
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Saat Sirena mulai menekan tuts-tuts piano dan seiring dirinya mulai berdansa dengan Putri Kayanaka, Athanaxius merasa ada yang salah.
"Apakah Anda masih mengingat pertemuan pertama kita, Pangeran Athanaxius?" Tanya Kayanaka sambil menyeimbangkan gerakan kakinya.
"Tentu." 'Orang pertama yang mengulurkan tangan untukku, mana mungkin aku melupakannya?'
"Saat itu, Anda masih terlihat polos dan lugu, tetapi sekarang Anda terlihat tegas dan berwibawa sekali. Saya masih ingat dahulu Anda pernah menahan saya untuk pulang, apa Anda juga mengingatnya, Pangeran?" Kayanaka ingin sekali melihat mata abu-abu milik Athanaxius, namun dia tahu tentang kutukan lelaki di depannya.
Athanaxius dan Kayanaka berputar dua kali kemudian Kayanaka berakhir ke pelukan Athanaxius sesaat, "Saya ingat." Athanaxius memutar tubuh Kayanaka.
Kayanaka merasa begitu senang tatkala matanya melihat semua tamu undangan memperhatikan dirinya beserta Athanaxius yang tengah berdansa.
"Kalau begitu, apakah Anda masih menyukai saya seperti yang Anda katakan dulu?"
You look so beautiful in white ...
Tonight
Athanaxius seketika tak tahu ingin menjawab apa. Dulu sekali, ketika dia berusia delapan tahun, dimana dia dan Kayanaka bertemu, dia memang pernah berkata kalau Athanaxius menyukai Kayanaka. Semua itu bukan tanpa alasan.
Saat itu, ketika Athanaxius masih kecil, para saudaranya tidak ada yang ingin bermain dengannya bahkan anak-anak yang lain. Lalu istana Kekaisaran Alioth mendapat kunjungan dari Kerajaan Epsilon. Athanaxius kecil saat itu tengah berada di taman Manor sendirian dan tak ikut menyambut kedatangan Raja dan Ratu Epsilon.
"Mengapa kau sendirian disini?"
Athanaxius kecil menoleh, dia mendapati anak perempuan berambut coklat dengan gaun merah muda yang mengembang menatapnya bertanya-tanya.
"Apa kau tidak bisa bicara? Luster Aina, apa kau tahu siapa dia?" Anak perempuan itu bertanya pada luster pribadi yang ada di belakangnya.
"Beliau adalah Pangeran Athanaxius, Putra pertama dari Yang Mulia Selir Agung Airith, Putri Kayanaka." Jawab Luster pribadinya.
Putri Kayanaka menyunggingkan senyum terbaiknya, memperlihatkan giginya yang ompong, "Hai, namaku Kayanaka Claire ... Maukah kau bermain denganku?" Kayanaka mengulurkan tangannya ke arah Athanaxius yang membuat Athanaxius terpaku. Untuk pertama kalinya ada orang yang mengulurkan tangannya, mengajaknya bermain.
Sejak kejadian itu, Athanaxius begitu akrab dengan Kayanaka, hingga saat tiba waktu Kayanaka pulang ke Kerajaannya, Athanaxius memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat yang selama ini dia pendam.
"Kayanaka," Kayanaka yang hendak masuk ke dalam kereta kudanya terhenti karena Athanaxius memanggilnya.
"Ada apa, Dei?" Kayanaka lebih suka memanggil Athanaxius dengan 'Dei'.
"A-aku ... A-aku me-menyukaimu ..."
Melihat keterdiaman Athanaxius membuat Kayanaka berpikir, apakah Athanaxius sudah tidak menyukainya lagi? Apakah Athanaxius saat ini benar-benar menyukai Sirena?
So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
And from now til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
You look so beautiful in white
Tonight
Lagu yang dibawakan Sirena berakhir sesuai dengan dansa yang dilakukannya. Di akhir dansa, Kayanaka berakhir dipelukan Athanaxius.
Prok prok prok
"Mereka benar-benar serasi sekali!"
