The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 19: Aku Ingin Menolongmu



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Athanaxius memandang sekeliling, memastikan bahwa kedatangannya tak mengundang keributan. Dia memasuki kamar Sirena lewat jendela.


Saat Athanaxius hendak menghampiri Sirena, dia segera bersembunyi di balik pintu. Kedua luster pribadi Sirena masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan berisi obat-obatan.


"Adelphie, hiks ... Apa Sirena bisa bertahan? Aku bisa melihat dia antara hidup dan mati hiks ... A-aku tak kuat melihat kondisinya," Agda menangis terisak.


Adelphie mengusap bahu Agda berusaha menenangkan, "Agda ... Aku mengerti kekhawatiranmu. Yang bisa kita lakukan untuk Sirena adalah menjaganya dan merawatnya agar lekas sembuh. Tenangkan dirimu, Agda."


Adelphie dan Agda perlahan mulai mengobati luka-luka di tubuh Sirena dengan obat-obatan pemberian farmos Sentrasenda dan juga mengganti baju Sirena dengan gaun tidur putih.


"Sirena hiks ... Maafkan kami ..." Agda mengusap pipi Sirena yang terluka menggunakan kain yang sudah dia beri obat sembari terisak.


Berbeda dengan Agda yang terisak, Adelphie menatap Sirena yang tak sadarkan diri dalam diam.


'Apa kau benar-benar Sirena yang pernah kukenal? Kau sungguh berbeda dengan Sirena yang dulu,'


"Aku tak pernah menyangka, seseorang yang pernah kubenci baru saja melindungiku," Adelphie mengangkat tangan Sirena, kemudian mengusapnya dengan gerakan lembut. Adelphie tengah membalurkan obat-obatan di tangan Sirena yang terluka.


"K-kenapa kau tak menangis, Adelphie? Hiks ..." Agda menatap Adelphie sanksi. Agda berpikir bahwa Adelphie masih memiliki rasa benci pada Sirena.


Adelphie mendelik, "Haruskah aku menangis sepertimu? Ck! Aku bukan kau yang mudah menangis!"


Plak


"Astaga, Agda! Sakit tahu!" Adelphie mengusap pipinya yang mendapat tamparan dari Agda.


"Haruskah aku meminta maaf kepada orang sepertimu?" Agda membalik kata-kata Adelphie.


"Sialan kau!" Adelphie mendengus, lalu kemudian beranjak, "Sebaiknya kita biarkan Sirena istirahat. Semoga saja lukanya akan kering besok pagi."


Agda ikut beranjak, tatapannya masih tak beralih dari Sirena yang masih setia menutup mata, "Semoga saja. Melihat keadaannya sekarang, bukankah dia tak bisa menghadiri pesta pernikahan adik Pangeran Elephas?"


"Bukankah itu bagus? Sirena tak harus menjadi roh ketiga diantara Putri Nervilia dan Pangeran Elephas." Ucap Adelphie secara spontan, membuat Agda menatapnya heran.


"Ada apa denganmu, Adelphie? Kau terlihat aneh." Agda memicingkan matanya menatap Adelphie yang nampak gugup.


"A-a t-tidak apa-apa!" Sahut Adelphie sambil menggelengkan kepalanya. Setelahnya Adelphie melangkah keluar kamar meninggalkan Agda.


"Adelphie sialan! Bisa-bisanya aku ditinggal sendirian di kamar suram Sirena! Uhh ... Aku merinding ..." Agda menatap sekililing kamar Sirena sembari mengusap kedua lengannya. Lalu dengan cepat dia membawa nampan berisi obat-obatan yang sudah dia gunakan keluar dari kamar.


Athanaxius keluar dari persembunyiannya saat melihat kepergian kedua luster yang diselamatkan oleh Sirena.


"Adelphie?" Athanaxius menyeringai menatap kepergian kedua luster pribadi Sirena, terutama Adelphie, "Aku ingin melihat, akan berapa lama kau bertahan dengan nama itu."


