
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Sesuai dengan rencana yang sudah Devita katakan kepada Sirena, tak ingin membuang-buang waktu, pagi ini Devita mengumpulkan para lelaki rakyat desa Osaka begitu pula para wanitanya.
Dia tak sendiri, di sebelah kanan Devita ada Athanaxius dan di sebelah kiri ada Sirakusa yang mendampinginya.
"Sebelumnya maaf sudah mengganggu aktivitas kalian, saya ingin bertanya apakah ada keluarga yang masih hidup dari pemilik rumah yang masih utuh itu?" Devita menunjuk ke arah rumah-rumah yang masih utuh.
Nampak para rakyat saling lirik dan berbincang satu sama lain hingga tak lama salah satu ibu-ibu mengacungkan jarinya.
"Sepertinya ada, Putri ... Rumah yang dikelilingi bunga mawar dimiliki oleh seorang gadis misterius. Kebetulan sekali gadis itu sedang tidak di rumah saat monster menyerang. Jadi kemungkinan gadis itu masih hidup."
Dahi Devita berkerut, "Siapa nama gadis itu, Bu?"
"Kami tidak tahu, Putri!" Anak kecil yang sedari tadi hanya diam menonton tiba-tiba menyahut, "Saat aku bermain bersama teman-teman di dekat rumahnya, kami hanya melihat wajahnya yang tertutup cadar merah. Tapi Nona itu baik, dia selalu memberi kami roti saat bermain di dekat rumahnya." Sambung anak itu.
Lalu ingatan dimana Devita bertemu dengan seseorang tadi malam membuat Devita menduga-duga. Apakah gadis semalam yang dia temui adalah si pemilik rumah itu?
"Adakah selain Nona itu yang masih hidup?" Sekali lagi Devita bertanya.
"Ada."
Semua mata tertuju pada wanita berbaju lusuh yang menggendong bayi, "Dia adalah anak dari pemilik rumah yang sudah tiada."
Devita lantas mendekati wanita itu. Tatapan Devita terfokus pada bayi mungil yang nampak tertidur pulas didalam gendongan wanita itu.
"Dia tampan ... Apa boleh aku menggendongnya?"
Wanita itu mengangguk, "Syailen pasti suka digendong oleh seorang Putri cantik seperti Anda, Putri Sirena ..." Wanita itu kemudian memberikan bayi bernama Syailen kepada Devita.
Dengan hati-hati Devita menerima bayi itu. Setelah menemukan posisi yang enak saat menggendong Syailen, Devita lantas menatap rakyat yang dia kumpulkan.
"Karena pemilik rumah yang masih utuh sudah tiada juga demi kepentingan bersama, apakah boleh saya menggunakan rumah kosong itu selain milik Nona misterius?"
Devita dengan lancar menjelaskan bahwa rumah kosong itu nantinya akan dia gunakan sebagai lumbung padi, rumah kesehatan, juga kantor urusan rakyat.
"Dan untuk rumah Syailen, kita rawat bersama untuk dia tinggali saat sudah dewasa. Bagaimanapun juga, rumah itu adalah harta terakhir milik Syailen." Devita mengecup pipi halus Syailen.
Setelah mendapat persetujuan rakyat, Devita lanjut menjelaskan mengenai rencananya yang ingin memperkuat benteng desa, kemudian membangun rumah-rumah layak huni untuk rakyat.
"Bukankah pembangunan membutuhkan dana yang besar?"
Devita menoleh ke samping kiri, "Itu benar. Maka dari itu aku mengumpulkan para wanita disini. Aku berencana untuk mencari sesuatu di gunung Yahrimun bersama para wanita ditemani legion istimewa. Siapa tahu aku menemukan tambang em-"
"Tidak bisa!" Sergah Athanaxius cepat.
"Kenapa tidak bisa?" Devita menatap tak suka Athanaxius.
"Apa kau bisa menjamin keselamatan para wanita dari berangkat hingga pulang?" Athanaxius balas menatap tajam Devita.
"Ada legion yang akan menemani kami."
Semua orang menatap perdebatan antara Devita dan Athanaxius.
"Bagaimana kalau ada monster yang menyerang kalian? Legion tak akan mempu melindungi kalian semua!"
Devita diam, dia tak tahu harus menyahut apa karena ucapan Athanaxius benar. Ditambah saat dia melihat ke arah rakyat Osaka yang mendengar monster saja raut wajah mereka sudah berubah takut.
"Kau sangat ingin pergi ke gunung Yahrimun?" Devita mengangguk lesu menjawab pertanyaan Sirakusa.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu sampai kau menemukan sesuatu yang kau cari."
Devita lantas menoleh semangat ke arah Sirakusa, "Benarkah? Uh! Kau mengerti sekali apa yang aku inginkan."
Mendengar itu, Athanaxius langsung menggeser tubuh Devita hingga menjauh dari Sirakusa. Athanaxius menatap tajam Sirakusa dengan mata merahnya, "Sepertinya kau lupa kalau aku adalah calon suamimu, Sirena."