"Aku setuju! Dansa mereka membuatku terpukau!"
"Padahal mata Pangeran Athanaxius ditutup, tetapi Pangeran begitu lihai berdansa, aku kagum dengannya!"
Berbeda dengan Athanaxius, dia merasa ada yang salah. Sejak awal dia berdansa memang sudah ada yang salah, tapi apa?
"Dengar-dengar, Pangeran Athanaxius melamar Putri Sirena, tetapi kenapa bukan Putri Sirena yang diajak berdansa?"
'Sirena?' Athanaxius merasakan dadanya sesak seketika.
"Pangeran, terima kasih karena sudah menjadi pasangan saya di dansa kali ini." Kayanaka membungkukkan setengah badannya meskipun dia tahu Athanaxius tak akan melihatnya.
Dengan cepat Athanaxius membuka penutup matanya. Saat matanya melihat ke arah kiri panggung dimana tadinya Sirena berada, sekarang wanita itu sudah tidak ada.
"Calon istriku harus terlihat cantik di depan semua orang."
Ucapannya yang pernah dia ucapkan untuk Sirena tiba-tiba terlintas dan membuat dadanya semakin terasa sesak.
Athanaxius terpaku, akhirnya dia tahu apa yang salah.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Seperti malam ini, Sirena lebih memilih berdiam diri di taman istana dengan France daripada di dalam istana menikmati pesta hasil usahanya.
Setiap kali mengingat adegan Athanaxius berdansa dengan Kayanaka, hati Sirena merasa sesak. Seharusnya, Sirena lah yang ada diposisi Kayanaka.
'Harusnya si Athan itu nolak! Bangsat emang! Kalau kayak gini kan gue makin nggak punya muka dihadapan bangsawan lain!' Sirena mendengus kesal.
"Kak Nana, apa kau tak merasa kedinginan?"
Sirena sadar, dia di taman istana tidak sendiri, melainkan bersama France yang selalu setia menemaninya kemanapun dia pergi.
"Tidak tuh! Apa kau yang kedinginan?" Giliran Sirena yang bertanya, pasalnya melihat tubuh ringkih France sangat tidak mungkin dia bertahan lebih lama menemaninya hingga larut malam di ruangan terbuka.
France mengangguk sekali, "Apa Kak Nana tidak ingin masuk? Di dalam kan banyak sekali makanan enak!" France mencoba membujuk Sirena agar kembali masuk ke dalam istana. Biasanya bila sudah menyangkut makanan, Sirena akan menurut.
Sirena menggeleng, "Kau tahu, France? Mereka yang ada di pesta lebih menyukai kalau aku tidak ada."
France menatap sedih Sirena, "Sayang sekali, padahal Kak Nana sudah dandan secantik ini, tetapi tidak dilihat oleh siapapun."
"Apa aku terlihat cantik malam ini?"
France mengangguk cepat, "Kak Nana bahkan sangat cantik terlebih dengan mahkota yang Kak Nana pakai."
Sirena tersenyum kecut, 'Mahkota, ya? Orang yang ngasih mahkota lagi wisata masa lalu kayaknya sekarang.'
Sirena merasa Kayanaka memang pernah ada dalam hidup Athanaxius dan pernah menjadi orang penting. Buktinya Athanaxius tidak menolak ajakan dansa yang diajukan oleh Kayanaka padanya.
"Kalau begitu, karena aku sudah berdandan secantik ini, maukah kau berdansa denganku, France?" Sirena berdiri, mengulurkan tangannya ke arah France yang diam mematung.
"Kok diam?" Sirena ingin tertawa, raut wajah France sangatlah lucu.
"Em ... A-aku tak b-bisa berdansa, Kak ..." lirih France yang masih bisa didengar oleh Sirena.
"Jadi aku ditolak?" Sirena memasang wajah sedih yang membuat France langsung berdiri dengan wajah panik.
"A-aku t-ti-tidak bermaksud! Kak Nana jangan sedih ..." France memeluk pinggang Sirena dengan erat.