Netra abu-abu miliknya beralih menatap Sirena yang terbaring lemah tak berdaya. Dengan langkah tenang, Athanaxius berjalan mendekati Sirena. Tangannya mengibas satu kali,   lilin-lilin yang menyala seketika padam.


Kriet


Athanaxius berjengit kaget kala mendengar deritan kasur milik Sirena saat dia duduk ditepi ranjang. Athanaxius mendengus namun tak ayal tersenyum miring, "Apa se-menyedihkan ini hidupmu, Sirena?" Tangan Athanaxius terulur mengusap pipi Sirena yang terdapat luka memanjang hingga ke telinga.


"Aku pernah bilang padamu, bukan? Aku akan menolong bila aku ingin. Dan sekarang ..." Athanaxius mendekatkan wajahnya hingga berjarak dua jengkal dari wajah Sirena, "Aku ingin menolongmu."


Athanaxius menegakkan tubuhnya, lalu dengan gerakan hati-hati, dia mendudukkan Sirena. Athanaxius menempatkan dirinya di belakang Sirena, memeluk Sirena erat dari belakang dengan mata terpejam. Perlahan sinar hijau menyelimuti tubuh mereka berdua. Athanaxius menggunakan sihir penyembuh miliknya.


Sebenarnya Athanaxius tak perlu memeluk Sirena dari belakang. Hanya saja proses pemulihan akan lebih cepat bila melakukan sentuhan fisik.


"K-kenapa ingin m-menolongku?"


Athanaxius sontak membuka matanya karena terkejut mendengar suara lirih itu. Namun, dia segera mengubah keterjutannya itu dengan senyum miring andalannya. Athanaxius mendekatkan bibirnya ke telinga Sirena.


"Karena kau menguntungkan untukku."


Sirena yang sudah sadar hanya tersenyum tipis, "Su-sudah kuduga. K-kau adalah l-lelaki l-licik! Shh ... S-sakit ..." Sirena merintih kesakitan saat merasakan rasa panas yang luar biasa dari punggungnya.


"Karena aku licik, maka kau harus bertahan hidup. Aku tak ingin busur panahku patah terlebih dahulu sebelum aku gunakan."


"Gigitlah tanganku, bila kau tak tahan dengan rasa sakitnya." Athanaxius memberikan tangannya ke depan wajah Sirena. Sirena langsung menggigit tangan Athanaxius kuat-kuat untuk menahan rasa sakitnya.


"Kau ingin tahu sesuatu yang menarik?"


Sirena tak menjawab, dia terengah-engah menahan sakit yang mendera tubuhnya. Keringat dingin mengalir deras membasahi tubuh Sirena.


"Cambuknya beracun. Kau hampir mati bila aku tak mengeluarkan racunnya."


"Uhuk-uhuk!" Sirena terbatuk hingga beberapa kali. Wajahnya nampak terkejut saat batuknya mengeluarkan cairan berwarna hitam.


"Racunnya sudah keluar. Tetapi bertahanlah sebentar, aku akan memulihkan energi tubuhmu."


"T-tidak perlu uhuk ..." Sirena melepas tangan Athanaxius yang melingkarinya, "K-kudengar, sihir p-penyembuh a-akan menguras tenaga si pengguna. A-aku tak ingin k-kau sakit ..."


"Bodoh!" Athanaxius tertawa pelan, "Kau meremehkanku, hm?"


Sirena sontak menoleh ke belakang, "T-tidak!! J-jangan berburuk sangka terlebih dahulu ..." Sirena menatap tepat di mata Athanaxius.


Netra abu-abu milik Athanaxius, selalu berhasil menghipnotis Sirena untuk terus menatapnya. Saat Sirena melihat netra abu-abu milik Athanaxius, dia merasa nyaman dan tenang.


Berbeda dengan Athanaxius yang menahan rasa kalut dalam dirinya. Ada sebuah emosi yang ingin muncul, tetapi Athanaxius masih bisa menahannya. Anehnya, lagi dan lagi, kutukannya itu tak berlaku untuk wanita di depannya ini.