Jelas sekali perkataan Athanaxius tertuju untuk Devita, namun yang mendapat tatapan tajam lelaki itu justru Sirakusa.
Sirakusa hanya menyeringai kecil memandang Athanaxius yang mulai terbawa emosi, "Saya hanya ingin memenuhi keinginan Putri Sirena, Pangeran ..."
Athanaxius mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dengan tatapannya yang masih dia tujukan untuk Sirakusa, Athanaxius kembali membuka suara, "Pergi bersamaku, atau tidak sama sekali."
Devita menghela nafas pasrah, kalimat tegas dari Athanaxius tak bisa dia tentang, "Maaf, Sirakusa ... Aku akan pergi dengan Athanaxius. Bisakah kau menjagakan rakyat Osaka untukku?"
"Hanya menjaga rakyat Osaka, bukanlah hal sulit, Putri Sirena ..." Sirakusa memberikan tatapan teduh untuk Devita yang ada dibelakang tubuh Athanaxius, "Hal yang sulit ada di depanku, mendapatkanmu."
"Sialan!"
Bugh
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Setelah kembali nanti, kau harus minta maaf kepada Sirakusa, Athan."
Devita memandang punggung lebar Athanaxius yang menggendong tas keranjang didepannya. Sedari tadi dia mengoceh, Athanaxius hanya diam sambil terus berjalan.
Setelah acara saling baku hantam dengan Sirakusa. Devita segera menarik Athanaxius untuk pergi secepatnya. Dia tak ingin Athanaxius dipandang menyeramkan oleh rakyat Osaka yang melihat betapa menyeramkan lelaki itu ketika marah.
"Athan, kau mendengarku bicara atau tidak?" Devita mempercepat jalannya agar menyamai kecepatan langkah Athanaxius yang lebar. Beruntung Devita membawa gaun-gaun sederhana miliknya agar mempermudah saat berada di Osaka.
Menyusuri jalan di gunung bukanlah hal mudah, jalanan yang licin menjadi faktor utama penghambat bagi Devita. Meskipun demikian, mata Devita tetap awas mengamati sekeliling.
"Eh? Kok ada yang gerak-gerak di punggung gue ya?" Gumam Devita saat merasakan di punggungnya seperti ada yang bergerak.
Seketika tubuh Devita menggigil. Tangannya tidak berani untuk mengecek sesuatu apakah yang ada di punggungnya. Tubuh Devita terdiam kaku.
"Athan ... A-ada sesuatu y-yang bergerak di p-punggungku ..." Cicit Devita dengan wajah ketakutan.
Langkah kaki Athanaxius terhenti saat mendengar suara Devita yang seperti terjepit almari. Dia menoleh ke belakang untuk melihat. Untuk pertama kalinya dia menoleh setelah sedari tadi terus membuang muka.
"ATHAN SIALAN! ADA SESUATU YANG BERGERAK DI PUNGGUNGKU, BODOH!!" Jerit Devita lalu disusul dengan suara tangisan miliknya, "Huaaaah!!"
Secepat kilat Athanaxius kembali berbalik lalu melesat cepat menuju Devita, tepatnya pada punggung Devita. Tangannya dengan cepat menepis laba-laba tarantula yang ada di punggung Devita.
"Sudah hilang, hanya ulat kecil saja. Berhentilah menangis!" Athanaxius menghapus air mata Devita.
"A-apa b-benar sudah h-hilang?"
Athanaxius mengangguk, "Hm, sudah hilang." Athanaxius menarik tubuh Devita yang masih bergetar ketakutan ke dalam pelukannya. Tatapan Athanaxius menajam ke arah sosok misterius yang bersembunyi dibalik pohon mengawasi mereka. Sosok itu hilang seketika menjadi asap setelah ketahuan oleh mata merah Athanaxius.
'Si pemuja iblis!' Seru mata merah bersemangat di dalam pikiran Athanaxius.
"Aku akan menjagamu, tidak perlu takut." Athanaxius mengurai pelukannya, tangannya kembali mengusap air mata Devita yang tersisa, "Bisa kita lanjutkan?"
Setelah merasa enakan, Devita mengangguk, "Mari ..."
Keduanya lalu lanjut menyusuri gunung Yahrimun yang sangat sepi. Tidak ada sinar matahari yang mengiringi perjalanan mereka karena langit yang nampak mendung.
Setelah lama sekali tak mendapatkan apa-apa, Devita melihat sesuatu yang familiar di matanya, "Kopi!" Devita lantas berlari mendekati tanaman yang familiar di matanya itu.
Athanaxius menghentikan langkahnya saat melihat Devita berlari tak jauh darinya menghampiri sebuah tanaman. Dia memutuskan untuk menyusul.
Mata Devita berbinar cerah melihat biji kopi itu, "Kekayaan akan menghampiriku, haha ..." Terlebih saat melihat ada banyak sekali tanaman kopi di depannya.
