
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Perjalanan Sirena dan Nervilia dikawal begitu banyak legion bahkan Sirakusa. Sirena benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir Pak Raja. Padahal perjalanan mereka begitu singkat karena menggunakan portal teleportasi kerajaan. Namun karena ingin memastikan Nervilia baik-baik saja saat bersamanya, Pak Raja mengirim lima puluh legion istimewa untuk mengawal.
Sementara di dalam kereta, terdapat Nervilia, Sirena, dan Sirakusa yang diijinkan untuk satu kereta dengan para Putri karena Sirakusa ditugaskan oleh Pak Raja untuk menjaga Nervilia.
Wajah Sirena nampak pucat karena menahan mual sejak tadi. Seharusnya dengan menggunakan portal teleportasi kerajaan, mereka bisa saja langsung sampai di tempat tujuan, yaitu desa Artelia yang ada di pusat kota Willamette. Namun, lagi-lagi Putri kesayangan Pak Raja itu menginginkan mencari pemandangan, jadilah mereka harus melewati pusat kota.
Kereta kuda milik kerajaan menjadi pusat perhatian para rakyat Willamette, terutama karena Nervilia yang menyapa para rakyat dengan senyuman lembut miliknya. Sirena yang melihat itu sangatlah jengah dengan tingkah Nervilia.
Setelah puas memberi sapaan pada rakyat, Nervilia memandang wajah Sirena yang nampak pucat.
"Apakah mengurus pesta pernikahanku begitu menyusahkan dan melelahkan hingga membuatmu pucat seperti itu?" Nervilia hendak menyentuh dahi Sirena untuk memeriksa suhu tubuh Sirena, namun Sirena segera menjauh.
"Ti- hmft-" Sirena menutup mulutnya dengan cepat. Dia ingin muntah sekarang.
Sirakusa yang memang sedari tadi diam memperhatikan Sirena, mulai menyadari gelagat Sirena yang hendak muntah.
Tuk tuk tuk
Sirakusa mengetuk atap kereta tiga kali dengan keras, perlahan laju kereta kuda tak begitu cepat.
"Berhenti sebentar, Tuan Putri Sirena ingin membuang sial." Ucap Sirakusa sembari tersenyum mengejek menatap Sirena.
'Rencana jahat apa lagi yang ingin kau lakukan, Putri bodoh? Aku tak akan biarkan kau melukai Nervilia!'
Sirena menatap Sirakusa dengan tajam, namun tak lama karena dia segera beranjak turun dari kereta kuda dengan kesusahan karena gaun yang dia kenakan.
Sesaat sebelum berangkat, Ratu Amanita menegur Sirena karena memakai pakaian yang tak mencerminkan seorang Putri. Karena teguran Ratu Amanita, Pak Raja pun meminta Sirena untuk ganti pakaian. Dengan amat sangat terpaksa, Sirena berganti gaun yang mengharuskan dia menggunakan korset.
"Astaga, Sirena!" Pekik Agda saat melihat Sirena melompat turun dari kereta kuda dengan tergesa-gesa menuju rerumputan di pinggir jalan. Agda sontak turun dari kuda yang dia tumpangi bersama salah satu legion istimewa untuk menghampiri Sirena.
"Huek ... Hhh ... Anj- huek ..." Sirena ingin sekali mengumpat, perutnya serasa diaduk-aduk sekarang. Dia ingin terus memuntahkan isi perutnya itu.
Melihat keadaan Sirena yang nampak mengkhawatirkan, Nervilia hendak turun, namun langsung dicegah oleh Sirakusa.
"Biar saya yang turun, Putri ... Anda juga sedang tidak enak badan, sebaiknya tetap di dalam kereta."
"T-tap-"
"Anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Putri Sirena, saya akan memastikan bahwa Sirena baik-baik saja." Sirakusa berucap meyakinkan.
Nervilia menghela nafas, dia memandang Sirakusa, "Baiklah! Tolong periksa keadaannya, bila dia memang kurang sehat, kita kembali saja ke istana."