"Astaga, France! Aku hanya bercanda! Kau sungguh menggemaskan sekali kalau panik, hahaha ..." Sirena mengacak-acak rambut France sambil tertawa.
Mendengar tawa Sirena, France yang masih memeluk Sirena merasa tenang. Akhirnya orang yang dia sayangi kini tidak bersedih lagi.
"Sepertinya kau senang sekali memelukku, ya?"
"Aku suka memeluk Kak Nana!" France mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Sirena.
"Dasar bocah! Cepatlah dewasa! Nanti ajak aku pergi jalan-jalan keliling dunia ini." Sirena masih setia mengacak-acak rambut France. Bagi Sirena, bertemu dengan France adalah hal yang menyenangkan dan mampu menghiburnya.
Anak kecil dengan segala tingkah kepolosannya, Sirena selalu menyukai itu. Melihat perkembangan France yang begitu pesat, membuat Sirena takjub. France begitu pintar untuk anak seusianya di dunia ini. Hanya satu yang masih kurang, anak itu masih kurus meskipun Sirena menyuruhnya makan empat kali sehari.
"Apa yang kau lakukan disini bersama bocah itu?"
Sirena dan France menoleh ke belakang. Mereka melihat sosok Sirakusa yang berdiri dengan gagah menatap Sirena penuh dengan kewaspadaan.
"Apa kau sedang merencanakan sesuatu lagi, Sirena?"
Melihat raut wajah Sirena yang tidak ceria seperti tadi membuat France membenci akan kehadiran Sirakusa. France membenci orang-orang yang membuat Sirena bersedih.
"Coba tebak, hal kotor apa yang bisa aku lakukan untuk mengacaukan pesta ini?" Sirena menatap tajam Sirakusa. Dia benci tatapan menuduh dari Sirakusa.
"Bawa anak itu pergi dari sini, biarkan aku yang mengurus Putri Sirena." Setelah mengucapkan itu, dua orang berseragam serba hitam tiba-tiba muncul lalu menangkap France.
"KAK NANA!!" Jerit France karena ketakutan dibawa oleh dua orang misterius.
"JANGAN BAWA FRANCE, SIALAN!!" Sirena mencoba menghalangi dua orang yang menangkap France.
Sayang, pergerakan Sirena ditahan oleh Sirakusa hingga akhirnya France berhasil dibawa pergi oleh dua orang misterius itu.
Sirena ditahan menggunakan kekuatan bayangan milik Sirakusa. Dengan kekuatannya, Sirakusa menarik Sirena hingga ada dihadapannya.
"Bagaimana rasanya menjadi sepi diantara keramaian, hm?" Pertanyaan Sirakusa membuat Sirena berdecih.
"Kalau kau ingin aku menjawab itu sangat mengerikan, maka kau salah besar! Aku sudah terbiasa menjadi sepi diantara keramaian. Sekarang, lepaskan aku!"
Sring
Sirakusa menghilangkan kekuatan sihir bayangannya dan membuat Sirena jatuh dalam pelukannya.
"Haruskah aku terpesona dengan jawabanmu?" Balas Sirakusa.
Sirena berusaha melepaskan diri dari dekapan Sirakusa yang begitu erat, "Hei, brengsek! Lepaskan aku! Seenak jidat kau memelukku tanpa izin! LEPASKAN AKU!!"
Sirakusa justru terkekeh kecil, "Berusahalah lepas dari dekapanku."
Sekuat apapun Sirena berusaha lepas dari dekapan Sirakusa, dia tetap tidak bisa lepas. Sirena memilih menyerah, tanpa sadar Sirena meletakkan kepalanya di dada Sirakusa, "Apa maumu, Sirakusa?"
"Cukup diam dan biarkan seperti ini." Sirakusa meletakkan dagunya di kepala Sirena, "Aku ingin memastikan sesuatu, sedari awal tujuannya sudah benar atau ternyata ... salah."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Sirakusa main peluk anak orang aja. Hfft, andai Pipit yang dipelukಥ‿ಥ