
Tolong ya kawan, ajakin temennya mampir ceritaku hehe ...
Ada yang bosen nggk sampai di part ini?
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Suasana istana kerajaan Willamette kini terlihat semakin ramai seiring datangnya rombongan dari kerajaan lain. Falco sebagai penerus tahta kerajaan pun disibukkan untuk menyambut para tamu dan menemani jamuan makan malam bersama para tamunya.
Sebelum menikah dengan Galcinia, Falco menjadi banyak incaran untuk menjadi menantu dari kerajaan-kerajaan lain. Saat peperangan melawan Kerajaan Zyantium, musuh kerajaan Willamette, kerajaan kecil yang berada di wilayah timur benua Achernar, Falco membawa kemenangan atas Willamette. Raja dari Kerajaan Zyantium pun menyerahkan putri bungsunya, yaitu Galcinia untuk jaminan kerajaan kecil itu agar diberi kesempatan untuk tetap berdiri.
Falco saat ini tengah mencari keberadaan Galcinia yang tiba-tiba hilang entah kemana semenjak kedatangannya tadi. Dia tak merindukan istrinya itu, hanya saja dia sedikit khawatir kalau terjadi apa-apa. Musuh kerajaan bisa ada dimana-mana, dan sebagai calon Ratu, dia harus menjaga Galcinia agar tetap hidup.
Falco bertemu dengan luster pribadi Galcinia yang dia tunjuk untuk mengurus istrinya seperti tengah kebingungan mencari sesuatu.
"Ayda!"
Perempuan yang dipanggil itu pun segera mendekat ke arah Falco dengan kepala yang menunduk dalam.
"Dimana Galcinia?"
Ayda dengan perasaan takut bukan main merasa tidak memiliki keberanian untuk menjawab. Tadinya sewaktu menemani Galcinia menyambut para tamu, dia ijin sebentar untuk pergi ke kamar mandi. Namun saat dia kembali, dia tak menemukan keberadaan Galcinia.
"Mohon ampuni hamba, Pangeran Putra Mahkota ... H-hamba telah lalai menjalankan tugas. H-hamba sendiri tengah mencari keberadaan Putri Mahkota Galcinia saat ini."
Falco menatap tajam Ayda, "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Galcinia, kau yang menanggung akibatnya." ucap Falco dengan nada dingin.
"Dia ada bersama dengan adikmu, Sirena."
Falco menoleh ke samping dimana Sirakusa baru saja datang sembari meringis menahan sakit, "Kau baik-baik saja, Sirakusa? Dan bagaimana kau bisa tahu kalau Galcinia bersama Sirena?"
"Aku melihatnya sendiri. Sebaiknya kau jemput istrimu. Aku khawatir adikmu itu akan mencelakai istrimu lagi." Sirakusa berbicara biasa kepada Putra Mahkota Kerajaan Willamette karena Sirakusa dan kedua pangeran Willamette berteman baik. Tetapi saat berbincang dengan Nervilia, dia akan berbicara formal.
"Baiklah. Oh iya, tentang Pangeran Athanaxius, bagaimana dengan kondisinya? Apa tak apa membiarkan dia terluka parah di hutan?" Falco masih memikirkan kondisi Athanaxius yang terluka parah karena melindunginya dari serangan iblis.
Sirakusa juga kembali teringat dengan kondisi Athanaxius, "Entahlah? Bukankah dia sendiri yang meminta untuk ditinggalkan?" Sirakusa berbohong perihal Athanaxius kepada Sirena.
Awalnya Sirakusa ingin memberitahu kondisi Athanaxius kepada Sirena, namun saat melihat wanita itu, rasa bencinya kembali membuncah. Dan mungkin bermain-main sedikit dengan Sirena pasti menyenangkan. Maka dari itu dia berbohong kepada Sirena, mengatakan kalau Athanaxius memilih pulang.
"Luka dalamnya begitu parah, apakah dia akan mati?" Falco merasa tak enak hati, benar-benar tak enak dengan Athanaxius. Harusnya dia membawa Athanaxius bukan meninggalkannya.