"Tentu, Putri ..." Sirakusa pun turun, lalu menghampiri Sirena yang tengah berjongkok sembari lehernya dipijit oleh Agda dari belakang.
"Kenapa kau tak bilang bila kau akan muntah kalau naik kereta kuda?" Agda terus mengomeli Sirena.
"Berhentilah mengoceh, Agda! Kau tak li- huekk ..."
"Astaga! Makananmu terbuang sia-sia, Sirena!"
Ingatkan Sirena untuk menghajar Agda setelah ini. Betapa kurangajar sekali sahabatnya itu.
Kedatangan Sirakusa membuat Agda menatap lelaki itu. Sirakusa memberi kode agar Agda menyingkir. Agda yang memang statusnya lebih rendah dari Sirakusa hanya mengangguk lalu melenggang pergi.
Sirakusa, lelaki itu yang berganti memijit leher belakang Sirena. Sirakusa bisa merasakan bahwa kondisi Sirena memang kurang baik, tubuhnya terasa panas.
"Kalau terus muntah seperti ini, lama-lama aku bisa lapar lagi, Agda! Setelah perjalanan, kita harus makan nasi tiga piring! Aku tak mau tahu!" Tubuh Sirena terasa lemas sekarang. Dia belum tahu kalau Agda sudah pergi dan digantikan oleh Sirakusa.
"Dasar Pak Raja kampret! Padahal sewaktu pulang dari kekaisaran Alhena dia tahu kalau aku mabuk darat, lantas mengapa dia menyuruhku naik kereta bersama Nervilia? Astaga perutku!" Sirena terus saja mengomel.
'Agda kok nggak ada nyautin gue sih? Kenapa nih cewek? Terus kok rasanya tangan Agda jadi agak besar dan kasar ya?' Sirena mulai merasakan ada yang berbeda.
Sirena langsung berdiri dari jongkoknya. Matanya membulat saat Agda menjadi Sirakusa.
"ASTAGA TAHI KUDA!" pekik Sirena saking kagetnya, namun setelahnya Sirena langsung meringis saat perutnya terasa sakit kembali.
Sirakusa yang disebut tahi kuda oleh Sirena langsung menatap wanita itu tak suka. Sirakusa sangat yakin seratus persen bahwa namanya jauh lebih keren daripada tahi kuda. Dan bagaimana bisa Sirena dengan beraninya menyebutnya tahi kuda?
Sirakusa menghembuskan nafas kesalnya, tatapannya teralih menatap Sirena yang terus mencengkram perutnya.
"Tegakkan tubuhmu! Aku akan mencoba membantumu." Kalimat formal Sirakusa hilang. Dia tak bisa berlama-lama menggunakan bahasa formal bila bersama Sirena. Sirena yang sekarang sangatlah menyebalkan untuknya, sangat berbeda dengan Sirena yang dulu.
"Eitssss! Bantuanmu tanpa imbalan kan?" Sirena hanya takut bila Sirakusa sama seperti Athanaxius yang meminta imbalan.
"Tanpa imbalan! Cepatlah!" Sirakusa begitu tak sabaran. Setelah Sirena menegakkan tubuhnya, Sirakusa mengeluarkan sihir penyembuh miliknya dan dia arahkan ke perut Sirena.
Sirena sampai sekarang masih takjub dengan yang namanya sihir. Dia merasa hidup di dunia Harry Potter yang penuh sihir.
"Sudah." Sirakusa menarik tangannya kembali.
"Cepat sekali," gumam Sirena. Setelah merasakan perutnya sudah tak sakit lagi, Sirena langsung pergi meninggalkan Sirakusa memasuki kereta kuda.
"Wanita kurangajar!" Umpat Sirakusa saking kesalnya dengan Sirena.