"Bukankah buah ini tidak enak dimakan?" Athanaxius mengernyitkan keningnya bingung melihat tingkah Devita yang seperti jatuh cinta pada tanaman di depannya.
"Tidak enak bila tak tahu cara mengkonsumsinya." Sahut Devita, "Tanaman ini bernama kopi. Bijinya harus dikeringkan dulu, kemudian ditumbuk halus, baru bisa kau nikmati dengan menyeduhnya." Jelas Devita singkat.
"Menyeduh? Menjadi minuman?"
Devita mengangguk semangat, "Ini akan menguntungkan bagi kita, Athan! Kita harus membudidayakan tanaman ini! Tanaman ini banyak manfaatnya loh!"
Melihat antusiasme Devita, Athanaxius mengangguk saja, "Lantas, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Bantu aku memetik buah-buah kopi ini. Aku akan menunjukkannya pada rakyat Osaka nantinya. Oh iya, bantu aku mencabut tanaman kopi ini juga."
Kedua orang itu kini sibuk mengambil buah-buah kopi yang menggerombol lalu memasukkannya ke dalam tas keranjang.
"Ini sudah cukup. Ayo kita kembali, Athan!" Devita memandang puas isi tas keranjang anyaman dari bambu yang terisi penuh dengan biji kopi.
Athanaxius lantas menggendong tas keranjang itu di punggungnya, kemudian meraih tangan Devita.
Kali ini Athanaxius jauh lebih memperhatikan keselamatan Devita, berbeda saat mereka berangkat tadi. Seperti sekarang, Athanaxius menangkap cepat tubuh Devita yang hampir jatuh karena terpeleset.
"Berhati-hatilah, jalannya licin."
"Terima kasih ..." Devita merasakan jantungnya berdegup kencang karena perlakuan Athanaxius.
"Athan,"
"Devita,"
Mereka saling pandang karena tak sadar menyebutkan nama masing-masing dalam waktu yang bersamaan.
"Kau dulu sa- Eh hujan!!"
Athanaxius lantas menarik cepat Devita menuju sebuah gua yang sempat dia lihat sebelumnya.
"Tunggu dulu disini, aku akan memeriksa apa ada sesuatu yang membahayakan atau tidak." Devita mengangguk, dia agak ngeri dengan gua yang ada di depannya.
Mulut gua ini memiliki tinggi sekitar setengah meter dengan tanaman rambat yang menutupi mulut gua. Lebar mulut gua sendiri Devita taksir sekitar satu meter lebih.
Tak berselang lama, Athanaxius keluar, "Ayo masuk! Kita berteduh dulu di dalam." Athanaxius mengulurkan tangannya.
Devita segera menerima uluran tangan Athanaxius karena dia tak ingin berlama-lama terkena hujan. Tubuh Sirena sangatlah mudah sakit, maka dari itu Devita sangat berhati-hati untuk kesehatannya.
Di dalam gua itu Devita duduk sembari menggosok-gosok telapak tangannya agar menimbulkan rasa hangat, dia kedinginan. Matanya tak henti melihat Athanaxius yang tengah membuat api menggunakan batu.
Tak lama, api sudah berhasil menyala. Devita lantas mengarahkan tangannya mendekati api untuk menyalurkan rasa hangat ke tubuhnya.
"Aku ingin bertanya,"
Devita menoleh, menatap Athanaxius yang tengah menatapnya, "Tanya apa?"
"Bagaimana dengan Sirena asli kalau tubuhnya kau tempati?"
Devita tak langsung menjawab, dia teringat hari ini belum melihat sosok Sirena, "Sirena ada bersamaku. Dia baik-baik saja." Devita mengalihkan pandangannya, "Mengapa tiba-tiba kau bertanya?"
"Aku hanya ingin menikah denganmu, Devita, bukan Sirena. Jadi, segeralah kembali ke raga aslimu."
Devita kembali memusatkan perhatiannya kepada Athanaxius, "Mengapa?"
Tidak ada balasan dari Athanaxius, karena lelaki itu juga bingung. Mengapa dia terus terpengaruh dengan ucapan Raja Monachus agar dia tak salah pilih akan menikahi siapa.
Devita tersenyum tipis melihat keterdiaman Athanaxius. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Athanaxius, "Apa kau serius benar-benar ingin menikahiku? Bagaimana kalau suatu saat aku akan pergi?"
"Kau tak akan pergi kemanapun!" Athanaxius menggeram tertahan, 'Karena memang disinilah tempat tinggalmu, Irena.'
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Aku pengen curhat ... Aku lagi capek banget hiks ... Pengen nangis rasanya campur aduk🥺. Ada masalah yang ngebuat aku benar-benar susah buat fokus ngerangkai kata-kata.
Tapi aku inget kalian:( kalian selalu support ceritaku, jadi aku mencoba semaksimal mungkin buat jadiin bab ini. Aku nggak mau ngecewain kalian .... Aku makasih banget, kalian udah hadir di ceritaku 😭 dengan begitu aku ngerasa usahaku selama ini nggak sia-sia.