"Orang yang memiliki kutukan tak akan mudah mati, Falco. Aku yakin dia mampu bertahan." Sirakusa menepuk bahu Falco sebagai isyarat agar lelaki itu tak terlalu memusingkan persoalan Athanaxius.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Malam sudah semakin larut, aku harus menjemput Galcinia ke Manor. Terimakasih sudah memberitahuku dimana Galcinia berada, Sirakusa."
"Sama-sama."
Kedua lelaki itu tak menyadari akan kehadiran Sirena dan Galcinia yang mendengar semua pembicaraan mereka.
Prok prok prok
"Bagus sekali, Sirakusa! Kau memang bedebah sialan!"
Sirakusa dan Falco terkejut dengan kehadiran Sirena beserta Galcinia. Terlebih Sirakusa, tak menyangka Sirena akan tahu secepat ini dari mulutnya sendiri.
Sirena berjalan mendekat dengan tatapan mata yang kecewa untuk Falco dan tatapan benci kepada Sirakusa.
Wanita itu dengan berani berdiri di depan Sirakusa, mencengkram kuat kerah baju Sirakusa, "Apa selama ini aku terlalu menjadi pendiam membiarkanmu, Sirakusa? Kau perlu tahu dan harus tahu bahwa orang yang memiliki kutukan juga manusia biasa yang bisa menderita!" Ucapan Sirena penuh dengan penekanan.
Sirakusa bisa merasakan betapa eratnya cengkraman tangan Sirena di kerah bajunya, menandakan bahwa wanita di depannya benar-benar sudah kehilangan kesabarannya.
"Jangan berpikir kalau aku tak memiliki sihir, aku tak berani melawanmu. Katakan, apa keuntunganmu membohongiku tentang Athanaxius? Cepat katakan!" Sirena tak terima dibohongi oleh Sirakusa. Bagaimana bisa lelaki itu membohonginya soal kondisi Athanaxius yang terluka parah?
Dia kembali ingat, masa dimana mereka pertama kali bertemu. Sirena berpikir kalau Athanaxius hanyalah seorang lelaki pembunuh berdarah dingin yang membunuh orang tak berdaya. Namun saat Sirena dalam bahaya dan Athanaxius menolongnya, dia tak bisa untuk tidak kagum. Dibalik wajah datar Athanaxius, dibalik mata tajamnya, ada sebuah kekosongan di hati lelaki itu.
Dan sekarang? Bagaimana dia bisa ada untuk Athanaxius saat lelaki itu terluka parah bila seseorang membohonginya?
"Sirena, lepaskan tanganmu! Jangan membuat keributan di sini! Ada banyak tamu dari kerajaan lain, jangan membuat namamu semakin tercemar buruk!" Falco memperingati Sirena. Tembok istana adalah sumber informasi yang sering ditunggu banyak orang. Falco, dia tak akan membiarkan nama Kerajaan Willamette yang akan dia pimpin semakin buruk hanya karena Sirena, adiknya.
"Siapa Athanaxius?" Galcinia masih berpikir semenjak tadi, maka dari itu dia hanya diam menonton. Sirena belum menceritakan siapa Athanaxius.
"Sirena!" Peringat Falco sekali lagi, namun Sirena tak menggubrisnya.
"Aku hanya ingin bermain-main denganmu," lengkungan di bibir Sirakusa terlihat, "ternyata menyenangkan sekali membuatmu marah seperti ini." Tiba-tiba tangan Sirakusa menarik pinggang Sirena hingga Sirena berada dalam pelukannya. Denyutan tidak enak Sirakusa rasakan kala itu. Ada apa dengannya?
"Woi! Jaga jarak!" Galcinia melototkan matanya saat melihat Sirena dipeluk, begitupula Falco.
Sirena, wanita itu mematung di pelukan Sirakusa, terlebih saat merasakan tangan Sirakusa memelukanya semakin erat hingga membuatnya merasakan sesak.
"Aku membencimu, Sirena ... Sangat!" Bisik Sirakusa yang hanya bisa didengar oleh Sirena saja, "Kau harus menderita, merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kurasakan!"
'Rasa sakit yang sama? Apa maksudnya? Apakah ada ingatan yang terlewatkan tentang Sirakusa?'