Sementara Sirena, dia tersenyum penuh kemenangan, "Sekarang kita impas, Sirakusa tahi kuda!" Sudah pasti hukuman yang diberikan Pak Raja untuknya beberapa hari lalu adalah ulah Sirakusa.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Akhirnya rombongan Sirena sampai di tempat tujuan, dimana butik berada. Sebenarnya Sirena ingin ke tukang jahit dari kalangan rakyat biasa, tetapi lagi dan lagi Nervilia ingin ke memesan gaun ke butik langganannya. Maka dari itu, Nervilia yang memimpin masuk ke dalam butik, disusul Sirena, Agda, Ans, dan Sirakusa. Sementara para legion istimewa berjaga di sekitar butik.
"Selamat datang di butik Betony ... Suatu kehormatan Putri Nervilia mengunjungi butik hamba." Seorang perempuan berkisar umur tiga puluhan menyapa.
"Betaris Atreo," Nervilia menyapa, menampilkan senyum terbaiknya, "Wajah Anda semakin bersinar saja. Pantas saja Beta Atreo sangat mencintai Anda." Basa-basi yang dilakukan dua orang itu membuat Sirena jengah dan bosan.
**( Beta \= gelar semacam Adipati, Betaris \= sebutan untuk istri Beta)
Keluarga Atreo adalah salah satu pendukung terkuat kerajaan Willamette. Beta Arigha Far Yushe Atreo, adalah penerus keluarga Atreo yang sudah bersumpah untuk setia dan melindungi setiap keturunan dari Kerajaan Willamette. Sirena mengetahuinya dari ingatan milik Sirena asli.
Wajah Betaris Atreo memerah malu mendapat pujian dari Putri Nervilia secara langsung. Namun tatapan Betaris Atreo beralih pada Sirena yang nampak bosan.
"Putri Sirena juga ikut ternyata ... S-sudah lama Anda tak berkunjung ke butik hamba," Betaris Atreo sudah tahu mengenai Sirena yang bebas dari hukuman mati oleh Kaisar Helarctor. Berita itu sudah tersebar luas baik di kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Juga kabar mengenai Sirena adalah sang pembangkit sang Raja iblis dan memiliki simbol kutukan di kening serta lengan juga sudah santer di seluruh kota.
Sirena melangkah hingga berjajar dengan Nervilia, "Langsung saja, saya ingin Anda membuat gaun sesuai dengan rancangan yang saya buat." Sirena mengisyaratkan Agda untuk mendekat.
Agda mendekat lalu membuka tas yang dia bawa, kemudian mengeluarkan segulung kertas kepada Sirena.
Sirena mengambil gulungan itu lalu membukanya. Sirena meletakkan kertas itu di atas meja, hingga terpampang jelas gambar gaun rancangannya.
Nampak semua wajah mereka terkejut saat melihat gaun yang dirancang Sirena begitu berbeda dengan gaun yang sering mereka kenakan saat pesta. Pasalnya gaun rancangan Sirena tak perlu menggunakan crinoline (bentuknya semacam kurungan ayam).
"Acara pesta pernikahan tak sesingkat yang dibayangkan. Bila terlalu lama memakai crinoline pasti terasa tak nyaman. Maka aku membuat gaun ini, terlihat sederhana namun elegan. Aura seorang Putri tak akan hilang, kau tenang saja, Nervilia." Ucap Sirena tanpa memandang Nervilia.
"I-ini rancangan gaun yang bagus!" Puji Betaris Atreo pada Sirena.
Sirena tertawa keras, "Hahaha, biasa saja! Aku tahu aku memang hebat!"
Agda menepuk jidatnya di sebelah Ans karena melihat tingkah Sirena yang menurutnya sangatlah memalukan.
"Ehm," Sirena menghentikan tawanya, "Jadi, bagaimana, Nervilia? Apa kau setuju? Kalau tidak setuju yasudah, terserahmu saja." Sirena berjalan mendekati Agda.
"Tentu saja. Aku sudah tahu bagaimana kau, Sirena." Agda mengambil cookies buatannya lalu dia serahkan untuk Sirena.
Sirena pun mengambil cookies itu, dengan sengaja dia menggigit cookies itu di dekat telinga Sirakusa.
