The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 44: Ada Apa Dengan Sirakusa?



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Saat pertama kali melihat Sirena memakai mahkota Putri Willamette, Sirakusa tidak bisa menampik rasa sesak yang hinggap di dadanya. Dia tentu menyadari, ada banyak usaha keras yang dilakukan oleh Sirena.


Lalu dia kembali mengingat masa dimana Sirena akan dihukum mati. Disana dia melihat ada yang berbeda dari Sirena. Sejujurnya, Sirakusa tak menyangka, bahwa ramalan akan adanya perang melawan kegelapan perlahan mulai terlihat. Dan penyebabnya adalah Sirena. Sirena yang membangkitkan Raja iblis yang sudah lama tersegel di Benua Canopus agar tidak menyengsarakan umat manusia.


Perang kegelapan yang sudah lama terjadi, sekitar seratus tahun yang lalu. Itu adalah catatan yang tertulis di buku ramalan sebelum akhirnya buku itu menghilang. Di buku ramalan itulah dia mengetahui bahwa seorang pembangkit akan memiliki simbol mawar hitam di kening serta lengannya. Peperangan melawan kegelapan itu berhasil dimenangkan berkat adanya Zifgrid Sang Pengendali, seseorang berjiwa suci yang berhasil mengendalikan Raja iblis atas ijin Dewa. Zifgrid hanya akan muncul saat penyebab kegelapan bangkit.


"Cukup satu istri saja, jangan nambah terus."


Sirakusa mendongakkan kepalanya untuk menatap orang yang baru saja berbicara. Sirena, apakah wanita itu sebegitu cepatnya melupakan cintanya terhadap Elephas?


Melihat wajah Sirena, Sirakusa memikirkan tentang isi buku ramalan itu lagi.


Peperangan melawan kegelapan akan terjadi lagi.


Sirakusa kembali memandang Sirena. Sialnya, Sirakusa justru terbuai dengan wajah bersinar milik Sirena. Maka saat dia mengatakan kepada Sirena untuk segera mencari Zifgrid, dia mengira bahwa Sirena akan menanyakan banyak hal padanya dan akan meminta bantuannya. Tapi sayang hal itu tidak terjadi.



"Tentu saja. Kalau aku tidak melepasmu, mana mungkin aku menerima lamaran Pangeran Athanaxius?"


Sirakusa diam dengan pikiran yang melayang kemana-mana, tetapi satu hal yang menjadi buah pikirnya. Dia adalah Sirena, wanita yang menjadi calon istri Pangeran Kedua Kekaisaran Alioth, Athanaxius.


Tanpa sengaja mata Sirakusa dan Sirena bertemu. Sirena segera mengalihkan pandangannya pada Sirakusa. Hal itu menyentil ego Sirakusa yang selama ini tak pernah diabaikan oleh wanita manapun. Hanya Sirena yang berani melakukannya.


Sirena ... Cinta pertamanya, mawar hitam berdurinya.


Sirena ... Pembunuh ibunya.


Tangan Sirakusa terkepal erat, "Untuk pertama kalinya, Sirena ... Pertama kalinya aku kebingungan dengan keputusanku sendiri." Tatapan Sirakusa terpaku pada tawa Sirena yang terarah pada France, "Dan itu semua karena kau, Sirena ..."


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Hypatia yang saat ini menjadi tempat dimana Nervilia berada terletak di tengah pusat kota Willamette, tidak jauh dari istana Kerajaan Willamette. Jadi, para tamu rombongan tidak perlu menghabiskan tenaga terlalu banyak untuk pergi menuju Hypatia.


Di sepanjang perjalanan, ada banyak rakyat yang turut bersukacita dengan pernikahan Nervilia, mereka seolah-olah menunggu momen ini. Dimana pasangan yang saling mencintai akhirnya bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Tentunya setelah semua orang tahu bagaimana menderitanya Nervilia demi Elephas.


Awalnya Sirena mengira hari ini akan menjadi hari bahagianya juga, tapi dugaannya salah. Di sepanjang perjalanan pula, dia mendapat tatapan sinis rakyat. Bahkan banyak rakyat yang menolak koin emas pemberiannya.


"Anda tidak pantas untuk hal suci seperti ini, Putri Sirena!"


"Saya mendoakan Anda, semoga hidup Anda tidak pernah tenang, Putri Sirena! Karma haruslah menimpa Anda secepatnya!"


Sirena hanya bisa tersenyum kecut menanggapi itu semua. Apakah seburuk itu dia di mata para rakyat?


'Mungkin gue harus ekstra kerja keras mendapat kepercayaan rakyat kembali. Bagaimanapun hidup dalam kebencian orang nggak akan bisa tenang.'


Adelphie yang berada di sebelahnya, turut prihatin. Dia tak akan menyangka, Sirena hanya membalas hinaan para rakyat dengan senyuman.