Sirena mencoba melepaskan diri dari dekapan Sirakusa, namun dia tak bisa. Pelukan Sirakusa membuatnya tak nyaman.
"Sirakusa, kau apakan adikku!" Elanus datang dan langsung menarik Sirena yang akhirnya terlepas dari pelukan Sirakusa.
Lelaki itu, Sirakusa hanya menatap Sirena tanpa berniat menjawab Elanus. Fokusnya saat ini hanya Sirena, mawar hitam berdurinya.
Elanus menatap Sirena khawatir. Dia tentu tahu permusuhan antara Sirakusa dan Sirena akhir-akhir ini. Elanus hanya takut, Sirakusa berbuat melewati batas hingga dapat melukai Sirena, "Apa kau terluka? Cepat katakan, Sirena! Kalau Sirakusa menyakitimu, aku akan menghajarnya meskipun dia temanku sendiri."
"Lepas!" Ucap Sirena dengan nada dingin, "Saya tak sudi mendengar omong kosong Anda lagi. Bersikaplah tidak peduli dan tidak mau ikut campur seperti yang Anda lakukan dulu." Sirena kemudian mengalihkan pandangannya pada Sirakusa, namun lelaki itu ternyata sudah pergi. Hanya ada Falco, Elanus, dirinya dan Galcinia yang menatapnya meminta penjelasan.
"Sirena, apa kau benar-benar tak menganggapku sebagai kakakmu lagi?" Elanus memegang kedua lengan Sirena dan menatap wanita itu dengan sendu.
"Bukan tak menganggap Anda, tapi Anda dan saudara Anda semua sudah gagal menjadi saudaraku. Keluarga yang saya memiliki sudah gagal menjadi keluarga tempat saya untuk pulang." Nada bicara Sirena semakin dingin.
Ucapan itu menyentil ego Falco yang diam di tempatnya. Tak jauh dari mereka, Raja Monachus mendengar dan memperhatikan mereka juga merasa tertohok dengan ucapan Sirena.
Tatapan Sirena tertuju pada Raja Monachus sebentar kemudian dia beralih ke Falco, "Dimana Athanaxius?"
"Mengapa kau menanyakannya? Apa yang ingin kau lakukan?" Bukannya menjawab Falco justru bertanya yang membuat Sirena semakin muak.
"Tinggal jawab saja apa susahnya sih?" Ini bukan Sirena, melainkan Galcinia yang juga merasa muak dengan Falco.
Lelaki itu menatap istrinya yang berujar ketus padanya. Dia tak bisa untuk tidak terkejut. Istrinya adalah seorang wanita yang lemah lembut dan pendiam. Namun saat terbangun dari koma, ada perubahan yang terjadi pada istrinya.
"Apa lihat-lihat!" Galcinia menatap tajam Falco.
Karena tak mendapat jawaban yang dia inginkan, Sirena memutuskan pergi.
Sirena menghentikan langkahnya, "Saya akan mencari Athanaxius." Balas Sirena tanpa ingin berbalik.
"Sirena, ini sudah malam! Apa kau ingin menemui bahaya?" Falco mencoha menghentikan niat Sirena.
"Meskipun saya mati sekalipun, saya tidak peduli. Yang terpenting adalah memastikan penyelamat saya baik-baik saja." Setelah mengatakan itu, Sirena bergegas menuju taman istana utama untuk menggunakan portal teleportasi kerajaan.
Galcinia menggelengkan kepalanya sambil berdecak miris, "Ckck! Drama yang bagus sekali." Galcinia pun memutuskan untuk pergi, kembali ke kamarnya, kamar dimana dia dirawat sewaktu koma.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Hutan, nama tempat yang masih terdengar mengerikan untuk Sirena yang berjiwa Devita. Namun, hidup sebagai Sirena membuatnya benar-benar keluar dari zona nyamannya. Dia harus dituntut berani agar tetap bisa bernafas hingga hari esok.
Banyak orang bilang, hutan adalah tempat yang tepat bagi orang yang berputus asa untuk mengakhiri hidupnya. Karena hutan adalah tempat yang sunyi dan dipenuhi binatang buas yang bisa menerkam kapan saja.