Kress
Sirena mengunyahnya, lalu menyeringai menatap Sirakusa yang memandangnya tajam, "Aku anggap saja cookies ini adalah kau, Sirakusa tahi kuda." Ucap Sirena setelahnya. Sebelum mendapat amukan dari Sirakusa, Sirena segera kembali ke tempatnya semula, yaitu di sebelah Nervilia yang masih setia memandang desain gaun Sirena.
"Tubuhmu bagus! Jangan rendah diri, Nervilia! Kau akan menjadi pengantin wanita pertama yang menggunakan gaun rancanganku." Sirena memakan cookiesnya sambil memberi masukan untuk Nervilia agar tak ragu-ragu menyetujui gaun rancangannya.
"Baiklah, aku setuju." Nervilia menoleh, menatap Sirena dengan mata berkaca-kaca.
'Aku tak menyangka, kau ingin membuatku berbeda di hari kebahagiaanku, Sirena ...'
"Betaris Atreo, segeralah mulai mengukur tubuh Nervilia!"
"Baik, Putri Sirena! Terimakasih atas kepercayaan Anda ..." Betaris Atreo mengarahkan Nervilia ke ruang pengukuran.
Sirena duduk di salah satu kursi yang ada disitu sambil memakan cookies. Dia tak mempedulikan tatapan tajam yang terus dilayangkan oleh Sirakusa.
"Matamu bisa lepas dari tempatnya kalau kau melihatku seperti itu, Sirakusa." Ujar Sirena santai.
Sirakusa mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Karena kau!" Balas Sirakusa dengan penuh penekanan. Hawa tak enak dari lelaki itu membuat Agda dan Ans saling pandang sambil bergidik ngeri.
"Aku?" Sirena menaikkan sebelah alisnya, "Tidak salah tuh? Bukankah kau dulu yang menabuh genderang perang kepadaku? Aku tahu kau orangnya, Sirakusa." Tatapan Sirena kini berganti tajam, "Akan aku ingat setiap perbuatan burukmu itu. Dasar lelaki pecundang!"
Saat Sirakusa hendak membalas ucapan Sirena, Nervilia sudah selesai dengan acara mengukurnya.
"Sudah selesai?" Tanya Sirena.
Nervilia mengangguk, "Kita bisa pulang sekarang."
"Kita? Lo aja kali!" dengus Sirena. Sirena kemudian berdiri dari duduknya, "Kau pulanglah lebih dulu. Aku masih harus ke tempat pengrajin untuk mengurus suvenir pernikahanmu."
"Suvenir?" Beo Nervilia yang tak tahu apa itu suvenir.
"Kado kembali kasih untuk para tamu acara, Putri ..." Jelas Agda yang barulah membuat Nervilia paham.
"Kalau kau masih ada urusan. Aku mendoakanmu, semoga Dewa melindungimu selalu." Nervilia mengusap rambut Sirena sekilas karena dia tahu, Sirena tak suka dia sentuh.
"Ya, ya, terimakasih atas doamu itu." Setelahnya Sirena menyeret Agda untuk keluar dari butik Betony.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Saat ini Sirena ditemani Agda dan Irash melihat-lihat pasar yang ada di desa Artelia. Suasana pasar hampir sama seperti yang ada di dunia Sirena. Hanya saja disini tidak ada uang kertas, melainkan menggunakan koin.
Orang-orang di pasar tak ada yang memberikan senyum untuk Sirena sama sekali. Mereka seketika diam sambil memandang simbol mawar hitam yang ada di lengan atas Sirena. Beruntung saja simbol mawar hitam di keningnya tertutup oleh poni pagar miliknya.
(Anggap mawar hitamnya ada di lengan, bukan di pundak ya ... hehehe)
"Sirena!" Agda menyenggol lengan Sirena dengan mata berbinar, "Kau lihat rumah yang ada di samping sungai itu?"
Sirena mengangguk, "Disana! Aku dan Adelphie pernah membeli sebuah barang kerajinan bagus dari sana. Aku mengusulkan tempat itu untuk membuat lilin aromaterapi juga boneka yang kau buat, Sirena."
"Okeh, kita kesana sekarang!" Sirena dan Agda serta Irash segera memasuki pelataran rumah itu.
