratu dan Selir kembali bersuara, "Anda bisa memulai mengucapkan ikrar pernikahan."
Semua orang ikut berdiri dari kursi, Sirena yang tak tahu apa-apa juga ikut berdiri.
Rasa gugup seketika melanda Elephas, namun sebagai lelaki sejati yang meminta seorang anak perempuan dari ayahnya harus dia lakukan untuk membuktikan bahwa dia layak untuk menjadi suami.
Menghembuskan nafasnya secara perlahan, Elephas menatap tegas Raja Monachus. Elephas melepas mahkota yang dia kenakan, "Saya berdiri dihadapan Yang Mulia Raja bukan sebagai Putra Mahkota Kekaisaran Elephas Exilis Xa Alhena, melainkan sebagai Elephas, lelaki biasa yang meminta restu Anda untuk memperistri Nervilia Aragoana menjadi istri saya. Bersediakah Anda menjadikan saya menantu rumah Anda, ayahanda?"
'Kayak gini toh, pernikahan kerajaan di dunia Sirena. Lumayan bagus.' Sirena terkikik sendiri saat mendengar ikrar pernikahan Elephas.
Raja Monachus berdiri dari kursi agungnya, kemudian berjalan mendekati Elephas. Raja Monachus meletakkan kedua tangannya di pundak Elephas, menepuk pundak lelaki itu dua kali, "Aku bersedia menjadikanmu menantu di rumahku. Jagalah anak perempuanku, lindungilah dia dan cintailah dia hingga titik darah penghabisan." Saat mengucapkan kalimat itu, Raja Monachus menitikkan air matanya. Akhirnya dia merasakan momen ini, momen dimana anak perempuannya diminta oleh seorang lelaki.
"Anggota keluarga Kerajaan Willamette dipersilahkan memberi suara." Hester kembali bersuara.
"Teruslah mencintai Nervilia, Elephas ..." Ratu Amanita bersuara, setelah itu disusul Selir Cordyline.
Hingga saat giliran Sirena, semua orang memandangnya sangsi, apakah Sirena akan mengucapkan sebuah kutukan untuk pernikahan Elephas dan Nervilia? Mungkin itu pikiran buruk semua orang saat ini.
"Cukup satu istri saja, jangan nambah terus." Ucap Sirena dengan santai. Dan berkat ucapan Sirena para lelaki yang ada disitu membuang muka dari para istrinya.
Elephas mendengus, namun tersenyum tipis, "Tentu saja. Nervilia adalah satu-satunya orang yang kucintai. Aku tak akan membaginya."
"Dasar lelaki, mulutnya manis sekali!" Sindir Sirena yang membuat Elephas tertawa pelan.
Elephas menatap Sirena, "Apa kau benar-benar sudah melepasku, Sirena?"
Pertanyaan dari Elephas membuat Sirena lagi-lagi mendapat tatapan yang membuatnya tersudut.
"Tentu saja. Kalau aku tidak melepasmu, mana mungkin aku menerima lamaran Pangeran Athanaxius?"
Perasaan aneh sesaat Sirena alami setelah mengucapkan itu. Mungkin perasaan aneh itu adalah milik Sirena asli yang masih tertinggal di tubuh ini.
"Baiklah kalau begitu, adik ipar ..." Elephas melemparkan senyum tulus pada Sirena untuk yang pertama kalinya.
"Apakah ada pesan yang ingin Yang Mulia Kaisar katakan untuk Pangeran Putra Mahkota?" Hester bertanya pada Kaisar Helarctor.
Kaisar Helarctor mengangguk, dia menghampiri Elephas dan berdiri di sebelah Raja Monachus.
"Anakku, Elephas ... Tanggungjawabmu sebagai suami sudah dimulai. Jangan sekalipun kau menggunakan tanganmu untuk mengadili apapun kesalahan istrimu, kau mengerti?"
"Aku mengerti, ayahanda ..."
Setelah melaksanakan ikrar pernikahan, acara berlanjut dengan Elephas yang akan menjemput Nervilia ke Hypatia.
Kini para rombongan tamu sudah mulai melakukan perjalanan menuju Hypatia dengan Elephas yang ada paling di depan.
Sirena tentu saja ikut. Dia ingin menyaksikan adat pernikahan yang ada di dunia ini agar saat dia menikah dengan Athanaxius, dia tak akan kaku. Sirena pergi bersama France, Adelphie dan Aindrea. Agda memilih tidak ikut karena dia harus pergi ke dapur istana untuk memberitahukan jadwal makanan yang akan disajikan di malam pesta pernikahan Nervilia.
Suasana istana utama terlihat sepi setelah kepergian semua orang. Agda dengan langkah santai menuju dapur istana.
Belum sampai di dapur istana, Agda harus terkena masalah saat tak sengaja menabrak Elanus yang tiba-tiba muncul dari dalam ruang kerja miliknya.
"Akh!!" Agda memekik saat tubuhnya limbung dan hampir menyentuh tanah kalau seandainya Elanus tidak menahan pinggangnya.
Agda membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Elanus yang begitu dekat dengan wajahnya. Sontak Agda segera menjauhkan tubuhnya, kemudian menundukkan setengah tubuhnya, "Mohon ampun, Pangeran Kedua Elephas ... H-hamba tidak s-sengaja ..."
"Tidak apa-apa. Tegakkan kembali tubuhmu, kau tak perlu bersikap seperti itu, Agda Aegeus."
"H-hamba t-tidak berani ..." Agda menautkan kedua tangannya karena sangat gugup.
"Apa kau benar-benar melupakanku, Agda?"
Tangan Agda ditarik cepat masuk ke dalam ruang kerja Elanus. Lelaki itu menutup pintu dengan cepat.
Agda tersentak saat tubuhnya ditarik ke dalam pelukan Elanus. Agda semakin membulatkan matanya saat mendengar bisikan Elanus yang membuat hatinya berdenyut nyeri, "Maafkan aku, Agda ... Aku tahu aku salah, tolong jangan seperti ini. Tolong jangan menjauh dariku lagi," Hembusan nafas Elanus menyapu leher putih miliknya.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?