Sirena saat ini berada di hutan Lafayetii, hutan dimana dia bertemu dengan Athanaxius si psikopat ganteng. Dia hanya mengikuti firasatnya yang mengatakan bahwa lelaki itu ada di hutan ini.
Suara binatang malam serta angin yang bertiup hingga menimbulkan dedaunan berbisik membuat bulu kuduk Sirena berdiri karena merinding. Tapi lebih dari itu, Sirena berharap agar tak ada monster yang tiba-tiba muncul. Sirena tak memiliki sihir yang membuatnya bisa membunuh monster.
Sirena hanya terus berjalan menuju ke tengah hutan dimana sungai yang pernah dia kunjungi berada.
Setelah lama berjalan, akhirnya Sirena sampai di sungai, tetapi dia tak mendapati Athanaxius.
"Athanaxius, dimana sih lo?" Sirena menggigit kukunya dengan wajah resah. Dia benar-benar takut Athanaxius kenapa-kenapa.
"IBU!!"
"TOLONG!! SIAPAPUN TOLONG!!!"
Samar-samar Sirena mendengar suara orang minta tolong. Suara itu terdengar dari arah menuju ke kekaisaran Alioth.
Sirena pun berlari untuk melihat siapa orang yang meminta tolong. Dengan nafas terengah-engah, akhirnya Sirena melihat orang yang meminta tolong. Dia melihat anak kecil berusia delapan tahunan terus mengguncang tubuh seorang wanita tua yang Sirena tebak adalah ibu anak kecil itu.
"Tolong hiks ... I-ibu, bertahanlah!" Anak kecil itu mencoba menjaga kesadaran ibunya agar tak menutup matanya.
"Apa yang terjadi dengan ibumu, bocah?" Anak kecil itu mendongak untuk melihat. Seketika tangisannya terhenti saat melihat seorang wanita berparas sangat cantik yang memiliki rambut pirang keemasan yang sangat jarang dimiliki oleh orang-orang.
"Ya ampun! Ibumu terluka parah! Kita harus segera membawanya ke rumah pengobatan untuk menyembuhkan luka ibumu!" Sirena panik. Dia melihat ibu anak kecil itu terluka parah dibagian leher seperti terkena benda yang sangat tajam.
Anak kecil itu kembali menangis, "A-apa rumah p-engobatan bisa membuat ibuku sembuh dan tetap h-hidup?"
"Aku tidak tahu," sahut Sirena lemah. Dia tak ingin memberi harapan palsu untuk anak kecil di hadapannya yang begitu sedih melihat ibunya. Kalau rumah pengobatan bisa menyembuhkan juga tidak bisa menyembuhkan, lantas bagaimana nantinya anak ini? Apakah dia akan siap menerima kenyataan pahit? Manusia memang harus berusaha tetapi Tuhan yang menentukan. Setiap yang diciptakan akan kembali pada yang menciptakan.
"IBU!!!" Anak kecil itu semakin meraung-raung melihat kondisi ibunya yang kejang-kejang serta mengeluarkan darah hitam dari mulutnya.
Asap hitam seketika muncul melingkupi ibu yang sudah sekarat itu. Hingga ibu itu berhenti kejang-kejang dengan matanya yang terbuka lebar dan menatap kosong di depannya.
"I-ibu?" Anak kecil itu sangat khawatir dengan kondisi ibunya yang terlihat seperti mayat hidup.
Sirena merasakan firasat buruk saat wanita tua itu berhenti kejang-kejang. Dan benar saja firasatnya, wanita itu tiba-tiba bangun dan menyerangnya dengan sihir hitam.
Beruntung Sirena berhasil menghindar di waktu yang cepat sambil menarik anak kecil itu dan membuat mereka tidak terluka.
Anak kecil itu kembali menangis tersedu-sedu memanggil ibunya yang seperti orang kerasukan. Ibunya terus menyerangnya dan Sirena dengan sihir hitam.
"Di-dia bukan i-ibumu, bocah!" Nafas Sirena tersengal-sengal karena dia terus menghindar dari serangan wanita itu sambil terus melindungi anak kecil yang dia dekap.