Athanaxius mengalihkan pandangannya setelah tersadar dan Sirena pun melakukan hal yang sama.  Keduanya kembali hening tanpa ada yang memulai pembicaraan. Hingga perlahan sinar hijau itu pudar lalu menghilang, tanda bahwa Athanaxius sudah selesai menggunakan sihir penyembuh miliknya.


Perlu diketahui, tidak semua orang yang memiliki sihir murni bisa memiliki sihir penyembuh. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memiliki sihir penyembuh.


Athanaxius menyingkir dari tubuh belakang Sirena. Lelaki itu berdiri tegap memandang Sirena datar, "Aku harus pulang. Kau, tak usah datang ke perayaan pernikahan itu."


"Perayaan pernikahan?" Sirena mengerjapkan matanya sambil bertanya dengan nada polos.


"Pernikahan adik orang yang kau cintai," ucap Athanaxius dengan senyum remeh yang dia tujukan untuk Sirena.


Sirena mendengus, meskipun tubuhnya masih lemas, dia masih bisa meninju wajah Athanaxius yang selalu membuatnya geram. Sirena menyunggingkan senyum terpaksa.


"Sorry, kesehatanku lebih penting daripada menghadiri acara seperti itu." Sirena kembali membaringkan tubuhnya.


Athanaxius bersidekap dada, "Bagus! Jadi wanita baik-baik. Jangan seperti ****** yang haus akan belaian."


"WOY! JAGA YE MULUT LO!" Teriak Sirena secara spontan dan menunjuk Athanaxius. Karena refleks tubuhnya yang tiba-tiba duduk, membuat luka cambuknya yang belum mengering seketika membuat Sirena merintih kesakitan setelahnya.


Athanaxius sendiri hanya mengendikkan bahunya acuh. Dia sama sekali tidak memikirkan arti ucapan Sirena. Yang dia tahu, ucapan Sirena tadi pasti mengumpati dirinya.


"See you again, crazy princess ..." Pamit Athanaxius sebelum akhirnya memasuki portal teleportasi.


"PUCEK EMANG!" Sirena kesal setengah mati pada Athanaxius.


Setelahnya Sirena terdiam, "ANJAY GUE LUPA BILANG MAKASIH!" Sirena menepuk jidatnya pelan, dia belum berterimakasih kepada Athanaxius atas bantuannya yang kesekian kalinya, "Pamor gue makin jelek ntar di matanya. Ntuh cowok kan sukanya negatif thinking!"


Sirena menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Sebenarnya Athanaxius itu tipe cowok yang kek gimana sih? Kadang judes, kadang galak, kadang lempeng banget kek pantat panci! Bingungin!"


Sirena merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya, "Gue lupa nanya sama Athan, dia itu Pangeran dari kerajaan mana dah? Perasaan dinovel nggak ada tuh yang namanya Athan."


Karena terlalu pusing memikirkan Athanaxius dari Kerajaan mana, tanpa sadar Sirena sudah ketiduran. Sirena tak sadar bila sosok berpakaian gelap baru saja memasuki kamarnya lewat jendela yang Sirena lupa tutup.


Sosok berpakaian gelap itu perlahan mendekati Sirena, duduk ditepi ranjang lalu tangannya hendak mengusap rambut Sirena namun seketika dia terhempas.


"Aku mengira semuanya akan mudah ..." Sosok berpakaian gelap itu tersenyum sendu. Menatap tangannya yang tak bisa menyentuh Sirena, "sayang sekali aku bukan manusia."


Sosok berpakaian gelap itu membuka tudung kepalanya yang menutupi hampir keseluruhan wajahnya. Hingga wajahnya pun terlihat, surai putih panjangnya berkibar terkena angin. Wajahnya seketika mengeras, "Bahkan bila aku menjadi manusia seutuhnya, aku rela kalau alasannya itu dirimu, Sirena ..." Setelah berucap seperti itu, sosok berpakaian hitam itu pergi dengan begitu cepat melesat melalui jendela.



...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?