Saat baru saja ingin mengetuk pintu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun menghampiri keduanya.
"T-tuan P-putri ..." Lelaki itu menunduk memberi hormat.
"Aku ingin kau membuat ini. Wadahnya kau gunakan dengan menggunakan batok kelapa. Lalu aku juga ingin kau membuat Bonek-boneka ini juga. Akan aku bayar kau dengan harga yang sesuai dengan kerja kerasmu. Kalau perlu ajak temanmu untuk membantumu. Aku ingin semuanya selesai dalam seminggu."
Tak
Tanpa menunggu perintah Sirena, Agda memgeluarkan sekantong koin emas ke atas meja.
"Itu adalah tiga puluh koin emas. Separuhnya akan aku beri bila pekerjaanmu memuaskan."
Pengrajin itu tertegun melihat koin emas sebanyak itu. Tiga puluh koin emas mampu untuk membeli tiga sapi yang gemuk dan sehat.
"Untuk bahan-bahan serta langkah-langkah membuatnya, aku membawakan ini untukmu," Sirena menyerahkan gulungan kertas berisi bahan dan cara membuat lilin aromaterapi juga boneka BT21.
"Hamba tidak akan mengecewakan Anda, Putri Sirena ..." Ucap lelaki pengrajin itu sembari menundukkan kepalanya.
"Sama-sama. Senang bekerjasama denganmu-"
"Aldiantha."
"Senang bekerjasama denganmu, Aldiantha. Oh iya, untuk lilin aromaterapinya nanti tolong dibungkus dengan kantung putih berenda dan diikat dengan pita sesuai yang aku contohkan padamu." Ulang Sirena, "Kalau begitu, aku langsung pamit Aldiantha ..."
Setelah selesai dari rumah pengrajin. Sirena, Agda dan Irash berencana mampir ke sebuah restoran untuk makan. Suasana pasar nampak ramai
dan belum sepi pembeli. Agda dan Irash memimpin jalan, sedangkan Sirena lebih memilih berjalan di belakang.
Sirena yang baru saja melewati papan pengumuman seketika menghentikan langkahnya lalu mundur beberapa langkah untuk melihat papan pengumuman, lebih tepatnya sebuah lukisan dengan tulisan dibawahnya.
Tolong bantu temukan Putri Diantha Effie Lyr Uranus. Siapapun yang menemukannya akan diberi hadiah.
"Putri Diantha Effie Lyr Uranus? Kok wajahnya mirip Adelphie ya?" Sirena memperhatikan lukisan itu lamat-lamat.
"Sirena! Apa yang kau lakukan? Cepatlah!" Sirena menghentikan aktivitasnya saat Irash memanggilnya dari kejauhan.
Sirena kemudian berlari kecil menyusul dua orang di depannya. Setelah itu dia berjalan di samping Agda.
"Agda, apa kau tahu siapa itu Putri Diantha Effie Lyr Uranus?"
"Putri Diantha?" Agda mencoba mengingat.
"Lyr Uranus ya? Marga Lyr adalah marga kerajaan Uranus yang berada dibawah kuasa Kekaisaran Alioth." Sahut Irash yang memang mengetahui.
'Kerajaan Uranus? T-tapi lukisan tadi benar-benar mirip Adelphie. Aku tak mungkin salah mengenali wajah orang. Hm ... Sebenarnya siapa kau Adelphie? Mengapa kau begitu misterius?'
Mulai sekarang, Sirena harus berhati-hati. Meskipun Adelphie adalah sahabatnya, tidak apa-apa kan bila dia berjaga-jaga dari yang namanya pengkhianat?
'Adelphie ... Gue harus selidiki.'
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?
Maaf, Pipit nggak bisa up tiap hari, kadang juga telat. Soalnya Pipit juga kerja, mana kerjanya sistem tiga shift, alhasil kalau ada waktu istirahat selalu aku gunain buat tidur. Sekali lagi maaf dan mohon tetap dukung ceritaku ya .... (ʘᴗʘ✿)