
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Tit tit tit
Suara elektrokardiogram yang teratur begitu menggema di telinganya. Perlahan matanya mulai membuka dan segera disambut oleh kegelapan. Sirena tak tahu apakah ini di alam bawah sadarnya atau ada dimana.
"G-gue dimana?"
Sirena mencoba bangkit berdiri, lalu melihat sekelilingnya. Dengan langkah ragu, Sirena terus saja berjalan tanpa tahu arah.
"Astaga!" Sirena terkejut saat tiba-tiba ada banyak sekali cermin seukuran tubuhnya berjejer rapi di samping kanan dan kirinya. Di cermin itu terpantul wajah aslinya sebagai Devita yang tengah memakai pakaian yang terakhir kali ia kenakan, bukan sebagai Sirena tapi kali ini dia adalah Devita,
Devita mendekatkan tubuhnya agar bisa menyentuh cermin. Melihat raut wajahnya, entah kenapa dia merindukan peran sebagai Devita, bukan Sirena. Selain itu dia merindukan kehidupannya sebagai seorang murid biasa.
Dengan langkah pelan, Devita menyusuri akan sampai mana cermin-cermin itu berjejer. Semakin lama langkah Devita terarah pada cermin kuno yang membuatnya terlempar di dunia Sirena. Tapi kali ini ukuran cermin itu lebih besar dari sebelumnya.
Ragu-ragu tangannya terulur untuk cermin kuno itu. Tetapi sebelum benar-benar menyentuh, cermin itu bercahaya biru yang membuatnya tidak jadi menyentuh cermin.
"Devita ..."
Devita melihat di dalam cermin itu ada sosok dirinya yang tengah terbaring di atas brangkar rumah sakit dengan bantuan alat penunjang hidup. Dan suara yang memanggilnya adalah sosok yang paling dia cintai, ibunya.
"Mama ..." Devita menyentuh cermin itu. Dia bisa melihat wajah ibunya yang nampak bersedih memandangi sosok dirinya yang terbaring lemah.
"K-kenapa aku harus punya anak nggak guna sepertimu, Devita ..."
Devita kira, ibunya akan mengucapkan kalimat manis agar dirinya segera sembuh. Namun ternyata dia salah. Kalimat ibunya membunuhnya detik itu juga.
"Aku sudah berusaha keras buat bisa masukin kamu ke dalam keluarga Galang agar keluarga itu hancur! Tapi apa yang kamu lakukan, Devita? Kenapa kamu malah tidur nggak berguna kayak gini?" Tubuh Devita nampak diguncang-guncang oleh Desta, ibu Devita.
Air mata Devita mengalir deras di pipinya. Dia benar-benar merasa hancur, "Mama hiks ..."
"Anak tidak berguna! Apa aku bunuh saja kamu, hah?" Desta terlihat berdiri dari duduknya, menatap Devita sangat tajam layaknya pembunuh.
"MAMA JANGAN BUNUH DEVITA!!"
BRAK BRAK BRAK
Devita mencoba memecahkan cermin kuno yang memperlihatkan itu semua, berharap apabila cermin itu pecah dia bisa mencegah tindakan sang ibu.
"MAMA JANGAN BUNUH DEVITA hiks ... D-devita m-mohon ..." Devita menggelengkan kepalanya, "N-nggak, Ma ... JANGAN LAKUIN ITU MAMA!!!"
BRAK BRAK BRAK
Devita bisa melihat ibunya yang hendak melepas alat bantu pernapasan yang bisa berakibat fatal bila itu terlepas.
"MAMA!!!" teriak Devita sekencang mungkin saat ibunya berhasil melepas alat bantu pernapasan yang membuat tubuhnya disana kejang-kejang.
"MATI SAJA KAMU ANAK SIALAN! NGGAK BERGUNA!!!"
Devita tertunduk lemas, dia menutup telinganya agar suara ibunya tak terdengar olehnya, meskipun itu tak ada gunanya. Dia masih bisa mendengar umpatan ibunya yang dilayangkan untuknya.
"DESTA! APA YANG KAMU LAKUKAN, HAH? KAMU GILA?"
Saat mendengar suara lain, Devita sontak kembali melihat ke arah cermin. Dia tertegun melihat sang ayah, Galang datang lalu memasang kembali alat pernafasan dan memencet tombol di atas ranjang untuk memanggil dokter.
"A-yah ..."
"KAMU INGIN MEMBUNUHNYA? INGAT! DIA ANAK KAMU!" Galang membentak Desta yang terlihat nafasnya naik turun.
"MEMANGNYA KENAPA KALAU DIA ANAK AKU? DIA JUGA ANAK KAMU, MAS!" Desta kembali tersulut emosi, sedangkan Galang, dia terdiam.