Tetapi Sirena bersyukur, dia masih memiliki muka dihadapan bangsawan lain karena para bangsawan tidak ada yang mengetahui kalau dia dihina oleh para rakyat. Beruntung Sirena memilih barisan paling belakang, bersama orang-orangnya, orang-orang yang mendukungnya.


"Apa kau kelelahan, Sirena?" Aindrea tidak bisa untuk tidak bertanya. Sejak dulu, dia tahu bahwa Sirena bukanlah seorang Putri yang menyukai kemewahan ataupun berdandan dengan glamour. Sekalipun demikian, dia tahu Sirena berdandan lebih untuk menarik perhatian keluarganya juga Elephas. Maka saat melihat Sirena yang sedikit pucat sambil terus memegang kepalanya membuat Aindrea khawatir.


"Aku baik, Bang. Mungkin aku belum terbiasa menggunakan mahkota Putri ini." Sirena ingin melepaskan mahkota itu, tapi melepas sama saja membuang kesempatan emas yang dia dapat dengan tidak mudah. Ini adalah awal kebahagiaan untuk Sirena asli, dia pasti akan sangat senang saat mendengar dia berhasil membuat Raja memberinya mahkota Putri Willamette.


"Aku bisa menyewakan kereta agar kau segera sampai di Hypatia." Aindrea tentu saja masih khawatir, ini pertama kalinya Sirena memakai mahkota Putri Willamette yang selama ini diidam-idamkan oleh wanita itu.


Aindrea, selama ini dia tak menutup mata. Dia tahu semua usaha keras Sirena agar terlihat. Terlihat di depan keluarganya juga Elephas yang sekarang menjadi suami Nervilia. Karena merasa itu adalah urusan Sirena dan tak ada hubungan dengannya karena dia hanyalah kepala legion di Manor, dia tak ingin ikut campur. Berbeda dengan sekarang, dia bahkan kekasihnya Adelphie kini ada di pihak Sirena.


"Apa kau lupa kalau Sirena tidak bisa bertahan lama di dalam kereta?" Adelphie memukul kepala Aindrea.


Sirena mendengus, dia juga kesal dengan Aindrea, "Kau pikun juga ternyata, Bang. Kasian ... Mana masih muda," Sirena berdecih.


Aindrea menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia lupa untuk hal itu. Jadi dia hanya membalas tatapan Sirena dan Adelphie dengan senyuman canggung.


Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan tenang. Sirena tetap memberikan koin emas kepada para rakyat yang dia temui, meskipun lagi-lagi dia harus mendapat hinaan. Padahal Sirena bisa saja menghukum mereka seperti yang Sirena asli lakukan dulu. Tapi tidak, ini demi membersihkan reputasinya dihadapan rakyat. Di kehidupan sebelumnya, dia sudah terbiasa menjadi Devita yang sering menerima hinaan. Jadi, mentalnya sudah kebal untuk sekedar hinaan seperti itu.


"Kau tak perlu membohongi hatimu sendiri, Sirena. Aku tahu kau lelah menanggung hinaan banyak orang." Adelphie berbicara pelan di sebelah Sirena.


"Mau bagaimana lagi? Tanganku hanya dua, aku tak sanggup membungkam mulut mereka. Jadi, yang bisa kulakukan hanya pura-pura tuli." Sahut Sirena dengan santai. Tak lama Sirena merasa tangannya digenggam kuat oleh France.


"Kak Nana tidak perlu khawatir, aku akan menjadi orang yang paling setia untuk Kak Nana." France berujar dengan mantap.


"Aku jadi ragu, bagaimana kalau kau menjadi seorang ayah nantinya, Bang. Pasti anakmu kaget karena ayahnya seperti dirimu." Sirena menjulurkan lidahnya mengejek Aindrea.


"Hei! Sudah-sudah! Saatnya pasang wajah tebal kembali, kita sudah sampai di Hypatia Andelio Willamette." Adelphie menegur ketiga orang yang sedari tadi berisik.


Sirena dan yang lain pun segera masuk ke tempat suci itu, Hypatia Andelio Willamette. Namun Sirena dan yang lain terpaksa menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Sirakusa berdiri dihadapan Sirena.


"Apa yang kau lakukan, Sirakusa? Minggir!" Sirena berkacak pinggang menatap kesal Sirakusa.


Sirakusa bukannya minggir, lelaki itu justru maju dua langkah hingga mengikis jarak diantara keduanya. Sirakusa mencondongkan tubuhnya hingga kepalanya berada di sisi kanan kepala Sirena.


"Aku meminta pertanggungjawaban darimu, Sirena ..."


"Ha?" Sirena lantas mendorong tubuh Sirakusa menjauh, "Pertanggungjawaban apaan? Apa aku menghamilimu, hah?"


Sirakusa hanya menaikkan sudut bibir kanannya, tangannya terulur mengusap pipi Sirena dan kemudian pergi begitu saja.


Pengikut Sirena tentu saja terkejut dengan perilaku Sirakusa pada Sirena.