"TIDAK MUNGKIN! DIA IBUKU!"
Sring
"AKHHH!!" Sirena dan anak kecil itu tak sempat menghindar saat tiba-tiba ibu itu ada di depan mereka dan langsung menyerang. Sirena dan anak kecil itu terpental ke belakang membentur pohon mahoni yang sudah tua.
Sirena meringis kesakitan. Jangan sampai dia sakit punggung saat menghadiri pesta pernikahan Nervilia.
"L-lihatlah, bocah! Dia b-bukan ibumu! Tubuhnya memang ibumu, t-tapi ibumu sudah mati. Dan y-yang a-ada di depan kita adalah roh i-iblis!"
Sirena mengumpat dalam hati, 'Udah bersyukur banget nggak ketemu monster, eh sekarang malah ketemu roh iblis!'
"Ka-kak hiks ... A-aku takut ..." Anak kecil itu bersembunyi di dalam dekapan Sirena. Dia benar-benar ketakutan yang dapat dilihat dari tubuhnya yang menggigil hebat. Sekitar dua bulan yang lalu, saat dia pulang ke rumah terlambat setelah bermain, ibunya menceritakan sebuah cerita dimana ada anak kecil yang mati secara misterius. Anak kecil yang mati itu tiba-tiba bangkit dan menyerang orangtuanya sendiri.
"Bukankah anak itu sudah mati, Bu? Kenapa dia bisa menyerang orangtuanya?"
Itu adalah serangkaian pertanyaan yang dia tanyakan untuk ibunya kala itu.
"Itu karena kematiannya yang tiba-tiba dan membuat jasadnya tidak bisa dikebumikan dengan segera. Hal itu membuat kesempatan roh iblis menempatinya." Ibunya menjelaskan dengan senyum di bibirnya, "Maka dari itu, jangan pulang terlambat ya, France. Jangan membuat ibu khawatir akan keadaanmu, mengerti?"
"Hahaha, matilah kalian berdua!" Wanita itu mengumpulkan kekuatan sihir hitamnya membentuk bola hitam seukuran bola tolak peluru.
Sirena memandang anak kecil yang mendekapnya sangat erat, dia benar-benar terlihat ketakutan. Melihat ini, Sirena ingin melindunginya. Sirena akan menjadi tameng untuk anak ini agar tetap hidup. Dia kemudian membalikkan badannya membelakangi wanita itu.
"Kalau kau hidup, berjanjilah untuk tetap waras menghadapi sulitnya masalah. Kau harus bisa menguatkan mentalmu, mengerti? Oh iya, bila aku mati, tolong temui Athanaxius, Pangeran Kekaisaran Alioth agar bersabar karena sudah menduda lebih dulu, mengerti?"
"Tidak waras!"
Sirena terperanjat, kemudian menoleh ke belakang untuk melihat orang yang mengatainya tidak waras. Dia adalah Sirakusa, orang yang paling ingin Sirena tendang bokongnya dengan kuat.
"Berhentilah mengoceh dan segeralah pergi mencari Pangeran monstermu!"
Sirena masih mencoba mencerna keadaan. Tunggu, apa benar ini Sirakusa? Sirakusa Kartago?
'Sirakusa kena sawan apa gimana? Dia lindungi gue?'
"HEI, SADARLAH DAN CEPATLAH PERGI!"
Mendengar bentakan yang penuh kebencian dari Sirakusa membuat Sirena yakin kalau lelaki yang tengah melindunginya ini benar-benar Sirakusa, orang yang paling membencinya.
"A-ah iya, aku pergi dulu. Kau, berhati-hatilah dan tetaplah hidup! Bagaimanapun aku harus membalas dendam untukmu!" Sirena menyempatkan untuk memukul bahu Sirakusa sebelum akhirnya melambaikan tangannya lalu menarik tangan anak kecil itu menuju arah Kekaisaran Alioth.
"SIRAKUSA TAHI KUDA! TERIMAKASIH WOI!! BABAYYY!"
Sirakusa mendesis kesal, "Sial! Seharusnya aku tak menolongnya."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?