"Mas pikir aku nggak tahu kalau selama ini Mas nggak pernah perlakuin Devita sebagai anak?" Desta menyeringai, "Daripada dia tersiksa selama hidupnya. Lebih baik dia mati aja kan? Toh dia juga nggak berguna lagi buat aku, tentunya kamu juga kan, Mas?"
Desta tiba-tiba berlari kencang dan ke arah Devita lalu mencekik Devita kuat-kuat, "MATI SAJA KAMU, DEVITA! MATI!"
"DESTA!!"
"MAMA!!!" Devita meraung-raung melihat dirinya dicekik oleh ibunya sendiri.
PRANG PRANG PRANG
Cermin kuno itu seketika pecah beserta dengan barisan cermin yang lain. Tubuhnya seolah-olah dihempas oleh sesuatu tak kasat mata yang membuatnya terpental jauh ke belakang.
Brugh
Devita meringkuk sembari menangis. Meratapi nasib hidupnya yang dibenci dan tak diharapkan oleh orang yang paling dia muliakan dan dia hormati.
Dadanya terasa begitu sesak yang teramat sangat sesak. Nafasnya tersengal-sengal karena rasa sesak itu.
"A-apa i-ini akhirnya?" gumam Devita lirih. Apa benar Devita akan benar-benar mati?
'Kembalilah, Sirena!'
Devita terhenyak mendengar suara yang sangat dia kenal, yaitu Athanaxius.
'Masih banyak alasan untukmu bertahan hidup. Apa kau akan menyerah setelah berkali-kali akan mati?'
"Tapi gue bukan Sirena ..." Devita memejamkan matanya untuk menetralkan rasa sakit di dadanya.
'Masih ada kesempatan, Sirena. Kembalilah! Apa kau mendengar suaraku?'
Devita membuka matanya. Perasaan hangat menyusup pada dadanya yang sudah tak sesak seperti tadi. Devita melihat kalung yang dia kenakan berpendar biru. Devita menggenggam liontin itu erat, "Apa gue harus hidup sebagai Sirena lagi? Apa boleh?"
"Tentu saja ... Kau harus bertahan hidup! Hidupmu terlalu berharga untuk kau sia-siakan bila kau terlalu menikmati lukamu."
Devita mengedarkan pandangannya untuk melihat siapa yang baru saja berbicara. Namun yang dia dapati hanya ruang hampa, tidak ada siapapun selain dirinya.
"Suatu saat kau pasti akan mengerti, mengapa kau berada dalam tubuh Sirena dan menggantikan jiwa Sirena asli."
Devita perlahan merasa mengantuk seiring suara halus itu hilang. Tak lama kemudian, matanya terpejam erat, membawanya kembali pada sosok Sirena yang sekarang terbaring lemah tak berdaya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Athanaxius duduk di sofa ruang tamu Manor ditemani Raja Monachus dan ketiga anaknya, Phyron, dan Sirakusa. Sedangkan Ratu Amanita juga Selir Agung Cordyline memilih untuk pergi dari Manor. Ratu Amanita datang sebentar untuk melihat kondisi Sirena, apakah wanita itu benar terluka atau hanya membual saja.
"T-terima k-kasih sudah menolong adikku, Pangeran Athanaxius ..." Ucap Nervilia takut-takut dan tak berani menatap Athanaxius.
Athanaxius memandang mereka yang sama sekali tak berani menatap matanya langsung. Athanaxius mendengus, lalu bersidekap dada, "Aku tak butuh ucapan terimakasih darimu, Putri Nervilia ..."
"Mengapa Anda bisa berada di wilayah kerajaan kami, Pangeran?" Elanus bertanya.
"Apakah ada larangan untukku berada di manapun?" Athanaxius menyeringai melihat perubahan raut wajah Elanus.
"Cukup jawab saja. Apa kau bodoh?"
Athanaxius sedikit terkejut saat pertama kali dia mendengar suara Pangeran pendiam seperti Phyron, "Ku kira kau bisu, bisa bicara juga ternyata."
Melihat situasi yang mulai tak baik, Raja Monachus kemudian berdeham. Namun, rasa penasaran akan kutukan mata merah milik Athanaxius membuat Raja Monachus ingin menatap mata Athanaxius secara langsung.
"Kau akan mati bila menuruti rasa penasaranmu." Athanaxius berucap santai kemudian meminum teh hijau yang disediakan oleh Agda untuk mereka semua.
"Pangeran Athanaxius benar, Yang Mulia ... Jangan menatap matanya!" Sirakusa turut memperingati Raja Monachus.
Suasana seketika hening, tidak ada yang membuka suara sampai tatapan mereka semua teralih pada Sentrasenda yang baru saja turun dari tangga.
'Astaga! Kenapa mereka semua melihatku seperti itu?' Sentrasenda merasa kikuk ditatap banyak orang dengan pandangan yang berbeda-beda.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" Phyron yang lebih dulu membuka suara.