Sirena sendiri hanya bisa mematung, 'Ada apa dengan Sirakusa?'


Hari ini, lelaki itu bertingkah aneh sekali. Bukan hanya hari ini, tapi sebelumnya Sirakusa sudah bertingkah aneh. Dan itu yang membuat Sirena bertanya-tanya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Hypatia Andelio Willamette, sudah ada semenjak Raja ketiga Willamette masih memerintah. Konon katanya, Hypatia Andelio Willamette adalah bangunan yang dibangun oleh Zifgrid Sang Pengendali terdahulu yang menghilang tanpa jejak. Maka dari itu, para Hester yang ada disini, percaya, suatu hari nanti bila masa kegelapan itu muncul kembali. Maka Hypatia Andelio Willamette inilah yang akan menjadi tempat dimana munculnya sosok Zifgrid Sang Pengendali itu.


Sirena mengagumi setiap ornamen yang ada di bangunan suci ini. Ada banyak lukisan-lukisan tentang peperangan seratus tahun yang lalu. Peperangan melawan kegelapan, itulah yang diceritakan oleh Aindrea.



Sirena beserta yang lain duduk di kursi yang sudah disediakan. Kursi-kursi itu sengaja ditata dipinggir kanan dan kiri gedung utama Hypatia yang menyisakan tempat luas di tengah ruangan. Di tengah ruangan itu, ada Elephas dan Nervilia yang akhirnya saling bertatap muka.


"Gaun yang dipakai Nervilia, apakah itu berat?" Sirena ingin tahu, pasalnya melihat betapa lebarnya gaun pengantin yang dikenakan Nervilia saja sudah membuatnya sesak napas, apalagi Nervilia yang memakainya.


"Itu berat. Pernah ada kejadian ada pasangan pengantin yang gagal dansa pertama mereka karena pengantin wanitanya pingsan akibat kelelahan, kelelahan dengan gaun yang super berat." Adelphie terkikik.


Sirena mengerutkan keningnya saat merasa ada yang janggal dengan ucapan Adelphie, "Oh iya? Pengantin dari Kerajaan mana?" Sirena akan memancingnya.


"Kerajaan Jupiter, tepatnya saat pernikahan Putri ketiga." Setelah mengucapkan itu, Adelphie memandang horor Sirena.


'Sial! Aku ceroboh lagi!'


Sirena menyeringai menatap Adelphie, namun dia memilih diam tidak bertanya. Nanti dia juga pasti tahu sendiri kebenaran siapa Adelphie.


"Diharapkan keluarga dari kedua belah pihak pengantin untuk memercikkan air suci kepada pengantin pria dan wanita." Ucapan Hester membuat Sirena lantas berjalan menuju dimana keluarganya berada, tentu dengan mengajak France.


Sirena berdiri di sebelah adik perempuannya yaitu Vanda dan Tamarinda. Vanda hanya memandangnya acuh, sedari awal Sirena tahu gadis muda itu adalah orang yang pendiam. Sedangkan Tamarinda, bocah sepantaran France itu menatap Sirena dengan tatapan berharap.


"Hei, bocah kecil!" Sirena akhirnya menyapa Tamarinda, tak hanya itu, dia juga menoel pipi Tamarinda, "Aku membawa teman untukmu, ingin berteman dengan France?"


"A-ap-"


"Jangan mengganggu anakku!" Selir Cordyline langsung menarik tangan Tamarinda agar menjauh dari Sirena.


Sirena memilih abai dengan perlakuan tidak ramah Selir Cordyline. Sudah biasa menurutnya. Namun kali ini Sirena merasakan, telapak tangan kirinya memanas. Saat mengangkatnya, Sirena melihat jelas simbol mawar putih itu sudah benar-benar jelas, tidak seperti sebelumnya yang masih samar.


"Kak Nana! Dahimu!" France menunjuk dahi Sirena yang memendarkan sinar merah dibalik poninya serta hiasan mahkotanya.


"Apa berpendar merah?" Pertanyaan Sirena diangguki oleh France. Sirena mematung, ini bukan pertanda baik.


"Tuan Putri Sirena, giliran Anda untuk memercikkan air suci," ucapan Hester membuat Sirena tersadar. Sirena mendekatkan dirinya hingga berdiri di depan Nervilia dan Elephas. Tangannya menerima mangkok kecil berisi air suci dan satu tangannya memegang setangkai bunga mawar putih.


Tanpa Sirena sadari, ada dua orang berjubah hitam dengan topeng mengerikan sedang berdiri di atas atap untuk menyaksikan apa yang akan terjadi.


Tepat setelah Sirena selesai memercikkan air suci kepada Elephas dan Nervilia, kekacauan terjadi.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?


Sebenarnya aku mau up dua chapter, tapi pas mau buat chapter yang kedua. Aku malah ketiduran gessss!!! Daripada buat kalian menunggu, mending up satu chap dulu deh. Janji lain waktu aku bakal double up!