"Kondisi Putri Sirena berangsur-angsur membaik, Pangeran! Hamba merasa Putri Sirena mendapatkan keajaiban!"
Jawaban antusias dari Sentrasenda membuat kening Raja mengernyit, "Apa maksudmu dengan mendapat keajaiban?"
"Sama seperti yang terjadi saat hamba mengobatinya di istana kekaisaran yang lalu, tubuh Putri Sirena diselimuti sinar biru yang entah datang dari mana. Hamba baru saja selesai membalut luka di perutnya, tiba-tiba sinar biru itu seketika menyelimuti tubuh Putri Sirena." Jelas Sentrasenda.
"Sinar biru? Sihir semacam apa itu?" Gumam Athanaxius.
"Lagi?" Beo Sirakusa. Dua minggu terakhir Sirakusa mencari tahu tentang sinar biru di dalam buku ramalan yang ada di perpustakaan kekaisaran, namun nihil, dia tak menemukan apapun.
Athanaxius berdiri dari duduknya, dia ingin melihat langsung keadaan Sirena saat ini. Dia tak mempedulikan dengan tatapan semua orang yang mengiringi langkahnya.
Langkah kaki Athanaxius terhenti tepat di anak tangga pertama, "Setelah Sirena sadar, aku akan mengajukan lamaran untuknya." Ujar Athanaxius tanpa menoleh, tentu saja ucapannya itu membuat semua orang terkejut, terutama Raja.
'Dua lamaran sekaligus dari Pangeran Kekaisaran yang sama-sama kuat. Sirena, sihir apa yang kau gunakan hingga membuat Pangeran seperti mereka melamarmu?' Tanpa sadar tangan Nervilia meremas sisi gaunnya erat. Keningnya berkerut memikirkan itu.
Sring
BRAK
Hampir saja Athanaxius terkena serangan dari Phyron kalau saja dia tak menghindar. Athanaxius menoleh lalu menyeringai memandang Phyron yang terlihat menahan amarah.
"Pangeran Phyron, mengapa kau menyerangku? Apa kau tak terima aku mengajukan lamaran untuk Sirena?"
"Bukan begitu, Pangeran Athanaxius. Masalahnya, Pangeran Phyron lebih dulu mengajukan lamaran untuk Sirena." Ucap Raja Monachus.
Athanaxius menatap Phyron yang masih tertunduk dengan tangan terkepal. Athanaxius kembali menyeringai, "Aku tak peduli siapa yang lebih dulu mengajukan lamaran. Jawaban Sirena penentunya, bukankah begitu, Pangeran Phyron?"
"Manusia berhati iblis sepertimu, apa bisa menjadi seorang suami untuk Sirena?" Phyron mengangkat kepalanya lalu menatap mata Athanaxius langsung. Phyron bahkan berdiri lalu perlahan mendekat ke arah Athanaxius yang mana kutukannya sudah mulai bereaksi.
"Pangeran Phyron! Jangan menatap matanya!" Sirakusa hendak berdiri, namun tangannya dicekal oleh Nervilia.
"Mereka harus menunjukkan kemampuan terbaik untuk membuktikan siapa yang layak untuk adikku." Tatapan Nervilia masih tertuju pada Phyron dan Athanaxius yang saling menghunuskan tatapan tajam.
"Tidak disini untuk membuktikan itu. Hentikan mereka, Sirakusa!" Perintah Falco.
"Nervilia benar. Duduklah kembali, Sirakusa. Apa kau tak ingin melihat pertunjukan bagus?"
Sirakusa memandang Raja Monachus heran. Apa yang dipikirkan oleh Raja saat ini? Akhirnya Sirakusa duduk kembali sembari memasang sihir pelindung untuk melindungi Raja dan ketiga anaknya, juga Sentrasenda yang nampak ketakutan berdiri di sebelah Elanus duduk.
"Apa tidak apa, ayahanda? Membiarkan mereka menunjukkan kemampuan mereka disini? Didalam Minor Sirena?" Elanus menatap ayahnya.
"Tak apa. Aku yang akan mengurus segala kerusakan di Minor ini nantinya." Sahut Raja Monachus.
Kembali lagi dengan Phyron dan Athanaxius. Athanaxius sudah bersiap untuk menyerang Phyron. Namun telinganya yang super tajam mendengar suara rintihan Sirena dari dalam kamar. Rintihan itu seketika menurunkan amarah yang saat ini menguasai dirinya.
"Kita lihat, siapa yang akan mati disini." Phyron sudah berancang-ancang untuk menyerang Athanaxius namun tidak jadi saat melihat Athanaxius melenggang pergi meninggalkannya.
"Tak perlu bersusah-payah. Aku sudah bisa menebak siapa yang akan menang, Phyron." Balas Athanaxius yang menghentikan langkahnya sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya.
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?
Maaf, Pipit nggak bisa update setiap harinya:( Mohon maaf ya readers